"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Aku memaksakan diri menelan makanan yang dibawakan pelayan Darrel. Meski rasanya hambar di lidahku yang kelu, aku tahu Darrel benar. Aku butuh energi. Jika aku ingin melihat matahari lagi, aku tidak boleh mati lemas di sini.
Sesaat setelah menghabiskan makanan, perutku terasa melilit. Mungkin karena stres, atau mungkin karena suhu dingin yang ekstrem di sel ini. Aku mencengkeram terali besi.
"Permisi!" teriakku pada pengawal yang berjaga di ujung lorong. "Aku... aku harus ke toilet. Sekarang!"
Pengawal itu, pria berkepala plontos dengan bekas luka di pipi, menoleh dengan malas. "Tahan sampai besok pagi."
"Aku tidak bisa! Apa kau mau aku mengotori sel ini dan Tuan Muda kalian marah karena tempat ini bau?" ancamku nekat, membawa-bawa nama Darrel.
Mendengar nama Darrel, pengawal itu tampak ragu. Ia menggerutu, lalu mendekat dan membukakan pintu sel. "Jangan macam-macam, Nona. Satu gerakan mencurigakan, dan aku tidak segan menembak kakimu."
Ia memasangkan borgol besi yang dingin di pergelangan tanganku, lalu menuntunku melewati lorong-lorong gelap markas bawah tanah itu. Kami berjalan cukup jauh, melewati beberapa pintu besi berat hingga sampai di sebuah ruangan kecil di ujung bangunan yang berfungsi sebagai toilet.
"Masuk. Aku tunggu di depan pintu," ketusnya.
"Buka borgolnya," pintaku sambil menunjukkan tanganku. "Bagaimana aku bisa membersihkan diri jika tanganku terikat seperti ini?"
Pengawal itu mendengus kasar, namun ia mengeluarkan kunci dan melepas borgol itu. "Cepat! Aku beri waktu lima menit!"
Begitu pintu tertutup, aku langsung mengunci pintu dari dalam. Jantungku berpacu sangat cepat. Aku melihat sekeliling ruangan yang lembap itu. Mataku tertuju pada sebuah jendela kecil di bagian atas dinding, satu-satunya sumber udara di sana.
Dengan susah payah, aku memanjat bak air dan mengintip ke luar. Mataku membelalak. Di balik jendela itu bukan lagi bangunan beton, melainkan hamparan hutan lebat yang gelap. Sepertinya toilet ini berada di batas paling belakang markas. Pagar tinggi klan Grisham terlihat beberapa meter di sebelah kanan, yang artinya area di depanku ini kemungkinan besar sudah di luar pengawasan ketat mereka.
"Nona! Kenapa lama sekali?!" teriak pengawal dari luar sambil menggedor pintu.
"Sebentar! Perutku sakit sekali!" sahutku dengan suara yang dibuat sedramatis mungkin.
Aku tidak punya banyak waktu. Dengan tenaga yang tersisa, aku menarik tubuhku ke arah jendela. Ukurannya sangat pas-pasan, namun tubuhku yang ramping berhasil melewatinya. Aku mendarat di tanah yang basah dengan suara bug.
Tanpa menoleh lagi, aku berlari.
Ranting-ranting pohon menggores lenganku, dan kakiku yang tanpa alas kaki terasa perih menginjak kerikil dan semak berduri. Tapi aku tidak peduli. Aku terus berlari menembus kegelapan hutan, menjauh dari lampu-lampu markas Grisham yang mulai mengecil di belakangku.
Aku harus selamat. Aku harus pergi jauh dari keluarga iblis itu, batinku di tengah napas yang tersengal-sengal.
***
Napas hancur berkeping-keping di tenggorokanku. Setiap kali paru-paruku menghirup udara malam yang dingin, rasanya seperti menelan ribuan jarum kecil. Aku terus berlari, mengabaikan rasa perih di telapak kakiku yang kini pasti sudah hancur bersimbah darah karena menginjak akar pohon dan bebatuan tajam. Kegelapan hutan ini seolah menelan tubuhku, tapi aku tidak peduli. Selama aku bergerak menjauh dari jeruji besi itu, aku akan terus berlari.
Di depan sana, di balik rimbunnya pohon-pohon raksasa, aku melihat bayangan sebuah gubuk kayu tua yang tampak terbengkalai. Harapan kecil muncul di dadaku—mungkin ada telepon, atau tempat bersembunyi. Namun, saat pintu ku dorong, bau anyir darah yang menyengat langsung merobek kesadaranku. Dua mayat pengawal berseragam asing tergeletak dengan luka sayatan mengerikan.
"Ya Tuhan..." aku mundur teratur, menghantam bingkai pintu. Aku menyadari satu hal: hutan ini bukan jalan menuju kebebasan, melainkan ladang pembantaian klan Grisham.
Ketakutanku memuncak. Aku berbalik dan berlari tanpa arah, hingga tubuhku mencapai batasnya. Duniamu mulai berputar, pepohonan seolah bergoyang menertawakanku.
Auuuuuuu!
Lolongan anjing pemburu membelah kesunyian, disusul cahaya senter yang menari-nari liar. Aku mencoba bangkit, namun kakiku tersangkut akar pohon. Aku ambruk, bersimpuh di tanah lembap yang kotor.
"Di sini! Saya menemukan jejak darahnya!"
Cahaya senter menyambar wajahku, membutakanku sejenak. Di tengah kepungan pria bersenjata, sosok Erlan Grisham melangkah maju dengan wibawa yang mematikan. Namun, yang membuat jantungku berhenti berdetak adalah pria di sampingnya. Darrel berdiri di sana, rahangnya mengeras, matanya menatapku dengan kebencian yang dingin.
