No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Di Lembah Gagak
Lembah Gagak adalah sebuah celah sempit yang diapit oleh dua tebing curam. Di sinilah Gao Shuo membangun pos pertahanan sementara untuk mengawasi jalur perdagangan utara. Obor-obor menyala di setiap sudut benteng kayu, dan suara tawa kasar para prajurit yang sedang bermain judi terdengar kontras dengan kesunyian malam.
Di puncak tebing sebelah barat, tersembunyi di balik rimbunnya semak berduri, Song Yuan berjongkok. Tubuhnya hampir tak terlihat, menyatu sempurna dengan kegelapan berkat jubah hitam pemberian Mo Chen. Matanya yang kuning keemasan menyipit, memetakan setiap pergerakan penjaga di bawah sana.
"Tiga di gerbang depan, dua di menara pengintai, dan satu patroli setiap sepuluh menit," gumam Yuan. Suaranya terbawa angin, nyaris tak terdengar.
Ia tidak menggunakan Panah Tulang Jiwa pemberian Mo Chen. Baginya, prajurit rendahan ini tidak layak mendapatkan "harta" sesadis itu. Ia mengeluarkan anak panah kayu biasa yang ujungnya sudah ia olesi racun pelumpuh saraf.
Yuan menarik napas, lalu menahannya. Detak jantungnya melambat hingga ke titik terendah—sebuah teknik meditasi yang diajarkan Mo Chen agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh indra musuh.
Wusss!
Anak panah pertama meluncur tanpa suara. Pemanah di menara pengintai sebelah kiri tiba-tiba memegangi lehernya. Ia tidak sempat berteriak. Racun itu membekukan pita suaranya dalam sedetik, dan sedetik kemudian, tubuhnya merosot jatuh ke dalam tumpukan jerami di bawah.
Dua.
Yuan bergerak. Ia tidak berjalan, melainkan meluncur turun dari tebing menggunakan tali sutra hitam. Gerakannya luwes seperti ular yang turun dari dahan pohon. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung merayap di balik bayang-bayang barak.
"Hei, kau dengar sesuatu?" tanya seorang penjaga gemuk kepada temannya di dekat gudang logistik.
"Paling cuma tikus atau angin. Kau ini penakut sekali," jawab temannya sambil menguap.
Tepat saat si penjaga gemuk berbalik, sebuah tangan yang dingin dan kuat membekap mulutnya. Sebelum ia sempat berontak, sebuah belati kecil sudah menembus titik saraf di belakang lehernya. Ia mati seketika tanpa setetes pun darah yang membasahi lantai. Yuan menangkap tubuhnya agar tidak menimbulkan bunyi debum yang mencurigakan.
Temannya yang satu lagi masih asyik mengorek telinga sampai ia menyadari suasana mendadak terlalu sepi. "Lho, kau mau ke mana, Gendut?"
Ia menoleh, tapi yang ia lihat bukan temannya, melainkan sepasang mata kuning yang bersinar di kegelapan.
Sret!
Belati Yuan menyambar tenggorokannya. Cepat, bersih, dan mematikan.
"Satu per satu," bisik Yuan sambil menyeka belatinya di baju prajurit itu.
Yuan terus merangsek masuk ke tenda utama. Di sana, ia berharap menemukan peta kekuatan Gao Shuo atau setidaknya daftar logistik yang bisa ia sabotase. Namun, saat ia menyelinap ke dalam tenda besar yang tampak paling mewah, ia tidak menemukan Gao Shuo.
Di atas meja kayu besar, terdapat sebuah laporan militer yang tersegel dengan lambang burung elang. Yuan membukanya dengan hati-hati.
Target: Anak Jenderal Song. Status: Masih hidup. Terlihat di sekitar Hutan Hitam. Perintahkan Unit Elang untuk menyisir perbatasan.”
Darah Yuan mendidih. Jadi mereka tahu! Mereka tahu dia masih hidup dan mereka sedang memburunya.
"Jadi, tikus kecilnya sudah masuk ke dalam perangkap, ya?" sebuah suara berat dan serak terdengar dari arah pintu tenda.
