Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paket Tengah Malam
Setelah mengirimkan stiker jempol sederhana itu, ruang obrolan di layar ponsel Kirana mendadak sunyi selama beberapa saat. Kirana baru saja hendak meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dan menarik selimut untuk bersiap tidur, ketika tiba-tiba layar gawai itu kembali menyala terang dengan getaran yang cukup intens.
Sebuah pesan baru dari Bima masuk.
> **Bima Teknik:** *Btw bentar lagi ada yang dateng ke rumah lo, Kir.*
Membaca baris kalimat yang sangat singkat dan terkesan misterius itu, Kirana spontan menghentikan gerakannya. Bulu kuduknya mendadak meremang. Di luar, suasana kompleks perumahannya sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam pasca-hujan. Kirana bergidik ngeri, membayangkan hal-hal mistis atau orang asing yang berniat jahat bertamu ke rumahnya di jam sepuluh lewat begini.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena panik, Kirana langsung mengetik balasan dengan cepat.
> **Kirana:** *Apaan sih lu?! Jangan bikin gua takut ya, Bim! Ini udah jam sepuluh malem lewat, jangan becanda yang aneh-aneh deh, nggak lucu tahu!*
Bima tidak langsung membalas. Namun, belum sempat Kirana mengirimkan pesan protes lanjutan, suara deru mesin sepeda motor matic terdengar berhenti tepat di depan pagar rumahnya, disusul oleh suara klakson yang berbunyi pendek dua kali.
*Tinn! Tin!*
Kirana tersentak kaget di atas kasurnya. Ia memberanikan diri mengintip dari balik tirai jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah halaman depan. Di bawah pendar temaram lampu jalan, terlihat seorang pria paruh baya mengenakan jaket hijau khas pengemudi ojek online sedang berdiri di samping motornya, memegangi sebuah kantong kain besar dan sebuah bungkusan kertas cokelat.
Melihat bahwa itu adalah abang ojek online dan bukan hal mistis seperti yang ia takutkan, rasa panik Kirana seketika berubah menjadi rasa bingung yang luar biasa. Ia buru-buru keluar dari kamar, berjalan setengah berlari menuju pintu depan, lalu membuka pagar rumahnya dengan hati-hati.
"Permisi, atas nama Mbak Kirana?" tanya abang ojek online itu dengan ramah sambil menyerahkan seluruh bawaannya. "Ini ada pengiriman instan non-tunai dari Mas Bima, Mbak. Katanya harus segera diserahkan ke Mbak Kirana."
"Eh... iya, Pak. Betul, terima kasih banyak ya," jawab Kirana canggung. Setelah menerima paket tersebut dan memastikan abang ojek online itu pergi, Kirana segera mengunci kembali pagarnya dan membawa masuk bungkusan tebal itu ke dalam kamarnya.
Kirana meletakkan kantong kain itu di atas meja belajar. Begitu dibuka, aroma harum masakan rumah yang sangat menggugah selera langsung menguar memenuhi ruangan. Isinya adalah satu wadah bekal berukuran besar yang penuh dengan rendang daging sapi rumahan yang masih hangat, lengkap dengan wadah kecil berisi sambal ijo.
Di samping wadah makanan itu, terdapat sebuah bungkusan kertas cokelat. Saat Kirana membukanya dengan hati-hati, sepasang matanya langsung membelalak tak percaya.
Itu adalah sebuah buku kumpulan puisi klasik edisi lawas yang sudah sangat langka dan selama ini hanya bisa Kirana pandangi lewat draf katalog digital perpustakaan nasional. Di atas sampul buku tersebut, terdapat selembar kertas nota kecil yang ditulis dengan tinta hitam yang sangat rapi—tulisan tangan Bima.
Kirana segera meraih ponselnya kembali, mengetik pesan dengan perasaan yang campur aduk antara tidak percaya dan syok.
> **Kirana:** *Bim, ini maksudnya apa? Kok lo tiba-tiba ngirim rendang sama buku puisi langka gini ke rumah gue tengah malem? Lo dapet dari mana?*
Tidak butuh waktu lama bagi asisten lab Teknik yang biasanya irit bicara itu untuk membalas pesan Kirana.
> **Bima Teknik:** *Nyokap gue tadi siang masak rendang kebanyakan di rumah. Terus pas gue lagi beres-beres ruang baca, Nyokap ngeliat buku puisi itu. Beliau tahu lo anak Sastra dari cerita gue pas proyek kemarin, katanya lo pasti suka baca yang begituan daripada gue yang gak paham draf kalimat. Jadi disuruh kirim ke lo.*
Membaca penjelasan panjang dari Bima, Kirana perlahan menurunkan ponselnya ke atas dada. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat, membentuk sebuah senyuman manis yang sangat lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. Namun, sejurus kemudian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari rasa salah tingkah yang mendadak membumbung tinggi.
"Apaan sih lu, Kirana! Sadar, ih!" gumam Kirana pada diri sendiri, menepuk kedua pipinya yang terasa sangat hangat dan memerah. "Inget, dia itu Bima. Kating Teknik lo yang paling cuek, kaku, dan dulu paling sering bikin lo darah tinggi karena logikanya yang menyebalkan itu. Kenapa sekarang lo malah senyum-senyum sendiri begini?"
Kirana menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap buku puisi langka dan wadah rendang di atas mejanya. Meskipun otaknya terus mengingatkan tentang betapa menyebalkannya sifat kaku Bima di masa lalu, Kirana tidak bisa membohongi hatinya bahwa tindakan cangguh cowok itu malam ini terasa sangat menggemaskan.
"Tapi... dipikir-pikir lucu juga sih si beruang kutub satu ini. Bisa-bisanya kepikiran nyuruh ojek online tengah malem cuma demi nganterin titipan ibunya," bisik Kirana lirih, kembali tersenyum tipis sambil menatap layar ponselnya, bersiap mengetik ucapan terima kasih yang tulus untuk Bima dan ibunya sebelum ia benar-benar terlelap tidur malam itu.