NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Arsitektur Pengorbanan dan Penghinaan

​Dengung pendingin ruangan di lantai dua puluh lima Gedung Dirgantara pagi ini terdengar seperti gergaji mesin yang perlahan mengiris kewarasan Kanaya Larasati. Ia duduk mematung di kubikelnya, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan skema pencahayaan pilar ketujuh, namun pikirannya tertinggal di lorong perpustakaan material kemarin sore.

​Kalimat Arjuna di ruang CEO terus bergema di kepalanya, menumbuk dinding kesadarannya tanpa henti: “Ayahmu bukan sekadar perajin kayu yang gagal... hutang itu tidak pernah lunas. Ayahku memegang seluruh sertifikat tanah dan surat hutang asli keluarga kalian.”

​Naya meremas ujung pulpennya hingga plastiknya berderit. Rasa mual yang ia rasakan kemarin belum sepenuhnya hilang; kini rasa itu bercampur dengan amarah yang dingin dan rasa syukur yang tidak ia inginkan. Ia membenci fakta bahwa pria yang ia anggap sebagai tiran kaku ternyata adalah perisai manusia yang sedang menahan serangan dari raksasa yang lebih kejam. Namun, ia lebih membenci dirinya sendiri karena merasa berhutang budi pada pengorbanan yang dibalut dengan penghinaan itu.

​'Jadi ini harganya, Arjuna?' batin Naya, jemarinya yang gemetar mulai mengetik barisan angka di keyboard dengan paksa. 'Kau menukarkan kebebasanmu, menukarkan masa depanmu dengan wanita seperti Aline, hanya untuk menyelamatkan gubuk tua kami di pinggiran Jakarta? Kau pikir kau siapa? Pahlawan tragis dalam maket yang kau buat sendiri? Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi martir.'

​Tiba-tiba, aroma parfum peony dan sandalwood yang sangat mahal—aroma yang sama sekali tidak selaras dengan bau kopi dan kertas kantor—menginvasi ruang udara di sekitar Naya. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya.

​"Nona Kanaya, selamat pagi. Sepertinya Senior Designer kita sedang sangat tenggelam dalam dunianya sendiri."

​Suara Aline Wijaya mengalun lembut, namun memiliki frekuensi yang tajam seperti gesekan sutra pada permukaan kaca. Naya menarik napas panjang, memejamkan mata sedetik untuk mengunci seluruh emosinya di balik jeruji logika, lalu memutar kursinya.

​Aline berdiri di sana, mengenakan setelan jas wanita berwarna merah muda pucat yang tampak begitu segar. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan bertatahkan berlian berkilau setiap kali ia menggerakkan tangannya. Senyumnya sempurna, namun matanya memindai kubikel Naya dengan tatapan yang seolah-olah sedang memeriksa kebersihan sebuah gudang penyimpanan.

​"Selamat pagi, Nona Aline," sahut Naya, suaranya terdengar datar dan profesional. Ia berdiri, menegakkan punggungnya yang terasa kaku. "Ada yang bisa saya bantu? Saya rasa jadwal peninjauan interior baru akan diadakan minggu depan."

​Aline tertawa kecil, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya. "Oh, aku tidak sabar menunggu minggu depan. Sebagai calon nyonya Dirgantara, aku merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan 'sentuhan' yang kau berikan pada hotel kami tidak terlalu... bagaimana ya menyebutnya... terlalu bersahaja."

​Aline melangkah maju, ujung sepatu hak tingginya menyentuh pinggiran karpet kubikel Naya. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh sampel marmer yang tergeletak di meja Naya dengan ujung kukunya yang dipulas cat merah menyala.

​"Arjuna bilang kau jenius soal cahaya," ucap Aline, nada suaranya berubah menjadi lebih dingin. "Tapi aku melihat drafmu semalam. Cahaya amber itu... terlalu emosional. Grand Azure butuh kemegahan yang dingin dan absolut, bukan suasana hangat yang mengingatkanku pada kedai kopi murah. Aku ingin kau mengganti seluruh sistem pencahayaannya menjadi Cool White dengan intensitas tinggi."

​Darah Naya seketika mendidih. Desain pencahayaan itu adalah jantung dari seluruh konsep 'Breathing Stone' yang ia perjuangkan di Bali dan di site konstruksi. Menggantinya menjadi putih dingin akan membunuh jiwa pualam tersebut, mengubahnya menjadi tumpukan batu mati yang tidak berbeda dengan mal perbelanjaan biasa.

