NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Gedung pencakar langit Pratama Group berdiri angkuh di pusat distrik bisnis Jakarta, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi dengan menyilaukan.

Di depan lobi utama, Diandra—dalam tubuh Gia—berdiri mematung sejenak.

Ada gejolak emosi yang hebat menghantam

dadanya.

Ini adalah gedung yang ia bangun dengan keringat dan air mata. Setiap sudut desain lobi ini adalah idenya. Namun sekarang, ia berdiri di sini sebagai orang asing, seorang siswi SMA dengan kemeja murah dan sepatu kain yang mulai usang.

"Tenang, Diandra. Kamu adalah Gia sekarang," bisiknya pada diri sendiri sambil mengatur napas.

Ia melangkah masuk. Lantai marmer yang dingin menyambut langkahnya.

Aroma pengharum ruangan yang elegan, bau yang sangat ia kenali, menusuk indra penciumannya.

Ia berjalan menuju meja resepsionis yang melengkung megah.

"Selamat pagi. Saya di sini untuk memenuhi undangan tes kemampuan matematika dan enkripsi sistem," ucap Diandra dengan nada bicara yang tenang dan tertata.

Resepsionis wanita yang mengenakan seragam rapi dan riasan tebal itu mendongak.

Ia memindai penampilan Diandra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.

"Adik kecil, kamu salah tempat," cetus resepsionis itu sambil kembali menatap layar komputernya.

"Lomba matematika tingkat sekolah bukan di sini. Ini kantor pusat korporasi, bukan tempat bermain anak SMA."

Diandra tidak terpancing. Ia tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat.

"Saya tidak sedang ikut lomba sekolah. Saya mendaftar melalui sistem rekrutmen darurat yang dibuka kemarin."

Resepsionis itu tertawa sinis, menarik perhatian beberapa karyawan yang lewat.

"Sistem itu dibuka untuk para profesional dan ahli IT, bukan untuk bocah ingusan yang bahkan belum punya KTP. Pergi sekarang sebelum saya panggil petugas keamanan."

"Cek kode referensi D-08-ALPHA di sistem Anda," ucap Diandra dengan suara yang lebih dingin dan menekan, sebuah nada bicara yang membuat resepsionis itu tertegun sejenak.

Dengan malas, resepsionis itu mengetik kode tersebut.

Matanya membelalak saat layar monitornya berkedip merah dan menampilkan status: [PRIORITY CANDIDATE - IMMEDIATE ACCESS].

"I-ini... bagaimana mungkin?" gumamnya gagap.

Tepat saat ketegangan memuncak, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Kerumunan karyawan segera membungkuk hormat.

Pratama muncul dengan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya tampak datar dan dingin seperti biasanya.

Ia berpura-pura baru saja lewat dan tertarik dengan keributan tersebut.

"Ada masalah apa di sini?" tanya Pratama, suaranya berat dan mengintimidasi.

"Pak Pratama! Maaf, Pak. Anak sekolah ini bersikeras ingin masuk mengikuti tes ahli matematika, padahal penampilannya sangat tidak meyakinkan," lapor resepsionis itu dengan wajah pucat.

Pratama menoleh ke arah Diandra. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Ada sebuah kode rahasia yang tersirat di sana—sebuah pengakuan dan dukungan yang tak terucap. Pratama harus menahan diri agar tidak langsung memeluk istrinya di depan semua orang.

"Biarkan dia masuk," ucap Pratama pendek.

"Tapi Pak, dia hanya seorang siswi—"

"Aku bilang, biarkan dia masuk," ulang Pratama dengan penekanan yang membuat resepsionis itu langsung membungkam mulutnya.

"Dia adalah kandidat yang saya tunggu. Berikan dia kartu akses tamu level merah."

Pratama berbalik tanpa berkata apa-apa lagi, melangkah menuju lift eksekutif.

Diandra mengikuti dari belakang, ia bisa merasakan tatapan tidak percaya dan iri dari orang-orang di lobi.

Saat pintu lift tertutup, hanya menyisakan mereka berdua di dalam ruang sempit itu, Pratama menghela napas panjang.

