NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Deg.

Beberapa mahasiswa dan mahasiswi saling melirik, merasa suasana hati ini sedikit ganjil dari biasanya. Bilal menghela nafas pelan.

"Baik,..kita lanjut ya,.." ucapnya akhirnya. Suaranya tetap tegas dan terkendali, meski hanya dirinyalah yang tau bagaimana ia begitu sulit menahan dirinya saat ini. Menahan nada itu tetap stabil.

Seperti biasanya satu persatu dipanggil di suruh maju kedepan, untuk setor hafalan yang begitu horor untuk mereka yang sampai sekarang belum hafal juga serasa ingin menghilang sejenak ke dasar langit ke tujuh mungkin.

"Hwaa gimana ini gue belum hafal" sekarang giliran Calysta lah yang belum hafal. Syahira hanya tersenyum.

"Semangat Cal,..gue juga pusing ini, kalo lagi hafal mah hafal lagi buyar ma buyar"

Kembali ke Bilal yang sudah melihat daftar absensi. "Seperti biasa saya akan panggil secara acak, dan kalian harus sudah siap." ucapnya.

Deg.

Syakira dan lainnya langsung menegang seolah hari itu benar benar hari terakhir mereka hafalan tanpa ada pengulangan. Tangannya tanpa sadar mencengkram ujung bajunya sendiri.

"Haikal" panggil Bilal.

"Na'am, Ustadz" Haikal mengangkat satu tangannya ke atas seraya menggeser bangku berikut mejanya sedikit agar memberi ruang untuk ya keluar, lalu mju beberapa langkah ke arah meja Bilal dan duduk berhadapan dengan meja menjadi jarak diantara keduanya.

"Bismillah,.." Haikal pun melantunkan ayat hafalan itu, namun ada yang dikoreksi beberapa kali oleh Bilal.

"Jangan lupa Idgomnya harus kamu perhatikan"

"Di dengung,.."

"Fa,..bukan Pa"

*Za,..bukan Ja,..kamu harus bisa bedain itu"

"Iya Ustadz,.."

"Banyak latihan lagi,..Ketukannya enggak masalah hanya itu saja harus sering diasah lagi sayang kamu ada bakat jadi Hafidz Qur'an Haikal"

"Iya Ustadz Syukron"

Haikal sudah melangkah menuju mejanya, tak lama..

"Syahira"

Deg.

Syahira menegang, debaran jantungnya bagaikan ombak yang semakin bergemuruh. Ia membeku beberapa saat, setelah ia menggeser kursinya ke belakang dan mulai maju beberapa langkah.

Saat dibangku tadi ia sempat tidak benar-benar mendengar, yang ia dengar justru detak jantungnya sendiri, dan entah kenapa seolah ia bisa merasakan satu hal.

Seakan akan ada mata yang sesekali menatap mengarah padanya dari depan. Tapi ia tidak berani untuk memastikannya. Tidak berani juga mengangkat kepalanya.

Sedangkan di bangku belakang, Kaizan Altaz duduk santai, sementara satu tangannya menyandar disandaran kursi, tapi matanya tidak benar benar santai.

Ia malah memperhatikan secara seksama, buka. Hafalannya yang menjadi hal utama, melainkan dua sejoli yang saling memendam rasa dan seolah mereka sedang berperang melawan rasa itubyang seharusnya tidak mereka rasakan.

Dan semua semakin jelas terlihat di kedua netra Kaizan Altaz, yang lagi lagi ia menggunakan instingnya yang kuat dalam membaca gestur tubuh seseorang.

"Gila,..bener bener ya insting gua ga pernah salah" batinnya. Padahal ia hanya menduga duga saja pada awalnya. Dan ternyata semua malah diluar dugaan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Yang paling sulit itu bukan menghindari seseorang.....

...Melangkah rasa yang tumbuh tanpa terduga tanpa izinnya.....

Hening beberapa saat, namun rasanya seperti berkepanjangan, tidak ada yang bersuara bahkan udara dalam kelas saja seolah sulit untuk bernafas.

Syahira masih menunduk, bibirnya sedikit terbuka,..tapi tidak ada potongan ayat yang keluar, Blank seketika.

tangannya pun jadi gemetaran, "Lanjut." suara Bilal terdengar begitu tenang, tapi malah bikin Syahira makin sesak napas dibuatnya.

