Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Familiar
Itu hanya sebuah jaket. Banyak jaket diproduksi secara massal dan diedarkan ke seluruh pelosok negeri, batin Zivanna.
Mobil berbelok memasuki gapura dengan tulisan besar "DESA SUKA MAKMUR" di atasnya. Jalan aspal yang sejak tadi mereka lalui telah berganti menjadi jalan semen kasar. Demikian juga area persawahan yang kini mulai berganti dengan pemukiman warga.
Mobil terus berjalan hingga memasuki halaman sebuah rumah yang cukup luas. Rumah itu dikelilingi pagar dari tanaman teh-tehan yang dipangkas rata setinggi pinggang orang dewasa. Sementara tanah di seluruh pekarangan tertutup oleh hijaunya rumput manila. Di depan rumah itu tumbuh pohon mangga yang sangat rindang dan mulai berbunga.
Rumah nenek Zivanna terbilang mencolok karena berbeda dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya. Selain bangunannya paling modern, rumahnya juga cukup luas. Terasnya dipenuhi pot-pot berbagai ukuran yang ditanami tanaman hias khas negara tropis.
Seorang perempuan yang sebagian rambutnya sudah memutih berdiri di teras rumah dan menatap mobil yang baru saja memasuki halamannya dengan terheran-heran. Tetapi kemudian perempuan tua itu tersenyum lebar ketika melihat Zivanna turun lalu berlari memeluknya.
"Aku kangen banget sama Nenek," ucap Zivanna di dalam pelukan neneknya.
"Kamu sudah bisa melihat, Zi? Operasinya berhasil?"
"Iya, Nek. Sekarang aku bisa melihat nenek lagi."
"Syukurlah, nenek senang sekali mendengarnya." Nenek Minah mencium kening cucunya haru. Dulu ketika mengetahui Zivanna buta, nenek Minah lah yang menangis paling lama.
Setelah acara kangen-kangenan selesai semua orang masuk ke dalam rumah, kecuali Wisnu yang kembali ke mobil untuk menurunkan barang bawaan.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kalian datang tanpa memberi kabar?" tanya nenek Minah ketika mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu.
"Zizi ingin tinggal di sini sementara. Semoga ibu tidak kerepotan mengurusi anak manja ini," seloroh Wisnu yang tiba-tiba muncul sambil membawa koper berisi barang-barang Zivanna. Laki-laki berjalan melewati ketiga perempuan yang sedang duduk di kursi kayu jati dengan ukiran bunga-bunga.
"Benarkah? Mana ada kerepotan? Nenek justru senang." Minah tersenyum lebar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Itu barang-barangmu sudah papa taruh di kamar. Sana kamu bereskan dulu," perintah Wisnu setelah dia kembali.
"Nanti selama Zizi tinggal di sini ibu suruh dia jalan-jalan. Jangan biarkan dia mendekam di dalam kamar saja. Sakit hati karena putus cinta kok lama amat." Wisnu kembali menggoda putrinya yang membuat gadis bermata bulat itu mendengus kesal lalu beranjak pergi ke kamar.
"Titip Zizi ya, Bu. Tolong jaga dia. Semoga dia betah tinggal di sini." Anita berpesan kepada mertuanya setelah kepergian Zivanna.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba Zizi ingin tinggal di sini?" Sebenarnya Minah sudah curiga ada yang tidak beres ketika dia melihat lingkaran hitam di sekitar mata Zivanna.
Lalu Anita menceritakan semua yang terjadi kepada Zizi setelah mendapat donor kornea mata.
"Kami juga tidak tahu apa sebabnya. Tetapi hampir setiap malam dia mimpi buruk terkadang sampai pucat pasi dan tubuhnya gemetar. Mungkin menjauh sebentar dari ibu kota bisa membuat Zizi melupakan mantan kekasihnya lalu bisa kembali tidur nyenyak."
"Itu harapan kami," imbuh Wisnu yang masih berpikir jika itu semua karena Zivanna belum bisa melupakan Rio.
"Ya, aku pasti akan menjaga dan mengawasi dia."
Setelah sedikit berbincang, Wisnu dan Anita pamit untuk kembali ke kota. Wisnu tidak bisa menginap karena ada urusan penting di kantornya.
Keesokan harinya,
Zivanna terbangun dan merasa tubuhnya begitu segar. Dia segera bangkit lalu membuka jendela. Pemandangan yang menyambutnya di depan jendela adalah hamparan rumput manila hijau yang masih basah oleh embun. Udaranya begitu segar dan bersih dari asap knalpot.
