Di dunia kultivasi di mana yang kuat memangsa yang lemah, bakat adalah segalanya. Lin Tian, seorang murid luar Sekte Awan Azure, terlahir dengan Akar Spiritual cacat yang membuatnya menjadi bulan-bulanan dan diinjak-injak bagai serangga. Terjebak di dasar rantai makanan, takdirnya seolah sudah dikutuk menjadi batu pijakan bagi para jenius.
Namun, di malam yang dipenuhi darah dan keputusasaan, sebuah entitas misterius bangkit di dalam dirinya: Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi.
Sebuah sistem yang mampu menyerap esensi murni dari segala hal di alam semesta!
Sisa pil beracun yang dibuang? Ekstrak menjadi tetesan Qi murni tanpa cela!
Mayat binatang buas tingkat tinggi? Ekstrak esensi garis keturunannya!
Pemahaman bela diri musuh yang telah mati? Ekstrak dan jadikan milik sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Lautan Roh Yin dan Tunas Niat Pedang
Cahaya ungu yang menelan Lin Tian terasa sedingin es, membawanya melintasi lipatan ruang angkasa. Ketika penglihatannya kembali jelas, ia tidak mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruangan beratap, melainkan di tengah sebuah dataran abu-abu yang sangat luas tanpa batas. Langit di atasnya berwarna ungu pekat, tanpa matahari maupun bintang.
Ini adalah keajaiban tata ruang dari Pagoda Sembilan Lapis. Setiap lantainya adalah sebuah dimensi mikro (Micro-realm) yang berdiri sendiri.
Udara di tempat ini sangat sunyi, namun suhunya sangat rendah hingga napas Lin Tian langsung membeku menjadi kristal es kecil. Di bawah kakinya, tanah abu-abu itu ternyata bukan pasir, melainkan debu tulang.
"Tempat pembuangan yang mengerikan," gumam Lin Tian, matanya menyapu sekeliling.
WUUUUUSH...
Tiba-tiba, suara lolongan panjang bergema dari segala penjuru. Debu tulang di tanah mulai berputar, membentuk ribuan pusaran kecil. Dari dalam pusaran tersebut, bangkitlah sosok-sosok semi-transparan yang mengenakan zirah perang kuno yang telah berkarat. Mata mereka menyala dengan api biru kehijauan yang memancarkan kebencian tak berujung.
[Ding! Peringatan!]
[Mendeteksi Pasukan Roh Yin Berzirah (Ribuan entitas). Kekuatan setara Pembentukan Pondasi Tahap 1 - Tahap 3.]
[Karakteristik: Kebal terhadap serangan fisik murni. Serangan mereka langsung menargetkan Lautan Kesadaran (Jiwa) Inang. Gigitan mereka menyedot vitalitas.]
"Pasukan jiwa pendendam?" Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, senyum tipis yang mematikan terukir di wajahnya.
Bagi praktisi lain—bahkan jenius seperti Mo Fan atau Su Xue—menghadapi ribuan Roh Yin adalah mimpi buruk absolut. Menghancurkan jiwa membutuhkan teknik spiritual yang sangat menguras Qi. Menghadapi ribuan roh ini hanya akan membuat lautan Qi mereka kering kerontang sebelum mereka mati dikeroyok.
Namun, di hadapan Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi, roh-roh murni ini bagaikan makanan prasmanan gratis yang disajikan di atas piring emas.
GRAAAARR!
Ratusan Roh Yin di barisan depan menerjang maju layaknya gelombang pasang, mengacungkan senjata spektral mereka ke arah Lin Tian.
Lin Tian membuka kedua tangannya lebar-lebar. Lautan dantian Inti Bintangnya berputar dengan kecepatan maksimum.
"Sistem. Buka mode Penggilingan Dao ke radius seratus meter. Telan semuanya!"
[Ding! Menerima perintah Inang.]
[Mengaktifkan Pusaran Ekstraksi Jiwa Massal!]
Seketika, pusaran emas raksasa meledak dari dahi Lin Tian, menciptakan badai hisapan yang sangat mengerikan. Ratusan Roh Yin yang baru saja hendak menyentuh tubuhnya seketika menjerit histeris. Tubuh semi-transparan mereka terdistorsi, tersedot ke dalam pusaran emas tanpa perlawanan berarti.
