Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7.
Zee berdiri di depan pintu kaca bangunan seperti Mall itu. Perasaannya masih campur aduk, antara kagum, bingung dan waspada. Tapi rasa penasaran yang sejak awal membawanya ke tempat ini, tidak memberinya pilihan selain melangkah maju.
Saat Dia mau membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya, seolah sedang menunggu kedatangannya.
Ketika Zee melangkah masuk, Dia langsung terdiam. Berbeda dengan apa yang Dia bayangkan sebelumnya. Tempat ini tidak kosong, justru sebaliknya. Semuanya tertata rapi dan lengkap.
Seperti pusat perbelanjaan yang benar-benar nyata. Lantai pertama ini terbentang luas dihadapannya, rak-rak tersusun rapi. penuh dengan berbagai barang.
Di sisi kiri, terdapat peralatan rumah tangga, seperti piring, gelas, mangkuk. Semuanya tersusun berdasarkan ukuran dan jenis. Kilapnya begitu bersih, seolah belum pernah tersentuh tangan manusia.
Di sisi kanan, Zee melihat deretan alat dapur, seperti kompor, oven, blender, hingga peralatan memasak yang lengkap. Bahkan ada bagian khusus berisi peralatan elektronik rumah tangga lagi seperti mesin cuci, kulkas dan vacum cleaner yang tersusun rapi dengan label kecil di bawahnya.
Zee melangkah pelan, matanya terus menyapu setiap sudut. Anehnya, tidak ada seorang pun penjaga toko, ataupun suara kasir. Bahkan tidak ada musik seperti mall pada umumnya. Hanya suara langkah kakinya sendiri yang menggema pelan.
"Tempat apa ini sebenarnya," gumamnya pelan.
Dia sempat menyentuh sebuah gelas, dan terasa nyata. Rasa penasaran mendorongnya untuk terus menjelajah. Di ujung ruangan, Dia menemukan sebuah eskalator. Tanpa berpikir panjang, Zee menaikinya.
Di lantai dua. Begitu sampai, Zee langsung merasakan suasana yang berbeda. Udara di sini terasa lebih dingin, bersih dan berbau antiseptik yang samar.
Di hadapannya, terpasang sebuah klinik kesehatan yang lengkap.
Terdapat ruang pemeriksaan dengan tempat tidur pasien yang rapi, dan alat-alat medis lengkap yang biasanya hanya Dia lihat di rumah sakit. Ada juga ruang khusus dengan peralatan canggih, monitor jantung, alat USG, ruang operasi besar maupun kecil, dan lemari obat yang tertata dengan label jelas.
Tapi sekali lagi, kosong. Tidak ada dokter, perawat dan pasien. sehingga membuat perasaan waspada Zee mulai muncul kembali.
Zee melangkah lebih cepat menuju eskalator berikutnya, seolah ingin keluar dari suasana aneh itu.
Lantai tiga. Begitu tiba, suasana juga berubah drastis. Yang tadinya suasana yang dingin dan berbau obat-obatan dan antiseptik, diganti dengan udara yang hangat di lengkapi lampu-lampu menyala indah. juga ruangan ini di penuhi dengan warna-warni kain yang berlimpah.
Sebuah butik besar terbentang di depannya. Berbagai jenis pakaian tergantung rapi, gaun formal dan pakaian tradisional dari berbagai daerah. Di tengah ruangan, terdapat manekin-manekin berdiri memamerkan koleksi terbaik. Seolah hidup dalam diam.
Zee berjalan di antara rak-rak pakaian, tangannya menyentuh lembut kain-kain itu. "Cantik sekali," bisiknya.
Dia menemukan sebuah cermin besar di sudut ruangan. Saat Dia berdiri di depannya, bayangannya terlihat jelas, tapi ada sesuatu yang aneh.
Sekilas Dia merasa bayangannya bergerak sedikit lebih lambat darinya. Zee langsung mundur seketika dengan jantung yang berdegup lebih cepat.
Zee mencoba untuk meredakan ketenangannya dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Di lakukan beberapa kali dan merasa sudah kembali tenang, maka Dia melanjutkan menjelajahi tempat ini.
Lantai empat. Di lantai ini, suasana menjadi lebih tenang, terasa seperti rumah. Terdapat beberapa jenis ruang apartemen lengkap. Ada studio kecil, dua kamar tidur lengkap dengan kamar mandi dalam.
Semua pintu terbuka, seolah mempersilakannya masuk. Zee memberanikan diri masuk ke dalam, yang di dalamnya, lengkap dengan sofa empuk, telivisi yang menyala, seperti ada yang menyalahkannya. Ruang kerja, ruang tamu dan dapur yang lengkap dengan berbagai jenis kebutuhannya.
Dia berjalan perlahan, merasakan suasana yang aneh tapi juga nyama. Seolah tempat ini ingin membuatnya tetap tinggal.
Tiba-tiba....
KLIK...
Sebuah pintu di dalam apartemen tertutup sendiri. Sehingga membuat Zee tersentak kaget dan menoleh cepat. Untuk pertama kalinya sejak Dia masuk ke bangunan ini, Dia merasa tidak sendirian lagi.
Setelah merasa semua sudah telah Dia telusuri, Zee akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. karena Dia menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama berada di dalam tempat ini.
