(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 29 - JEJAK TITAN
...Jejak itu tidak hanya tertinggal di tanah… ...
......tapi di dalam jiwa manusia yang membawanya....
...⚙⚙⚙...
Arven mencengkeram kusen pintu yang retak, matanya terkunci pada sosok ibunya yang kian mengecil di tengah kepulan debu jalanan. Ia ingin meneriakkan satu kata, memastikan ibunya akan menoleh sekali lagi, tapi tenggorokannya tercekat.
Ibunya terus melangkah. Langkahnya pincang, namun punggungnya tegak lurus, menolak untuk terlihat rapuh, satu tangannya memegang pistol rivet dan tangan lainnya mendekap bom tambang di dada.
“Jangan menoleh”, bisik Arven dalam hati. “Kalau Ibu menoleh, aku tidak akan bisa pergi.”
Satu detik. Dua detik. Bayangan ibunya lenyap di tikungan menuju pusat desa. Arven melepaskan cengkeramannya, meninggalkan bekas goresan dalam di kayu. Ia membalikkan badan dengan sentakan kasar.
“Sial,” desisnya, menyeka darah yang mengering di pipinya dengan lengan baju yang robek. Ia mulai berlari.
Sepatu botnya menghantam jalan setapak menuju tambang, tapi sensasi di bawah kakinya terasa salah. Tanah itu tidak lagi terasa padat dan mati. Setiap kali kakinya mendarat, ada gelombang halus yang merambat naik.
DUUUM...
Langkah Arven goyah. Ia nyaris terjungkal ke pinggir tebing saat tanah di bawahnya mendesah, sebuah getaran berat yang membuat kerikil-kerikil beterbangan ke udara.
“Apa-apaan ini...”
Kabut biru itu bukan lagi sekadar pemandangan. Cairan gas itu terasa dingin dan lengket di kulitnya, berbau seperti tembaga dan hujan badai. Jalan yang biasanya ia lalui setiap pagi kini tampak seperti labirin yang tidak ia kenal. Sudut-sudut tajam tebing tambang terbuka itu tertutup bayangan aneh yang bergerak-gerak.
Tiba-tiba, Arven merasakan lengannya tersentak ke depan. “He-hei!”
Titan Wrench di tangannya mendadak terasa seringan bulu, lalu sedetik kemudian menjadi seberat beban excavator. Logam itu tidak lagi diam, ia berdenyut. Getarannya sinkron dengan detak jantung Arven yang berpacu.
Cahaya biru menyambar dari sela-sela gagangnya. Arven mencoba menahan lengannya, tapi Titan Wrench itu justru menariknya. Ujung senjata itu mengarah kuat ke arah tambang, seolah ada magnet raksasa disana yang sedang memanggil pulang bagian tubuhnya yang hilang.
“Oke, oke! Aku tahu!” Arven membentak senjatanya sendiri, suaranya parau ditelan angin.
Ia berhenti melawan tarikan itu. Ia justru memanfaatkannya, membiarkan Titan Wrench itu menarik tubuhnya lebih cepat. Dunia di belakangnya sudah hancur. Di depannya, hanya ada tarikan gila yang tidak bisa ia tolak.
Gerbang tambang itu akhirnya terlihat jelas di hadapannya. Rel kereta api tua menjulur keluar dari mulut bangunan itu, melintasi tanah berbatu.
Arven menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk. Dadanya naik turun memburu, napasnya terdengar berat dan kasar. Butiran keringat bercampur darah mengalir turun dari pelipis, menetes ke tanah.
“Astraeus…” gumamnya pelan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
THOOM... THOOM... THOOM...
Tanah bergetar hebat. Getaran itu merambat dari telapak kaki Arven, naik ke tulang kering, hingga menghantam dadanya. Arven memperlambat lari, lalu sepatu botnya mencengkram kerikil tajam sampai berhenti total.
Ia menoleh perlahan. Kabut biru di belakangnya koyak. Siluet hitam raksasa muncul dari kegelapan lereng tambang. Sosok itu terlalu tinggi untuk ukuran makhluk hidup. Setiap langkahnya membuat permukaan tanah retak.
THOOM...
Cahaya merah merembes dari balik kulit hitam pekatnya. Retakan di tubuhnya menyala seperti bara api yang dipompa udara.
Kabut tersibak sepenuhnya. Wajahnya tertutup topeng tengkorak raksasa yang dingin. Dua titik merah dari rongga matanya mengunci posisi Arven.
Napas Arven tertahan di tenggorokan. “Man-Slayer,” bisiknya.
Pikiran Arven mendadak dihantam realita pahit. Jika makhluk ini sudah berada di depannya, maka gerbang desa sudah dilewati. Mata Arven membelalak, pupilnya bergetar hebat.
“Garrick...”
“Bram...”
“Rogan...”
“Liora...”
