Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
***
Malam harinya, Desa Sukamaju diselimuti kesunyian. Bagas baru saja kembali satu jam yang lalu, membawa rasa bersalah yang besar karena meninggalkan istrinya seharian. Setelah memastikan Gilang dan Arka tertidur pulas di kamar sebelah, Bagas langsung menuju kamar utama.
Ia mendapati Laras sedang berjalan-jalan kecil di dalam kamar, satu tangannya memegang pinggang, tangan lainnya berpegangan pada tiang ranjang.
"Ras... gimana? Masih sama?" tanya Bagas cemas, ia segera menghampiri dan merangkul bahu Laras.
"Iya, Mas. Masih mulas, tapi Bu Siti tadi bilang pembukaannya masih tetap di angka dua. Masih belum nambah," jawab Laras lelah.
Wajahnya tampak sangat letih setelah berjuang selama dua hari.
Bagas mengajak Laras keluar kamar, berjalan-jalan di ruang tengah yang lebih luas agar Laras tidak merasa jenuh. Sesekali Laras berhenti, membungkuk dalam karena kontraksi itu datang lagi. Ia mencengkeram erat lengan suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Bagas sambil mengatur napas yang tersengal.
"Mas nggak tega lihat kamu begini terus, Ras. Sudah dua hari kamu nggak tidur nyenyak," bisik Bagas parau. Ia menciumi puncak kepala Laras.
Ia teringat saran Bu Siti sore tadi sebelum pulang. “Pak Kades, kalau pembukaannya macet begini, biasanya kalau suami istri berhubungan badan bisa membantu memicu hormon oksitosin dan melunakkan jalan lahir. Itu cara alami agar pembukaan cepat bertambah.”
Bagas ragu sejenak, namun melihat penderitaan Laras yang tak kunjung usai, ia memberanikan diri. "Ras... Bu Siti tadi bilang, ada cara supaya pembukaannya cepat nambah. Kita... kita coba ikhtiar dengan cara suami istri, ya? Siapa tahu adek bayi langsung dapet jalan."
Laras mendongak, menatap mata Bagas. Ia melihat keinginan suaminya untuk membantunya lepas dari rasa sakit ini. Laras hanya mengangguk pelan, ia pun sudah pasrah dan ingin bayinya segera lahir.
Bagas membimbing Laras menuju sofa panjang di ruang tengah, tempat yang terasa lebih privat namun cukup lega. Di bawah cahaya lampu ruang tengah yang temaram, Bagas memulai aksinya dengan sangat lembut. Ia menciumi kening, mata, dan bibir Laras dengan penuh kasih sayang, seolah setiap sentuhannya adalah obat bagi rasa sakit Laras.
Bagas membuka daster Laras dengan perlahan. Meskipun rasa mulas itu masih ada, sentuhan tangan Bagas yang hangat mulai memberikan sensasi rileks yang berbeda. Bagas memposisikan Laras senyaman mungkin agar tidak membebani perutnya yang besar.
"Sakit nggak, Ras? Bilang ya kalau sakit," bisik Bagas serak di telinga Laras.
"Nggghhh... lakukan saja, Mas... Laras mau adek bayi cepat lahir," rintih Laras tertahan.
Penyatuan malam itu terasa sangat berbeda. Bukan hanya sekadar pelepasan hasrat, melainkan sebuah ikhtiar perjuangan. Bagas bergerak dengan sangat hati-hati, ritmenya mengikuti napas Laras yang memburu. Setiap kali Bagas masuk lebih dalam, Laras merintih, antara menahan nyeri kontraksi dan merasakan sensasi nikmat yang merambat.
"Aaahh... nggghhh... Mas Bagas... pelan-pelan..." desah Laras parau. Tangannya mencengkeram bahu Bagas, kukunya sedikit menekan kulit suaminya.
Bagas mengerang rendah, keringat membanjiri tubuhnya. "Oohh, Laras... Sayang... kuat ya... ahh, nikmat sekali kamu, Ras..."
Ruang tengah itu dipenuhi oleh suara rintihan dan desahan yang bersahutan. Laras mendesah panjang saat Bagas menciumi leher dan dadanya, mencoba mengalihkan fokus Laras dari rasa mulas yang terus menggempur.
"Nggghhh... ahhh... Mas... perutku kencang banget... ahh!" Laras merintih saat kontraksi datang bersamaan dengan gerakan Bagas yang kian intens.
Bagas kian mempercepat gerakannya saat merasakan Laras mulai bergetar. Erangan kenikmatan keluar dari mulut Bagas, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Laras. "Ahh... sedikit lagi, Ras... ohhh, Larasati..."
Mereka berdua menyatu dalam pergulatan emosi dan fisik yang luar biasa. Laras merintih panjang saat mencapai puncaknya, tubuhnya terasa lemas sekaligus segar oleh luapan hormon yang keluar. Bagas pun melepaskan erangan kepuasan yang mendalam, memeluk Laras erat-erat di atas sofa itu.
Setelah semuanya usai, Bagas tetap memeluk Laras, membiarkan napas mereka kembali teratur di tengah keheningan malam.
"Semoga setelah ini adek bayi langsung pintar nyari jalan lahir ya, Sayang," bisik Bagas sambil mengusap perut Laras yang kembali mengeras.
Laras hanya mengangguk lemas dalam pelukan suaminya, berharap ikhtiar terakhir ini membuahkan hasil agar penantian panjang mereka segera berakhir dengan tangisan bayi yang sehat.
***
Bersambung...
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.