Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sore harinya, saat Pak Regan pulang, mama Alice pun menanyakan perihal kegiatan kampus yang tengah berjalan. Orang penting di kampusnya itu tidak mungkin tidak tau kegiatan apa saja yang sedang di adakan di kampus mengingat semua harus atas persetujuan dirinya.
“Emangnya kampus lagi ada acara apa, Pah? Sampai Lingga nginep-nginep segala?” tanya Bu Alice cukup penasaran.
“Event tahunan paling, tapi aku malah nggak paham kalau Lingga ikut,” jawab Pak Re yang tidak terlalu memusingkan kegiatan anak anaknya. Saking sibuknya mungkin, mengurus bisnisnya juga di luar pekerjaannya sebagai dosen, membuat Pak Re begitu sibuk.
“Lingga belakangan ini ngelayap Pah, dua hari saja tidak pulang. Saya pusing sama satu anak ini, study nggak kelar-kelar, bikin orang tua kepikiran saja.”
Bu Alice mengeluarkan uneg-unegnya. Tentu saja sebagai seorang ibu sangat khawatir dengan kelakuan putranya yang kadang mencurigakan. Walau sejauh ini tidak ada yang berlebihan jika di lihat dari rumah. Namun, mengingat pergaulan sekarang yang begitu beragam, membuat ibu dari dua anak itu takut kalau Lingga salah jalan.
“Dia sudah dewasa sayang, jangan terlalu parnoan, dia tahu mana yang harus di perbuat dan di dahulukan.” ucap Pak Re menimpali.
“Iya Pah, aku paham hal itu, tapi emang nya Papah nggak liat, dia tuh beda sekali dengan naka.”
Naka dan Lingga memang dua saudara dengan perangai yang sangat berbeda. Bagai langit dan bumi. Tentu saja, Naka lebih teratur, bahkan menjalankan tugas lima waktu tanpa perlu di tegur atau di suruh-suruh. Sangat berbeda dengan Lingga yang terlihat masih bolong-bolong sholatnya.
Biarpun tidak boleh mebeda-bedakan, tetap saja di antara kedua kakak beradik itu memang sangat berbeda. Mungkin karna Naka selama ini tumbuh di lingkungan pesantren, dia lebih bisa membawa diri. Cara bersikap dengan orang tua juga sangat berbeda. Mempunyai unggah-ungguh yang tertata.
Obrolan mereka berlanjut ke meja makan. Kali ini Lingga nampak hadir mengisi salah satu kursi di sana. Setelah dua hari absen karna sering pulang larut malam.
Prang!
Suara benda pecah di dapur membuat Bu Alice kaget dan langsung beranjak dari kursi.
“Mbok, apa yang pecah? Simbok nggak pa-pa? tanya Bu Alice melihat Bu Maryam tengah memungut serpihan gelas di lantai.
“Maaf Bu, saya kurang hati-hati , gelasnya pecah,” ucap Bu Maryam terlihat tidak tenang.
“Nggak pa-pa Mbok, bukan masalah barangnya, yang penting simbok tidak apa-apa. Mbok sakit? Kok kayak pucat gitu, ada apa?” tanya Bu Alice memperhatikan kekalutan wajah art-nya.
“Tidak apa-apa, hanya sedang kangen saja sama Sarah, katanya hari ini, tapi sampai malam begini belum pulang, malah handphonenya tidak aktif, saya khawatir Bu,” ucap Bu Maryam sesuai risalah hatinya.
“Loh … Sarah kemana sampai tiga hari belum pulang? Dia kemarin ada ngabarin nggak?” tanya Bu Alice mendadak ikut cemas.
“Iya, kemarin bilangnya mengerjakan tugas di rumah teman, mau nginep, terus ngabarin kalau hari ini mau pulang,tapi belum sampai rumah, sekarang malah HPnya mati,maaf Bu jadi curhat,” ucap Bu Maryam sendu.
“Ya Allah …. Kemana itu anak, Simbok tau nomor teman-temannya nggak? nanti biar di hubungi satu-satu. Seharusnya kalau nugas juga ingat pulang.” Bu Alice merasakan ada yang janggal dengan putri art-nya. Sejauh ini Sarah di kenal cukup baik, periang, dan tidak neko-neko. Makanya Bu Alice sangat senang dengan Sarah.
“Nggak tahu Buk, saya harus cari kemana ya kalau sampai malam ini juga belum pulang.”
“Simbok tenang ya, nanti biar saya bantu cari tahu dimana keberadaan Sarah,” ucap Bu Alice menenangkan.
Bu Maryam mengangguk, berharap segera ada kabar baik dari putrinya. Begitupun dengan Bu Alice yang kembali ke meja makan.
“Ada apa, Ma?” tanya pak Re setelah Bu Alice mengambil duduk.
“Kasihan Bu Maryam kepikiran, Sarah belum pulang Pah, sudah tiga hari, kalau kemarin masih ngabarin tapi hari ini malah janji pulang tapi belum sampai rumah,” jelas Bu Alice membuat Lingga kaget. Sampai tersedak- sedak lantaran kabar itu cukup mengejutkan.
Lingga segera minum agar lebih tenang. Dia tidk boleh terlihat mencurigakan apalagi sampai tahu kalau tidak munculnya Sarah di rumah ada hubungannya dengan dirinya.
“Memangnya kemana?” tanya pak Re setengah tak percaya. Gadis kalem itu rasanya tidak mungkin main sampai lupa waktu.
“Namanya juga sudah ngumpul sama teman-teman ya mungkin lupa pulang, pa, kalau ada kegiatan di luar ya wajar. Lagian udah gede juga kenapa harus di pusingkan,” timpal Lingga menutupi kegugupan dirinya.
Sebenarnya Lingga juga bertanya-tanya, kemana Sarah pergi. Seharusnya gadis itu sudah sampai rumah sebelum sore, kenapa sampai larut malam belum kembali. Benar-benar menyusahkan!