NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Intrik Wilayah Bawah

Sinar matahari musim dingin yang pucat tidak mampu menembus tebalnya awan abu-abu yang menggantung di atas kota bawah benteng Aethelgard. Kota ini dibangun tepat di kaki bukit berbatu tempat Kastil Aethelgard berdiri dengan megahnya. Berbeda dengan ketenangan yang ada di dalam kediaman utama klan Duster, kota bawah adalah tempat yang sibuk, bising, dan dipenuhi oleh derap langkah ribuan manusia yang mencoba bertahan hidup di tengah kerasnya iklim utara. Jalanan yang terbuat dari susunan batu hitam tampak basah oleh lelehan salju yang bercampur dengan lumpur.

Sander Duster berjalan dengan tenang di sepanjang jalan utama pasar perbatasan. Di usianya yang baru menginjak sembilan tahun, tubuhnya terbungkus rapat oleh jubah bulu serigala utara berwarna kelabu tebal yang hangat. Di samping kanannya, berjalan sesosok pemuda dengan langkah kaki yang hampir tidak bersuara sama sekali. Pemuda itu adalah Ren Cross, pelayan pribadi sekaligus pengawal bayangan yang telah ditunjuk untuk mendampingi Sander sejak kecil. Ren mengenakan pakaian praktis berwarna gelap dengan pembawaan yang selalu waspada, matanya yang tajam terus bergerak memindai setiap sudut kerumunan orang di sekitar mereka.

Tujuan Sander datang ke kota bawah hari ini adalah untuk melihat secara langsung proses distribusi logistik musim dingin. Sebagai anak seorang penguasa militer, Sander diajarkan untuk tidak hanya berdiam diri di dalam menara gading. Dia ingin melihat bagaimana gandum, daging kering, dan batu bara dibagikan kepada penduduk kota serta keluarga para prajurit rendahan yang menjaga dinding pembatas. Kereta-kereta kayu berukuran besar yang ditarik oleh lembu-lembu berbulu tebal tampak berbaris rapi di dekat gudang penyimpanan, diawasi ketat oleh para ksatria berbaju zirah klan Duster.

“Tuan muda, sebaiknya kita tidak terlalu dekat dengan area bongkar muat kereta. Tumpukan batu bara itu bisa mengotori jubah Anda, dan udara di sekitar sana terlalu banyak debu,” kata Ren Cross dengan nada suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh Sander.

Sander menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Ren sambil tersenyum tipis. “Aku tidak keberatan dengan sedikit debu, Ren. Aku hanya ingin memastikan bahwa jatah untuk distrik barat tidak dikurangi. Kemarin aku mendengar Aron mengatakan bahwa badai dari utara akan datang lebih cepat tahun ini.”

Ren menatap wajah tuan mudanya dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa hormat yang amat mendalam. Dedikasi pemuda itu kepada Sander bukan sekadar karena perintah dari Grand Duke Gabriel, melainkan karena ikatan emosional yang telah terbangun di antara mereka. Ren tahu betapa baiknya hati Sander, dan dia juga tahu tentang beban berat yang dipikul anak ini karena sirkulasi internalnya yang tidak biasa.

“Anda selalu memikirkan orang lain, Tuan Muda Sander,” ujar Ren, langkah kakinya kembali menyesuaikan dengan langkah kecil Sander. “Ke mana pun kaki Anda melangkah di masa depan, entah itu di tempat yang paling aman atau di tengah medan pertempuran yang paling gelap sekalipun, saya berjanji akan selalu menjadi bayangan yang menjaga Anda. Nyawa dan kesetiaan saya telah terikat sepenuhnya pada keselamatan Anda.”

Sander merasakan ketulusan yang luar biasa dari perkataan pelayannya. “Terima kasih, Ren. Aku beruntung memilikimu di sisiku.”