Yuan langsung berputar, memasang anak panah ke busurnya dalam satu gerakan refleks yang luar biasa. Di depan tenda, berdiri seorang pria tinggi besar dengan armor perak yang berkilau. Di wajahnya terdapat bekas luka goresan panjang yang sudah mengering, namun nampak sangat jelas.
Itu bukan Gao Shuo, melainkan Letnan Feng, tangan kanan Gao Shuo yang dikenal sangat sadis dalam interogasi.
"Aku mencium bau amis ular dari tubuhmu, Bocah," Feng menyeringai, mencabut pedang besarnya. "Jadi kau murid si hantu Mo Chen itu? Pantas saja kau berbau seperti bangkai."
"Di mana Gao Shuo?" tanya Yuan. Matanya kini benar-benar berubah menyerupai mata predator.
"Komandan sedang di Ibukota, merayakan kenaikan pangkatnya. Tapi jangan khawatir, kepalamu akan menjadi hadiah kejutan untuknya minggu depan!" Feng menerjang maju dengan kecepatan yang tak terduga untuk orang bertubuh besar.
Yuan melompat mundur, menembakkan tiga anak panah sekaligus dalam satu tarikan. Tri-Shot! Teknik tingkat tinggi yang ia latih sambil menutup mata.
Feng menangkis dua panah dengan pedangnya, tapi yang ketiga berhasil menggores bahunya. "Hanya segini kemampuanmu?!"
Yuan tersenyum tipis—senyum dingin yang ia pelajari dari Mo Chen. "Lihatlah bahumu, Letnan."
Feng melirik bahunya. Luka goresan kecil itu mulai berubah warna menjadi hitam legam. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. "Racun... racun apa ini?!"
"Itu adalah racun Tangisan Ular. Dalam tiga menit, paru-parumu akan mengeras seperti batu," ucap Yuan sambil berjalan mendekat. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia berdiri tegak, membiarkan cahaya obor menyinari wajahnya yang penuh dendam.
"Katakan pada Gao Shuo di neraka nanti... utang nyawa Desa Songjia akan dibayar dengan bunga yang sangat besar."
Yuan tidak menunggu jawaban. Ia melepaskan satu anak panah tepat ke dahi Feng dari jarak dekat.
Malam itu, Lembah Gagak terbakar. Bukan oleh serangan pasukan besar, tapi oleh satu orang pemuda yang membawa dendam satu desa. Sebelum meninggalkan markas yang hancur itu, Yuan meninggalkan satu tanda di dinding tenda utama menggunakan darah Letnan Feng:
"AKU KEMBALI."
Yuan berdiri di atas bukit yang menghadap ke Lembah Gagak, menatap kobaran api yang mulai melalap pos pertahanan tersebut. Asap hitam membubung tinggi, menelan cahaya bulan yang pucat. Baginya, suara kayu yang berderak dimakan api terdengar seperti bisikan ribuan jiwa dari Desa Songjia yang akhirnya mendapatkan sedikit ketenangan.
Ia tidak merasa senang. Hatinya tetap sedingin es, namun ada kepuasan yang tajam saat ia melihat lencana kayu di tangannya kini sedikit ternoda oleh darah musuh.
"Ini baru satu orang, Ayah," batinnya. "Satu dari ribuan nyawa yang harus membayar malam itu."
Ia menyimpan kembali lencananya, lalu menyampirkan busur hitamnya di bahu. Angin malam yang bertiup kencang membawa bau hangus daging dan kayu, namun Yuan tidak berpaling. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan, menghilang seperti bayangan sebelum fajar sempat menyentuh bumi.
Di belakangnya, Lembah Gagak telah menjadi kuburan massal yang sunyi. Kabar tentang kematian Letnan Feng akan sampai ke Ibukota dalam hitungan hari, dan saat itu terjadi, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa sang pemanah hantu telah bangkit untuk meruntuhkan langit mereka.
Malam itu, burung-burung gagak benar-benar berpesta, tapi kali ini mereka memuja sang predator baru.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