​'Dia sengaja melakukannya,' batin Naya, rahangnya mengeras. 'Dia tidak sedang bicara soal estetika. Dia sedang mencoba menghapus setiap jejak ideku yang disukai Juna. Dia ingin menandai wilayahnya dengan menghancurkan karyaku.'

​"Maaf, Nona Aline," Naya mencoba menjaga nada suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang. "Pencahayaan Amber dipilih berdasarkan koefisien refleksi marmer Calacatta Gold. Jika kita menggunakan Cool White, tekstur urat emas pada batu itu akan terlihat pucat dan kehilangan dimensi kemewahannya. Pak Arjuna sudah menyetujui parameter ini secara teknis."

​Mendengar nama Juna disebut, sorot mata Aline menajam. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Naya, memangkas jarak hingga Naya bisa melihat pantulan dirinya di mata Aline yang penuh dengan rasa berkuasa.

​"Arjuna menyetujuinya karena dia menghargai investasimu di lapangan. Tapi mulai hari ini, aku adalah penentu selera di keluarga ini," desis Aline. "Jangan gunakan nama tunanganku untuk melindungi desain naifmu, Kanaya. Kau di sini untuk bekerja, bukan untuk menanamkan 'perasaan' ke dalam bangunan. Gantilah warnanya, atau aku yang akan memastikan namamu tidak akan ada dalam plakat peresmian nanti."

​Aline berbalik dengan gerakan yang sangat anggun, meninggalkan Naya yang berdiri mematung dengan tangan yang mengepal kuat.

​Dua lantai di atasnya, di dalam ruang CEO yang luas, Arjuna Dirgantara sedang berdiri menghadap dinding kacanya. Di bawah sana, Jakarta tampak seperti sebuah maket raksasa yang belum selesai—kacau, berisik, dan penuh dengan variabel yang tidak bisa ia kendalikan.

​Juna tidak mengenakan jasnya. Kemeja putihnya yang lengannya digulung hingga siku tampak sedikit berkerut, menunjukkan bahwa pria itu tidak sempat beristirahat dengan layak. Di atas mejanya, sebuah tablet menampilkan rekaman CCTV dari lantai dua puluh lima. Ia melihat interaksi antara Aline dan Naya. Ia tidak bisa mendengar suaranya, namun ia bisa melihat bagaimana bahu Naya menegang dan bagaimana Aline menunjuk-nunjuk meja Naya dengan sikap meremehkan.

​'Kau melakukan kesalahan lagi, Arjuna,' batin Juna, ia menghantamkan kepalannya ke kaca jendela dengan pelan namun bertenaga. 'Kau pikir dengan bertunangan kau bisa menjauhkan Aline darinya? Ternyata kau justru membawa predator itu langsung ke sarangnya. Kau hanya memberi Aline alasan untuk menghancurkan Kanaya secara perlahan di depan matamu.'

​Riko masuk membawa laporan audit vendor baja yang baru saja ditandatangani oleh Bastian. Juna menyambar laporan itu tanpa melihat wajah asistennya.

​"Siapkan ruang rapat kecil di lantai tiga puluh sekarang," perintah Juna, suaranya terdengar serak. "Panggil Kanaya Larasati. Sendirian. Jangan biarkan Aline tahu."

​"Tapi Pak, Nona Aline saat ini sedang berada di ruang tunggu eksekutif sedang memesan katering untuk acara makan malam keluarga besok—"

​"Gunakan lift servis jika perlu! Aku butuh bicara dengan Kanaya soal pencahayaan pilar terakhir," potong Juna tajam.

​Riko mengangguk patuh dan segera keluar. Juna kemudian mematikan monitor CCTV-nya. Ia merasa seperti seorang pengecut yang sedang merencanakan pertemuan rahasia di dalam kerajaannya sendiri. Namun, rasa sesak di dadanya setiap kali melihat Naya dipermalukan oleh Aline jauh lebih menyiksa daripada rasa takutnya pada sang ayah.

​Naya masuk ke ruang rapat kecil di lantai tiga puluh melalui pintu samping. Ruangan itu kedap suara, hanya diterangi oleh lampu dekoratif yang redup, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus intim. Juna sudah duduk di sana, membelakangi pintu.

​"Duduk, Kanaya," ucap Juna tanpa menoleh.

​Naya tidak duduk. Ia berdiri tepat di ambang pintu, tangannya memegang tablet dengan cengkeraman yang sangat kuat. "Apa lagi sekarang, Pak Arjuna? Apakah Anda ingin saya menyerahkan laporan revisi warna cahaya menjadi putih dingin sesuai instruksi permaisuri Anda?"

