Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
[32] Jauhi Langit, Bisa Kan?
"Bin, kita bareng ke-"
Langit menghela nafas melihat Bina sudah berdiri membawa tas berisi baju olah raganya. Dia menunduk menatap baju olah raga yang akan dibawanya juga.
Jam pelajaran selanjutnya ialah olah raga.
Teman-teman perempuan sudah berlalu bergerombolan, termasuk Bina. Dia kemudian berdiri dan berjalan sendiri di belakang. Bola mata bening itu memperhatikan Bina yang tengah tertawa bersama yang lain.
Alden yang melihat Langit berjalan dahulu lekas mengejar gadis itu dan meninggalkan ketiga temannya.
"Langit!"
Seseorang tiba-tiba berjalan di sisinya.
Dua alis Langit naik melihat Alden. Dia lalu melihat ke belakang, tidak ada Bumi, Hugo ataupun Liam. Melihat Alden lagi cowok itu tersenyum.
"Cari siapa?"
"Gak bareng teman lo?"
"Lo kan teman gue."
Langit meringis.
"Bina jauhin lo?" tanya Alden melihat ke depan mereka. Keduanya melanjutkan langkah beriringan. Untung saja lorong sepi.
"Gak kok. Gue aja yang lelet." Langit terkekeh.
Alden terus mengajaknya mengobrol hingga berpisah di ruang ganti baju khusus. Langit lekas menganti bajunya dan memilih berlama. Di rasa sudah sepi dan temannya juga udah ke lapangan, ia menengok sekitar dan kembali ke loker kelas.
Langit lagi malas olah raga. Jadi dia akan kabur setelah menaruh bajunya di loker.
"Kayaknya makan buah mangga enak nih," Senyum langit melengkung. Dia buru-buru menaruh seragam dan meletakkan jam tangannya. Saat menutup pintu loker, dia dibuat kaget akan keberadaan Bumi yang
Bersandar ke pintu loker.
Cowok itu melipat tangannya dan menatapnya dengan sebelah alis naik.
"Hish Bumi. Lo bisa gak sih muncul itu nggak dadakan," omelnya mengusap dada.
"Mau bolos jam olah raga?"
Langit merotasikan bola matanya dengan gugup. "Ih enggak kok, siapa yang mau bolos."
"Ikut gue ke lapangan."
"Aduh Bum. Gue gak pandai main bola."
"Gue ajarin."
"Gak ah. Mau makan mangga aja. Atau lo ikut yuk. waktu itu aja lo suka buah mangganya." Langit menaikkan dua alisnya. Matanya penuh binar. Secara tidak langsung mengajak bolos.
Bumi memberikan gelengan. Dia menarik tangan Langit untuk mengikutinya. "Lo tuh jarang olah raga. Sekalinya olah raga malah kabur. Mau gendut?"
"Gue sering olah raga ya. Naik turun
Tangga di rumah."
Bumi memutar bola matanya malas.
"Semerdeka lo lah."
"Eh Bum lo duluan deh ke bawah. Gue mau ambil uang dulu di tas. Entar kalau haus gue gak bawa uang." Alibinya menarik tangan.
Langit salah kalau mau menggelebui Bumi.
Cowok itu merogoh kantongnya dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribu. "Cukup kan?"
Langit menatap nestapa uang itu. "Em ada yang tinggal juga. Ponsel gue di tas.
Bumi menunjuk saku celana olah raga Langit yang jelas mencetak benda persegi panjang di sana. Langit menunduk dan memberikan cengiran.
"Eh ada. Gue kirain tinggal hehe."
"Hehe... " Bumi menirukan cengiran langit Lalu mendengus. "Gue jangan dobongin."
"Eh eh ada singa di belakang lo Bum!" Langit pura-pura kaget melihat ke belakang
Bumi, tali sepatu lo lepas!" Langit menunjuk tali sepatu Bumi. Saat Bumi menunduk ia langsung kabur. Tapi gerakan Bumi cepat. Cowok itu menahan krah baju belakang Langit hingga gadis itu tidak bisa ke mana-mana.