Nama-nama itu terucap lirih. Arven mundur setengah langkah, kepalanya menggeleng keras. “Tidak tidak tidak...” Suaranya retak, namun ia menggertakkan gigi sampai rahangnya menonjol. “Aku tidak lihat... mereka pasti—”
Ia memutus kalimatnya sendiri. Ketakutan di matanya mengeras menjadi kemarahan. Arven memajukan kaki kirinya, menumpu berat badan ke depan.
“—mereka masih hidup.”
Man-Slayer tidak meraung. Ia tidak menerjang liar. Ia hanya berjalan dengan ketenangan yang mematikan.
Ia berhenti beberapa meter di hadapan Arven. Mata merahnya bergerak cepat, melirik sejenak ke arah mulut tambang, lalu turun menatap tajam ke Titan Wrench yang digenggam, dan kembali menatap wajah pemuda itu.
Hening menyelimuti mereka, hanya suara angin gunung yang berdesir menusuk tulang.
Kemudian, mulut tengkorak itu terbuka. Suara yang keluar bukanlah suara manusia, melainkan gemuruh rendah, berat, dan kasar seperti gundukan batu besar yang saling bergesekan.
“Kau...” Kepala raksasa itu sedikit miring ke samping, “…membawa jejak Titan.”
Arven menggenggam Titan Wrench lebih erat. Otot lengannya yang sudah kelelahan kembali menegang, bahunya yang terluka masih terus meneteskan darah.
Lalu Man-Slayer melanjutkan. “Harus dihancurkan... sesuai perintah.”
Arven mematung, tapi di balik ketenangannya yang dipaksakan, kepalanya berdenyut kencang. Dinginnya logam di tangannya tak lagi terasa dominan, justru hawa dingin yang merayap dari kata-kata makhluk itu yang menguasai segalanya.
Perintah?
Kata itu bergema, jauh lebih tajam daripada raungan monster mana pun yang pernah ia hadapi di bengkel atau di hutan perbatasan. Makhluk di depannya bukan sekadar predator lapar. Ia memiliki niat. Ia memiliki instruksi.
Man-Slayer itu memiringkan kepala, sebuah gerakan yang mengerikan karena terasa begitu manusiawi. Ia seolah sedang membaca Arven, menakar apakah manusia di depannya ini hanyalah kerikil di jalan atau mangsa yang layak.
Lalu, suara itu pecah kembali, berat, dan seakan merayap dari dasar tanah.
“Kutukan Astreya...” Cakar Man-Slayer menggores batu, menimbulkan bunyi srek yang memilukan telinga. “Harus dimusnahkan.”
Angin gunung berhembus, membawa bau karat dan tanah basah melewati tambang yang membisu. Arven menggertakkan gigi hingga rahangnya terasa sakit. Otaknya mulai menyusun kepingan-kepingan yang selama ini ia abaikan.
Nightclaw yang menyelinap dalam bayangan. Stonefang yang merobek pagar besi seperti kertas. Bonebreaker yang menghantam gerbang Brakenford.
“Ini bukan serangan acak,” desis Arven pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini sebuah formasi.”
Ia teringat surat ayahnya. Kalimat-kalimat yang menggantung, rahasia yang terkubur dalam-dalam. Jika ayahnya mengerjakan sesuatu di tambang ini, dan sekarang monster-monster ini datang untuk 'memusnahkan' sesuatu...
Siapa yang memegang kendalinya?
Arven menyipitkan mata, tangannya semakin erat menggenggam gagang senjatanya. Pikirannya sempat melayang pada "Kerajaan", tapi ia segera menepisnya dengan pahit. Arven tahu betul bagaimana kerakusan bekerja. Jika para bangsawan mencium aroma kekuatan Titan, mereka tidak akan mengirim pembunuh untuk menghancurkannya. Mereka akan mengirim tentara untuk merantainya. Bagi raja mana pun, Astraeus bukanlah kutukan. Itu adalah takhta yang terbuat dari besi dan tenaga murni. Berarti, pilihannya jauh lebih buruk.
“Bukan Kerajaan,” gumam Arven, matanya terkunci pada mata monster itu. “Mereka terlalu serakah untuk sekadar menghancurkan.”
Rasa dingin itu kini menetap di ulu hatinya. Jika bukan Kerajaan, berarti ada organisasi lain. Sesuatu yang mengawasi dari kegelapan sejarah. Organisasi yang tak tercatat di peta, atau mungkin sisa-sisa dari zaman Astreya sendiri yang bersumpah untuk memastikan raksasa-raksasa itu tetap terkubur.
Dunia Arven yang tadinya hanya sebatas mesin, oli, dan besi, tiba-tiba runtuh. Di hadapannya kini terbentang konspirasi yang jauh lebih besar. Ia bukan lagi sekadar mekanik yang tersesat di tambang tua. Ia adalah pion dari sebuah perang yang seharusnya sudah berakhir berabad-abad lalu.
