Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenalan
Seminggu setelah rahasia keluarga di ruang tamu.
Rania masih belum tahu kalau namanya sudah masuk dalam program "Audisi Jodoh Gila" versi keluarga. Dia pikir obrolan Pak Slamet dulu cuma angin lalu. Sekedar omongan untuk menghibur biar rame dia salah besar.
Pagi Senin jam delapan.
Rania baru aja selesai ngopi di dapur. Masih pakai daster lusuh, rambut masih diiket asal-asalan kayak sapu ijuk. Dia lagi asyik makan gorengan dari piring, ibu memang juara kalau soal bikin orang betah di rumah dengan godaan camilan ketika tiba-tiba…
BRRENG!
Bel pintu berbunyi keras kayak alarm kebakaran.
“Itu siapa pagi-pagi?” gumam Rania sambil mengunyah pisang goreng.
Ibu yang dari tadi sibuk nyuci piring langsung menyeka tangan, matanya berbinar. Binar itu tidak wajar iti binar kayak ibu-ibu lihat diskon 70 persen di mall department store.
“Pasti tamu nak Kamu duduk aja.”
“Tapi Bu....“
“DUDUK!”
Rania terdiam ada nada komando di suara ibunya. Belum sempat dia mikir, ibu sudah melesat ke pintu kayak kena sundulan bola.
Creak...
Pintu terbuka.
Di luar berdiri seorang pria. Tinggi sedang, tampan, kumis tipis kayak bulu ketiak yang baru tumbuh. Kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, sandal kulit mengkilap, senyumnya lebay kayak lagi ikut lomba senyum tersopan se Indonesia.
“Assalamu’alaikum, Bu. Saya Budi.”
Ibu langsung nyengir selebar papan reklame. “Waalaikumsalam, Mas Budi! Mari masuk, mari. Ayo, ayo.”
Rania dari kejauhan mulai gelisah. Budi? Siapa dia?
Pria bernama Budi melangkah masuk. Matanya langsung tertuju ke Rania yang lagi duduk di kursi plastik dengan pisang goreng di tangan. Senyumnya melebar.
“Ini pasti Rania, ya? Cantik banget, beda sama yang ibu ceritain.”
Rania mengerutkan kening. Yang ibu ceritain? Cerita apaan?
Ibu buru-buru maju. “Rania, ini Mas Budi. Akuntan, kerja di perusahaan besar, rumahnya di kompleks sebelah.”
“Oh,” Rania datar.
“Punya mobil?”
Budi tersenyum sombong. “Punya dua, Mbak. Yang satu buat kerja, yang satu buat kondangan.”
“Kondangan? Mobilnya khusus buat datang ke acara orang nikah?”
“Iya, biar gak ketuker sama mobil dinas.”
Rania hampir tersedak. Mobil kondangan? Ini manusia atau iklan?
Sepuluh menit kemudian. Suasana berubah canggung.
Budi duduk di sofa, Ibu di sampingnya kayak asisten pribadi. Rania di seberang, masih pegang pisang goreng yang sudah dingin.
Budi mulai beraksi.
“Jadi, Mbak Rania,” katanya sambil nyruput teh yang disodorin ibu,
“Saya dengar Mbak baru putus? Lagi patah hati? Jangan sedih, semua ada hikmahnya.”
Rania menahan diri. “Siapa bilang saya patah hati?”
“Ibu,” Budi menunjuk ibu.
Rania menoleh ke ibunya. Ibu hanya nyengir kuda. Mulutnya komat-kamit kayak lagi baca doa.
“Biar saya cerita sedikit tentang diri saya,” lanjut Budi tanpa malu.
“Saya lulusan S1 akuntansi IPK 3,2. Punya tabungan cukup buat nikah. Punya rumah tipe 36 di pinggiran kota. Punya motor matic buat beli sayur. Punya..“
“Punya cermin gak?” potong Rania.
“Hah?”
“Biar lihat diri sendiri kali aja lupa.”
DOR!
Ibu nyaris jatuh dari kursi. Dia mencolek pinggang Rania. “Ran! Sopan dikit!”
“Aku sopan, Bu cuma jujur.”
