Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Hujan gerimis membungkus Jakarta dalam selimut kelabu, namun di dalam kediaman Wiratama, udara terasa jauh lebih menyesakkan.
Arkan berdiri di koridor lantai bawah, bayangannya memanjang di atas lantai marmer yang mengilat. Langkahnya ragu, matanya terus melirik ke arah tangga, memastikan Kinanti masih berada di ruang kerjanya di lantai dua untuk meninjau laporan audit bulanan.
Arkan melangkah cepat menuju area dapur, tempat Bi Ijah biasanya merapikan sisa-sisa perjamuan atau sekadar menyeduh teh herbal untuk Kinanti. Ia menemukan wanita tua itu sedang melipat kain serbet dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Bi Ijah," bisik Arkan pelan, hampir seperti desisan.
Bi Ijah tersentak, bahunya melonjak kecil. "Eh, Den Arkan. Kaget saya, Den. Ada yang bisa saya bantu? Mau dibuatkan kopi?"
Arkan menggeleng, ia melangkah lebih dekat, memperkecil jarak agar suaranya tidak bergema di ruangan yang luas itu. "Bi, saya mau tanya soal barang-barang... barang-barang yang tertinggal di paviliun. Waktu Kinanti menyuruh Bibi membersihkannya, apa Bibi menemukan sesuatu? Catatan? Atau mungkin yang lain....?"
Wajah Bi Ijah seketika berubah pasi. Ia melirik ke arah pintu dapur dengan ketakutan yang nyata. "Maaf, Den... Saya sudah bakar semuanya di tungku belakang, Den. Saya tidak berani menyimpan apa-apa."
"Bibi pasti melihat sesuatu, kan?" Arkan mendesak, suaranya naik satu oktav karena frustrasi.
Bi Ijah menunduk dalam, jari-jarinya meremas kain serbet. "Saya cuma... Saya..."
"Bicara soal apa, Bi Ijah?"
Suara itu tenang, namun saku-saku udara di dapur seolah tersedot habis seketika. Kinanti berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan kacamata bacanya. Ia tidak tampak marah, bahkan ada senyum tipis di bibirnya, jenis senyum yang biasanya ia berikan kepada lawan bisnis yang baru saja ia jebak dalam kontrak yang merugikan.
Arkan membeku. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya. Bi Ijah segera menunduk dan bergegas pergi melewati Kinanti tanpa berani mengangkat wajah.
"Kin... aku cuma mau tanya soal menu makan malam," Arkan mencoba berbohong, namun suaranya terdengar sumbang.
Kinanti tidak membantah kebohongan itu. Ia justru berjalan santai menghampiri Arkan, lalu meletakkan sebuah map tipis berwarna biru di atas meja granit dapur.
"Aku tidak butuh menu makan malam, Arkan. Aku butuh kamu membaca ini," ujar Kinanti lembut.
Arkan membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan daftar menu, melainkan laporan kinerja eksekutif dan struktur dewan komisaris terbaru. Namanya masih ada di sana sebagai Direktur Utama, namun ada catatan merah tebal di sampingnya.
"Dewan komisaris baru saja mengadakan rapat tanpa kamu pagi tadi," Kinanti menjelaskan sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas kristal. "Nilai saham kita sedang sensitif, Arkan."
Arkan merasa seolah ada tali tak kasat mata yang menjerat lehernya, menariknya semakin kencang. Ia menatap laporan itu, menyadari bahwa setiap rupiah yang ia miliki, setiap kemewahan yang ia injak, adalah milik keluarga Kinanti. Ia adalah tawanan di rumahnya sendiri.
"Istirahatlah, Arkan. Besok akan ada presentasi besar," ucap Kinanti, lalu berlalu meninggalkan Arkan yang masih terpaku di dapur yang kini terasa sedingin ruang bawah tanah.
Malam semakin larut. Arkan berbaring di tempat tidur luasnya, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu chandelier redup. Di sampingnya, Kinanti sudah tertidur dengan tenang, napasnya teratur, seolah beban dosa di rumah ini tidak memengaruhinya sedikit pun.
Tiba-tiba, sebuah tangisan memecah kesunyian malam. Suara itu melengking dari kamar bayi di ujung koridor. Arjuna menangis. Tangisannya terdengar pilu, seolah bayi itu sedang memanggil sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Arkan segera bangkit. Secara naluriah, ia ingin berlari ke sana, menggendong putranya, memberikan kehangatan yang selama ini dirampas oleh protokol kaku di rumah ini. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu kamar, sebuah tangan lain menahannya.
Kinanti sudah berdiri di sana, matanya tajam meski dalam kegelapan.
"Biarkan dia, Arkan," bisik Kinanti.
"Dia menangis, Kin! Mungkin dia lapar, atau...."
"Pengasuh sudah ada di sana. Arjuna harus belajar menenangkan dirinya sendiri. Pelatihan kemandirian dimulai dari sekarang. Kalau kamu selalu datang saat dia memanggil, dia akan tumbuh menjadi pria lemah... pria yang mudah dikendalikan oleh emosi, persis seperti ayahnya."
"Dia masih bayi, Kinanti! Dia baru berumur satu bulan!" Arkan memohon, air mata mulai menggenang di matanya.
"Justru karena dia baru satu bulan, dia harus tahu siapa penguasanya. Masuklah ke kamar, Arkan." nada suara Kinanti berubah menjadi mutlak, dingin seperti baja.
Arkan terpaksa mundur. Ia menutup pintu kamarnya kembali, namun tangisan Arjuna masih menembus dinding-dinding mewah itu. Arkan merosot di balik pintu kayu yang tebal. Ia menutup telinganya dengan kedua tangan.
Arkan menangis tanpa suara. Bahunya terguncang hebat. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit, di rumah ini, ia memiliki segalanya tapi tidak memiliki apa-apa. Ia memiliki seorang putra, tapi tidak boleh memeluknya. Ia memiliki kekayaan, tapi tidak bisa menggunakannya untuk menebus kesalahannya.
Di luar sana, Alana mungkin sedang kedinginan, mungkin sedang kelaparan, dan Arkan, hanyalah seorang pengecut yang meringkuk di balik pintu jati mahalnya.
Setiap tangisan Arjuna malam itu adalah cambukan bagi jiwa Arkan. Dan saat fajar menyingsing, Arkan tahu bahwa ia telah mati sedikit demi sedikit di tangan wanita yang kini menjadi pemilik sah atas napas dan hartanya.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.