Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penghalang dan Kebenaran yang Tersembunyi
Kehadiran Elara dan Kael membawa secercah harapan bagi penduduk Aethelgard yang sudah putus asa. Namun, harapan itu rapuh dan mudah digantikan oleh ketakutan.
Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya penduduk kota mengizinkan mereka masuk, namun dengan syarat ketat. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan sihir sembarangan di dalam tembok kota, dan mereka harus tinggal di sebuah bangunan tua di pinggiran yang dijaga ketat.
"Orang-orang di sini trauma sekali," kata salah satu prajurit sambil membersihkan debu di lantai gudang yang akan mereka tempati. "Mereka seolah benci pada segala hal yang berhubungan dengan kekuatan."
"Itu wajar," jawab Elara sambil duduk bersila, mencoba merasakan aliran energi di sekitar. "Siapa pun yang hidup di bawah penindasan selama ratusan tahun akan menjadi seperti ini. Mereka takut pada kekuatan karena kekuatan selama ini hanya digunakan untuk menyakiti mereka."
Kael berdiri di dekat jendela yang pecah, matanya menatap tajam ke arah Menara Hitam yang menjulang di pusat kota.
"Masalahnya bukan di sini," gumam Kael. "Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sihir di dunia ini. Energinya kental... tapi kotor. Seperti air yang tergenang dan beracun."
Tiba-tiba, pintu bangunan mereka ditendang terbuka keras.
DUG!
Masuklah sekelompok pria berpakaian serba hitam dengan lambang tengkorak di dada. Mereka bukan monster, tapi tampak lebih menyeramkan karena tatapan mata mereka yang kosong dan dingin.
"Kami dari Pasukan Pengawas Dosa," suara pemimpin mereka serak dan dingin. "Kami mendapat laporan ada orang asing yang membawa energi aneh. Ikut kami. Tuan kami ingin bertemu."
Suasana langsung tegang. Para prajurit Lunaria langsung mencabut senjata mereka.
"Berani kalian menyuruh kami?" sahut kapten pasukan marah.
"Tunggu!" Kael mengangkat tangan menghentikan anak buahnya. Ia menatap mata pemimpin pasukan hitam itu. "Kami akan pergi. Tapi ingat, kami datang bukan untuk bersembunyi."
Kael dan Elara memutuskan untuk ikut dengan mereka. Menghadapi musuh secara langsung adalah cara tercepat untuk menyelesaikan masalah.
Mereka dibawa berjalan melewati jalanan kota yang suram. Semakin dekat ke pusat kota, semakin berat tekanan udaranya. Akhirnya, mereka tiba di kaki menara raksasa itu.
Pintu menara terbuka, dan mereka masuk ke dalam.
Di dalamnya sangat luas dan gelap. Di singgasana tertinggi, duduk seorang pria yang mengenakan jubah kerajaan usang. Wajahnya tampan namun pucat pasi, dengan mata yang merah menyala. Ia adalah Rex, penguasa tunggal Aethelgard.
"Jadi... inikah 'Penyelamat' yang dikabarkan datang?" suara Rex bergema, penuh nada mengejek. "Dua anak muda yang sok suci dengan mainan cahaya dan bayangan?"
"Kau yang menyiksa dunia ini?" tanya Kael tanpa basa-basi, suaranya dingin memancarkan bahaya. "Mengapa kau menyedot semua kehidupan dari tempat ini?"
Rex tertawa kecil, lalu berdiri. Aura jahatnya meledak keluar, membuat dinding menara bergetar.
"Menyiksa? Aku tidak menyiksa siapa pun! Aku justru menyelamatkan mereka!" teriak Rex. "Dulu dunia ini penuh dengan perang! Raja-raja saling membunuh demi kekuasaan, orang kaya menindas orang miskin! Kacau! Berisik!"
Wajah Rex berubah menjadi seram.