Saat mereka melanjutkan perjalanan menuju area pasar pusat yang menyajikan berbagai komoditas perdagangan dari wilayah selatan, kehebohan kecil terjadi di depan mereka. Kerumunan pedagang dan warga kota mendadak membelah, memberikan jalan dengan sikap membungkuk hormat yang sangat dalam. Dari arah berlawanan, sebuah rombongan kecil berlogo klan Frost tampak berjalan mendekat. Klan Frost adalah salah satu klan bangsawan paling berpengaruh di wilayah utara yang bertindak sebagai tangan kanan klan Duster dalam urusan administrasi dan pemerintahan sipil.

Di barisan depan rombongan itu, berjalan seorang pria paruh baya dengan pakaian bangsawan yang sangat mewah namun tetap praktis untuk cuaca dingin. Pria itu memiliki rambut perak yang dipotong rapi dan tatapan mata yang sangat tajam serta cerdas. Dia adalah Marquis Benedict Frost. Di samping kirinya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar tujuh tahun berjalan dengan anggun, menggenggam gaun bulu tebalnya agar tidak menyentuh lumpur jalanan. Anak perempuan itu adalah Sylvia Frost, putri tunggal sang Marquis. Sylvia memiliki rambut perak panjang yang berkilau seperti es dan mata biru jernih yang memancarkan kecerdasan di luar usianya.

Melihat keberadaan Sander di tengah pasar, mata Benedict Frost langsung berbinar. Dia segera mempercepat langkahnya, lalu membungkuk hormat dengan satu tangan di dada tepat di hadapan Sander yang usianya jauh lebih muda darinya. Sylvia yang berada di samping ayahnya juga melakukan gerakan berlutut kecil yang sangat anggun dan terlatih khas bangsawan tinggi.

“Sebuah kehormatan yang tidak terduga bisa bertemu dengan Anda di kota bawah ini, Tuan Muda Sander Duster,” kata Benedict Frost dengan suara yang cukup lantang, sengaja membiarkan para pedagang dan orang-orang di sekitar pasar mendengar interaksinya. Ini adalah sebuah pertunjukan politik yang halus namun sangat tegas.

Sander membalas penghormatan itu dengan menganggukkan kepalanya secara sopan. “Senang bertemu dengan Anda juga, Marquis Benedict. Saya hanya sedang melihat-lihat bagaimana proses distribusi logistik berjalan hari ini.”

Benedict tersenyum penuh arti, lalu melirik ke arah putrinya. “Sylvia, beri salam kepada Tuan Muda klan Duster.”

Sylvia Frost mendongak, mata birunya menatap langsung ke arah mata hitam Sander. Meskipun usianya masih sangat muda, ada kilatan ketegasan di dalam tatapannya. “Saya, Sylvia Frost, memberi salam kepada Tuan Muda Sander. Semoga kehangatan selalu menyertai klan Duster di musim yang dingin ini.”

Benedict kemudian menegakkan tubuhnya, kembali menatap Sander dengan raut wajah yang beralih menjadi sangat serius dan penuh kepatuhan. “Tuan muda, kehadiran Anda di sini membuktikan bahwa klan Duster selalu peduli pada rakyat utara. Saya ingin menegaskan kembali di hadapan Anda, bahwa klan Frost akan selalu berdiri teguh di belakang Grand Duke Gabriel dan seluruh keturunannya. Kesetiaan kami mutlak, dan seluruh sumber daya klan kami adalah milik Duster untuk diperintahkan kapan saja. Selama klan Duster memimpin utara, klan Frost akan selalu menjadi pedang dan perisai yang paling setia.”

Interaksi politik yang halus ini disaksikan oleh ratusan pasang mata di pasar perbatasan. Sander dapat merasakan betapa besarnya pengaruh dan wibawa yang dimiliki oleh ayahnya di wilayah ini. Bahkan seorang Marquis yang menguasai banyak wilayah administrasi harus menegaskan kesetiaannya secara terbuka di depan anak ketiga yang bahkan belum resmi menjadi seorang ksatria. Ini adalah bukti nyata bahwa di wilayah utara, kata-kata klan Duster adalah hukum yang tidak tertulis.

