Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik di Perusahaan Film
Pengakuan tegas Farzhan di depan seluruh staf kemarin bagaikan ledakan bom besar yang mengguncang seluruh gedung perkantoran dari lantai dasar hingga atap. Berita bahwa pemimpin mereka yang dingin, misterius, dan sulit didekati itu ternyata sudah memiliki istri, menyebar jauh lebih cepat daripada virus, menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut ruangan, kantin, hingga koridor kantor.
Namun, di balik hiruk-pikuk dan rasa penasaran soal status pernikahan sang pemimpin, angin lain mulai bertiup kencang dan mengancam. Bukan angin yang membawa aroma bunga atau kebahagiaan, melainkan angin berbau busuk intrik, persaingan kotor, dan pengkhianatan yang bersarang di balik senyum manis.
Proyek film besar bernilai miliaran rupiah yang sedang mereka garap seharusnya menjadi kebanggaan bersama, tonggak kesuksesan perusahaan. Namun, belakangan ini, banyak hal aneh, janggal, dan tidak wajar mulai terjadi satu demi satu, seolah ada tangan tak terlihat yang sengaja berusaha merusak segala sesuatu dari dalam.
Pagi itu, di ruang rapat utama yang luas dan beraroma mewah, suasana terasa jauh lebih berat, dingin, dan menekan dibandingkan hari-hari biasa.
Farzhan duduk di kursi utamanya yang tinggi, punggungnya tegak sempurna, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun sepasang matanya yang tajam dan laksana elang mengamati setiap orang yang duduk mengelilingi meja besar itu. Di hadapannya terbentang tumpukan dokumen laporan kerugian, rincian anggaran yang membengkak, dan catatan masalah teknis yang muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
"Saya tanya sekali lagi, dan saya harap dijawab dengan kejujuran!" suara Farzhan memecah keheningan yang mencekam itu, nada bicaranya rendah, dingin, namun menusuk tepat ke hati setiap orang yang mendengarnya.
"Kenapa biaya produksi bisa membengkak drastis hingga dua kali lipat dalam kurun waktu dua minggu terakhir? Dan kenapa lokasi syuting yang sudah disepakati, ditinjau, dan ditandatangani bersama, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak oleh tim produksi tanpa berkoordinasi atau meminta persetujuan saya?"
Di seberang meja, duduk seorang pria paruh baya bernama Pak Herman, kepala divisi produksi yang selama ini dipercaya memegang kendali teknis. Wajahnya terlihat berkeringat dingin meski ruangan ber-udara dingin, matanya gelisah dan tidak berani menatap lurus ke manik mata Farzhan yang tajam.
"Begini penjelasannya, Pak Farzhan... hal itu terjadi karena ada penyesuaian teknis di lapangan yang tidak terduga," jawab Pak Herman terbata-bata, berusaha menyusun kata sebaik mungkin.
"Cuaca belakangan ini sangat tidak menentu, dan kami juga berusaha keras mendapatkan hasil produksi yang terbaik dan sempurna, jadi mau tidak mau butuh penambahan biaya untuk menjamin kualitas..."
"Alasan klise yang sudah ribuan kali saya dengar," potong Farzhan cepat, tegas, dan tidak mau mendengarkan lebih jauh.
"Saya bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan alasan cuaca atau kualitas semata. Data yang ada di tangan saya menunjukkan ada aliran dana yang mencurigakan masuk ke rekening pihak ketiga yang sama sekali tidak tercatat dalam kontrak kerja sama. Dan pembatalan lokasi itu dilakukan karena ada tawaran dari kontraktor baru yang mematok harga dua kali lipat lebih mahal dari harga wajar. Jangan berpikir saya tidak tahu apa-apa."
Farzhan menatap tajam dan bergantian ke arah Pak Herman, lalu beralih menatap beberapa orang lainnya di ruangan itu yang terlihat gelisah dan menundukkan wajah.
