Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ikatan darah dan baja
Nayan mengusap lembut kepala Ana yang tengah tertidur pulas di pangkuannya. Entah mengapa, ia mulai merasa nyaman menjalani peran sebagai Nayan. Seolah ada ketenangan yang selama ini tidak pernah ia temukan saat ia menjadi Sedra, sang pendekar yang selalu hidup dalam bayang-bayang konflik.
"Nayan, Tuan Cakra belum pulang juga?" tanya Riu, memecah kesunyian malam.
Nayan hanya menggeleng pelan. Namun, ada gurat kekhawatiran yang tersirat di wajahnya, sebuah ekspresi yang tak luput dari pengamatan tajam Riu.
"Kau terlihat sangat mencemaskannya." goda Riu sembari mengambil posisi duduk di samping Nayan.
Nayan sedikit tersentak. "Ah... e-tidak. Maksudku, tidak juga. Aku hanya..." Kalimatnya menggantung, ia bingung harus mencari alasan apa.
Tepat saat itu, sosok Cakra muncul dari balik pintu . Nayan spontan beranjak dan mendekati pria itu .
"Kau dari mana saja, Cakra? Tadi saat festival selesai, aku mencarimu ke mana-mana ." ucap Nayan dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang lega .
Riu menghela kasar napasnya sambil tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya ini .
"Hmm... katanya tidak khawatir." gumamnya sangat lirih, hampir seperti bisikan.
"Maaf, aku tadi..." Cakra mulai memutar otak, mencari alasan yang masuk akal. Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Ana tiba-tiba terbangun.
"Paman Cakra! Paman sudah kembali!" seru Ana dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Gadis kecil itu duduk dan menatap Cakra dengan tatapan nanar. Melihat itu, Cakra merasa tergerak . ia duduk di samping Ana dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Namun, pandangan Cakra seketika terkunci pada luka di siku dan lutut Ana yang sudah tertutup obat.
"Kau terluka, Ana?" tanya Cakra, suaranya mendadak berat.
Cakra menatap Nayan dan Riu secara bergantian, seolah menuntut penjelasan. Riu hanya mengedikkan bahu karena ia pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi , Nayan belum menceritakan apa pun padanya.
"Apa ada orang yang mengganggu kalian?" tanya Cakra lagi. Wajahnya terlihat sedikit galak, sebuah insting pelindung yang muncul secara alami.
"Paman, sebenarnya..." Ana baru saja akan mengadu, namun ia segera membungkam mulutnya sendiri saat melihat Nayan sedikit menggelengkan kepala ke arahnya .
Dengan sedikit ragu, Nayan mendekatkan diri pada Cakra. Ia menyentuh lembut bahu pria itu sebuah sentuhan sederhana yang sontak membuat jantung Cakra berdegup kencang secara tidak wajar.
"Ana baik-baik saja, Cakra. Dia hanya tersandung dan jatuh tadi." ucap Nayan, mencoba menenangkan suasana.
***
Elias duduk bersila dalam keheningan pertapaannya. Di hadapannya, pedang milik Sedra mulai bergetar hebat, perlahan-lahan berdiri tegak dengan sendirinya sembari memancarkan cahaya keunguan yang menyilaukan.
Dengan konsentrasi penuh, Elias mulai menyerap energi dari pedang itu. Cahaya tersebut merayap masuk ke dalam tubuhnya, mengalir melalui pembuluh darah hingga tahap pertama pertapaannya tuntas.
Sang Guru mendekat, membawa sebuah cawan berisi ramuan khusus yang aromanya sangat tajam.
"Minumlah ini, Pangeran," ujar Guru sembari menyodorkan ramuan itu.
"Tenagamu terkuras habis. Tahap selanjutnya dari tapa ini akan jauh lebih sulit dan menyiksa."
Elias meneguk cairan itu, merasakan aliran panas yang memulihkan otot-ototnya yang kaku. "Guru, apa aku sudah bisa mencoba kekuatan ini?"
