Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Tembok
Air di bathtub mulai dingin.
Ravian menyadari ada yang tidak beres ketika Aelira berhenti bergerak. Tangannya yang sedetik lalu masih memeluk, kini menggantung lemas. Suara sesenggukannya yang memecah kesunyian berubah menjadi hening—terlalu hening.
"Li?"
Tidak ada jawaban.
Ravian menarik tubuh Aelira sedikit menjauh. Wajah gadis itu pucat pasi. Bibirnya kebiruan. Matanya terpejam rapat—bukan seperti orang tidur, tapi seperti orang yang kehilangan kesadaran.
"Aelira!" Ravian membalikkan tubuh gadis itu. Dingin. Tubuh Aelira terasa dingin meskipun baru saja berada di air hangat.
Jantung Ravian berhenti berdetak sejenak.
"Sayang, bangun!! Li, please...!"
Dia menepuk-nepuk pipi Aelira lembut—lalu semakin keras. Tidak ada respons. Tidak ada kedipan mata. Tidak ada gerakan sama sekali.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravian merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Bukan takut kehilangan properti. Bukan takut karir hancur. Tapi takut kehilangan nyawa seseorang yang berarti lebih dari segalanya.
"TOLONG! ADA YANG BANTU GUE!" teriak Ravian memecah sunyi kamar mandi.
Lestari—asisten rumah tangga—berlari masuk. Begitu melihat Aelira lemas di pelukan Ravian, wajahnya memucat.
"Ambil handuk! Cepet! Dan panggil dokter! SEKARANG!" perintah Ravian dengan suara parau.
Lestari berlari keluar.
Ravian mengangkat tubuh Aelira dari bathtub. Air menetes dari pakaian tipis gadis itu. Ravian membaringkannya di lantai marmer yang dingin—tidak ada waktu untuk memindahkan ke kasur. Ia menyelimuti Aelira dengan handuk besar, menggosok-gosok tangannya yang dingin, mencoba menghangatkannya.
"Aelira, denger suara gue!" Ravian menepuk pipinya lagi. "Lo jangan begini! Lo jangan—"
Suaranya pecah.
*****
Air mata jatuh untuk pertama kalinya sejak ia berusia empat tahun. Ravian menangis. Diam-diam. Tersedu-sedu di samping tubuh Aelira yang tak bergerak.
Lestari kembali dengan handuk kering dan ponsel masih menempel di telinga. "Dokter udah dalam perjalanan, Den. Beliau bilang tolong hangatkan tubuh Mbak Aelira dan jangan dipindah-pindah."
Ravian mengangguk. Tangannya masih mengusap-usap lengan Aelira. "Gantiin bajunya. Cepat. Dia kedinginan."
Lestari ragu. "Den, Bapak harus keluar—"
"GUE NGGAK KEMANA-MANA!" bentak Ravian. Lalu suaranya melunak, sadar bahwa dia tidak bisa membantu mengganti pakaian Aelira karena trauma sentuhannya dengan wanita lain masih ada—tapi Aelira wanita yang bisa ia sentuh. "Eli, maaf. Gue cuma mau lo hangat."
Dengan hati-hati, Ravian melepas pakaian basah Aelira dengan tangan gemetar. Lestari membantunya mengeringkan tubuh Aelira lalu memakaikan baju tidur yang hangat.
Ravian kemudian mengangkat Aelira ke atas kasur. Selimut tebal ditarik hingga ke dagu.
"Aelira, tolong... bangun." Ravian menggenggam tangan Aelira. "Lo jangan ninggalin gue. Lo nggak boleh ninggalin gue."
Satu jam kemudian.
Dokter Vita datang dengan tas medis di tangan. Ravian berdiri di samping ranjang, tidak mau bergerak meskipun Lestari sudah beberapa kali memintanya duduk.
Dokter Vita memeriksa Aelira dengan telaten. Memeriksa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan refleks mata.
"Dok, gimana keadaannya?" suara Ravian serak.
Dokter Vita menghela napas. "Dia kelelahan berat, stres emosional, kurang tidur, dan asam lambungnya naik. Tubuhnya kolaps karena kombinasi semua itu. Ditambah lagi dia baru saja mengalami penurunan suhu drastis."
Ravian terdiam.
"Luka di tangannya juga cukup dalam meski tidak perlu dijahit. Saya akan berikan antibiotik untuk mencegah infeksi." Dokter Vita menatap Ravian. "Yang lebih penting—siapa pun yang menyebabkan stres pada pasien ini, harus berhenti. Karena jika terus berlanjut, kondisi serupa akan terulang. Bisa lebih parah."
Dokter Vita pergi setelah memberikan resep dan instruksi perawatan. Lestari keluar untuk membeli obat.
Ravian duduk di samping ranjang Aelira.
"Semua ini salah gue," bisiknya.
Tangannya menggenggam jari-jari dingin Aelira. Ditatapnya wajah gadis itu yang pucat. Luka di pelipis. Luka di tangan. Biru di kaki.