"Maka aku mengambil segalanya! Aku mengambil warna, aku mengambil kebahagiaan, aku mengambil harapan! Karena tanpa harapan, tidak ada kesedihan. Tanpa kekayaan, tidak ada pencurian. Aku menciptakan kedamaian yang mutlak! Kedamaian dalam kematian!"
Elara menggelengkan kepala dengan sedih. "Kau salah besar, Rex. Itu bukan kedamaian. Itu adalah kuburan raksasa. Manusia diciptakan untuk merasakan segalanya—suka, duka, tawa, dan air mata. Itulah yang membuat hidup berharga."
"Diam!" Rex marah. "Kalian tidak mengerti apa-apa! Kalian datang dari dunia yang manis dan lemah! Kalian tidak tahu penderitaan yang kami alami!"
Rex mengangkat tangannya. "Karena kalian datang menggangguku... maka jadilah bagian dari dinding menaraku selamanya!"
WOOSH!
Ribuan duri hitam muncul dari lantai dan dinding, menyerbu ke arah Elara dan Kael.
Namun, Kael tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia hanya mengibaskan tangannya dengan malas.
TRANG!
Sebuah lapisan ruang melengkung muncul di depan mereka. Semua duri hitam itu menabrak sesuatu yang tak terlihat dan hancur berkeping-keping sebelum menyentuh tubuh mereka sedikitpun.
Mata Rex terbelalak kaget. "I-ini...?"
"Kau pikir kau satu-satunya yang memiliki kekuatan?" kata Kael perlahan melangkah maju, langkah kakinya membuat lantai batu retak. "Kau hanya anak kecil yang sedang mengamuk karena tidak dapat mainan."
"Elara," panggil Kael tanpa menoleh. "Bersihkan udara di sini. Baunya menyengat."
"Siap, suamiku," jawab Elara manis.
Elara mengangkat kedua tangannya. Cahaya perak yang menyilaukan meledak dari tubuhnya. Cahaya itu tidak panas, tapi sangat murni. Di mana pun cahaya itu menyentuh, uap hitam dan asap beracun langsung menguap lenyap.
"Aaaarrrghhh!!" Rex berteriak menutup matanya. Cahaya itu sangat menyakitkan baginya karena ia sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan dan kebencian.
"Kau lihat ini, Rex?" tanya Elara lembut. "Kekuatan ini bisa menghancurkanmu dalam sekejap. Tapi kami tidak melakukannya."
Elara berhenti, dan cahayanya meredup menjadi hangat.
"Karena aku bisa merasakannya... di dalam hatimu yang beku itu, ada seorang anak kecil yang menangis. Kau melakukan semua ini bukan karena kau jahat, tapi karena kau takut. Kau takut akan perang lagi, kau takut kehilangan orang yang kau cintai."
Wajah Rex berubah pucat. Rahasianya... rahasia terdalamnya terbaca begitu mudah oleh gadis ini?
"Kau salah jalan, Rex," sambung Kael kini berdiri di samping Elara. "Kau mencoba mengontrol segalanya agar tidak ada yang terluka, tapi caranya justru membunuh semuanya. Biarkan kami membantumu memperbaiki ini. Kami akan mengajarimu arti keseimbangan yang sesungguhnya."
Rex mundur selangkah, tangannya gemetar. Ia bingung. Selama ini musuh-musuhnya selalu ingin membunuhnya atau merebut tahtanya. Tapi dua orang ini... mereka justru menawarkan bantuan? Dan mereka bisa melihat isi hatinya?
"Kalian... siapa kalian sebenarnya?" bisik Rex ketakutan namun juga penasaran.
"Kami adalah pasangan yang melewati apa yang kau lewati, tapi kami memilih jalan yang berbeda," jawab Elara tersenyum. "Dan sekarang... kami di sini untuk menjadi harapan baru bagi Aethelgard."
Pertarungan fisik mungkin bisa dihindari, namun pertarungan untuk mengubah hati dan pikiran penguasa yang tertutup ini baru saja dimulai.
(Bersambung ke Bab 28...)