"Ets mau ke mana lo?"
Langit memejamkan matanya kesal. Dia terpaksa mundur dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Gue hafal lo ya Munah."
"Sebelum dan sesudah nikah gak ada bedanya Gak bisa lihat gue senang," omelnya pelan. Bumi masih bisa mendengarnya. Dia menatap gemas Langit yang seperti anak kecil
"Ck. Buruan jalan. Mau gue gendong ke lapangan?"
Bola mata Langit membulat. "Gila kali. Lo mau bikin sekolah gempar?"
"Kapan lagi ada gosip Bumi dan Langit yang biasanya berantem kini mulai jadian."
"Dih, yang ada gosipnya tuh kayak gini,
Tidak cukup dekati Alden. Langit kini juga dekatin Bumi, sahabat Alden."
"Kebalik. Alden dekatin Langit yang ternyata sudah milik Bumi," koreksi Bumi mendapat tabokan.
"Mereka mana tahu itu."
Bumi mencebik. "Eh Yang?" Bumi tersenyum dan merangkulnya.
Langit melotot dan memelintir tangan cowok itu.
"Awh awh sakit Munah!"
"Lo lagian Yang Yang. Mana rangkul-rangkul. Lo mau ada yang lihat?"
"Gak ada orang."
"Kalau ada gimana?"
"Ribet. Mau rangkul aja harus lihat keadaan." Bumi mendelik dan mengusap lengannya. Langit memang kelihatannya aja feminim.
"Lo ngapain lagian yang yang tadi."
"Mau ajak lo malam mingguan."
Wajah sebal Langit berganti senyuman lebar. Dia mendekat pada Bumi. "Ayuk!"
"Dih. Tadi gue rangkul aja marah. Giliran di ajak senang."
"Itu gegara lo rangkul gak lihat tempat ya Paman."
"Gak ada orang Sayang."
"Tuh kan mulutnya."
"Sayang sayang sayaang."
"Bumii," peliknya tertahan. Bumi tertawa.
"Iya sayang?"
"Gue tabok lo lama-lama ya?" Langit mengangkat tangannya bersiap memukul. Dua alis Bumi naik.
"Berani sering nabok gue? Entar Ibu bangun lihat kulit anaknya keungguan karena lo tabok ya Ibu bakal-"
"Enggak. siapa juga yang mau nabok lagi. Gak. Gue mau elus tangan lo tadi. Sakit gak?" Senyum Langit berganti amat manis.
Bumi menahan senyum. "Iya sakit nih.
Embus dong embus."
"Ah gak ma-"
"Yuk baik sama gue yuk."
Langit menghembuskan nafas kesal. Ia menurut saja. Meniup lengan Bumi dan mengusapnya. Bumi sih kesenangan. Dia menatap wajah Langit dengan seringaian.
Setelahnya keduanya turun ke lapangan karena sudah terlalu lama di atas. Baru datang juga langsung disambut pelototan Pak Geo.
PLUIT!
"Bumi Langit cepat ke sini!" Pak Geo menggerakkan tangannya agar mereka lebih cepat. Keduanya bergabung bersama teman-teman yang lain.
Hari ini lapangan basket High School penuh dengan anak-anak kelas 12 IPS 3.
Setelah diberi arahan hari ini akan ada penilaian, mereka disuruh bergiliran melakukan dribble secara zig zag hingga melakukan short shoot, tembakan ke ring dalam jarak pendek.
Dalam olah raga kali ini. Langit yang menjadi orang terakhir ambil penilaian, selalu disuruh ulang dribble dari awal karena dia tidak menguasai tekniknya. Ketika disuruh zig zag Langit malah sampai ke tepi lapangan, dan berakhirnya bolanya lari. Teman-temannya yang duduk di tribun bakset tertawa melihatnya.