Semua ulah gue.
"Li... kalau lo bangun nanti—lo bebas pukul gue sepuas lo." Suaranya parau. "Gue emang jahat. Gue tau."
Dia meletakkan keningnya di punggung tangan Aelira.
"Gue cuma takut kehilangan lo. Tapi ternyata yang gue lakuin malah bikin lo makin jauh."
Dua jam kemudian.
Kelopak mata Aelira bergerak.
Ravian yang sejak tadi tidak tidur langsung mendongak. "Li?"
Aelira membuka mata. Pandangannya buram—lalu perlahan fokus pada langit-langit kamar. Kemudian pada sosok di sampingnya.
Ravian. Dengan mata merah, rambut kusut tidak terawat, dan ekspresi yang tidak pernah Aelira lihat sebelumnya: ketakutan.
"Lo sadar juga. Sakit nggak? Ada yang perih, atau pusing?" tanya Ravian cepat.
Aelira tidak menjawab.
Dia hanya menatap Ravian—lalu perlahan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Diam.
Ravian membeku.
"Li..."
Tidak ada jawaban.
"Li, please. Lo marah aja ke gue. Lo benci gue. Lo teriak. Lo pukul gue. Tapi jangan diem kayak gini."
Aelira tetap diam. Matanya menatap dinding kosong.
Ravian menggenggam tangannya lebih erat. "Maaf... gue salah. Gue minta maaf."
Dia menghela napas—tangan yang lain menyentuh rambut Aelira, tapi gadis itu sedikit bergerak menghindar.
Ravian menarik tangannya. Dadanya sakit.
"Gue tahu lo benci sama gue. Gue juga benci sama diri gue sendiri." Ravian menunduk. "Tapi lo harus tahu alasan kenapa gue kayak gini. Bukan alasan buat maafin gue—tapi biar lo ngerti."
Aelira diam. Tidak menoleh. Tapi tidak menyuruhnya berhenti.
"Gue kecil, Li. Gue liat Mommy sama cowok lain. Di ranjang yang sama. Berjam-jam setelahnya, gue liat Daddy ciuman sama asistennya. Di hari yang sama. Gue umur empat tahun."
Suara Ravian pecah.
"Sejak itu gue nggak bisa disentuh siapa pun. Gue kira seluruh wanita di dunia ini jahat. Sampai suatu hari di lorong sekolah—lo datang. Lo pegang tangan gue tanpa minta izin. Lo usap-usap. Dan gue... sembuh."
Aelira masih diam. Tapi ada perubahan di napasnya.
"Lo satu-satunya yang bisa nyentuh gue tanpa bikin gue mual. Lo satu-satunya yang gue percaya. Makanya gue takut banget kehilangan lo. Sampai gue jadi monster kayak gini."
Ravian menggigit bibir.
"Gue nggak minta lo maafin gue sekarang. Tapi gue janji—gue akan coba berubah."
Hening.
Lalu suara pelan—hampir tidak terdengar.
"Aku takut sama kamu."
Aelira tidak menoleh. Tapi dia bicara.
"Aku takut lihat kamu marah. Aku takut setiap kali kamu pulang, takut aku salah ngomong, takut aku salah laku, takut aku senyum ke orang lain. Aku hidup dalam ketakutan setiap hari. Dan itu..."
Suaranya bergetar.
"...itu bukan cinta, Van."
Ravian terdiam. Setiap kata menusuk.
"Maaf." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Minta maaf gak akan mengubah apa pun." Aelira akhirnya menoleh—matanya merah, basah, tapi tajam.
"Lo pukul gue." Ravian menatapnya. "Lo pukul gue sekarang. Biar gue rasain sakit yang lo rasain."
Aelira menggeleng. "Aku capek. Aku capek marah. Aku capek benci. Aku capek jadi korban yang terus-terusan marah tapi ujung-ujungnya balik lagi."
Ravian meraih tangan Aelira—meletakkannya di pipinya yang sudah basah.
"Gue rela."
Aelira menatapnya. Lalu perlahan—ia menarik tangannya.
"Jangan pukul?" tanya Ravian lirih.
"Bukan." Aelira menghela napas. "Aku gak mau nyakitin kamu. Karena aku masih... sayang sama kamu. Meskipun kamu jahat. Meskipun kamu egois. Meskipun kamu... kamu."
Ravian tidak bisa berkata apa-apa.
Tapi untuk pertama kalinya—ia tidak marah.
Ia hanya diam. Menangis. Dan memeluk Aelira dengan lembut.
"Aku janji, Li. Aku berubah."
Dan Aelira—meski hatinya masih sakit—membiarkan dirinya dipeluk.
Bukan karena dia sudah memaafkan.
Tapi karena dia masih ingin percaya bahwa orang yang ia cintai bisa menjadi lebih baik.
“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.
“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”
“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”
Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.
★ ★ ★ ★ ★
“Ini bukan penilaian.”
“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”
“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”
—Astraeus, The Seven Pillar Titan