“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan yang Beracun
Pukul 12:15 siang.
Ruang kerja yang sebelumnya hanya diisi oleh suara detak jam dinding, kini dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris terasa seperti udara padat yang menekan dada. Layar laptop di atas meja jati itu masih menyala terang, menampilkan cuplikan video yang barusan diputar berulang kali. Rekaman itu seolah menjadi saksi bisu yang tidak bisa lagi disangkal, sebuah bukti digital yang merobek topeng kesucian yang selama ini dipakai oleh putri kesayangan keluarga Valenor.
Semua mata di ruangan itu tertuju pada layar, namun anehnya, tidak semua orang benar-benar ingin melihat kebenaran yang terpampang jelas. Bastian dan Clara Valenor tampak seperti orang yang baru saja menelan batu; keras, kaku, dan penuh penolakan.
Di sudut lain, Ceisya berdiri dengan sangat santai. Salah satu tangannya bertumpu ringan di permukaan kayu meja yang dingin. Ia tidak tampak seperti seorang tertuduh yang baru saja lolos dari maut.
Sebaliknya, senyum tipis masih terukir di bibirnya yang kemerahan—sebuah senyum tengil yang menunjukkan bahwa bagi seorang santriwati sepertinya, menghadapi drama keluarga kaya ini hanyalah permainan kecil yang cukup menghibur.
Clarisse berdiri beberapa langkah di belakang, tubuhnya sedikit gemetar. Matanya membesar menatap layar, namun hanya sesaat sebelum ia menyadari bahwa posisinya terancam. Dalam hitungan detik, ia menundukkan wajahnya. Bahunya mulai bergetar pelan, dan air mata kristal mulai jatuh satu per satu membasahi pipinya yang mulus.
“Aku… aku tidak mengerti…” ucap Clarisse lirih. Suaranya bergetar begitu sempurna, memiliki nada pilu yang biasanya akan membuat semua pria di ruangan itu langsung berlutut untuk menenangkannya. “Kenapa… kenapa di video itu terlihat seperti itu…?”
Ia mundur satu langkah, tangannya menutup mulutnya seolah sedang mengalami syok hebat. Sebuah akting tingkat tinggi yang dirancang untuk membuat orang berpikir bahwa video itu hanyalah manipulasi.
Ceisya melirik sekilas, lalu mendengus pelan tanpa niat menyembunyikan rasa muaknya. “Aktingnya bagus banget. Kalau ada piala Oscar di sini, aku sudah kasih ke kamu,” gumamnya santai.
“CEISYRA! JAGA BICARAMU!” bentak ayahnya. Suaranya menggelegar, mencoba menutupi rasa malu yang ia rasakan di depan Kaelthas.
Ceisya hanya mengangkat bahu ringan, sama sekali tidak terintimidasi oleh suara bariton ayahnya. “Aku cuma bilang fakta. Atau… kalian masih mau percaya versi yang lebih dramatis dan nggak masuk akal?”
Clarisse menggeleng cepat, air matanya semakin deras. “Tidak! Aku tidak berbohong… aku benar-benar merasa didorong saat itu! Mungkin kameranya yang salah tangkap!” ucapnya dengan suara gemetar.
Namun kali ini, serangan balik Ceisya mulai menunjukkan hasil. Clara Valenor, yang biasanya langsung memeluk Clarisse, kini terlihat ragu. Tatapannya beralih dari layar ke arah Clarisse, lalu kembali lagi ke layar. Logika mulai berperang dengan rasa sayang yang buta.
Hening. Berat. Mencekam.
Kaelthas Virelion yang sejak tadi berdiri diam seperti patung dewa yang dingin, akhirnya bergerak. Ia melangkah perlahan mendekati meja. Setiap langkah kakinya menimbulkan suara ketukan di lantai marmer yang terdengar seperti lonceng kematian bagi kebohongan Clarisse. Matanya tertuju pada layar, meneliti setiap gerakan, lalu perlahan berpindah ke arah Ceisya.
Tatapannya dalam, tajam, dan kali ini… jelas berbeda. Tidak ada lagi penghinaan di sana. “Menarik,” gumam Kaelthas pelan, suaranya rendah dan memiliki getaran yang membuat bulu kuduk meremang.
Ceisya menyeringai tipis, ia menatap balik mata pria itu tanpa rasa takut. “Aku juga berpikir begitu. Fakta selalu lebih menarik daripada dongeng, kan, Tuan?”
Suasana yang semakin tegang itu akhirnya dipotong oleh suara Clara yang mencoba mengendalikan keadaan. Ia tidak sanggup melihat Clarisse terus-menerus terpojok. “Cukup! Kita akan bahas detail ini nanti. Sekarang… waktu sudah siang. Kita makan siang dulu bersama Tuan Kaelthas.”