Gadis yang terus ngulang itu terus mendumel. Bumi yang ada di antara mereka, memperhatikan istrinya dengan decakan.
Padahal melakukan dribble sangat mudah.
"Langit. Sudah saya bilang cara seperti ini." Pak Geo sampai berulang-ulang mengajarkan Langit. "Sekarang kamu coba lagi." Beliau menyuruh Langit yang mengamati agar kembali mengulang. Namun sepertinya apa yang diajarkan Pak Ego percuma.
Beliau berkacak pinggang dan memutar bola matanya mencari siswa teladan. Hingga dia menemukan Alden.
"Alden. Kamu kemari." Tangan beliau
Bergerak memberi instruksi untuk mendekat. Alden yang duduk di antara Liam dan Bumi sontak berdiri.
"Saya amanahkan kamu ajarin Langit. Tolong ya Alden." Alden tersenyum kecil dengan anggukan. Langit yang mendengarnya menghela nafas.
"Langit kamu ke sini." Dia mengambil dulu bolanya baru berdiri di depan Alden dan Pak Geo. Langit menatap Alden yang tersenyum padanya. "Belajar sama Alden. Saya pusing ngajarin kamu. Mungkin bakal lebih masuk kalau teman sekelas kamu yang bantuin. Minggu depan kamu saya ulang tes lagi."
Langit hanya memberi anggukan dengan mata menyipit. Hari ini sedikit panas dan terik. Pandangannya jadi silau.
"Anak-anak kalian juga semuanya lanjutkan latihan. Minggu depan saya akan ambil nilai lagi untuk shooting. Bagi yang belum benar juga dribble, kembali latihan." Pak Ego menatap semua siswanya. Mereka mengangguk, dan lekas mengambil bola bakset yang memang disediakan banyak di
Tepi lapangan.
"Langit kita bagian sini aja." Alden menunjuk bagian tengah. Langit memberi anggukan dan mengikuti Alden.
Bumi yang juga sudah berada di tengah lapangan menatap mereka. "Padahal Liam jago basket. Kenapa Pak Ego repot nyuruh Alden," decaknya pelan.
Bumi melakukan dribble dekat mereka.
Main sekaligus mengawasi.
"Pertama, buka jari-jari tangan lo dulu lebar-lebar. Jangan rapat. Nah jari lo harus rileks. Kayak gini." Alden mencontohkan. Langit mengangguk-angguk.
"Ujung jari ini bakal bantu kita kontrol bola. Terus kalau lagi dribbling gini nih, posisi tubuh lo harus sedikit menekuk lutut."
"Baru setelah ini pantulin bolanya. Biar bola gak kehilangan kontrol lo mesti musatin kekuatan tangan lo sewaktu mantulin bola. Kayak gini." Alden dengan teletan mengajarinya tahap demi tahap. Langit membulatkan mulutnya mengerti.
"Nah bisa kan?"
"Oke oke gue coba ya."
Alden mengangguk. Ia serahkan bola itu pada Langit. Sementara mereka asik berdua, ada yang kepanasan selain Ghabum, yaitu Bina yang menatap keduanya dengan tidak suka.
"Gini ya tangannya."
"Jari-jari lo belum lebar. Coba lebarin lagi. Jaringannya jangan rapat."
Langit mengikuti.
"Dikit lagi. Gini aja." Alden mengarahkan jari-jari tangan Langit. Bumi melotot.
Sentuhan tangan Alden membuat Langit menarik tangannya kikuk. "Gue aja."
"Oh iya sorry. Lo coba sekarang ya?*
Dia mengangguk. Mengikuti perintah Alden dan melakukan dribble kemudian. Langit berhasil, senyumnya melengkung lebar.
"Alden. Gue behasil!" teriaknya senang.
Alden terkekeh. "Oke good Langit.
Sekarang lo jalan lurus ke sana. Dribble bolanya. Jangan sampai pindah haluan."