Di dalam pusaran tersebut, sistem menghancurkan sisa-sisa kesadaran, kebencian, dan ingatan usang dari roh-roh itu, menyaringnya menjadi Esensi Jiwa Murni berwarna biru jernih yang langsung dialirkan ke dalam Lautan Kesadaran Lin Tian.
"Hah..." Lin Tian memejamkan mata, merasakan kenikmatan luar biasa saat jiwanya diberi makan. Kesadaran Spiritualnya yang tadinya hanya bisa mencakup radius lima ratus meter, kini meluas dengan kecepatan gila.
Satu kilometer... dua kilometer... lima kilometer!
Rombongan Roh Yin berikutnya kembali menerjang tanpa rasa takut, hanya untuk menjadi bahan bakar bagi pusaran sistem Lin Tian. Selama setengah jam penuh, dataran abu-abu itu menjadi saksi bisu pembantaian sepihak di mana sang manusia menjadi monster pemangsa roh.
Ketika Roh Yin terakhir tersedot dan diubah menjadi Esensi Jiwa, Kesadaran Spiritual Lin Tian telah menembus batas kewajaran. Meskipun kultivasi Qi-nya berada di Pembentukan Pondasi Tahap 1 Puncak, kekuatan Jiwanya kini setara dengan kultivator Inti Emas (Golden Core) Tahap Awal! Ia bisa merasakan embusan angin, kepakan sayap lalat, bahkan fluktuasi Qi di balik batu pada radius sepuluh kilometer dengan sangat jernih.
"Luar biasa," Lin Tian membuka matanya yang kini memancarkan cahaya biru samar.
Tiba-tiba, tanah di depannya terbelah. Seekor kuda perang spektral raksasa melompat keluar, ditunggangi oleh sesosok Jenderal Roh Yin yang ukurannya tiga kali lebih besar dari prajurit biasa. Fluktuasi auranya sangat menekan—setara Pembentukan Pondasi Tahap 5!
Di dada jenderal tersebut, tertancap sebuah serpihan pedang patah yang memancarkan cahaya perak yang sangat kuno dan tajam.
"Itu..." Mata Lin Tian langsung tertuju pada serpihan pedang tersebut. Di dalam Lautan Kesadarannya, Benih Niat Pedang Kehancuran bergetar hebat, memancarkan rasa lapar yang luar biasa.
[Mendeteksi Objek: Pecahan Pedang Kaisar Kuno.]
[Mengandung Hukum Dao Pedang tingkat tinggi. Sangat direkomendasikan untuk diekstrak!]
Sang Jenderal Roh Yin mengayunkan tombak raksasanya, membelah ruang di depannya untuk memenggal Lin Tian.
"Menyingkir," suara Lin Tian terdengar datar.
Ia bahkan tidak mencabut belatinya. Dengan Kesadaran Spiritual setingkat Inti Emas, Lin Tian memadatkan jiwanya menjadi jarum tajam tak kasat mata dan menembakkannya langsung ke kepala sang jenderal.
Teknik Penusuk Jiwa! (Manipulasi murni dari kekuatan jiwa yang meluap).
CRASH!
Jenderal Roh Yin itu membeku di udara. Api biru di matanya padam seketika. Tubuhnya hancur menjadi debu karena inti jiwanya telah dihancurkan dalam satu serangan mental. Kuda spektralnya ikut lenyap.
Satu-satunya yang tersisa adalah Pecahan Pedang Kaisar Kuno yang kini jatuh ke bawah. Lin Tian menangkapnya dengan Tangan Besi Vajra Iblis. Ketajaman pecahan itu mencoba mengiris kulitnya, memercikkan api saat bergesekan dengan emas keperakan di telapak tangannya.
"Ekstrak Hukum Dao-nya dan berikan pada Benih Niat Pedang," perintah Lin Tian tanpa ragu.
Cahaya keemasan menyelimuti pecahan pedang itu. Dalam sekejap, benda logam itu berubah menjadi seberkas cahaya perak murni yang melesat masuk ke dahi Lin Tian, langsung menuju ke Lautan Kesadarannya.
Di sana, Benih Niat Pedang Kehancuran yang seukuran biji beras menyerap cahaya perak itu dengan rakus.
KRATAK...
Benih itu pecah! Dari dalamnya, tumbuhlah sebuah tunas kecil berwarna perak transparan yang bentuknya menyerupai pedang miniatur. Niat membunuh dan aura kehancuran yang dipancarkannya melonjak sepuluh kali lipat dari sebelumnya.
[Ding! Evolusi Berhasil!]
[Benih Niat Pedang telah berevolusi menjadi 'Tunas Niat Pedang'.]
[Serangan pedang Inang kini secara pasif mengabaikan 50% pertahanan fisik tingkat bumi ke bawah.]
Lin Tian tersenyum puas. Kekuatannya kembali mengalami lonjakan tajam.
Tepat pada saat itu, fluktuasi ruang di belakang Lin Tian beriak keras. Gerbang masuk ke dimensi lantai pertama kembali memuntahkan sekelompok orang.
Mo Fan, Murid Inti Nomor Satu Sekte Awan Azure, mendarat dengan napas tersengal-sengal. Di belakangnya, menyusul empat murid elit Awan Azure lainnya yang bajunya compang-camping dan dipenuhi darah. Melewati Tekanan Kehendak Kaisar di luar tadi hampir merenggut nyawa mereka.
Ketika Mo Fan mengangkat kepalanya, bersiap menghadapi bahaya apa pun di lantai pertama, ia tertegun. Dataran abu-abu itu benar-benar kosong. Tidak ada penjaga, tidak ada jebakan, tidak ada harta karun. Hanya debu tulang yang beterbangan, dan sosok Lin Tian berjubah putih yang berdiri membelakanginya.
Mo Fan bukanlah orang bodoh. Ia melihat sisa-sisa pusaran energi di udara dan menyadari bahwa tempat ini pasti tadinya memiliki ujian yang baru saja disapu bersih oleh Lin Tian.
Keserakahan dan rasa iri langsung membutakan mata Mo Fan. Sebagai Murid Inti Nomor Satu, ia merasa segala harta karun di reruntuhan ini seharusnya menjadi miliknya terlebih dahulu.
"Lin Tian!" seru Mo Fan, melangkah maju sambil menghunus pedang spiritualnya. "Benda apa yang baru saja kau dapatkan dari lantai ini? Sebagai sesama murid Sekte Awan Azure, sudah menjadi kewajibanmu untuk membagi sumber daya dengan faksi utama demi kejayaan sekte!"
Lin Tian menghentikan langkahnya menuju portal lantai dua. Ia menoleh sedikit dari atas bahunya. Niat Pedang perak berkelebat di pupil hitamnya, memancarkan kengerian yang membuat suhu tubuh Mo Fan anjlok seketika.
"Bagi sumber daya?" Lin Tian tersenyum dingin. Suaranya tidak keras, tetapi Niat Pedangnya menekan Mo Fan hingga lutut pemuda Tahap 8 itu bergetar. "Ketika aku diinjak-injak di sekte luar, di mana 'kejayaan sekte' kalian? Di sini, di dalam reruntuhan ini... akulah aturannya. Jika kau berani melangkah satu inci lagi dan menodongkan pedangmu padaku, aku akan memastikan kau tertinggal di sini sebagai tumpukan debu tulang tambahan."
Tekanan Kesadaran Jiwa tingkat Inti Emas milik Lin Tian menyapu Mo Fan dan keempat murid lainnya. Napas mereka tercekat. Mereka merasa seolah sebuah gunung pedang raksasa sedang menggantung tepat di atas leher mereka. Pedang spiritual di tangan Mo Fan berdenting jatuh ke tanah dari tangannya yang gemetar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Lin Tian berbalik dan melangkah masuk ke dalam pusaran portal menuju lantai dua Pagoda Kuno, meninggalkan murid-murid elit itu dalam ketakutan dan keputusasaan yang mutlak.