Keputusan itu terdengar seperti pelarian yang pengecut, namun tidak ada yang membantah.
Mereka butuh jarak dari laptop itu.
Bastian mempersilahkan Kaelthas jalan terlebih dahulu, Kaelthas menatap Ceisya. Lalu melangkah di ikuti Sebastian dan Clara. Clarisse menatap Ceisya tajam.
Kenapa, senang ya topeng mu mulai retak." Ucap Ceisya dengan nada tenang lalu melangkah keluar.
"Sialan, dia mulai berubah di tambah memakai jilbab." desis Clarisse dengan tangan terkepal.
Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah duduk di ruang makan yang luasnya mungkin seukuran lapangan basket di pesantren Ceisya. Meja panjang dari kayu ek itu dipenuhi berbagai hidangan mewah—dari steak wagyu hingga lobster yang aromanya menggugah selera. Namun, suasana di sana jauh dari kata nikmat.
Keheningan di ruang makan itu begitu canggung, bahkan suara sendok yang menyentuh piring porselen pun terdengar seperti dentuman keras. Tuan dan Nyonya Valenor duduk di ujung meja, Clarisse di sisi kiri dengan wajah yang masih tertunduk sedih, dan Kaelthas di sisi kanan, berhadapan langsung dengan Ceisya.
Ceisya duduk dengan posisi yang sangat santai, sangat kontras dengan ketegangan di sekelilingnya. Ia mengambil makanan dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi penyiksaan cambuk pada punggungnya beberapa jam yang lalu. Insting petarungnya memaksa tubuhnya untuk tetap tegak dan kuat.
Ia melirik ke arah Kaelthas yang sejak tadi hanya memotong dagingnya dengan presisi yang menakutkan, tanpa menyentuh minumannya sedikit pun.
“Kamu dari tadi diam saja,” ucap Ceisya ringan, memecah keheningan yang kaku. “Biasanya orang penting kayak kamu langsung ambil kesimpulan setelah lihat bukti, kan? Kenapa sekarang malah jadi pendiam?”
Semua pelayan di ruangan itu langsung menahan napas. Berani sekali nona mereka berbicara seolah-olah Kaelthas adalah teman sebangkunya! Tuan Valenor hampir tersedak minumannya sendiri.
Kaelthas tidak langsung menjawab. Ia meletakkan pisau dan garpunya perlahan, lalu menyandarkan tubuhnya yang tegap ke sandaran kursi berlapis beludru itu. Matanya terkunci pada Ceisya.
“Aku tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan yang besar,” jawab Kaelthas tenang, namun ada nada penuh arti di balik suaranya.
Ceisya mengangguk pelan, ia meminum air putihnya dengan elegan. “Bagus. Soalnya kalau buru-buru, biasanya orang suka salah pilih. Dan salah pilih itu… mahal harganya, Tuan.”
Deg.
Kalimat itu terdengar ringan, tapi sangat tajam hingga menusuk ke arah Clarisse. Semua orang tahu apa maksud Ceisya: Kaelthas jangan sampai salah pilih tunangan.
Clarisse yang duduk di seberang Ceisya menggenggam erat sendoknya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Senyum lembutnya masih terpasang di wajah, namun matanya—sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap. Di balik wajah malaikatnya, ada badai kecemburuan yang mengamuk.
‘Kaelthas hanya milikku. Sejak dulu… hanya milikku!’ suara itu berteriak di dalam kepalanya.
Clarisse menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresi aslinya yang mulai retak. Ia melirik Ceisya dengan tatapan dingin yang dipenuhi kebencian. ‘Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilnya… apalagi sampah sepertimu, Kak.’
Sementara itu, Tuan Valenor berdehem pelan, mencoba mengalihkan suasana ke topik yang lebih menguntungkan keluarganya.
“Tuan Kaelthas,” ucap Tuan Valenor dengan nada formal dan penuh harap. “Sebenarnya, kedatangan Anda hari ini juga sekaligus untuk membahas kelanjutan… pertunangan. Mengingat insiden kemarin, kami merasa perlu memperjelas semuanya.”
Clarisse langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, ada harapan besar yang muncul di matanya yang berkaca-kaca.
Nyonya Valenor menimpali dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Benar, Tuan. Sesuai perjanjian lama antara mendiang leluhur kita… keluarga Valenor akan menjalin ikatan abadi dengan Virelion. Karena Ceisyra… yah, kita tahu bagaimana kelakuannya selama ini… maka kami memutuskan bahwa Clarisse-lah yang akan bertunangan dengan Anda.”
Hening. Ruang makan itu mendadak kehilangan suaranya. Semua mata tertuju pada Kaelthas, menunggu jawaban sang penguasa dunia itu.
Contoh Visual Karakter
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca