Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Llyn memasukkan koper kecilnya ke dalam bagasi. Lalu ia duduk di samping kemudi dan memegang sabuk pengaman dengan erat. Rasa gugupnya benar-benar menguasai dirinya.
"barangmu hanya segitu?"
"isinya hanya beberapa potong baju dan dokumen penting saja, sisanya belum aku bereskan."
"kapan kamu benar-benar angkat kaki dari rumah itu?"
"secepatnya, aku harus mengambil semua milikku sebelum pergi kan."
"yahh, hubungi aku kalau butuh bantuan."
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah mewah di pinggir kota. Sang mama memang sangat menyukai tempat yang hijau dan tenang, karena itu papa-nya membeli tanah di pinggiran kota untuk dibangun rumah yang kini menjadi rumah utama keluarganya.
Llyn berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya berharap gugupnya berkurang. Kalea sudah menunggu di luar mobil dan memberi ruang untuk sang sahabat.
Seorang pelayan laki-laki berlari kecil dari dalam dan membuka pagar yang menjulan tinggi itu.
"non Kalea, kenapa tidak langsung masuk saja?"
"ah pak Joko, nunggu Llyn keluar." bisik Kalea.
Pelayan tersebut terlihat terkejut dan memandang ke mobil berkaca gelap di depannya.
"saya akan memberitahu nyonya dan tuan besar."
"iya, tolong ya pak. Sebentar lagi kami masuk."
Pak Joko yang seorang kepala pelayan rumah utama, berlari pelan ke dalam rumah. Sesampainya di depan ruang kerja tuannya, ia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Joko! ada apa?"
"eh maaf tuan besar, anu... "
"anu anu, ada apa? kenapa masuk buru-buru begitu?"
"Nona besar sudah kembali."
"apa!?"
"nona Llyn, sudah kembali."
"... "
Pram langsung bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan cepat menuju dapur menghampiri sang istri. Mereka berdua terkejut sekaligus bahagia tapi juga sedih dan marah. Putrinya tiba-tiba saja kembali, mungkin saja itu kabar baik sekaligus kabar buruk.
Mereka berdua berjalan menuju pintu dan di saat yang bersamaan, pintu terbuka menampilkan dua wanita muda.
"om, tante." Sapa Kalea dengan sopan lalu berjalan sedikit ke samping.
Llyn yang posisinya sedikit di belakangnya kini terlihat jelas. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Matanya sayu dan sembab dengan rambut yang kusut. Sakit hati jelas terasa melihat putri satu-satunya terlihat menyedihkan seperti ini.
"ma.. pa.. "
Llyn terlihat ragu untuk melangkah maju, tapi kedua orang tuanya dengan kompak mengambil langkah lebih dulu dan membawa putri kesayangannya ke dalam pelukan. Air mata semua orang di ruangan itu menetes, suasana hangat ini terakhir dirasakan lebih dari lima tahun lalu.
PLAK!
"Aaakhh Mama!" Llyn berteriak tiba-tiba saat pukulan panas dari sang mama mendarat di bokongnya.
"paa mama tuh." rengekan manja itu kembali lagi.
Kalea dan Joko tertawa pelan melihat pemandangan di depan mereka. Tak hanya mereka berdua, Pram sang Papa juga tersenyum sembari mengusap air matanya.
"anaknya jangan dipukul terus."
"belain terus aja anaknya, udah gini baru tau rasa kan."
"sudah sudah, ayo masuk. Kita makan dulu, kasian anaknya pasti sudah lapar."
"iyaa, Kalea tadi bilang katanya sudah kelaparan."
Kalea yang mendengar itu langsung melotot dan tersenyum canggung ke orang tua sang sahabat. Menyebalkannya masih sama persis seperti dulu.
Sementara itu, Ray terbangun dari tidur tidak nyenyaknya dan masih tidak menemukan sang istri. Telfonnya masih tidak tersambung membuatnya marah. Nafsu makannya hilang dan ia langsung bergegas ke kantor. Di tengah perjalanan, sebuah telfon dari nomer yang sudah lama ia simpan membuatnya menghentikan mobil mendadak.
"haloo Ray." Suaranya mendayu menembus relung hatinya.
"halo."
"aku sudah kembali, bisa tolong jemput aku di bandara?"
"sekarang juga?" Ray sedikit terkejut karena setaunya wanita itu kembali minggu depan bukan sekarang.
"iya, aku sudah di bandara."
"baiklah, cari tempat yang nyaman. Tiga puluh menit lagi aku sampai."
"eumm, baiklah."
Ray memutar balik arah mobilnya dan tancap gas menuju bandara tempat kekasihnya menunggu.