Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Darah di Pelabuhan Timur
Kabut tipis menyelimuti kawasan Pelabuhan Timur.
Deretan kontainer baja berdiri seperti tembok raksasa di bawah langit malam yang kelabu. Lampu-lampu pelabuhan memantulkan cahaya kuning redup di permukaan laut yang bergelombang pelan.
Tempat itu tampak biasa bagi orang luar.
Namun bagi dunia bawah kota, Pelabuhan Timur adalah salah satu sumber kehidupan keluarga Valdarez.
Barang-barang ilegal masuk melalui jalur itu.
Uang mengalir melalui jalur itu.
Dan selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai Leon Valdarez mati.
Kini semua berubah.
Di dalam sebuah gudang tua yang menghadap laut, Kael sedang memeriksa beberapa dokumen.
Ravian berdiri di dekat pintu.
Darius berjaga di jendela.
Sementara Arda duduk diam di sudut ruangan.
Sudah hampir seminggu sejak mereka meninggalkan mansion keluarga.
Namun perasaan kehilangan itu belum juga hilang.
Sesekali Arda masih terbangun di malam hari karena mimpi buruk.
Suara tembakan.
Tubuh ayahnya.
Dan darah yang memenuhi lantai.
Semuanya masih terasa nyata.
"Tatapannya kosong lagi."
gumam Darius.
Kael melirik ke arah Arda.
"Beri dia waktu."
"Kalau dunia memberi waktu."
jawab Darius.
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Karena mereka semua tahu kenyataannya.
Dunia mafia tidak pernah memberi waktu kepada siapa pun.
Terlebih kepada pewaris sebuah organisasi besar.
Pintu gudang tiba-tiba terbuka.
Seorang pria berlari masuk dengan napas memburu.
Salah satu anak buah lama Valdarez.
Wajahnya pucat.
"Kita punya masalah."
Ravian langsung berdiri.
"Masalah apa?"
"Orang-orang Nero."
Ruangan langsung menegang.
Victor Nero.
Nama itu semakin sering terdengar sejak kematian Leon.
Pria yang selama bertahun-tahun menjadi musuh terbesar keluarga Valdarez.
"Apa yang mereka lakukan?"
tanya Kael.
Pria itu menelan ludah.
"Mereka mengambil alih dermaga nomor tujuh."
Darius mengumpat pelan.
Dermaga nomor tujuh adalah salah satu titik terpenting di Pelabuhan Timur.
Jika wilayah itu jatuh, maka jalur distribusi Valdarez akan lumpuh.
"Itu wilayah kita."
ucap Ravian dingin.
"Mereka bilang sekarang bukan lagi."
jawab pria tersebut.
Beberapa menit kemudian.
Sebuah mobil hitam melaju menuju kawasan dermaga.
Arda duduk di kursi belakang.
Ia tidak diizinkan turun nanti.
Setidaknya itu rencana Kael.
Namun Arda tetap ikut.
Karena tidak ada tempat aman untuk meninggalkannya.
Saat kendaraan memasuki area pelabuhan, suasana langsung terasa berbeda.
Biasanya tempat itu ramai.
Kini sebagian besar pekerja menghilang.
Yang tersisa hanyalah bayangan-bayangan mencurigakan.
Dan pria-pria bersenjata.
"Kita terlambat."
gumam Ravian.
Mereka berhenti tidak jauh dari dermaga nomor tujuh.
Di sana sudah berdiri belasan orang.
Sebagian membawa senjata.
Sebagian lagi hanya berdiri sambil merokok.
Di tengah mereka berdiri seorang pria bertubuh besar.
Bekas luka membelah pipi kirinya.
Ia tersenyum saat melihat Kael.
"Aku tahu kalian akan datang."
kata pria itu.
Kael mengenalinya.
Marco Vance.
Salah satu tangan kanan Victor Nero.
"Pergi dari wilayah ini."
ucap Kael.
Marco tertawa.
"Tidak lagi."
"Ini milik Valdarez."
"Valdarez sudah mati."
jawab Marco.
Tatapannya kemudian beralih kepada mobil.
Tepat ke arah Arda.
Senyumnya melebar.