Setelah berbincang sejenak mengenai perkembangan logistik, Sander dan Ren akhirnya berpamitan untuk kembali ke kastil karena hari sudah mulai beranjak sore dan angin dingin bertiup semakin kencang. Rombongan klan Frost mengawal kepergian mereka dengan pandangan penuh hormat hingga sosok Sander menghilang di balik gerbang batu benteng atas.

Sekembalinya ke dalam kehangatan Kastil Aethelgard, Sander langsung menuju ke ruang keluarga kecil. Tubuhnya terasa cukup lelah, dan rasa perih mulai menjalar di telapak serta pergelangan tangan kanannya. Memar kebiruan yang didapatnya akibat memaksakan diri berlatih pedang kayu di bawah tekanan sirkulasi internal yang menolak energi di pagi hari tadi kini mulai membengkak dan terasa kaku.

Pintu ruangan terbuka, dan Grand Duchess Lyora Duster melangkah masuk dengan senyuman lembut yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Melihat Sander yang sedang duduk di dekat perapian sambil memandangi tangannya yang memar, raut wajah Lyora berubah menjadi penuh rasa khawatir yang keibuan. Dia segera berjalan mendekat, membawa sebuah mangkuk kecil berisi salep herbal berwarna hijau tua yang memancarkan aroma menenangkan.

Lyora duduk di samping Sander di atas sofa empuk, lalu mengambil tangan kanan anak laki-lakinya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah dia takut gerakannya akan menyakiti Sander lebih jauh. Dengan ujung jarinya yang halus, Lyora mengoleskan salep herbal tersebut ke atas memar di kulit Sander, lalu mulai memijatnya dengan tekanan yang sangat pas untuk menghilangkan rasa beku dan perih.

Sander hanya diam, menikmati kehangatan tangan ibunya yang terasa sangat nyaman di kulitnya. “Maafkan aku, Ibu. Aku membuat tangan ini memar lagi karena tidak mendengarkan nasihat Kak Aron,” bisik Sander dengan nada agak bersalah.

Lyora menghentikan gerakannya sejenak, menatap mata hitam Sander dengan pandangan mata yang sangat dalam, teduh, namun sarat akan kebijaksanaan hidup yang luar biasa. Dia mengusap punggung tangan anaknya dengan penuh kasih sayang sebelum melanjutkan pijatannya.

“Sander, anakku sayang,” kata Lyora dengan nada suara yang begitu lembut, bergetar tenang di antara suara gemeretak kayu yang terbakar di perapian. “Kekuatan sejati seorang ksatria di dunia ini tidak pernah dinilai dari seberapa besar ledakan Life Energy yang bisa dia ciptakan dari senjatanya. Kekuatan juga bukan tentang seberapa hancur tanah yang bisa kau belah dengan tebasan pedangmu.”

Lyora menatap langsung ke dalam jiwa Sander, memberikan pandangan hidup yang sangat mendalam yang belum pernah Sander dengar dari para instruktur militer kastil. “Kekuatan sejati adalah ketika seorang ksatria mampu menahan pijakan kakinya dengan kokoh di atas tanah, tidak bergeming sedikit pun oleh badai atau ketakutan, demi melindungi apa yang paling dia cintai di dalam hidupnya. Selama kau memiliki keinginan yang kuat untuk melindungi, kau akan selalu menemukan caramu sendiri untuk menjadi kuat, tidak peduli apa pun yang dikatakan oleh batu penguji itu.”

Kata-kata ibunya meresap jauh ke dalam hati Sander. Di tengah semua keraguan yang dia miliki tentang kondisi tubuhnya sendiri, doktrin kelembutan namun penuh kekuatan dari ibunya memberikan sebuah fondasi baru bagi jiwanya. Sander mengangguk pelan, merasakan kehangatan yang tidak hanya memulihkan memar di tangannya, tetapi juga memulihkan semangatnya yang sempat goyah. Dia tahu, di dalam kastil yang dikelilingi es ini, dia memiliki alasan yang sangat berharga untuk terus berjuang mencari jalan kekuatannya sendiri.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!