Langit menurut. Saat dia melakukan Dribble Alden terus mengikuti dan mengingatkannya. Bumi mendengus melihatnya.
"Woi Bumi. Lo ngapain dribble bola terus.
Main basket." Liam menariknya. Bumi berdecak. Padahal dia lagi mengawasi mereka.
"Nah gitu baru benar Langit." Pak Ego yang dari tadi memperhatikan mengacungkan jempol. "Ayo latihan lagi sama Alden. "
Langit mengangguk-angguk semangat dia sela lagi dribble.
"Saya tinggal dulu ya. Alden terus ajarin Langit."
"Siap Pak."
Mereka terus berlatih. Di saat lagi semangatnya dribble bola, bola basket dari arah lain melambung tinggi dan malah mengenai kepala Langit secara cepat.
Membuatnya yang tidak siap terjatuh keras ke
Lantai.
BRUK!
"Awww!"
Langit meringis saat kepalanya terasa berdenyut, siku tangannya yang menahan bobot tubuhnya juga terasa perih.
Alden dan Bumi langsung berlari cepat ke arah Langit.
"Lo gak apa-apa?"
"Lo baik-baik aja?"
Keduanya kompak betanya. Alden dan Bumi saling melihat sebelum kembali menatap Langit yang meringis memegang kepalanya dengan gelengan.
"Pusing," ucapnya.
"Kita ke UKS ya?" ucap Alden. Teman-teman yang lain kini menggerubuni mereka. Langit memberi anggukan.
"Lo bisa berdiri? Perlu bantuan gue?"
"Biar gue aja," Bumi memotong. "Mun. Naik ke punggung gue." Cowok itu
Membelakangi. Langit tentu saja langsung naik. Hal itu membuat anak-anak kelas menatap kaget.
Mereka kira Alden yang akan membantu Langit karena mereka diisukan dekat. Namun malah dengan rival yang selalu bertengkar.
Bumi dengan sigap langsung menggendong Langit menuju UKS. Alden bergeming menatap keduanya.
Bumi menurunkan Langit di brankar UKS. "Mana yang sakit?" Bumi menilik wajah Langit yang meringis. Cewek itu menunjuk kepala bagian atasnya.
Tangan Bumi naik mengusap lembut.
"Siapa sih yang lempar keras banget.
Dikira kepala gue dinding apa," Sakit seperti itu dia masih bisa mengomel.
"Gue kompres ya?"
"Enggak Bum. Gue kan pakai jilbab."
"Kan gue yang kompres."
Engga usah. Sakit aja. Paling nanti juga hilang. Cuman berdenyut aja."
Bumi memberi anggukan. Dia mengusap lembut puncak kepala Langit. Lalu meniupnya entah apa gunanya.
Langit memperhatikan Bumi. Padahal cuman kena bola. Cowok itu panik sudah seperti dia pingsan saja.
"Bum?"
"Hm?"
"Siku gue juga sakit," adunya menunjuk siku kanan. Perhatian Bumi langsung beralih. Ia mengambil tangan Langit dan mengeser lengan baju olah raga hingga terlihat luka lecet di sana.
Mimik Bumi makin khawatir.
"Bentar. Gue ambil pembersih luka dulu."
"Lo bisa?"
Bumi memberi anggukan. Dengan deketan cowok itu membersihkan luka Langit, memberi obat merah dan menutupnya dengan kain kasa. Selama Bumi mengobati lukanya, Langit menatap lekat wajah itu.
Sedang tanpa mereka sadari di pintu
Alden berdiri memperhatikan kedekatan mereka yang tidak biasa.
"Jangan kena air dulu. Nanti sore atau malam diganti."
Dia mengangguk-angguk sementara Bumi membersihkan obatan-obatan tadi.
"Makasi ya Paman."
"Hem. Lo di sini aja. Gak usah ke lapangan lagi." Bumi mengusap lembut kepala Langit. Gadis itu mengangguk semangat.