"Kau punya nyali yang besar untuk seorang penjual bunga, Lily," ucap Erlan meremehkan. Ia menarik rambutku kasar, memaksaku melihat ke arah gubuk tadi. "Itu adalah orang-orang Winston. Kau ingin berakhir seperti mereka?"
"Lepas...kan..." bisikku lemah.
Erlan tertawa sinis, lalu melirik putranya. "Darrel, bawa istrimu pulang. Pastikan dia tidak punya kekuatan lagi untuk merangkak, apalagi berlari. Dia sudah mempermalukan keamananmu."
Darrel melangkah maju. Tidak ada kelembutan kali ini. Ia mencengkeram lenganku cukup kuat hingga aku merintih, sebelum akhirnya menyentakkan tubuhku ke dalam pelukannya.
"Sudah kubilang untuk tetap di sel itu, bodoh," bisik Darrel tepat di telingaku. Suaranya bukan lagi dingin, melainkan tajam seperti sembilu. "Kau menghancurkan satu-satunya cara yang kupunya untuk menjagamu tetap hidup. Sekarang, nikmati nerakamu."
Aku pingsan dalam dekapan kemarahannya.
***
Saat aku membuka mata, bau lavender yang mahal menyeruak. Aku berada di tempat tidur yang sangat empuk, namun tubuhku terasa remuk. Cahaya lampu kristal membuat mataku perih.
"Sudah puas bermain di hutan?"
Suara itu datang dari sudut ruangan. Darrel duduk di kursi kulit, masih mengenakan jas lengkapnya. Ia tidak menatapku; matanya tertuju pada segelas wiski di tangannya.
"Di... mana aku?" tanyaku parau.
"Kamar pengantinmu," sahutnya tajam, kini menatapku dengan mata yang memancarkan kekesalan luar biasa. "Kau tahu berapa banyak pengawal yang harus kuhajar karena kelalaian mereka membiarkanmu lari? Kau tahu hampir saja ayahku memerintahkan untuk menembakmu di tempat jika aku tidak menahannya?"
Aku mencoba duduk, menahan rasa sakit di kakiku. "Aku hanya ingin bebas! Aku tidak mau menikah denganmu!"
Darrel bangkit dari kursinya, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai kayu. Ia berdiri di sisi tempat tidur, menjulang tinggi di atasku. Atmosfer di ruangan itu mendadak menjadi sangat menyesakkan.
"Bebas?" Ia tertawa pendek, tawa yang kering dan tidak menyenangkan. "Kau hampir mati di tangan orang-orang Winston di gubuk itu jika mereka menemukanmu lebih dulu. Kau pikir kau bisa bertahan hidup sendiri?"
Ia menyodorkan segelas air putih dengan kasar ke arahku. "Minum. Jangan membuatku harus mencekokimu."
Aku menepis gelas itu hingga airnya tumpah ke seprai mahal di bawahku. "Aku lebih baik mati daripada terjebak di sini!"
Mata Darrel menggelap. Ia mencengkeram kedua bahuku, menekanku kembali ke bantal dengan kekuatan yang membuatku terkesiap. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku; aku bisa mencium aroma wiski dan kemarahan dari napasnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Liana Sabrina," desisnya. "Kau baru saja membuang satu-satunya kesempatanmu untuk hidup tenang. Dengan melarikan diri, Erlan sekarang menganggapmu sebagai ancaman yang harus diawasi 24 jam. Kau sekarang resmi menjadi tanggung jawabku, dan percayalah, aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk bersikap manis."
Ia melepaskan bahuku seolah aku adalah sesuatu yang menjijikkan. Ia menyambar kain kasa dan salep dari meja nakas, lalu menarik kakiku yang terluka dengan paksa.
"Sakit! Lepaskan!" aku meronta.
"Diam!" bentaknya, membuatku terdiam seketika. "Kakimu hancur karena kebodohanmu sendiri. Jika kau bergerak lagi, aku akan membiarkan luka ini membusuk agar kau benar-benar tidak bisa berjalan lagi."
Ia mulai mengobati lukaku dengan gerakan yang sangat kasar, jauh dari kesan lembut seorang dokter. Setiap sentuhannya terasa seperti hukuman. Ia tidak bicara lagi, wajahnya kaku seperti batu. Setelah selesai membalut kakiku, ia berdiri dan merapikan jasnya.
"Pelayan akan datang mengganti pakaianmu. Jangan coba-coba bicara padanya," ucapnya dingin sambil berjalan menuju pintu.
"Darrel..." panggilku lemah.
Ia berhenti, tapi tidak menoleh.
"Kenapa kau begitu marah? Bukankah kau juga tidak ingin pernikahan ini?"
Darrel terdiam sejenak. Bahunya tampak naik turun, menahan emosi yang meluap. "Aku marah karena aku membenci orang-orang yang tidak tahu cara menghargai nyawa mereka sendiri. Kau hanyalah beban tambahan yang tidak kuinginkan, Lily. Dan sekarang, beban itu terkunci di kamarku."
KLIK.
Pintu terkunci dari luar. Aku meringkuk di tengah tempat tidur besar itu, menatap perban di kakiku. Darrel tidak lagi menatapku dengan rasa familiar yang samar itu; kini yang tersisa hanyalah kebencian dan kemarahan karena keberadaanku telah mengusik dunianya yang gelap.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya