"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PERJAMUAN ULAR DAN SANDIWARA SEMPURNA
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Aula perjamuan malam ini tidak terasa seperti ruang makan keluarga. Bagiku, ini adalah zona demiliterisasi yang sedang dipenuhi oleh ranjau darat diplomatik. Melalui earpiece frekuensi rendah yang tersamarkan sebagai anting-anting perak kecil, aku bisa mendengar setiap desah napas dan detak jantung di ruangan ini.
Aku duduk di kursi jati berukir, kakiku yang mungil bahkan tidak menyentuh lantai, namun otoritas yang kupancarkan membuat para pelayan bergerak dengan presisi militer yang sudah kulatih. Di ujung meja, Kakek Alexander duduk dengan keangkuhan seorang kaisar yang sedang menunggu eksekusi. Di sampingnya, Nenek Catherine menatap piring porselennya seolah-olah sedang mencari celah untuk menyuntikkan racun.
"Papa," ucapku datar, suaraku memotong denting sendok perak yang sengaja diciptakan Alexander untuk membangun ketegangan. "Variabel tamu tambahan kita sudah melewati gerbang dalam. Pukul 19.05. Terlambat lima menit dari jadwal yang Kakek tentukan. Secara logistik, dia bukan mitra yang handal."
Alexander Xavier mendongak, matanya yang kelabu menyipit menatapku. "Dia bukan mitra, Leo. Dia adalah Clarissa von Heist. Putri dari konsorsium perbankan Eropa. Dia adalah standar yang seharusnya kau lihat sebagai pendamping seorang Xavier. Bukan... seorang kurator yang baru saja belajar memakai berlian."
Aku melirik Mama yang duduk di samping Papa. Genggaman tangan Papa di bawah meja terlihat dari pergerakan bahunya yang menegang. Mama tampak cantik dengan gaun biru safir, namun ada sedikit getaran di bulu matanya.
“Kak, Clarissa sedang memperbaiki riasannya di cermin lobi. Dia menggunakan parfum pheromone dosis rendah untuk menarik perhatian Papa. Secara psikologis, dia datang dengan mentalitas 'predator pemangsa'. Mama sedang berada dalam fase 'defensive-avoidant'. Aku butuh Papa melakukan serangan balik emosional dalam tiga menit,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
“Aku sedang meretas sinyal ponsel Clarissa. Dia membawa sebuah flash drive di tasnya. Nampaknya Kakek memberikan akses data internal Vipera padanya untuk memprovokasi Mama tentang 'ketidakmampuannya' dalam bisnis. Lea, aktifkan protokol 'Matchmaker Defense'. Jangan biarkan dia duduk di antara Papa dan Mama,” balasku lewat tatapan mata yang hanya dimengerti oleh kembaranku.
Pintu aula terbuka.
Clarissa von Heist melangkah masuk. Gaun emasnya menyapu lantai, memantulkan cahaya lampu kristal. Dia memiliki kecantikan yang dingin, jenis kecantikan yang dibangun dengan uang dan manipulasi politik. Dia mengabaikan kehadiranku dan Lea, langsung menuju ke arah Damian dengan senyum yang dipaksakan.
"Damian, sudah lama sekali," suara Clarissa seperti beludru yang menyembunyikan duri. Dia mengulurkan tangan, mengharapkan sebuah kecupan formal yang akan meruntuhkan martabat Mama di depan umum.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku melihat tarian mikro di wajah Clarissa. Sudut alisnya terangkat 2 milimeter—tanda penghinaan yang sangat dalam saat matanya melewati Mama. Dia pikir dia adalah pemain catur yang handal, padahal dia hanyalah pion yang diletakkan Kakek untuk menjadi umpan.
Analisis: Clarissa menderita kompleks superioritas. Dia tidak menganggap anak-anak sebagai ancaman. Ini adalah kesalahan taktis terbesarnya.
"Tante Clarissa!" seruku dengan nada riang, melompat dari kursi dan berlari kecil ke arahnya sebelum dia sempat menyentuh tangan Papa. Aku memegang gaun emasnya dengan tanganku yang sengaja kubuat sedikit lengket karena sisa saus appetizer. "Wah, gaun Tante mirip sekali dengan gorden di kamar mandi Nenek! Sangat berkilau!"
