“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Federasi Lin
Perjalanan melintasi batas Benua Tiandi terasa seperti menembus tirai cahaya yang tak berujung.
Lin Yue memimpin di depan, langkahnya ringan seolah ia berjalan di atas udara, sementara Shan Luo menggendong ibunya dengan hati-hati.
Semakin jauh mereka melangkah ke arah timur, udara yang tadinya kering dan penuh debu berubah menjadi lembap, segar, dan dipenuhi wangi damar purba serta oksigen yang sangat murni.
"Kita sudah sampai," ucap Lin Yue pelan, menghentikan langkahnya di depan dua pohon raksasa yang batangnya melilit satu sama lain membentuk gerbang alami setinggi seratus meter. "Selamat datang di Federasi Lin, jantung dari kehidupan Benua Tiandi."
Shan Luo mendongak, matanya membelalak kagum. Di hadapannya membentang hutan yang tak masuk di akal manusia biasa.
Pohon-pohon di sini begitu besar hingga satu batangnya bisa menampung sebuah desa kecil.
Daun-daunnya berwarna hijau zamrud yang berpendar lembut di bawah cahaya matahari, memancarkan partikel Qi kehidupan yang sangat padat.
Beberapa penjaga berpakaian zirah kayu cendana muncul dari balik bayang-bayang. Mereka membawa busur panjang yang memancarkan aura Kelas Bumi.
Namun, begitu mereka melihat Lin Yue, mereka serentak berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Hormat kepada Tetua Agung Lin Yue! Kami tidak tahu Anda akan kembali secepat ini," ucap salah satu penjaga dengan nada penuh pengabdian.
Lin Yue hanya mengangguk singkat, wajahnya kembali ke mode dingin yang penuh otoritas. "Siapkan Paviliun Akar Surgawi. Aku membawa tamu kehormatan. Siapa pun yang berani mengusik mereka tanpa izin dariku, kepalanya akan menjadi pupuk bagi hutan ini."
"Baik, Tetua!"
Shan Luo merasakan betapa tingginya kedudukan gurunya ini. Federasi Lin, salah satu dari empat pilar benua, adalah tempat yang sangat tertutup.
Orang luar biasanya akan tersesat selamanya di dalam labirin hutan atau mati terkena racun tanaman pelindung.
Namun, di bawah perlindungan Lin Yue, hutan itu seolah membukakan jalan bagi mereka.
Mereka tiba di sebuah paviliun yang dibangun menyatu dengan dahan pohon purba yang sangat besar.
Di tengah paviliun itu terdapat sebuah kolam kecil berisi air jernih yang mengeluarkan uap hangat.
"Ini adalah Kolam Embun Kayu," kata Lin Yue sambil membantu Shan Luo membaringkan Xue Ling di pembaringan sutra. "Airnya mengandung esensi kehidupan dari akar pohon purba. Biarkan ibumu beristirahat di sini. Energi kolam ini akan bekerja bersama kalung yang kau menangkan untuk memulihkan meridiannya yang rusak secara perlahan."
Shan Luo menatap ibunya yang mulai tertidur dengan napas yang jauh lebih tenang. "Terima kasih, Guru. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini."
Lin Yue berjalan mendekati Shan Luo. Di tempat ini, di bawah naungan dedaunan hijau, tatapan tajamnya tampak lebih tenang.
Ia mengangkat tangan, merapikan kerah baju Shan Luo yang berantakan dengan gerakan yang sangat teliti.
"Cara membalasnya adalah dengan tidak mati sia-sia," bisik Lin Yue. Ia kemudian memberikan sebuah buah berwarna biru bening kepada Shan Luo. "Makan ini. Ini buah Jiwa Hutan. Kau baru saja naik ke Tahap Pembentukan Fondasi dengan cara yang sangat kasar. Kau butuh energi murni untuk menstabilkan cairan Qi-mu."
Shan Luo memakan buah itu, dan seketika rasa manis yang menyegarkan mengalir ke seluruh tubuhnya, meredam gejolak sabit jiwa di lengannya.
