Kematian misterius yang ada di rumah ujung membuat siapa saja akan ketakutan, bahkan puncak nya para warga sama sekali tidak kenal dengan penghuni rumah tersebut.
satu keluarga di bantai dan mayat mereka membusuk di dalam rumah tersebut, warga menguburkan secara layak namun seram nya rumah itu membuat siapa saja yang lewat akan ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Pardi berulah
Hari ini kembali sibuk mengurus jalan yang akan mereka lewati untuk menuju sawah seperti biasa, semua memang sudah bertekad bahwa tidak akan pernah lewat lagi di dekat rumah keluarga Sayuti itu, sebab mereka tidak sanggup bila sampai berhadapan dengan iblis yang tidak biasa sehingga lebih baik menghindar dari pada nanti harus celaka.
Mau ini jauh atau bagaimana tapi tetap saja mereka akan lebih baik untuk lewat di tempat ini, nanti bila tetap ada orang yang tidak percaya dengan kabar yang sudah beredar bahwa rumah ujung itu memang menyimpan misteri, maka tidak masalah ketika mereka mau tetap lewat di dekat rumah itu Karena pak RT atau Pak Lurah juga tidak melarang orang yang berani.
Jalan ini sengaja dibuat untuk melindungi para warga yang merasa tidak memiliki nyali ketika akan lewat di tempat rumah ujung, tapi untuk sebagian yang memang merasa memiliki nyali maka tidak masalah kalau mereka mau lewat di sana saja.
Sebab Pak RT juga meyakini bahwa sebagian warga masih ada yang tidak percaya dengan keberadaan para iblis seperti itu, terbukti ketika sedang gotong royong membuat jalan maka tidak semua warga turun tangan untuk membantu di jalan ini, oleh sebab itu mereka juga tidak memaksa dan bila memang ada yang mau maka silahkan membantu.
Pardi adalah orang yang sangat keras kepala karena dia beranggapan bahwa warga desa itu terlalu merepotkan diri sendiri, udah ada jalan yang bagus lalu Kenapa masih harus sibuk membuat jalan lain yang akan menghabiskan uang serta tenaga banyak orang, justru dia malah mengeluarkan omongan pedas bahwa itu semua hanya akal licik dari kepala desa.
Sebab bila sudah membuat jalan seperti ini maka pasti akan mendapatkan uang lagi untuk pembangunan tersebut, tentu saja Pak kepala desa yang mendengar hal itu merasa sedikit sakit hati, namun karena tidak mungkin berdebat dengan warga sendiri maka Dia memutuskan untuk diam saja.
"Kapan Dia berkata seperti itu, Vin?" Andi menoleh kepada Davin ketika barusan Davin bercerita tentang omongan Pardi.
"Tadi pagi, pas aku bawa cangkul mau ke sini dan dia ketemu dengan aku." jelas Davin..
"Ah dulu dia ternyata lebih parah dari mulut penggosip handal." Andi tidak percaya mendengar hal itu.
"Dia kan agak kurang percaya dengan setan jadi wajar saja kalau dia memiliki pikiran tersendiri." Lutfi berkata santai.
"Ya kalau memang tidak percaya dengan setan maka ia tidak usah menghujat orang seperti itulah, ini kan membuat jalan kalau orang yang tidak berani untuk lewat dekat rumah ujung itu." ujar Davin dengan emosi yang agak tinggi.
"Padahal Mbak Suminah sendiri ngomong sama Ria kalau dia pernah melihat setan." Andi berkata pelan.
"Benar, malam saat Bang Rais menghilang itu ternyata Mbak Suminah juga melihat sesuatu yang tidak biasa." Davin setuju dengan ucapan Andi.
"Kalau orang yang memang tidak percaya maka mau bagaimana juga dia tetap tidak akan percaya." ujar Lutfi kembali.
Semua terdiam karena mungkin benar apa yang dikatakan oleh Lutfi bahwa Pardi memang tidak percaya dengan keberadaan setan, jadi mau sejelas apapun fakta yang ada di depan mata maka dia tidak akan pernah mempercayai hal itu Dan akan terus menyangkal sampai puas.