"Siapa sebenarnya yang ada di balik semua ini? Dan apa tujuan kalian merusak, menghambat, bahkan berusaha menjatuhkan proyek besar ini dari dalam?"
Ruangan kembali hening seketika. Semua orang saling pandang satu sama lain dengan rasa takut, namun tidak ada satu pun yang berani membuka mulut atau mengaku.
Ternyata, masalah yang dihadapi jauh lebih rumit, lebih dalam, dan lebih berbahaya dari yang dibayangkan sebelumnya.
Beberapa oknum di dalam perusahaan, termasuk beberapa manajer senior yang memegang jabatan penting, ternyata memiliki kepentingan pribadi dan keuntungan sendiri di balik layar. Mereka berniat membuat proyek ini berjalan seribet mungkin, penuh masalah, kacau balau, dan bahkan berpotensi gagal total. Tujuannya sederhana: mereka ingin mengambil keuntungan pribadi dari selisih anggaran yang membengkak, atau bahkan menjual naskah serta informasi penting proyek ini ke perusahaan pesaing dengan harga mahal.
Dan yang paling parah dan berbahaya, mereka juga diam-diam memanfaatkan kedatangan Nabila, si wanita perwakilan investor yang hatinya sedang sakit dan gengsinya terluka.
Nabila yang merasa sangat malu, marah, dan sakit hati setelah ditolak secara tegas dan terang-terangan oleh Farzhan di hadapan semua karyawan kemarin, ternyata diam-diam dihasut dan dibisiki oleh kelompok oknum yang berniat jahat itu.
"Tenang saja, Ibu Nabila," bisik salah satu staf yang berada di bawah pengaruh Pak Herman, dengan nada meracuni. "Bapak Farzhan itu memang terkenal sombong, keras kepala, dan merasa paling berkuasa. Sudah berumur namun kelakuannya masih ingin mengatur segalanya sesuai kemauan sendiri. Nanti kalau proyek ini macet atau gagal total, pasti Bapak Farzhan yang akan disalahkan habis-habisan oleh dewan direksi dan pemegang saham. Siapa tahu nanti posisinya bisa tergeser, dan Ibu Nabila justru bisa memiliki kekuatan serta pengaruh yang jauh lebih besar di perusahaan ini."
Nabila yang saat itu sedang dilanda emosi, dendam, dan rasa gengsi yang terluka parah, akhirnya terpancing oleh bujuk rayu manis itu. Ia setuju untuk menahan pencairan dana talangan yang seharusnya sudah cair dan masuk ke kas perusahaan, dengan berbagai alasan administratif palsu seperti "masih menunggu hasil evaluasi kelayakan". Tindakan itu membuat arus kas perusahaan tersendat parah, nyaris kering, dan membuat seluruh operasional produksi lumpuh sementara.
Akibatnya, proses syuting terhambat total. Tim artis dan kru mengajukan protes keras karena tidak ada kepastian jadwal dan pembayaran. Suasana di lokasi syuting maupun di kantor pusat menjadi sangat panas, kacau, dan tidak kondusif sama sekali.
"Pak! Situasi makin kritis dan parah nih! Sewa peralatan dan sewa tempat sudah mau habis masa berlakunya, tapi dana dari investor belum juga turun!" lapor salah satu manajer lapangan dengan nada panik lewat sambungan telepon. "Kalau terlambat cair satu hari saja, kita akan terkena denda keterlambatan dengan nilai yang sangat besar!"
Belum sempat Farzhan menjawab atau memberi arahan, Zikri masuk ke ruangan kerja itu dengan wajah pucat, langkahnya tergesa membawa berkas-berkas baru yang lebih buruk isinya.
"Pak Farzhan... situasi semakin rumit," lapor Zikri dengan suara rendah namun jelas. "Ternyata Pak Herman dan timnya diam-diam sudah menyiapkan naskah dan skenario cadangan yang isinya jauh berbeda, jauh di bawah kualitas, dan mengubah seluruh alur cerita asli. Rencana mereka adalah mengubah cerita menjadi sesuatu yang lebih sensasional, murahan, dan mudah dibuat, supaya biaya produksi bisa ditekan drastis namun selisih uangnya masuk ke kantong mereka sendiri. Mereka sudah bergerak diam-diam cukup lama."