​Juna memutar kursinya. Matanya yang merah menatap Naya dengan intensitas yang melumpuhkan. "Kau tidak akan mengubah warna cahaya itu satu kelvin pun."

​Naya tertegun. "Tapi Nona Aline bilang—"

​"Aline tidak memegang otoritas teknis di proyek ini," potong Juna. Ia berdiri, melangkah mendekat ke arah Naya dengan ritme yang tenang namun mengancam. "Dia hanya variabel eksternal yang sedang mencoba menguji batas kendaliku. Jangan dengarkan dia. Fokuslah pada desain 'Breathing Stone'-mu."

​Naya tertawa getir, sebuah tawa yang dipenuhi dengan rasa sakit yang akhirnya pecah. "Bagaimana saya bisa fokus, Arjuna?! Anda menyuruh saya menjadi pualam yang kuat, tapi Anda membiarkan tunangan Anda menginjak-injak saya di depan seluruh karyawan! Anda bilang Anda menyelamatkan keluarga saya, tapi Anda justru menjadikan saya tontonan di gedung ini!"

​Air mata yang Naya tahan sejak pagi akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang sudah ia rias dengan susah payah. Ia merasa sangat lelah. Lelah dengan rahasia, lelah dengan hutang budi, dan lelah dengan cinta yang terasa seperti kutukan ini.

​Juna membeku melihat air mata Naya. Seluruh dinding es yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun seolah runtuh dalam satu detik. Ia tidak tahan lagi. Ia melangkah maju, meraih wajah Naya dengan kedua tangannya yang besar namun gemetar.

​"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Kanaya," bisik Juna, suaranya hancur. "Aku melakukan segala cara untuk menjagamu tetap hidup di dunia ini, tapi aku justru membuatmu merasa mati setiap hari. Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa membawamu pergi dari sini."

​Juna menempelkan dahinya ke dahi Naya. Kehangatan kulit mereka beradu di tengah dinginnya ruangan yang ber-AC. Aroma air mata dan maskara yang luntur bercampur dengan wangi vetiver, menciptakan simfoni aroma yang hanya mereka berdua yang tahu maknanya.

​"Jangan menangis karena wanita seperti Aline," ucap Juna, jemarinya mengusap air mata di pipi Naya dengan kelembutan yang sangat menyakitkan. "Dia hanya memiliki uang dan nama besar. Tapi kau... kau memiliki hatiku yang bahkan aku sendiri tidak mampu kendalikan."

​Naya menatap mata Juna, mencari setitik saja kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang mentah dan kepedihan yang luar biasa dalam.

​'Dia mencintaiku,' batin Naya, sebuah kesadaran yang membuatnya merasa semakin hancur. 'Dia mencintaiku dengan cara yang paling menyiksa. Dan aku mencintainya dengan cara yang paling berdosa pada ayahku.'

​Naya menarik tangan Juna dari wajahnya secara perlahan. Ia mundur satu langkah, menciptakan jarak yang terasa seperti jurang ribuan mil.

​"Jika Anda benar-benar mencintai saya, Arjuna... lepaskan saya," ucap Naya dengan suara yang sangat rendah namun tegas. "Biarkan saya mengundurkan diri. Biarkan saya pergi ke tempat di mana saya tidak perlu melihat wajah Anda di berita pertunangan setiap hari. Kembalikan sertifikat ayah saya, dan biarkan kami hidup dalam kemiskinan yang tenang."

​Juna terdiam. Rahangnya mengeras kembali. "Aku tidak bisa melepaskanmu, Kanaya. Bukan karena sertifikat itu. Tapi karena jika kau pergi... aku tidak akan punya lagi alasan untuk tetap menjadi manusia di gedung ini. Kau adalah satu-satunya bagian yang nyata dari hidupku yang palsu."

​Tiba-tiba, suara pintu depan ruang rapat yang dibuka dengan paksa mengejutkan mereka berdua.

​Aline Wijaya berdiri di sana, matanya membelalak melihat Juna dan Naya yang berdiri begitu dekat dalam suasana yang sangat tidak profesional. Wajah Aline yang tadinya sempurna kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan.

​"Arjuna? Apa yang kau lakukan dengan staf rendahan ini di ruangan tertutup?!" teriak Aline, suaranya menggema di seluruh lorong lantai tiga puluh.

