Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Laki-laki Matang
"Kania!"
Kania yang di panggil dengan suara keras pun menoleh, begitu juga dengan Axel. Gadis itu kesal melihat siapa yang memanggilnya.
"Apa sih ma, lagi asyik ketemu om Axel juga," ucap Kania dengan kesal.
"Kamu bicara dengan siapa? Jangan sembarangan ngobrol dengan orang lain ya, apa lagi ini malam-malam. Di hotel pula," ucap mamanya menatap tajam pada Kania lalu beralih pada Axel.
Laki-laki itu tersenyum melihat mama Kania, dia bangkit dari duduknya dan memperkenalkan diri.
"Saya Axel mbak," kata Axel dengan ramah.
"Axel siapa?" tanya mama Kania dengan penuh selidik.
Melihat dari atas sampai bawah , Axel hanya tersenyum. Dia maklum perempuan di depannya dengan menatap tajam itu mengira dirinya adalah orang yang tidak baik.
"Saya omnya..." ucapan Axel terpotong oleh Kania.
"Om Axel itu omnya Bella ma, mama jangan khawatir gitu dong. Om Axel baik kok," ucap Kania.
"Baik? Kamu sengaja ikut mama dan papa kesini karena kalian janjian? Kania, ingat kamu itu masih kecil. Jangan sembarang kenal orang tak di kenal," ucap mamanya lagi, perempuan itu masih belum percaya pada Axel.
"Ih, mama. Om Axel ini baik, mama ngga percaya banget sih sama aku. Dia itu omnya Bella, mau aku telepon bellanya kalau om Axel ada di sini?" tanya Kania mengambil ponselnya.
Axel buru-buru mencegah Kania untuk menelepon sahabatnya, dia tahu antara mereka akan jadi renggang lagi jika Bella datang dan tahu dirinya ada di sini dengan Kania.
"Kania, tidak usah. Om sudah selesai ngopinya, kamu kembali saja dengan mamamu. Benar kata mamamu, jangan kenal sembarangan laki-laki asing," kata Axel.
"Tapi om Axel bukan orang asing, om Axel itu omnya Bella dan om Axel itu..." Kania terdiam menatap Axel kemudian pada mamanya, wajahnya berubah masam melihat mamanya.
"Sudah, jangan banyak alasan. Sebaiknya kita pergi, papa mungkin sudah selesai urusannya. Ayo pergi," kata mamanya.
"Mama, ih ngga enak pergi gitu aja." ucap Kania sedikit merajuk.
Dia ingin lebih lama mengobrol dengan Axel, dia masih penasaran kenapa sudah ada di Indonesia lagi. Bukankah Bella pernah mengatakan kalau Axel akan tinggal lama di Jerman.
"Kania, jangan membantah. Ayo pergi," ucap mamanya lagi
"Kania, turuti permintaan mama kamu. Cepat pulang, ini sudah malam," kata Axel.
"Tapi om, aku belum ngobrol sama om Axel," ucap Kania.
"Lain kali setelah om datang ke rumah Bella." kata Axel lagi, dia membujuk Kania agar cepat pergi.
"Baiklah, om sangat baik. Mama ngga tahu sih kalau om Axel itu baik," ucap Kania dengan bersungut-sungut.
Kania pun pamit pada Axel, mamanya menarik tangan anaknya dan segera pergi dari kafe tersebut. Yang awalnya ingin menyusul Kania sekalian membeli kopi untuk suaminya, tapi justru melihat Kania bicara dengan laki-laki yang menurutnya tidak kenal.
_
Selama perjalanan Kania bermuka masam, rencana makan malam jadi gagal karena Kania ngambek.
"Dia kenapa sih ma? Kok cemberut begitu, mukanya masam. Ngga enak di lihatnya," ucap pak Suryadi papanya.
"Tadi di kafe ketemu laki-laki, katanya omnya Bella. Mama ngga tahu kalau Bella itu punya Om," jawab mamanya.
"Om Axel itu tinggalnya di Jerman ma, dia jarang pulang karena istri dan anaknya di sana," Kania menimpali.
"Nah kan, dia sudah punya istri dan anak. Lalu kenapa kamu kelihatannya akrab banget sama laki-laki Mateng itu," ucap mamanya lagi.
"Namanya om Axel ma, aku kan udah bilang dia itu omnya Bella namanya Axel. Om Axel juga tadi mengenalkan diri kok mama nyebutnya kayak males gitu sama om Axel," ucap Kania kesal pada mamanya.
"Jadi karena apa dia ngga mau makan malam tadi? Papa udah lapar banget tadi."
"Ya karena laki-laki itu, dia tadi kelihatan senang banget ketemu sama laki-laki matang itu."
"Axel ma namanya."
"Iya Axel. Kurang suka aja mama lihat kamu akrab dengan laki-laki matang itu."
"Mangga kali matang, om Axel itu ganteng banget kok laki-laki matang," protes Kania.
Pak Suryadi mendengarkan perdebatan istri dan anaknya, dia menggelengkan kepala saja.
"Memang laki-laki bernama Axel itu sudah tua ma?"
"Tua pa, makanya mama sebut laki-laki matang."
"Ngga tua pa, om Axel itu ganteng. Umurnya juga tiga sem..bi..lan." suara Kania pelan ketika menyebut umur Axel.
"Nah kan, dia udah tua. Bukan seumuran kamu Kania, ih mama ngga mau ya kamu dekat dengan laki-laki itu," ucap mamanya.
"Ih mama, Lha Kania suka sama om Axel kok."
"Suka?! Ngga bisa!" ucap mamanya.
"Udah ma, Kania cuma kenal aja kan? Ngga dekat banget, namanya juga om sahabat sendiri. Wajar saja kan Kania kenal dan akrab," ucap papanya membela anaknya.
"Tuh kan, papa aja ngga masalah aku dekat dengan om Axel." Kania menimpali, merasa menang karena di bela papanya.
"Ngga pokoknya, mama ngga suka."
"Mama. Kania suka om Axel."
"Kania, masa kamu suka sama om-om sih?"
Kali ini papanya yang bertanya.
"Ih, papa. Tadi kan bela aku, kenapa jadi begitu sih?"
"Udah, pokoknya. Meski pun laki-laki matang itu omnya Bella, sahabat kamu. Pokoknya mama ngga mau kamu dekat dengannya. titik."
"Mama."
_
_
*****