Clarissa tersentak, mencoba menarik gaunnya dengan wajah ngeri. "Bocah... hati-hati! Ini sutra Italia!"
"Maaf, Tante," aku mendongak dengan mata besar yang berkaca-kaca, menggunakan senjata 'keimutan' level maksimal. "Lea hanya kagum. Tapi Tante, kenapa Tante berkeringat di bagian pelipis? Menurut buku psikologi yang Lea baca, itu tanda kalau seseorang sedang menyembunyikan kecemasan karena melakukan kebohongan besar. Apa Tante sedang menyembunyikan sesuatu di dalam tas kecil itu?"
Wajah Clarissa memucat sekejap, lalu berubah menjadi merah padam saat Nenek Catherine berdeham keras.
"Lea, duduk!" perintah Nenek dengan suara tajam.
"Biarkan dia, Catherine," Damian menyela. Suaranya rendah, berwibawa, dan sangat protektif. Ia menarik kursi di samping Mama, memaksa Clarissa untuk duduk di seberang mereka—posisi yang secara psikologis menempatkan Clarissa sebagai 'musuh' di medan perang meja makan ini. "Leo, jelaskan pada tamu kita mengapa kita tidak menerima tamu yang membawa perangkat transmisi ilegal ke dalam perjamuan keluarga."
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Alexander Xavier meletakkan gelas anggurnya dengan keras.
"Damian, apa maksudmu?" tanya Kakek dengan nada mengancam.
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Aku menekan sebuah tombol di tablet kecil yang kusembunyikan di bawah serbet makan. Layar proyektor tersembunyi di dinding aula mendadak menyala, menampilkan log transmisi data dari ponsel Clarissa yang terhubung dengan server rahasia klan Xavier pusat di London.
"Pukul 19.10. Nona Clarissa mengirimkan koordinat real-time lokasi ini ke unit taktis cadangan di luar gerbang," ucapku tanpa ekspresi. "Dan di dalam tasnya, terdapat dokumen pengalihan aset yang sudah dipalsukan tanda tangan Papa. Strategi Kakek sangat klasik. Menggunakan makan malam keluarga untuk memaksa Papa menandatangani merger dengan von Heist sementara Mama dipermalukan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tentang hukum bisnis."
Aku berdiri di atas kursi, membuat posturku sejajar dengan orang-orang dewasa yang kini mulai panik.
"Kakek Alexander," aku menatapnya dengan mata Marsekal yang sesungguhnya. "Di duniaku, pengkhianat di meja makan adalah variabel pertama yang harus dieliminasi. Aku sudah membekukan seluruh aset Clarissa di bank Swiss dalam waktu tiga puluh detik yang lalu. Jika dia tidak meninggalkan ruangan ini sekarang, dia akan pulang sebagai orang miskin."
"Kau... kau gila! Bagaimana mungkin seorang anak—" teriak Clarissa, berdiri dengan gemetar.
"Duduk, Clarissa," suara Papa terdengar seperti guntur yang tertahan. Ia berdiri, merangkul bahu Mama dengan sangat protektif. "Putraku tidak pernah menggertak. Jika dia bilang kau bangkrut, maka kau memang bangkrut."
Aku melihat Mama menatap Papa dengan tatapan yang bercampur antara rasa tidak percaya dan kekaguman.
“Kak, hormon dopamin Mama meningkat. Dia merasa terlindungi. Ini momen yang tepat untuk serangan balik terakhir,” lapor Lea.
“Lakukan, Lea. Hancurkan moral Nenek,” balasku.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku berjalan menuju Nenek Catherine yang masih terpaku. Aku memegang tangan Mama, menuntunnya untuk berdiri tegak.
"Nenek," ucapku lembut. "Nenek bilang Mama tidak layak memakai berlian Xavier. Tapi Nenek lupa, berlian hanyalah karbon yang ditekan. Yang membuat Mama berharga bukan apa yang dia pakai, tapi apa yang dia miliki di dalam sini." Aku menunjuk jantung Mama.