Budi tertawa canggung. “Wah, lucu sekali Mbak Rania. Saya suka.” Dia maju sedikit.
“Mbak kalau mau, kita bisa kenalan lebih dalam. Saya orangnya romantis saya suka kasih kejutan.”
“Kejutan kayak gimana?” tanya Rania tanpa ekspresi.
“Misalnya, saya bisa anter jemput Mbak. Saya bisa antar makan siang, saya..“
“Saya gak butuh supir atau kurir ojek,” Rania memotong.
“Saya butuh ketenangan dan sekarang, saya lagi nyari ketenangan. Jadi, Mas Budi... terima kasih sudah datang, pintu di sebelah sana.”
Budi terdiam, wajahnya merah padam kayak kepiting rebus.
Ibu langsung nimbrung. “Mas Budi, maaf ya, Rania emang lagi sensitif. Keadaan hatinya naik turun kayak harga cabai.”
“Saya ngerti, Bu,” Budi berdiri.
“Mungkin lain kali, saya permisi.”
Dia melangkah ke pintu, sebelum keluar, dia menoleh ke Rania. “Saya doakan semoga Mbak cepet dapet jodoh yang tepat.”
Rania angkat pisang goreng. “Aamiin. Semoga Mas Budi juga cepet dapet orang yang sabar dengerin cerita soal mobil kondangan.”
Pintu depan tertutup Ibu langsung berbalik Wajahnya merah marak.
“Rania! Kamu sadar diri gak? Mas Budi itu anak baik! Kerja mapan! Punya segalanya! Kamu kok diusir kayak pengemis!”
Rania menggigit pisang goreng dengan santai. “Bu, aku gak usir, aku kasih tahu realita. Aku gak cocok sama orang yang ngukur kebahagiaan dari jumlah mobil kondangan.”
“Tapi kamu juga gak usah kasar!”
“Aku tuh sopan tadi, Bu. Kalau kasar, aku udah bilang mobil kondangan lo gak guna, Mas. Yang ada lo pake buat jemput pasangan, tapi pasangan lo lari ke mobil lain, Itu baru kasar.”
Ibu geleng-geleng kepala. “Dasar gak ada obat.”
Dari ruang samping, suara Naufal terdengar cekikikan. Adik bungsu itu ternyata nguping dari balik pintu.
“Gua prediksi, Mas Budi gak bakal dateng lagi. Selamanya.”
“LO DIEM!” teriak ibu.
Sore harinya Jam tiga.
Rania sudah mengelus dada. Dia pikir selesai sudah kegilaan keluarganya. Ternyata… belum.
Bel pintu berbunyi lagi.
BRRENG! BRRENG!
Kali ini lebih keras kayak polisi lagi ngegas.
Ibu yang dari tadi masih cemberut, tiba-tiba sumringah lagi. “Itu pasti Mas Andre! Anak buah bapakmu!”
Rania memejamkan mata. Anak buah bapak? Sales mobil itu?
Pintu terbuka. Masuklah seorang pria dengan setelan jas hitam. Rambut klimis kayak dilap lilin. Kacamata hitam di dada. Sepatu pantofel mengkilap sampe Rania bisa lihat pantulan dagunya sendiri.
“Selamat sore,” kata Andre dengan suara berat kayak penyiar radio.
“Saya Andre. Sales marketing otomotif. Saya datang membawa diri dan kesungguhan.”
Rania mengernyit. “Kesungguhan dijual per kilo?”
Andre tersenyum, dia duduk tanpa ditawari. Langsung melempar kartu nama ke meja.
Andre Wijaya – Marketing Specialist – Dealer Mobil Terpercaya.
Rania ambil kartu itu dia baca. Dia lipat jadi pesawat kertas. Lalu diterbangkan ke arah Naufal yang masih nguping.
“Mas Andre,” kata Rania pelan,
“Saya gak mau beli mobil kenapa lo kasih kartu nama?”
“Itu simbol, Mbak. Saya orang profesional. Saya suka transaksi yang jelas, ayo kita transaksi hati.”
Rania nyaris muntah, transaksi hati? Ini lagi jualan asuransi atau lagi jualan mobil?