Menoleh ke samping, Zivanna melihat seorang perempuan seusia mamanya sedang menyapu dedaunan kering di bawah pohon rambutan.
Kalau di depan rumah ada pohon mangga, maka di samping rumah ada dua pohon rambutan dengan jarak sekitar tiga meter satu dengan lainnya.
Kebetulan jendela di kamar yang ditempati Zivanna berada di bagian samping rumah, sehingga itulah pemandangan yang menyambutnya ketika membuka jendela.
"Mak Rani!" Zivanna memanggil perempuan yang sedang menyapu.
"Non Ziva?!" Perempuan yang dipanggil Mak Rani itu segera berlari menuju jendela dimana Zivanna berdiri.
"Non Ziva bisa melihat mamak?" tanya Rani tidak percaya. Ziva mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan datang, Non? Kok mamak nggak tahu? Tadi Bu Minah juga nggak bilang. Pantas Ibu minta mamak masak bening bayam."
Zivanna mengernyit. "Memangnya kenapa?"
"Ibu kan punya asam urat, nggak boleh makan bayam. Mamak sudah merasa aneh, ternyata karena ada Non Ziva."
Bening bayam jagung manis adalah makanan kesukaan Zivanna ketika mengunjungi neneknya. Menurutnya, rasa bayam di desa berbeda dengan rasa bayam yang biasa dibeli di supermarket oleh mamanya. Rasanya lebih segar mungkin karena dipetik langsung tanpa melewati lemari pendingin.
"Oh... Iya. Lupa." Zivanna nyengir. "Aku datang kemarin sore, Mak. Diantar papa sama mama, tapi mereka langsung pulang."
"Ya sudah, Non. Mamak lanjut nyapu dulu biar cepat selesai nanti bisa sarapan bareng."
"Iya, Mak. Silahkan. Aku juga mau mandi dulu."
Rani mengangguk lalu pergi.
Setengah jam kemudian Zivanna, Minah dan juga Rani sudah berkumpul di meja makan.
"Gimana tidurmu, Zi? Nyenyak?" tanya Minah. Sebenarnya tadi malam dia sempat mengintip Zivanna dan melihat cucunya itu tidur dengan pulas. Tetapi untuk memastikannya Minah ingin menanyakannya secara langsung.
Zivanna baru menyadari sesuatu. Lalu matanya yang bulat semakin membulat. "Eh... Tadi malam aku tidak bermimpi?" ucapnya tidak percaya. Pantas sejak bangun tadi suasana hatinya begitu baik ternyata karena semalam dia bisa tidur dengan nyenyak.
"Kamu tidak bermimpi?"
Zivanna menggeleng lalu tersenyum. "Tidak, Nek."
"Baguslah, itu artinya kamu memang ditakdirkan untuk tinggal bersama nenek di sini."
"Nenek bisa saja."
"Bu, nanti kita jadi pergi ke rumah Ida? Katanya kemarin dia sudah pulang dari rumah sakit."
"Iya, jadi. Kamu siapkan buah tangan yang mau dibawa ya, Ran." jawab Minah. "Zi, nanti Nenek mau menjenguk salah seorang pegawai Nenek. Kamu mau tinggal di rumah atau ikut?"
"Ikut saja, Non. Sekalian jalan-jalan," bujuk Rani.
"Iya deh, aku ikut."
Selesai sarapan ketiga perempuan itu pergi ke rumah Ida. Jaraknya tidak begitu jauh, mungkin sekitar lima menit berjalan kaki.
Warga desa itu memang lebih suka berjalan kaki kalau hanya pergi ke tempat yang tidak begitu jauh. Mereka baru akan menggunakan kendaraan bermotor jika keluar dari desa, misalnya pergi ke kecamatan atau ke pasar.
Awalnya tidak ada yang salah. Zivanna tampak menikmati suasana desa yang masih begitu asri. Hawanya terasa sejuk meski matahari sudah mulai merangkak naik. Sampai perlahan Zivanna merasakan keanehan. Dia merasa sangat familiar dengan jalan yang sedang mereka lewati.
"Habis ini belok kiri langsung sampai, kan?" tanyanya tanpa sadar.
Rani mengernyit. "Kok Non Ziva tahu? Seingat Mamak, Non Ziva belum pernah datang ke rumah Ida."
"???"