Tatapan Alden di sana berbeda. Dia menggepalkan tangannya lalu berbalik badan pergi dengan perasaan kecewa.
"Kebetulan gue ngantuk. Jadi mau bobok dulu. Sekalian aja ya izinin gue pelajaran habis ini. Bilang sakit."
Bumi berdecak.
"Bum..." rengeknya, "kepala gue juga masih pusing tahu. Belum bisa nih diajak nyerna pelajaran," ucap Langit lagi.
"Ya udah. Tapi jangan ke mana-mana. Tetap di sini."
"Iyah," angguknya semangat. Bumi lalu menarik tangannya. "Ya udah lo tidur aja. Gue selimuti." Langit lekas membaringkan tubuhnya. Bumi menyelimuti hingga dagu gadis itu.
Sebelum pergi, Bumi melirik sekitar yang tidak ada orang lalu. Di rasa aman, dia memberi kecupan di puncak kepala Langit.
Membuat sang empu mematung dan tidak berkedip.
"Biar cepat sembuh," bisik Bumi tersenyum.
Deg deg deg
***
Langit cukup senang. Pertama selama tiga jam pelajaran dia bisa tidur nyenyak di UKS.
Kedua, dia bangun kepalanya sudah tidak pusing lagi. Dia merasa segar. Sebelum lanjut ke kelas dia ke mushala fakultas dulu. Tadi sudah lewat zuhur dan saat ini sudah masuk pelajaran terakhir, sejarah Peminatan.
Langit mengetuk pintu. Semua mata langsung tertuju padanya. Termasuk Alden
Dan Bumi. Begitu juga dengan guru yang mengajar. Bumi sudah bilang Langit sakit, jadi dia tidak ditanya lagi dari mana dan langsung diminta duduk.
Dia mendaratkan bokongnya di kursi lalu menoleh pada Bina yang menatap lurus ke papan tulis.
"Gue udah baik-baik aja." Infonya tidak ada respon.
Langit menghela nafas. "Seengaknya lo bisa tahu gue milih nerima bantuin Bumi tadi, bukan Alden, " ucapnya lagi. Sama sekali tidak digubris. Langit memilih mengambil bukunya dan menyimak pelajaran saja.
Terkadang dia tidak mengerti dengan Bina. Cewek itu sahabatnya. Seharusnya tahu bahwa Langit tidak akan merebut Alden juga. Dia kan punya Bumi.
Selama satu jam mengikuti pelajaran, bel kemudian berbunyi nyaring. Langit menunggu dulu kelas kosong soalnya mau dijajani Bumi. Sesuai janji.
Sebalnya Bumi malah sudah duluan ke
Luar kelas bersama Hugo dan Liam. Hanya Alden yang masih di kursinya dan sibuk dengan buku. Entah apa yang cowok itu kerjakan.
Langit mengeluarkan ponselnya.
Anda
Pamaan
Jajaaan
Bumi Luknut
Lo di mana?
Anda
Kelas
Bumi Luknut
Tunggu ya Sayang
Anda
Dih sayang-sayang
Gue gak mau jajan depan sekolah
Males dighibahin
Bumi Luknut
Terus mau di mana?
Anda
Gak tahu, yang penting jajan
Bumi Luknut
Ck
Gue tunggu di parkiran
Anda
Ih gak mauu
Bumi Luknut
Katanya mau jajan
Anda
Kalau mereka curiga gimana?
Apalagi tadi lo gendong gue
Bumi Luknut
Gue tunggu di persimpangan gak jauh dari sekolah
Naik angkot sampai sana
Anda
Okee
"Langit?"
Suara itu membuat Langit mendongak.
Alden berjalan ke arahnya. Langit lekas menutup layar chat mereka saat cowok itu sudah sampai di depannya.
"Hm Alden?"
"Kepalanya masih sakit?"
Langit menyentuh kepalanya dengan gelengan, "enggak kok."
"Belum pulang?"
"Bentar lagi."
