NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sarapan semeja-mejanya.

Gak berasa waktu muter begitu saja. Mentari hangat mulai naik lagi, menggantikan rembulan yang selesai shift malam. Cahaya masuk dari jendela ruang makan, bikin lantai marmer mengilap.

Seperti biasa, semua orang sudah duduk di meja makan. Cuman ada hening. Satu keluarga, satu meja, tapi dengan pikiran masing-masing. Kayak orang asing yang kebetulan se-KK.

Bu Ratna udah rapi, kebaya rumahan. Eric pake kemeja navy, dasi belum dipake, masih baca berita di tablet. Chindy? Udah full makeup, blazer cream, siap ke butik. Di depan dia cuma kopi sama croissant. Diet.

"Selamat pagi," sapa Vivian. Gadis itu baru saja turun dari kamar. Langkahnya pelan, pegangan railing.

Wajahnya pucat. Bibir agak kering. Matanya sayu, ada sembab dikit. Habis bergelut dengan morning sickness yang bertubi-tubi dari subuh. Jam 5 muntah. Jam 6 muntah. Jam 7 muntah. Isinya cuma air putih.

"Sudah jauh lebih baik?" tanya Bu Ratna. Nada cemasnya gak dibuat-buat. Dia langsung berdiri, narik kursi di sebelahnya. "Duduk sini, Sayang. Mama bikinin teh anget ya?"

Vivian hanya mengangguk sebagai jawaban. Langsung terduduk di meja makan. "Brak." Bukan jatoh, tapi naruh badan. Seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Sendi-sendinya serasa geser semua. Kepala langsung dia taruh di atas meja, pipi nempel ke taplak. Adem.

_Di dunia nyata aku masih 22 tahun, masih perawan, skripsiku belum kelar, tapi aku malah terdampar di sini jadi perempuan hamil anak orang,_ batin Vivian nangis. _Tutorial jadi ibu-nya mana, Silvi? Aku gak bisa ngapa-ngapain selain muntah._

"Bukannya kamu kuat mabuk? Muntah baru segitu kecil kan?" Chindy nyinyir. Sendoknya diadu ke piring. "Ting." Sengaja. "Dulu kamu nenggak tequila kayak air putih."

Vivian ngangkat kepala dikit. Menatap Chindy dengan dagu masih nempel meja. Mata sayu tapi mulut tajem. "Anak kecil tahu apa," sahutnya. Pelan. Tapi nyelekit. "Kamu kan belum pernah hamil."

Kata-kata itu berhasil menyulut emosi Chindy. "Kamu minum puluhan botol terus muntah di depan kamarku, tapi besoknya masih bisa dugem!" nadanya naik 1 oktaf. Croissant-nya diremet. "Sekarang sok lemah?"

Merasa tertantang. Tapi tenaga gak ada. "Di dalam perutku bayi, Chindy. Bukan botol Jack Daniel," sahut Vivian. Nadanya masih santai. Terlalu lemas kalau harus adu teriak. "Kalau aku maksa mabuk, yang mati bukan aku doang. Cucunya Mama juga. Mau tanggung jawab?"

Chindy mau nyaut lagi. Mulut udah kebuka. Tapi—

"BRUK."

Eric ngebrak meja. Pelan. Tapi semua diem. Tablet ditaruh. Matanya naik, dingin. "Masih pagi. Berisik."

Hening 3 detik. AC doang yang bunyi.

"Dan kamu," Eric nengok ke Vivian. Dagunya nunjuk. "Minta apa pun yang kamu mau makan hari ini pada Bi Ijah. Suruh dia siapkan. Jangan biarkan bayinya kelaparan."

Semua di meja kaget. Bu Ratna. Chindy. Bahkan Vivian.

Mendengar itu, Vivian mengalihkan pandangannya pada Eric. Masih dengan kepala di atas meja. Cuma bola mata yang gerak.

Tatapannya tajam, nyoba nembus wajah datar itu. _Dia khawatir? Dia peduli? Dia laper juga?_ Pikirannya nebak-nebak. Scan ekspresi.

Namun nihil. Wajah Eric masih datar. Dingin. Kayak tembok berlapis granit. Vivian sampai tak bisa membaca apa yang ada di dalamnya. Apa dia kasian? Apa dia cuma gak mau anaknya gizi buruk? Apa dia keinget Alea?

Tak mau banyak berpikir,otaknya juga lagi loading, gadis itu mengangkat kepalanya. Pelan. Kayak zombie bangkit dari kubur. Terus... matanya langsung nyala.

"Aku mau makan besar," serunya. Bersemangat. Mendadak ada tenaga. "Bi Ijah! Bi Ijah!"

Bi Ijah lari dari dapur. "Iya, Nyonya?"

"Bubur ayam 2 mangkok, pake cakwe sama ati ampela. Terus nasi uduk komplit, jengkolnya yang banyak. Martabak telor 2. Sate padang 20 tusuk. Es jeruk. Rujak ulek. Sama... kentang goreng. Eh, ayam goreng tepung juga. Yang pedes."

Chindy melongo. "Kamu mau buka warteg?"

"Diem. Aku ngidam," jawab Vivian santai. "Oh iya, Bi. Sekalian lontong sayur ya. Buat nanti siang."

Eric diem. Gak komen. Cuma lanjut baca tablet. Tapi ujung bibirnya... kedut. Dikit banget. Kayak nahan sesuatu.

Tak berselang lama, hidangan siap. Dan beneran. Hampir memenuhi seluruh meja. Piring susun, mangkok tumpang tindih. Aroma jengkol vs sate padang vs bubur ayam perang di udara. Sampai-sampai Chindy harus ngangkat piring telur rebusnya ke pangkuan karena tak punya ruang. "Ini rumah apa pasar kaget?" gerutunya.

Mata Vivian berbinar. Mendadak sehat. Dia narik mangkok bubur. "Aduh, maaf ya Chin, lahanku luas banget hari ini." Terus mulai melahap semuanya. Suap-satu, suap-dua. Cepet. Kayak orang kesurupan. Isi bensin setelah muntah-muntah tadi pagi. Jengkol digigit, sate diembat, martabak dicaplok.

Bu Ratna syok. "Pelan-pelan, Nak... nanti keselek..."

Eric ngelirik dari tabletnya. Satu detik. Terus balik lagi. Tapi kali ini, dia gak balik fokus. Matanya baca, tapi otaknya dengerin suara Vivian ngunyah.

Tak butuh lama. 15 menit. Piring di meja mulai kosong. Ludes. Licin. Kayak abis disapu. Vivian menjatuhkan punggungnya pada kursi. "Hahh..." Napas lega. Tangannya ngelus perut yang sekarang buncit—buncit kenyang, bukan hamil. Terus... "Beeeerp." Sendawa. Panjang. Lepas.

Satu meja hening. Chindy nutup mulut, jijik. Bi Ijah di dapur ngintip sambil istighfar.

"Sudah puas?" tanya Bu Ratna. Masih terheran-heran. Matanya bolak-balik dari Vivian ke meja kosong. _Se-meja-mejanya masuk ke dalam perut kecil Vivian? Cucuku kuat. Gen Wijaya._

Vivian mengangguk cepat. Senyum lebar. Pipi bersemu merah karena kenyang. "Sangat puas, Bu. Enak banget. Anaknya hepi."

Hatinya mulai bertekad lagi. Niatnya balik 100%. _Gelar Nyonya Wijaya harus aku pertahankan selamanya. Demi makan enak kayak gini tiap hari. Demi AC 18 derajat, demi rumah kaya istana._

Dia lirik Eric. Eric udah berdiri, benerin kancing jas. Mau ke kantor.

"Makasih ya, Suamiku," ucap Vivian. Keras. Sengaja. "Bayimu bilang enak."

Eric diem. Jalan. Sampe pintu, dia berhenti. Gak nengok. "Jangan muntahin lagi. Mubazir."

Terus pergi. Pintu "tutup".

Vivian nyengir. _Mubazir katanya. Berarti dia merhatiin aku habis berapa piring. Tsundere akut._

Chindy buang muka. "Norak." Tapi dia ambil tisu, ngasih ke Vivian. "Nih. Belepotan."

Vivian kaget. Nerima tisunya. "Thanks, Chin."

"Sekali ini aja," Chindy jutek. Terus cabut ke butik. Tapi langkahnya gak sekasar tadi.

Bu Ratna ketawa kecil. _Ya Allah, ada kemajuan._

Vivian ngelus perut. _Ronde 2: Vivian 2 - Keluarga Wijaya 0.

Dukung siapa besty?

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!