Ia mencoba mengingat satu atau dua kata, tapi terhapus begitu saja.

Deg.

matanya mulai memanas, "Astaghfirullah,.." lirihnya yang hampir tidak kedengeran. Beberapa mahasiswa mulai saling melengkapi, ada yang kasihan ada juga yang bingung.

Karena ini bukan pertama kalinya, dibangku belakang, Kaizan menatap tanpa berkedip. Dengan ekspresi datar tapi matanya benar benar tajam setajam belati dalam hal mengawasi dan mengamati.

"Dia bukan karena enggak bisa,.." batin.

"Dia gerogi,...keganggu sama perasaannya sendiri" dan Kaizan tau yang menganggu itu bukanlah hal kecil.

Didepan Bilal masih berdiri, tangannya bertumpu dimeja, rahangnya mengeras samar. Ia tahu ini bukan sekedar lupa dan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.

"Cukup." Syakira langsung terdiam, seperti tersadar akan sesuatu.

"Silahkan kembali ketempat duduknya." tidak ada aura kemarahan ataupun kelembutan, netral. Dan itu lebih menyakitkan untuk Syahira.

"Iya,.. Ustadz." Syahjra melangkah cepat menuju bangkunya saat ini, ia tidak ingin berada lebih lama dari Abang iparnya yang dosen ini.

Lebih tepatnya menghindari tatapan yang membuat jantungnya tidak karuan. Ia duduk pelan hampir tanpa suara, ia langsung membuka kembali mushaf di hadapannya,..meskipun matanya tidak benar benar membacanya.

Huruf huruf itu ada jelas tapi tidak untuk Syahira, semuanya terlihat seperti lewat saja tanpa sempat ia fahami.

Gemetar itulah yang Syahira rasakan saat ini. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang dengan menggenggam ujung jilbabmya yang ia kenakan.

"Ya Alloh jangan sampai aku memiliki rasa yang seharusnya tidak ada,..aku tidak mau ya Alloh" batin Syahira.

"Kenapa setiap aku didepan jadi kayak gini sih, deg degan terus" batinnya. Syahira menunduk, berusaha menghilang diantara keramaian kelas yang kembali berjalan seperti biasa.

"Besok,.. diulang" suara Bilal kembali terdengar ditelinganya. Singkat tegas tapi bikin Syahira auto sesak napas dibuatnya.

Kelas kembali berlanjut, nama demi nama di panggil satu persatu. Suara hapalan kembali memenuhi ruangan.

Kaizan diujung sana tak lepas dari mengamati. "Makin di diemin,.makin dalem,..haish bahaya." gumam Kaizan. sambil matanya tak lepas ke arah Bilal dan Syahira.

Dan ia tahu jika sudah begini, yang namanya menyangkut perihal perasaan itu begitu sulit untuk dihilangkan dengan sendirinya.

Didepan kelas Bilal berdiri seperti tidak terjadi apapun, ia tetap santai dan tenang dalam mengarahkan dan mendengarkan para mahasiswa dan mahasiswi nya yang pada hafalan, meski di balik itu tangannya mengepal dibalik meja.

Napasnya beberapa kali tertahan, tapi ia sadar dan setiap beberapa detik matanya hampir saja terarah tapi sebisa mungkin ia alihkan.

Dan dia orang diruangan yang sama masing masing sedang berperang dengan hati dan pikirannya, mencoba menahan dari segala rasa yang seharusnya tidak tumbuh pada diri mereka, dan mereka menyadari itu tidak boleh terjadi.

Tapi namanya manusia tempatnya salah dan khilaf, entah nanti kedepannya akan seperti apa, mereka hanya berusaha untuk tetap menjaga, dan mempertahankan apa yang sudah menjadi takdir mereka tanpa ingin mengubahnya.

Rahang Kaizan mengeras diujung bangku sama, acapkali melihat gelagat Bilal, yang terlintas hanyalah dua wanita yang selalu muncul dalam ingatan dan pikirannya, yang entah kenapa selalu muncul tanpa ia duga, dan baru kali ini, ia sampai tersiksa pada instingnya sendiri yang jarang meleset. Selalu saja apa yang ia ucapkan begitu saja langsung mengena di hati orang yang merasakannya.

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!