"Selamat datang kembali di rumahmu, Sayang," bisik Pratama tanpa menoleh ke arahnya, namun tangannya terkepal kuat menahan emosi.

"Terima kasih, Mas. Sekarang, mari kita lihat bagaimana reaksi Mita saat melihat 'Gia' duduk di ruang rapat direksi," jawab Diandra dengan senyum kemenangan yang mematikan.

Pintu lift terbuka di lantai eksekutif, menampakkan lobi dalam yang dilapisi dinding kayu mahoni dan pencahayaan temaram yang mewah.

Di sana, Mita sedang berdiri gelisah sambil memarahi seorang manajer IT melalui telepon.

Ia tampak kacau; riasannya tebal namun tak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di matanya akibat stres proyek Yogyakarta.

Saat ia berbalik untuk berjalan menuju ruang rapat, langkahnya terhenti tepat di depan Diandra.

Mita menatap gadis remaja di hadapannya dengan kening berkerut.

Matanya menyapu kemeja murah Diandra dan tas ransel kumalnya dengan tatapan jijik yang terang-terangan. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Mita seolah berhenti berdetak selama satu detik.

Diandra tidak menunduk. Ia menatap Mita tepat di manik matanya—sebuah tatapan yang dingin, tajam, dan penuh otoritas yang sangat ia kenali.

Tatapan yang biasanya membuatnya merasa kecil dan tidak berguna.

"Siapa anak ini, Mas?" tanya Mita dengan suara yang sedikit bergetar, meski ia berusaha terdengar angkuh.

"Kenapa kamu membawa siswi SMA ke lantai direksi? Kita sedang ada masalah besar, bukan waktu yang tepat untuk kunjungan sekolah."

Pratama tetap memasang wajah datar. "Dia kandidat untuk memecahkan sandi Yogyakarta."

Mita tertawa hambar, suara tawanya terdengar dipaksakan.

"Kandidat? Mas, jangan bercanda. Ahli dari luar negeri saja gagal, dan kamu berharap pada bocah ingusan ini? Dia bahkan tidak terlihat seperti orang yang punya komputer di rumahnya."

Diandra melangkah maju satu tindak, membuat jarak antara dirinya dan Mita semakin tipis.

Ia bisa mencium aroma parfum mahal yang dulu sering ia berikan sebagai hadiah untuk adik tirinya itu.

"Penampilan bisa menipu, Ibu," ucap Diandra dengan suara tenang namun menusuk.

"Sama seperti senyum manis yang bisa menutupi hati yang busuk. Bukankah begitu?"

Wajah Mita seketika pucat pasi. "Apa katamu?! Beraninya kamu bicara begitu padaku!"

Mita merasa sangat terganggu. Gadis ini asing baginya, ia yakin belum pernah bertemu dengan "Gia" sebelumnya. Namun, aura yang dipancarkan gadis ini,

Mulai dari cara dia berdiri, cara dia menekan setiap kata, dan terutama tatapan matanya, benar-benar mengingatkannya pada Diandra.

"Keluar! Aku tidak mau anak ini ada di sini!" teriak Mita, emosinya meledak karena rasa takut yang tidak ia pahami.

"Dia tetap di sini," potong Pratama dengan suara rendah yang mengancam.

"Karena jika dia gagal, aku yang akan menanggungnya. Tapi jika dia berhasil, Mita, kamu harus menjelaskan pada Tuan Wijaya kenapa seorang siswi SMA bisa melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan."

Diandra melempar senyum tipis—senyum predator yang sedang bermain dengan mangsanya.

"Mari kita mulai tesnya, Pak Pratama. Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang yang hanya bisa berteriak."

Diandra berjalan melewati Mita, sengaja bahunya bersenggolan dengan bahu adik tirinya itu.

Mita terpaku di tempatnya, tangannya gemetar hebat. Kenapa gadis itu menatapku seolah dia tahu apa yang kulakukan di malam itu? batin Mita dalam ketakutan yang mencekam.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!