"Waaah ini ternyata jalan yang mau dibangun untuk para warga pengecut." Pardi datang dengan jalan agak pincang karena kaki Dia terkena asam urat.
"Nah kan dia datang untuk membuat masalah." Davin menata Pardi yang baru datang itu.
"Bila tidak ingin membantu maka tidak usah mencari masalah, Mas!" Pak RT langsung berkata ketus.
"Loh siapa yang akan mencari masalah? kan memang benar kalau jalan ini dibuat untuk para warga pengecut." Pardi berkata tanpa dosa.
"Pantas saja selama ini kau sakit tidak pernah sembuh, karena kau memiliki hati yang begitu busuk!" Davin langsung berkata sengit.
"Heh kau jangan kurang ajar terhadap orang tua ya!" Pardi menunjuk wajah Davin dengan sangat emosi.
"Orang tua seperti kau ini memang tak patut untuk dihormati, bahkan bila perlu aku akan menempel lumpur ini di muka mu!" balas Davin.
"Bajingan!" Pardi langsung mengambil kayu karena dia akan menghantam Davin menggunakan kayu tersebut.
"Hentikan ini semua!" Pak Lurah membentak mereka agar menghentikan perdebatan itu.
Sudah lama dia diam agar tidak muncul perdebatan ini malah Pardi kembali datang untuk memicu emosi dia, tadi dia sudah berusaha untuk tidak emosi namun ternyata pria ini masih saja terus datang untuk membuat masalah dengan dirinya dan juga kepada para warga yang kebetulan hadir.
"Pak Pardi bila memang tidak ingin membantu maka silahkan diam saja dan tidak usah menghujat yang ada di sini." Pak Lurah berkata dengan nada masih sopan.
"Saya tidak menghujat, fakta kalian membuat jalan ini karena takut mau lewat rumah ujung itu." Pardi tetap saja keras kepala.
"Ya, kami memang semua takut lewat sana dan termasuk itu adalah istri mu juga!" Davin kembali menyambar.
"Vin, sabar dulu kau ini." Andi menghentikan Davin yang terlalu emosi.
"Entah pengecut atau tidak tapi yang jelas saya memang berusaha untuk membuat para warga merasa aman ketika akan menuju sawah, dan itu termasuk istri sampeyan juga." Pak Lurah berkata dengan serius.
"Nah selain itu maka sampean juga bisa mendapat sedikit korupsi dari uang yang datang di sini." Pardi berkata sambil tertawa.
"Wah emang kurang ajar sekali orang seperti dia itu!" Pak RT juga larut terbawa emosi sekarang.
"Uang yang untuk membangun jalan ini sama sekali tidak ada dana dari desa, ini semua murni uang Saya dan Pak RT." Pak Lurah berusaha menahan geram.
Sebab uang yang dia gunakan untuk mengubah para warga dan juga untuk membeli makanan serta nanti untuk membeli bahan agar jalan ini menjadi bagus, semua itu murni dari uang dia sendiri dan tidak ada dana dari desa walau hanya sedikit saja.
"Jadi tolong buang prasangka yang ada di dalam pikiran sampeyan bahwa saya korupsi dana dari desa." tegas Pak Lurah.
"Wah berarti Lurah yang ada di desa kita ini sangat luar biasa sehingga mau mengeluarkan uang sebanyak itu." Pardi berkata seolah sedang mencemooh.
Pak Lurah menghelai nafas panjang karena sepertinya sia-sia saja berbicara dengan orang seperti ini, mau bagaimana juga dia menjelaskan maka itu tidak akan pernah Pardi masukkan ke dalam otak, sebab Dia telah memiliki pikiran tersendiri dan tidak akan pernah mendengarkan ucapan dari orang lain lagi.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
dari kota aja lagaknya kaya dewa saja, orang yang dewa iblis aja gak sesombong kamu.
dan
hanya Purnama yang bisa ngadepin Angelina
Arya sama Nolan juga boleh lah kasih pelajaran ke mereka...
di balik kalem nya ada congor nya jg yg kalau ngomong setajam sileeeet
eeee ..... ternyata mlh Pesugihan nya yg di ambil 🤣🤣🤣