THOOM...
Lantai batu di bawah botnya seolah menciut. Arven bisa merasakan getaran itu merambat naik ke tulang keringnya. Jarak antara dia dan kematian hanya tinggal beberapa langkah lebar lagi.
Ia mencoba mengangkat Titan Wrench miliknya. Benda itu sekarang terasa seperti sebongkah timah raksasa. Lengannya bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena otot-ototnya sudah menjerit protes. Protes pada paksaan, pada luka yang menganga, dan pada kelelahan yang selama ini ia tekan di bawah tumpukan oli dan keringat.
“Cukup... jangan sekarang,” desisnya, suaranya parau.
Ia memaksa tubuhnya tegak, meski punggungnya terasa seperti ditarik paksa dari dalam. Di depannya, Man-Slayer berdiri seperti monumen maut, bayangannya memanjang, menelan sisa-sisa cahaya bulan.
Arven terjebak. Sudut sempit ini tidak lagi memberinya ruang untuk menghindar. Ia menatap monster itu. Sesaat, sebuah senyum miring, tipis dan penuh kepahitan, muncul di wajahnya yang kotor. Tawa pendek yang kering keluar dari tenggorokannya.
“Lucu sekali,” gumamnya pelan. “Aku bahkan belum sempat mengganti engsel pintu bengkel yang rusak itu.”
Matanya meredup saat melihat tangannya sendiri yang gemetar mencengkeram gagang kunci raksasa itu. Ia seorang mekanik, ia tahu kapan sebuah mesin sudah mencapai batas kemampuannya. Dan saat ini, tubuhnya adalah mesin yang hampir meledak. Jika ia maju sekarang, itu bukan keberanian. Itu hanya cara yang sangat konyol untuk mati.
THOOM...
Langkah terakhir Man-Slayer. Jaraknya kini cukup dekat untuk Arven bisa mencium bau anyir dan hawa dingin dari tubuh makhluk itu.
Lalu, sebuah anomali terjadi. Cahaya biru muncul dari belakang punggung Arven, dari kegelapan lubang tambang yang seharusnya mati. Awalnya hanya seberkas redup, seperti pantulan kunang-kunang di genangan minyak. Namun dalam hitungan detik, cahaya itu berdenyut.
DUUM...
Jantung Arven seolah ikut terhenti sejenak.
DUUM...
Denyut kedua. Kali ini lebih keras, lebih nyata. Arven tersentak, tangannya secara refleks menekan dadanya sendiri. Ada sesuatu yang salah atau mungkin, terlalu benar.
“Nngh— apa-apaan ini.”
Itu bukan rasa sakit. Rasanya seperti ada kabel yang ditarik kencang dari dalam jantungnya menuju ke kedalaman tambang. Kabut biru di udara mulai berputar, bukan lagi karena angin, tapi karena mereka memiliki ritme. Mereka menari mengikuti detak yang sama.
Arven terhuyung. Pandangannya terpaku pada tambang yang kini bermandikan cahaya biru. Di tengah dengungan aneh yang memenuhi telinganya, sebuah bisikan merayap masuk.
“Arven...”
Seluruh bulu kuduknya berdiri. Arven membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Tidak ada orang di sana. Tidak mungkin ada orang di dalam sana.
“Siapa?” ia menelan ludah, suaranya hilang ditelan sunyi tambang.
“Arven...”
Kali ini suara itu bukan lagi sekadar gema. Suara itu terasa intim. Arven perlahan menyadari sesuatu yang membuatnya lebih ngeri daripada ancaman Man-Slayer di depannya. Matanya melebar, bukan lagi menatap ke dalam tambang, melainkan menatap kosong ke kegelapan di depannya.
“Bukan dari sana,” bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ia menurunkan tangannya dari dada. Gemetar itu kini bukan lagi karena lelah. Jantungnya berdegup sangat kencang, tapi anehnya, detaknya terasa simetris dengan denyutan biru di belakangnya.
Titan Wrench di tangannya tiba-tiba berdengung rendah. Garis-garis cahaya biru mulai menjalar di permukaan logam tua itu, merespons panggilan dari arah tambang itu.
“Tidak mungkin.”
Tapi sel-sel di dalam tubuhnya berkata lain. Ada sebuah koneksi yang melampaui logika mekanika yang ia pelajari bertahun-tahun. Sebuah perasaan yang meluap, membanjiri rasa takutnya dengan sesuatu yang menyerupai pengakuan.
Arven menarik napas panjang, membiarkan udara dingin tambang mengisi paru-parunya. Ia berbalik perlahan, menatap pusat cahaya itu dengan mata yang kini berkilat biru.
“Astraeus.”
Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Bukan sebagai pertanyaan, tapi sebagai sebuah sapaan untuk sesuatu yang sudah lama menunggunya kembali.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)