Aku menoleh pada Mama. "Mama, tunjukkan pada mereka lukisan sketsa yang Mama buat tadi sore. Sketsa tentang 'Ular yang Terjebak dalam Perangkapnya Sendiri'."
Mama menarik napas panjang. Dia mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya—yang sebenarnya sudah diisi oleh Leo dengan data-data investigasi tentang korupsi Nenek Catherine di yayasan amal London.
"Catherine," suara Mama kini terdengar tenang dan kuat. "Aku mungkin bukan putri konsorsium bank. Tapi aku adalah ibu dari anak-anak ini. Dan sebagai kurator seni, aku bisa melihat mana yang asli dan mana yang palsu. Termasuk kesetiaanmu pada klan Xavier."
Mama menggeser layar tablet itu di atas meja menuju ke arah Kakek Alexander. Isinya adalah bukti bahwa Nenek Catherine telah merencanakan untuk melarikan diri ke Amerika Selatan dengan sebagian harta klan pusat jika rencana perjodohan Damian gagal.
Alexander Xavier membaca data itu. Tangannya yang memegang tongkat emas mulai bergetar hebat. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang bisa membunuh.
Checkmate, Nenek.
POV: DAMIAN XAVIER
Aku terpaku melihat pemandangan di depanku. Qinanti, wanitaku yang lembut, baru saja meruntuhkan otoritas ibuku hanya dengan satu gerakan tangan. Dan aku tahu, di balik itu semua, ada dua monster kecil yang sedang tersenyum puas di bayang-bayang.
"Alexander, Catherine," ucapku, suaraku kini sepenuhnya menjadi sang Raja Mafia. "Perjamuan ini selesai. Clarissa, pengawal akan mengantarmu ke bandara. Dan untuk kalian berdua... sayap barat akan dikunci mulai malam ini. Kalian akan tetap di sana sampai Leo memutuskan apa yang harus dilakukan dengan aset kalian yang tersisa."
Aku berbalik, menggendong Lea dengan satu tangan dan merangkul pinggang Qinanti dengan tangan lainnya. Leo berjalan di depan kami, memimpin jalan keluar dari aula seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan pengepungan tanpa menumpahkan darah.
"Papa," Leo memanggil saat kami sudah sampai di koridor yang sepi.
"Ya, Leo?"
"Efisiensi emosional Papa malam ini lumayan. Skor 85/100. Tapi Papa terlalu lama tiga detik saat Clarissa mencoba menyentuh tangan Papa. Itu bisa menimbulkan variabel kecemburuan yang tidak perlu pada Mama," kritik Leo dengan wajah datar.
Aku tertawa, sebuah tawa yang melepaskan semua beban di pundakku. Aku mengacak rambut Leo, meski ia mencoba menghindar dengan gaya aristokratnya. "Aku akan berusaha lebih baik lagi, Jenderal."
"Papa," Lea berbisik di telingaku, memberikan ciuman kecil di pipiku. "Mama sangat senang tadi. Dia merasa... berani. Strategi 'Matchmaker' tahap satu berhasil. Besok, Papa harus membawa Mama ke pameran seni di pusat kota tanpa pengawal. Biarkan Leo yang menjaga dari satelit."
Aku menatap Qinanti yang kini sedang tersenyum—senyum yang paling tulus yang pernah kulihat.
"Apapun untuk Ratu dan para penguasa bayanganku," jawabku.
Malam itu, di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar mansion, aku menyadari bahwa aku bukan lagi pion. Aku adalah benteng yang sedang dibangun kembali oleh anak-anakku sendiri untuk melindungi satu-satunya hati yang berharga di dunia ini.
Di kejauhan, di sayap barat, aku bisa mendengar suara pertengkaran hebat antara Alexander dan Catherine. Tapi bagi kami, suara itu hanyalah musik latar dari sebuah kemenangan yang mutlak.
Checkmate, Papa. Dan kali ini, aku benar-benar bahagia karena kalah.