NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Langkah kaki Jasmine terasa begitu ringan saat ia melewati pintu kaca Floraison Cafe. Gemersik lonceng kuningan yang berdenting di atas kusen pintu terdengar seperti musik penyambutan yang jauh lebih merdu daripada riuh rendah sorakan penonton di London Copper Box Arena. Aroma kopi yang berpadu sempurna dengan wangi manis bunga mawar dan chamomile langsung menyergap indra penciumannya, mengusir sisa-sisa hawa pengap dari kabin bus dan tekanan kaku yang sempat menghimpit dadanya di luar sana. Liam melepaskan genggaman tangannya dengan sangat lembut begitu mereka berada di dalam area bar kafe yang hangat. Ia berbalik, menatap Jasmine dengan binar mata teduh yang sarat akan rasa bangga, namun sama sekali tidak ada ambisi atau tuntutan di dalamnya.

"Selamat datang kembali di dunia nyata, Jasmine," ucap Liam, suaranya terdengar begitu renyah dan menenangkan. Ia menarik sebuah kursi kayu empuk di dekat sudut jendela kaca besar, mempersilakan gadis itu untuk duduk. "Tunggu di sini sebentar yah. Aku udah menyiapkan sesuatu yang khusus untuk menyambut kepulangan kamu."

Jasmine mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya yang letih pada sandaran kursi. Matanya bergerak menjelajahi interior kafe yang sangat ia rindukan. Tanaman gantung yang hijau segar, vas-vas bunga mawar yang tertata rapi di setiap sudut meja, dan pencahayaan lampu kuning temaram yang menciptakan atmosfer magis bernuansa estetik. Di dekat kakinya, Donald si bebek putih besar, langsung merebahkan diri, paruhnya yang kuning sesekali mengetuk pelan ujung sepatu Jasmine, seolah memastikan bahwa tetangga kesayangannya itu benar-benar telah kembali.

Tidak butuh waktu lama bagi Liam untuk kembali dari balik meja bar. Di kedua tangannya, ia menenteng sebuah nampan kayu kecil. Liam meletakkan sebuah cangkir teh transparan di hadapan Jasmine, di mana kepulan uap hangat langsung menyebarkan aroma bunga chamomile yang sangat segar dan menenangkan pikiran. Namun, yang membuat mata Jasmine berbinar adalah benda kedua di atas nampan tersebut, sepotong pie buah murni dengan stroberi merah besar di atasnya, serta sebuah gelas kaca kecil berisi cairan lavender berwarna keunguan yang sama persis seperti minuman terakhir yang ia konsumsi sebelum terbang ke London.

"Aku tahu di pesawat kamu pasti kesulitan untuk tidur nyenyak," ujar Liam sambil mengambil posisi duduknya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil melempar senyuman miringnya yang khas. " Ayo minum selagi hangat. Anggap aja ini ramuan penghapus seluruh memori kaku yang buat kamu lelah selama di London."

Jasmine tersenyum sangat lebar. Ia mengangkat cangkir teh transparan itu dengan kedua tangannya, membiarkan uap hangatnya menyentuh permukaan wajahnya, lalu menyesap cairan kuning keemasan itu perlahan. Rasa manis yang lembut langsung mengalir di tenggorokannya, menyebarkan sensasi rileks yang luar biasa ke seluruh pembuluh darahnya. "Makasih banyak, Kak Liam. Ini... jauh lebih berharga daripada medali apa pun yang aku dapatkan di London."

---

Sementara itu, di luar dinding kaca kafe yang kokoh, atmosfer senja di tepi danau berubah menjadi semakin mencekam. Axel masih berdiri mematung di tengah jalan setapak. Sepasang matanya yang tajam tidak berkedip sedikit pun, menatap lurus menembus kaca transparan Floraison Cafe, menyaksikan bagaimana Jasmine tersenyum lepas dan tertawa kecil bersama Liam di dalam sana, sebuah pemandangan indah yang menjadi mimpi buruk terbesar bagi ego kepemimpinannya. Ilias menghela napas panjang, berjalan mendekati sang kapten lalu menepuk pundaknya dengan sangat berat. "Udah, Kak. Ayo kita masukkan koper-koper ke dalam rumah Jasmine dulu. Biarin dia menikmati waktunya sejenak. Tugas kita sebagai tim udah selesai hari ini."

"Tugas gue belum selesai, Ilias," desis Axel dengan nada suara yang sangat rendah dan dingin. Ia menepis tangan Ilias dari pundaknya dengan gerakan kasar. Sisa-sisa amarah, rasa cemburu, dan penolakan mentah-mentah dari Jasmine tadi membuat akal sehatnya sempat menguap. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa seorang pria asing yang hanya bermodalkan kafe bunga bisa meruntuhkan dominasi lima tahun yang ia bangun dengan susah payah.

Tanpa memedulikan teriakan peringatan dari Kenzie dan Bryan yang panik di dekat bus, Axel membalikkan tubuh tegapnya dan melangkah besar membelah jalan setapak. Ia berjalan lurus menuju pintu masuk kafe, mendorong pintu kaca itu dengan dorongan yang cukup keras hingga lonceng kuningan di atasnya berdering nyaring tanpa ritme yang teratur.

KLANG!