"Mau bareng?"
"Eh gak usah. Gue naik angkot aja."
Alden memberi anggukan.
"Lo kalau mau balik. Duluan aja."
"Gue tungguin lo aja. Kita bareng aja turunnya."
"Gue masih lama," ucapnya berharap Alden langsung pulang. Cowok itu memberi
Gelengan dan duduk di bangku depannya.
"Gue tungguin aja. Lagian les masih lama.
Kenapa kita gak bareng aja. Sekalian kan?"
Dua alis Alden naik.
Langit belum menjawab. "Kayaknya angkot aja. Males kalau fans lo auto ngamuk."
"Gue gak peduli mereka. Yang gue peduli bisa bareng lo." Kalimat Alden yang seperti itu memberi makna berbeda. Perhatikan cowok itu lurus dan lekat padanya. Langit mengalihkan perhatian pada ponselnya.
Anda
Dekat gue ada Alden Dia ngajak gue bareng. Gue mau kabur
Bumi Luknut
Gue otw ke kelas
Anda
Eh ngapain?
Bumi Luknut
Gue gak mau dengar mereka bilang lo sama Alden jadian lagi
Anda
Gak usah Lo di sana aja Gue bentar lagi juga pergi
Bumi Luknut
Gue arah ke kelas
Anda
Dibilang gak usah Bakal ribet kalau mereka tahu kita ada hubungan Bumi!
Bumi Luknut
Gue gak rela istri gue dibilang pacaran sama Alden. Lo gak usah khawatir, mereka juga mikir kita bareng sebagai musuh. Mereka gak akan curiga
Anda
Lo mah
Langit berdecak.
"Kenapa?" tanya Alden yang memperhatikan dari tadi.
"Eh engga kok. Nih adek gue nyeselin banget." Langit menyimpan ponselnya dan
Siap-siap berdiri. Dia akan segera keluar sebelum Bumi datang.
"Gue boleh tanya sesuatu?" pertanyaan Alden membuat Langit yang memakai tasnya menatap cowok itu sesaat.
"Boleh. Mau tanya apa?"
"Lo sama-"
"Munaaah!" teriakan Bumi yang baru masuk mengalihkan antensi keduanya.
"Di mana lo simpan buku gue?" Bumi berkacak pinggang. Langit awalnya mengerjap tidak paham, tersadar dia nyengir lalu berlari keluar.
"Di atas genteng!" teriaknya sebelum kabur.
Bumi menghela nafas. Dia menatap Langit yang sudah kabur. Perhatiannya lalu beralih pada Alden.
"Bro, kenapa masih di sini?"
Alden memberi gelengan lalu berdiri dan melangkah mendekat pada Bumi. "Ada sesuatu yang mau gue bilang."
Alden bersandar ke meja di belakangnya. Mereka saling berhadapan. Suasana di antara keduanya sedikit mencekam. Aura Alden juga tidak senang.
Sebelah alis Bumi naik.
"Gue suka Langit," ucap Alden to the point. Menatap lekat sahabatnya.
Bumi mengepalkan tangannya. Tapi sebisa mungkin dia menetralisir ekspresinya untuk tetap terlihat santai.
"Gue gak mau saingan sama sahabat gue, Bumi. Lo sama Langit cuman sekedar Rival. Untuk sekarang jangan ganggu Langit lagi apalagi kalau ada gue. Bisa kan? "
Permintaan itu bagai bom atom yang meledakkan. Dada Bumi panas.
"Gue juga minta jangan sampai lo suka Langit. Karena gue serius sama dia." Setelah mengatakan itu, Alden menepuk pundaknya lalu berlalu pergi dari kelas.
Rahang Bumi mengeras.
Kini Alden terang-terangan.
Dan pilihan Bumi hanya satu. Dia akan menolak permintaan Alden sekalipun persahabatan mereka akan rusak.
Qanita Langit Zoe hanya miliknya!
Tidak yang lain.