Wajah Farzhan berubah seketika. Ia menghempaskan berkas yang ada di tangannya ke atas meja kerja dengan keras, menimbulkan suara BRUK! yang bergema menakutkan di ruangan luas itu.
Wajahnya memerah menahan amarah yang meluap, namun bukan amarah yang meledak-ledak tanpa kendali, melainkan amarah dingin yang jauh lebih berbahaya, menekan, dan mengerikan.
"Jadi... mereka berani-beraninya bermain kotor, menusuk dari belakang, dan mengkhianati kepercayaan yang saya berikan?" suaranya rendah, berat, dan bergetar menahan kemarahan. "Mereka mengira Farzhan Ibrahim ini sudah menjadi buta, tuli, dan lemah sampai bisa dipermainkan, ditipu, dan diinjak-injak seenaknya begitu?"
"Mereka mengira Bapak sedang sibuk dengan urusan pribadi, atau terlalu percaya pada mereka sehingga melalaikan pengawasan, Pak," jawab Zikri dengan hati-hati.
Farzhan berdiri tegap berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota. Di balik pantulan kaca itu, matanya memancarkan aura seorang pemimpin dan penakluk yang sesungguhnya — tajam, kejam, dan siap memusnahkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
"Bagus... sangat bagus sekali," gumamnya pelan, nada bicaranya dingin namun penuh ancaman. "Mereka ingin bermain intrik? Mereka ingin merusak perusahaan yang saya bangun dan saya tanggung jawabkan? Mereka ingin mengkhianati kepercayaan? Baiklah... mari kita mainkan permainan ini sesuai aturan main mereka sendiri. Tapi ingat, saya yang akan menentukan kapan permainan ini berakhir."
Ia berbalik badan menghadap Zikri, sorot matanya tajam dan penuh tekad baja.
"Zik, kumpulkan semua bukti yang ada. Catatan rekening koran, rekaman percakapan, salinan email, bukti transfer, dokumen palsu, semuanya. Jangan sampai ada satu pun yang terlewat atau tersembunyi. Hubungi juga tim hukum dan pengacara perusahaan, siapkan berkas pelaporan ke polisi jika memang harus ditempuh jalur hukum."
"Siap, Pak! Segera saya laksanakan!" jawab Zikri tegas.
"Dan soal Nabila..." Farzhan menyeringai tipis, sebuah senyum yang sangat dingin, berbahaya, dan penuh perhitungan.
"Biarkan dia merasa menang dan berkuasa sebentar lagi. Nikmati kemenangannya palsunya itu. Nanti giliran saya yang akan berurusan langsung dengannya, dan juga dengan para kepiting busuk yang sudah lama bersarang dan meracuni perusahaan ini."
Farzhan sadar betul situasi yang dihadapinya saat ini. Ini bukan lagi sekadar soal pekerjaan biasa atau masalah anggaran. Ini adalah perang besar untuk menyelamatkan perusahaan, menyelamatkan nama baiknya, dan membuktikan bahwa ia tidak bisa dikalahkan oleh pengkhianatan rendahan. Musuhnya tidak lagi berada di luar gerbang, melainkan sudah bersarang nyaman di dalam sarang sendiri.
Dan Farzhan Ibrahim... sosok yang tegas, keras, dan penuh wibawa itu... tidak akan pernah, dalam keadaan apa pun, membiarkan siapa pun menginjak-injak tanggung jawab, kepercayaan, dan harga dirinya.
Badai besar yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya baru saja akan dimulai. Dan ia, sang pemimpin, sudah bersiap berdiri di depan barisan paling depan untuk memimpin pertempuran itu hingga akhir.