"Dan pewaris kecil itu akan menyusul."
Jantung Arda langsung berdegup lebih cepat.
Ia bisa merasakan tatapan pria itu.
Tatapan yang penuh kebencian.
Dan keinginan membunuh.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami sesuatu.
Mereka tidak hanya membunuh ayahnya.
Mereka juga ingin membunuh dirinya.
Di luar mobil, suasana semakin panas.
Kael melangkah maju.
"Kesempatan terakhir."
Marco hanya tertawa.
Lalu mengangkat tangannya.
Dalam hitungan detik, puluhan pria bersenjata muncul dari balik kontainer.
Mengepung area dermaga.
Ravian langsung mengumpat.
"Jebakan."
DOR!
Tembakan pertama memecah malam.
Kekacauan langsung terjadi.
Kael bergerak cepat berlindung di balik kontainer.
Ravian membalas tembakan.
Darius menarik beberapa anak buah Valdarez ke posisi aman.
Suara peluru menggema di seluruh pelabuhan.
Percikan api muncul saat logam terkena tembakan.
Arda membeku di dalam mobil.
Ia belum pernah melihat pertempuran sebesar ini dari dekat.
Orang-orang berlari.
Berteriak.
Jatuh.
Darah mulai mengalir di atas aspal pelabuhan.
DOR!
Kaca mobil retak.
Peluru menghantam hanya beberapa sentimeter dari tempat duduk Arda.
Napasnya tercekat.
Untuk sesaat ketakutan kembali menguasainya.
Namun kemudian ia mendengar suara Kael melalui alat komunikasi.
"Jangan keluar dari mobil!"
Arda menggenggam kursinya erat.
Berusaha tetap tenang.
Namun matanya terus melihat keluar.
Melihat dunia yang selama ini disembunyikan darinya.
Dunia yang dibangun ayahnya.
Dunia yang dipenuhi kekerasan.
Pertempuran berlangsung hampir lima belas menit.
Akhirnya anak buah Nero mulai mundur.
Beberapa terluka.
Beberapa tidak bangkit lagi.
Marco sendiri berhasil melarikan diri.
Namun sebelum pergi, pria itu sempat menatap Arda sekali lagi.
Lalu membuat gerakan menyayat leher dengan jarinya.
Ancaman.
Jelas.
Dan sengaja ditujukan kepadanya.
Setelah semuanya berakhir, suasana pelabuhan berubah sunyi.
Hanya suara ombak dan sirene jauh yang terdengar.
Arda turun dari mobil.
Untuk pertama kalinya ia melihat akibat perang mafia dari dekat.
Darah.
Korban luka.
Wajah-wajah penuh ketakutan.
Tidak seperti film.
Tidak seperti cerita.
Jauh lebih buruk.
"Kenapa mereka melakukan ini?"
tanyanya pelan.
Kael berdiri di sampingnya.
Karena uang?
Karena kekuasaan?
Karena balas dendam?
Pria itu tidak tahu jawaban mana yang paling tepat.
Akhirnya ia hanya berkata,
"Karena dunia ini sudah rusak sejak lama."
Saat mereka meninggalkan pelabuhan malam itu, Arda terus menatap laut dari balik jendela mobil.
Pikirannya penuh pertanyaan.
Namun satu hal mulai jelas.
Kematian Leon bukan akhir dari semuanya.
Itu hanya awal.
Dan cepat atau lambat...
Ia akan terseret semakin jauh ke dalam dunia yang selama ini ingin ia hindari.
Sementara di sebuah gedung tinggi di pusat kota, Victor Nero menerima laporan tentang kegagalan anak buahnya.
Pria itu mendengarkan tanpa ekspresi.
Lalu tersenyum tipis.
"Bagus."
Anak buahnya tampak bingung.
"Mereka berhasil mempertahankan pelabuhan."
Victor berdiri dari kursinya.
Lalu memandang foto Arda yang tergeletak di meja.
"Itu tidak penting."
Tatapannya menjadi dingin.
"Sekarang aku tahu bocah itu masih hidup."
Dan untuk pertama kalinya...
Victor Nero mulai menganggap Arda sebagai ancaman.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