Suara pintu yang terbuka kasar itu seketika memotong kehangatan di dalam kafe. Jasmine tersentak kaget, cangkir teh di tangannya sedikit terguncang. Donald langsung berdiri tegak, mengeluarkan kuakan protes yang keras karena jam tidurnya diganggu. Liam perlahan menurunkan tangannya dari dagu. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang, memposisikan tubuh jangkungnya di depan meja Jasmine, seolah-olah secara otomatis bertindak sebagai benteng pelindung baru yang menghalangi pandangan Axel dari gadis itu.

"Mas Kapten, saya rasa saya sudah mengatakannya dengan cukup jelas di luar tadi. Kafe ini sudah tutup untuk umum, dan Jasmine sedang butuh waktu untuk bernapas," ucap Liam, suaranya melorot rendah, dingin, namun memancarkan otoritas maskulin yang sangat kuat, tidak goyah sedikit pun oleh kedatangan sang kapten juara dunia.

"Saya gak punya urusan dengan kafe Anda, Liam!" bentak Axel, langkah kakinya berhenti tepat satu meter di depan meja bar, matanya menatap Liam dengan kebencian yang mendalam. "Saya punya urusan dengan Jasmine. Dia adalah anggota Tim Aether. Dia terikat kontrak profesional dengan saya dan manajemen! Mas gak punya hak legal apa pun untuk menyembunyikannya di balik dinding kaca konyol ini!"

Liam tidak terpancing untuk berteriak membalas bentakan Axel. Sebaliknya, ia justru menyunggingkan sebuah senyuman miring yang terlihat sangat meremehkan bagi mata Axel. Liam melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Axel dengan pandangan mata yang penuh dengan penilaian dingin seorang pria dewasa yang jauh lebih matang secara emosional.

"Kontrak profesional yah?" Liam mendengus kecil, sebuah suara yang terdengar sangat memprovokasi ego Axel. "Mas selalu berlindung di balik kata 'profesional' dan 'bimbingan' untuk membenarkan tindakan posesif yang gak sehat itu, Mas Kapten. Dengar, saya memang enggak tahu banyak tentang dunia esports atau taktik game yang selalu Mas banggakan itu. Tapi saya tahu satu hal tentang manusia, ketika mas memperlakukan seseorang yang mas sayangi seperti sebuah aset atau barang inventaris yang harus diawasi selama dua puluh empat jam, itu bukan lagi bentuk perlindungan. Itu adalah obsesi gila yang ketakutan kehilangan kendali."

"Mas gak tahu apa-apa tentang apa yang sudah kami lalui!" suara Axel meninggi, tangannya mengepal kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih sempurna, menahan gejolak amarah yang sudah berada di ubun-ubun kepala. "Saya yang mengangkatnya dari titik terendah hidupnya! Kalau bukan karena saya dan Tim Aether, Jasmine gak akan pernah menjadi siapa-siapa di dunia ini! Dia tidak akan pernah berdiri di panggung internasional!"

"Kalau bukan karena ego mas yang egois, dia gak akan pernah menangis ketakutan di dalam kamar hotelnya di London karena merasa sesak oleh aturan mas!" balas Liam, kali ini dengan intonasi suara yang mendadak meninggi, penuh dengan penekanan tajam yang langsung menusuk tepat ke dalam pusat rasa bersalah terbesar di hati Axel.

Atmosfer di dalam kafe kaca itu seketika berubah menjadi sangat panas dan mencekam. Dua pria jangkung itu berdiri saling berhadapan dengan tatapan mata yang saling membunuh, memancarkan ketegangan raksasa yang siap meledak kapan saja.

"Liam, jaga bicaramu!" desis Axel, giginya mengatup rapat menahan diri agar tidak melayangkan pukulan fisik ke wajah pria di hadapannya.

"Saya hanya menyuarakan apa yang selama ini tidak berani dikatakan oleh Jasmine kepada Mas Kapten," sahut Liam, suaranya kembali melorot rendah namun terdengar sangat mutlak tanpa kompromi. "Mas memberikan masa depan yang bersinar di dalam layar monitor, tapi mas merampas haknya untuk menikmati kehidupan nyata di luar layar. Mas ingin dia menjadi penembak jitu terbaik yang selalu bisa mas andalkan untuk memenuhi ambisi mas menjadi juara dunia. Tapi di sini... di kafe ini, dia tidak perlu membuktikan apa pun. Dia hanya perlu menjadi seorang Jasmine yang utuh. Kalau Mas Kapten benar-benar menghormatinya sebagai seorang manusia, keluar dari kafe saya sekarang juga sebelum saya memanggil pihak keamanan kompleks untuk menyeret mas keluar."

Axel terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata Liam seolah menjadi palu godam yang menghancurkan sisa-sisa pembenaran taktis yang selama ini ia agungkan di dalam kepalanya. Ia melirik ke arah belakang bahu Liam, mendapati Jasmine sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, memancarkan perpaduan rasa sedih atas konflik ini, namun juga ketegasan mutlak yang mengisyaratkan bahwa gadis itu tidak akan pernah kembali ke dalam sangkar emasnya. Genggaman tangan Axel perlahan melonggar. Bahunya yang tegap mendadak merosot, memancarkan aura kekalahan emosional yang luar biasa telak bagi seorang pria yang baru saja dinobatkan sebagai juara dunia. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Axel membalikkan tubuhnya dengan kaku, melangkah keluar dari Floraison Cafe dengan langkah kaki yang berat, meninggalkan kehangatan dinding kaca seberang jalan yang kini telah sepenuhnya menjadi milik sang barista dan penembak jitu yang telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!