Satu jam kemudian, Lin Yue membawa Shan Luo ke sebuah pelataran terbuka yang dikelilingi oleh bunga-bunga bercahaya.
"Duduklah di tengah," perintah Lin Yue.
Shan Luo bersila, memejamkan mata. Ia bisa merasakan energi alam di sini sangat masif. Jika di Kota Linyi energinya seperti aliran sungai kecil, di Federasi Lin energinya seperti samudera yang luas.
Lin Yue berdiri di belakangnya. Ia meletakkan telapak tangannya yang hangat di punggung Shan Luo, menyalurkan sedikit Qi miliknya untuk memandu aliran energi di dalam tubuh muridnya.
"Sabit itu adalah haus darah yang murni," suara Lin Yue terdengar tepat di telinga Shan Luo, lembut namun tegas. "Hutan ini adalah kehidupan yang murni. Gunakan napas pohon-pohon di sekitarmu untuk menyaring kegelapan di dalam Dantianmu. Jangan lawan sabit itu, tapi bungkus dia dengan energi kehidupan ini agar dia tunduk padamu."
Shan Luo mulai bermeditasi. Di bawah bimbingan Lin Yue, ia merasa seolah-olah akar-akar pohon di bawahnya terhubung dengan meridiannya.
Energi hijau masuk melalui pori-porinya, membasuh cairan Qi hitamnya hingga menjadi lebih murni dan tenang.
Selama berjam-jam, Lin Yue tetap berdiri di sana, menjaganya. Sesekali, ia menyeka keringat di pelipis Shan Luo menggunakan sapu tangannya sendiri.
Ada kelembutan yang tidak ia tunjukkan pada dunia luar, sebuah sisi yang hanya ia berikan pada muridnya yang unik ini.
Saat matahari mulai terbenam, menyisakan semburat jingga di antara celah dahan purba, Shan Luo membuka matanya.
Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan. Kekuatan Pembentukan Fondasi tahap awal miliknya kini telah benar-benar stabil.
Ia melihat Lin Yue sedang duduk tidak jauh darinya, sedang mengasah sebilah belati perak kecil dengan ekspresi melamun. Begitu menyadari Shan Luo sudah bangun, Lin Yue segera mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.
"Sudah selesai?" tanya Lin Yue.
"Sudah, Guru. Terima kasih." Shan Luo berdiri dan mendekat. Ia melihat ada sedikit noda tanah di jubah hijau zamrud Lin Yue. Tanpa pikir panjang, Shan Luo berlutut dan membersihkannya dengan tangannya.
Lin Yue tertegun sejenak, menatap kepala pemuda itu. Ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia justru membelai rambut Shan Luo, membiarkan jemarinya bermain di antara helai rambut perak dan hitam tersebut.
"Kau anak yang rajin," gumam Lin Yue, suaranya melembut. "Malam ini, tidurlah di samping ibumu. Besok, latihan yang sebenarnya dimulai. Aku tidak akan selembut hari ini saat kau mulai memegang pedang kayu lagi."
Shan Luo menatap mata Lin Yue yang setajam belati, namun kali ini ia melihat ada kehangatan yang tulus di sana. "Aku siap, Guru. Apa pun pelatihannya, aku akan melakukannya agar bisa melindungi Ibu ... dan juga melindungimu suatu saat nanti."
Lin Yue sedikit terkekeh, suara tawa yang sangat langka dan indah. "Melindungiku? Bocah kecil, kau butuh seribu tahun lagi untuk bisa melampaui kekuatanku."
Malam itu, di dalam keheningan hutan purba Federasi Lin, Shan Luo merasa benar-benar pulang.
Di satu sisi ada ibunya yang sedang dalam proses penyembuhan, dan di sisi lain ada seorang guru agung yang meskipun dingin, namun memberikan kehangatan yang baru bagi jiwanya yang sempat hancur.
Lentera-lentera alami dari bunga hutan mulai menyala, menerangi paviliun dengan cahaya magis, mengiringi langkah mereka memulai lembaran baru di tanah suci para penjaga kehidupan.