Dengan langkah pelan, Zee mulai turun melalui eskalator. Satu persatu lantai Dia lewati, hingga akhirnya Dia kembali berada di lantai satu.
Namun, tepat sebelum melangkah keluar dari bangunan tersebut, pandangannya tertuju pada sebuah pisau kecil yang unik dan menarik. Tanpa banyak berpikir, Dia mengambilnya.
Saat pisau itu sudah berada di tangannya, pisau yang sama kembali muncul di tempat semula, seolah-olah terisi ulang dengan sendirinya.
Zee terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Padahal, pisau itu jelas masih ada di genggamannya.
Perasaan heran mulai mengusik dirinya, tetapi Dia memilih untuk tidak memikirkannya dulu. Yang harus Dia pikirkan yaitu cepat keluar dari dari tempat ini.
Akhirnya Zee melangkah keluar dari bangunan itu. Dan seperti yang sudah Dia duga, semuanya masih sama seperti saat pertama kali Dia masuk.
Udara di luar terasa sama, sejuk, tenang dan sunyi. Di hadapannya, pintu transparan masih terbuka seperti pertama kali Dia masuk. tanpa ragu Zee melangkah melewatinya.
Seketika, Dia sudah kembali berada di dalam sumur. tangga besi yang tadi Dia gunakan masih menempel kokoh di dinding sumur seolah tak pernah tersentuh.
Zee menarik nafas pelan, lalu mulai memanjat naik perlahan. Akhirnya, Dia berhasil mencapai bagian atas. Dengan sedikit tenaga, Dia mendorong penutup sumur dan keluar ke permukaan.
Cahaya senja menyambutnya. Langit masih berwarna jingga keemasan, sama persis seperti saat Dia masuk tadi. Tidak ada sedikitpun perubahan, seolah waktu tidak pernah berjalan.
Zee mengerutkan keningnya, perasaan aneh mulai menjalar di dalam dadanya. Karena merasa aneh, Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Dengan layar menyala dan saat Dia melihat waktu yang tertera 18.20, jam yang sama saat Dia masuk ke dalam sumur.
Dia tidak percaya, mencoba menatap layar hp lebih lama, berharap angka-angka itu berubah. Padahal Dia sangat yakin, Dia sudah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam sana.
Angin sore berhembus pelan, menyapu rambutnya.Tapi kali ini, hawa yang terasa bukan lagi sekedar dingin. Melainkan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Dia jelaskan.
Zee menoleh kembali ke arah bangunan sumur itu dan semuanya tetap gelap. Langit pun sudah semakin gelap, dan Dia tau dirinya tak bisa terus berdiri di sana.
Dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera menjauh dari tempat itu.
Sesampainya di rumah, Dia langsung masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket dan lelah. Dia pun segera membersihkan diri dengan air mengalir membasahi kulitnya, membawa debu dan rasa penat yang menempel sejak tadi.
Tapi ada sesuatu yang berbeda. Setelah selesai mandi, Zee berdiri di depan cermin mengelap wajahnya... Seketika gerakan mengusapnya berhenti. Tatapannya tertuju pada wajahnya sendiri, yang kulit wajahnya bersih. Pori-pori halus yang biasanya terlihat sama kini seakan menghilang.
Wajah kusam yang biasa Dia rasakan... lenyap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah kulit yang tampak cerah, segar dan bercahaya. Seperti seseorang yang baru saja menjalani perawatan mahal.
Zee mengangkat tangannya, menyentuh pipinya terasa lembut. pikirannya langsung melayang ke danau biru, air terjun jernih yang sempat Dia minum dan gunakan untuk membasuh wajahnya.
"Jangan-jangan..., itu adalah air yang biasa ada di novel-novel yang dulu pernah Aku baca." bisiknya pelan.
Terlalu aneh juga untuk di pahami. Zee terlalu lama terpaku di depan cermin, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Hingga tiba-tiba, Krukk...
Perutnya berbunyi pelan, Dia tersadar dengan rasa lapar yang akhirnya menyeruak. Zee pun turun ke lantai satu, berjalan menuju dapur untuk makan.
Bu Maya sudah menyiapkan makanan sebelum pulang.
Aroma masakan yang tersisa masih menggoda. Tanpa menunggu lama, Zee mulai makan. Suapan demi suapan terasa menenangkan, mengembalikan sedikit energinya yang terkuras.
Setelah selesai makan, Zee membereskan semuanya dengan cepat. Lalu kembali ke kamarnya.
Malam sudah semakin larut. Zee menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba memejamkan mata.
Namun sebelum benar-benar tidur, Dia meraih ponselnya. Layar menyala seperti ada notifikasi yang masuk. Alisnya sedikit mengernyit saat membuka layar ponselnya, bukan notifikasi pesan masuk, bukan panggilan, melainkan sebuah aplikasi.
Zee terdiam lama melihat layar ponselnya, ada sebuah aplikasi aneh yang terpasang di ponselnya. Padahal, Dia yakin tidak pernah mengunduh aplikasi itu.
Rasa tidak nyaman mulai menjalar di tubuhnya. Zee menekan ikon tersebut cukup lama, mencoba menghapusnya. Namun tidak bisa, ikon itu tetap masih ada seolah tersedia untuknya.