Ibu ikut nimbrung dengan semangat. “Mas Andre, gimana prospek kerjanya sekarang? Bapaknya bilang Mas Andre karyawan terbaik bulan ini!”
“Alhamdulillah, Bu. Target saya selalu tercapai. Bulan ini saya jual 12 mobil, dua di antaranya ke tetangga saya sendiri.”
Rania menyelak. “Mobilnya bagus gak?”
“Semua bagus, mbak Garansi 3 tahun, bebas biaya servis 2 kali.”
“Bukan mobilnya yang saya tanya, lo bagus gak sebagai pacar?”
Andre terdiam, matanya berkedip-kedip kayak lampu hazard.
“Saya orangnya tegas, mbak bertanggung jawab. Tidak suka basa-basi.”
“Jadi kalau saya bilang aku laper, lo akan bilang beli sendiri gitu?”
“Bukan begitu, saya akan antar beli makan. Tapi saya track km-nya biar gak ada selisih uang bensin.”
Rania menatap ibunya. Ibu pura-pura sibuk ngelap gelas yang sudah kinclong.
“Mas Andre,” kata Rania.
“Saya tanya serius. Lo tipe orang kalau pacaran hitung-hitungan gak?”
Andre menghela napas. “Mbak, hidup itu hitung-hitungan. Saya beli mobil juga pake kalkulator. Saya cari jodoh juga pake kriteria. Sangat rasional.”
“Jadi kalau saya butuh perhatian lo, lo akan hitung dulu berapa jam yang lo kasih?”
“Tentu.”
“Terus kalau saya butuh pelukan, lo kasih harga per menit?”
Andre tersenyum. “Bisa didiskusi.”
Rania berdiri.
“Gak usa didiskusi, udah. Sekarang lo diskusi aja sama pintu depan. Saya rasa dia butuh kartu nama juga.”
Andre melongo. “Maksud Mbak?”
“Maksud saya, KELUAR! Bawa transaksi hati lo ke dealer lain! Saya gak beli!”
Ibu buru-buru menenangkan. “Mas Andre maaf, Rania lagi capek. Dia...“
“Dia capek sama saya juga, Bu!” sela Rania.
“Saya tahu ini semua settingan lo. Lo, bapak, Naufal, dan Pak Slamet kemarin. Lo lagi nyariin jodoh buat saya.”
Ibu terdiam.
Rania melangkah ke kamar. Sebelum masuk, dia berbalik.
“Kalo saya tahu besok ada yang datang lagi, saya bakar pintu depan,SERIUS.”
Dua jam kemudian, kamar Rania gelap gulita.
Rania rebahan, hatinya campur aduk, kesal, lepek, capek.
Kenapa sih keluarganya gak bisa terima dia apa adanya? Kenapa harus buru-buru nyari pengganti Rangga? Padahal luka di hati masih terbuka. Belum semuanya kering.
Ponselnya getar.
Naufal “Mbak, gue salut sama lo tadi Andre sampe nangis di mobil. Katanya gak pernah ditolak segitunya.”
Rania tersenyum kecut dia balas.
“Bilang ke nyokap, kalo besok masih ada yg dateng, gue cabut dari rumah.”
Naufal: “Hahaha telat. Besok ada satu lagi. Datengnya jam 10 pagi. Gue gak tau siapa. Tapi Bapak bilang dia anak temennya, sepuh, umur 40.”
Rania nyaris lemparkan ponsel.
UMUR 40?! BAPAK GILA!
Dia tekan nomor bapak, nggak diangkat. Dia tekan nomor ibu, nggak diangkat. Keluarganya sudah kompak. Mereka sudah punya rencana, Rania tidak punya pilihan selain menerima atau kabur.
Tapi kabur ke mana? Dia gak punya uang. Gak punya tempat tinggal lain. Dia cuma punya kamar yang pengap dan hati yang remuk.
Rania membalik badan. Dia angkat guling, dia peluk erat-erat.
“Rangga,” bisiknya.
“Lo liat gak, ini yang lo tinggalin. Keluarga gila, calon gila, hidup gila.”
Tidak ada jawaban hanya suara kipas angin yang berputar pelan.