​Juna segera memasang kembali zirah stoiknya. Ia melangkah ke depan Naya, menutupi tubuh gadis itu dengan punggungnya yang lebar, sebuah gestur perlindungan yang justru semakin memicu api kecemburuan Aline.

​"Kita sedang membahas deviasi anggaran, Aline. Keluar dari sini. Ini adalah area profesional," ucap Juna dengan nada yang sangat dingin.

​"Area profesional?!" Aline tertawa histeris. "Aku melihat caramu menatapnya, Arjuna! Kau tidak pernah menatapku seperti itu! Ayahmu harus tahu soal ini! Dia harus tahu bahwa anaknya sedang mempertaruhkan merger triliunan rupiah demi seorang desainer lulusan lokal yang tidak tahu diri ini!"

​Aline menatap Naya dari balik bahu Juna dengan kebencian yang murni. "Kau... Kanaya Larasati. Kau akan menyesali hari di mana kau memutuskan untuk menyentuh milikku. Aku akan memastikan kau dan keluargamu tidak akan punya tempat tinggal lagi di kota ini!"

​Aline membanting pintu dan pergi dengan langkah cepat.

​Keheningan yang mematikan kembali merajai ruangan. Naya menatap punggung Juna, menyadari bahwa badai yang Juna takutkan selama ini akhirnya benar-benar tiba di depan pintu mereka.

​"Dia akan memberitahu Ayah Anda," bisik Naya, tubuhnya gemetar hebat.

​Juna tidak berbalik. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan yang sangat kosong. "Biarkan saja. Aku sudah terlalu lama menjadi robot yang patuh. Jika dia ingin menghancurkan segalanya... mari kita lihat siapa yang akan tetap berdiri di tengah puing-puingnya."

​Juna kemudian memutar tubuhnya, menatap Naya untuk terakhir kalinya sebelum badai benar-benar meledak. "Kembalilah ke mejamu, Kanaya. Bereskan semua fail desainmu ke dalam satu drive eksternal. Jangan tanya kenapa. Lakukan saja sekarang."

​Naya mengangguk kaku. Ia menyadari satu hal: hari ini bukan hanya akhir dari Fase Penyangkalan, melainkan awal dari perang total antara hati dan kekuasaan yang akan meruntuhkan seluruh fondasi Dirgantara Group.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah ruangan kerja Chairman yang megah di malam hari. Hanya ada satu lampu meja yang menyala, menyoroti sebuah asbak kristal yang berisi abu cerutu.

​Lima belas tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, baru berusia tiga belas tahun, dipanggil ke ruangan ayahnya setelah ia ketahuan mencoba menghubungi kerabat ibunya di Bali. Ayahnya duduk diam, namun auranya memancarkan ancaman yang mencekik.

​Di atas meja, ada setumpuk foto ibunya saat masih muda, foto-foto yang sangat disayangi oleh Juna. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sang Chairman mengambil sebuah pemantik api, menyalakannya, dan mendekatkannya ke tumpukan foto tersebut.

​"Ayah, jangan!" teriak Juna kecil, mencoba meraih foto-foto itu.

​Ayahnya menepis tangan Juna dengan kasar. Lidah api mulai menjilat pinggiran foto ibunya, perlahan mengubah wajah yang tersenyum itu menjadi abu hitam yang terbang di udara ruangan yang dingin.

​"Ingatan adalah beban bagi seorang pemimpin, Arjuna," suara ayahnya sangat tenang, hampir menyerupai bisikan setan. "Jika kau membiarkan hatimu terikat pada masa lalu, musuhmu akan menggunakannya untuk menjatuhkanmu. Lihat foto ini... ia terbakar karena kau tidak cukup kuat untuk melindunginya. Jika kau ingin melindungi sesuatu di masa depan, kau harus menjadi api itu sendiri. Kau harus menghancurkan siapa pun sebelum mereka menyentuh apa yang kau miliki."

​Juna kecil hanya bisa berdiri terpaku, menatap abu ibunya yang berserakan di atas karpet mahal. Di detik itu, ia membunuh bagian dari dirinya yang bisa merasa sedih, dan mulai belajar bagaimana cara menjadi api—api yang kini sedang ia gunakan untuk membakar seluruh hidupnya demi Kanaya Larasati.

​Kamera melakukan close-up pada mata Juna remaja yang memantulkan cahaya api, tatapan yang sama yang kini digunakan oleh Arjuna saat ia menatap layar monitornya, bersiap untuk menghancurkan imperium ayahnya sendiri.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!