Sang Guru berdecak dalam hati. "Kau benar-benar dibutakan oleh ambisi, Pangeran. Jika bukan karena dendamku pada Sedra, aku tidak akan pernah sudi membantu orang sepertimu."
Namun, yang terucap dari mulutnya hanyalah . "Kau bisa mencobanya besok pagi. Untuk sekarang, sebaiknya istirahatkan tubuhmu."
Guru itu pun berlalu, meninggalkan Elias dalam kegelapan. Elias menyeringai tipis, menganggap remeh peringatan sang Guru.
Begitu ia yakin telah sendirian, ego dan kesombongannya mengambil alih. Ia mulai merapal mantra untuk menjajal kekuatan barunya.
Namun, kekuatan itu terlalu liar. Bukannya tunduk, energi pedang itu justru berbalik menyerang, memukul mundur tubuh Elias hingga ia terhuyung. Bukannya berhenti, Elias yang keras kepala justru semakin gencar mencoba memaksa kekuatan itu tunduk padanya.
.....
Disisi lain Nayan tiba-tiba merasakan keanehan luar biasa. Tubuhnya mendadak panas membara, seolah ada energi asing yang merangsek masuk dan mencabik-cabik organ dalamnya secara bersamaan.
"Akkkh...!"
Nayan meringis kesakitan sembari memegangi dadanya. Keringat dingin bercucuran deras, membasahi wajahnya yang kini berubah pucat .
"Ada apa ini... apa yang terjadi padaku?" gumam Nayan dengan suara yang bergetar hebat.
Rasa sakit itu memuncak, membuat Nayan seketika ambruk. Suaranya tercekat di tenggorokan, napasnya tersengal-sengal seolah ada ribuan belati yang menghujam jantungnya.
Cakra yang melihat itu sontak berlari menghampiri. Wajahnya dilingkupi kecemasan yang luar biasa saat melihat Nayan terkapar tak berdaya.
"Nayan! Nayan, kau kenapa?!" teriak Cakra dengan nada frustrasi. Ia mendekap tubuh Nayan, sementara matanya mencari bantuan dengan liar. "Riu! Riu, cepat ke sini!" teriak Cakra.
Nayan terus mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung menahan derita yang tak kasat mata hingga ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Sesaat kemudian, tubuhnya terkulai lemas, pingsan tak sadarkan diri di pelukan Cakra.
Melihat pemandangan itu, pertahanan diri Cakra runtuh. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia kehilangan ketenangannya sebagai seorang pangeran.
Riu yang baru saja sampai bersama Ana langsung tersentak melihat kekacauan di depannya. "Ada apa ini, Pangeran?!" serunya panik.
"Cepat panggil tabib... Riu, cepat!" teriak Cakra dengan suara yang serak dan pecah karena kalut.
Di sisi lain, Ana tak hentinya terisak. Tangan kecilnya menggenggam erat jemari Nayan yang mulai mendingin. "Kakak, bangun... Kakak buka matamu, hiks..." tangisnya pun pecah.
****
Sementara itu, di istana, Wisya melangkah masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati oleh Sedra. Dengan tawa puas yang bergaung di dinding kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas peraduan sutra yang mewah.
"Sedra... sekarang kau akan tahu rasanya menjadi sampah yang tak berdaya." gumam Wisya sinis.
"Dulu kau memiliki segalanya Sedra . Kecantikan juga kekuatan yang mematikan..., bahkan Ibu dan Ayah pun sampai hati menghapus keberadaanku dari dunia ini hanya demi menyelamatkanmu."
Tawa kemenangannya perlahan memudar, berganti dengan kilatan amarah yang membakar netranya. Bayang-bayang masa lalu mulai berputar kembali di benaknya, menghadirkan luka lama yang tak pernah sembuh.
Flashback....
Bersambung....
🍄🍄🍄🍄