NovelToon NovelToon
Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Dunia Terlalu Kejam Untuk Aku Yang Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Agnura

karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEY YANG MENAMPAR WAJAH SERA

Keributan besar itu akhirnya mereda, tetapi suasana gedung masih terasa panas dan penuh bisik-bisik. Para tamu kembali ke tempat masing-masing, namun tatapan sinis masih sesekali diarahkan pada Key yang kini berdiri sendirian di sudut ruangan, dekat meja panjang yang mulai sepi. Tangannya gemetar, napasnya tidak beraturan, dan matanya masih basah oleh air mata yang belum sempat ia hapus.

Harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan semua orang.

Ia menunduk, mencoba menahan amarah dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu. Namun tiba-tiba, langkah kaki seseorang mendekat. Aroma parfum yang begitu familiar membuat Key langsung tahu siapa itu.

Sera.

Dengan langkah santai dan senyum tipis yang penuh kemenangan, Sera berdiri tepat di hadapan Key. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi wajah sedih—yang ada hanya ekspresi licik yang selama ini tersembunyi.

“Makanya, Kak…” ucap Sera pelan, tetapi tajam seperti pisau. “Kamu itu jangan pernah coba-coba melawan aku.”

Key perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah, penuh luka, tapi juga mulai dipenuhi amarah.

Sera tersenyum miring, lalu mendekat sedikit, suaranya diturunkan seolah ini adalah rahasia yang hanya boleh mereka berdua dengar. “Ken itu milik aku. Sepenuhnya. Dan kamu? Kamu cuma pengganggu yang harus disingkirkan.”

Napas Key tertahan.

Sera melanjutkan, dengan nada penuh kesombongan, “Oh ya… soal kalung tadi…” Ia tertawa kecil. “Itu memang aku yang masukin ke tas kamu.”

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tepat di dada Key.

“Aku cuma pengen lihat kamu dipermalukan,” lanjut Sera tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Dan ternyata… kamu benar-benar terlihat menyedihkan di depan semua orang tadi.”

Sunyi sejenak.

Kemudian—

PLAK!

Suara tamparan keras menggema di sudut ruangan itu.

Wajah Sera terlempar ke samping. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah. Untuk beberapa detik, ia terdiam, tidak menyangka Key akan melakukan itu.

Key berdiri tegak, napasnya memburu, matanya penuh api. “Kamu keterlaluan, Sera!” suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah tidak bisa ditahan lagi. “Selama ini aku diam bukan berarti aku lemah!”

Namun dalam hitungan detik, sesuatu berubah.

Sera yang tadi terlihat licik, perlahan mengubah ekspresinya. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Tangannya naik menutupi pipinya yang ditampar.

Air mata mulai jatuh.

“A-aku… aku cuma…” suaranya melemah, terputus-putus. “Kenapa kamu harus melakukan ini ke aku, Kak…?”

Perubahan itu begitu cepat, begitu sempurna, hingga terasa seperti sebuah pertunjukan.

Dan tepat di saat itu—

“KEY!”

Suara Ken menggema keras.

Langkah cepatnya mendekat, wajahnya penuh amarah. Ia langsung berdiri di antara mereka, menarik Sera ke belakangnya seolah melindunginya dari bahaya.

“Apa yang kamu lakukan?!” bentaknya tajam pada Key.

Key tertegun. “Ken, aku—”

Belum sempat ia menjelaskan, Sera terisak di belakang Ken. Tangannya mencengkeram lengan Ken, tubuhnya gemetar seolah ketakutan.

“Ken… aku takut…” bisiknya pelan, namun cukup untuk didengar.

Ken langsung menoleh padanya, ekspresinya berubah menjadi penuh kekhawatiran. “Sera… kamu tidak apa-apa?”

Sera menggeleng pelan, air matanya terus mengalir. “Aku cuma mau bicara baik-baik sama Kak Key… tapi dia malah marah dan… dan menampar aku…”

Kata-katanya terdengar rapuh, penuh luka—seolah-olah dialah korban sebenarnya.

“Tidak!” seru Key, suaranya meninggi. “Dia bohong! Dia yang—”

“Cukup!” potong Ken dengan suara keras yang membuat Key terdiam.

Tatapan Ken kini penuh kemarahan yang membara. “Aku sudah cukup sabar sama kamu, Key. Tapi ini? Kamu benar-benar sudah keterlaluan.”

Key menggeleng cepat, air matanya jatuh lagi. “Ken, dengarkan aku! Dia yang menjebak aku! Kalung itu—”

“Bukti sudah ada!” bentak Ken. “Dan sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu memperlakukan Sera!”

Sera semakin merapat ke Ken, seolah mencari perlindungan. “Aku tidak apa-apa, Ken… mungkin Kak Key memang membenciku…” ucapnya lirih, semakin memainkan perannya.

Ucapan itu seperti bensin yang disiram ke api.

“Benci?” Ken tertawa sinis. “Kalau benci sampai seperti ini, itu sudah bukan benci, tapi iri.”

Key terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun.

“Aku tidak pernah menyangka kamu serendah ini,” lanjut Ken dingin. “Mencuri, lalu berani melakukan kekerasan.”

Hati Key benar-benar hancur saat itu.

Ia menatap Ken, berharap masih ada sedikit saja kepercayaan yang tersisa. Namun yang ia lihat hanyalah dinding dingin yang tidak bisa ditembus.

Sementara itu, di balik bahu Ken, Sera perlahan mengangkat wajahnya.

Air matanya masih mengalir, tapi di sudut bibirnya terselip senyum tipis—senyum kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Key.

Dan di saat itulah, Key sadar…

Ia tidak hanya kalah.

Ia sedang dihancurkan, perlahan, oleh seseorang yang tahu persis bagaimana memainkan peran sebagai korban.

1
EvhaLynn
Saya Sangat Menyukai Cerita Novel Mu, Semangat Ya Berkarya.
😉🤍
Agnura Lestari 🍑
siap say otw
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!