NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:162
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan demi Sang Buah Hati

Waktu bergulir dengan cepat di perbukitan pinus. Tiga bulan telah berlalu sejak kabar bahagia itu meledak di The Dendra Foundation. Kehamilan Luna kini telah memasuki bulan keempat, dan perutnya mulai menunjukkan lengkungan kecil yang manis di balik gaun longgar yang sering ia kenakan. Meskipun masa-masa mual hebat di trimester pertama sudah mulai mereda, tantangan baru muncul: kelelahan fisik yang luar biasa dan kebutuhan akan kontrol medis yang lebih rutin dan intensif.

Selama tiga bulan ini, Isaac telah menjadi suami yang luar biasa siaga. Namun, di balik ketenangannya, ada sebuah kegelisahan yang terus menghantui pikirannya. Setiap kali ia harus menempuh perjalanan dua jam turun gunung untuk urusan mendesak di kantor pusatnya di kota, atau saat ia melihat Luna harus beristirahat dengan napas tersengal setelah menaiki tangga panti, hati Isaac merasa tidak tenang.

Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya, membungkus bangunan panti dalam kesunyian yang dingin. Di dalam kamar pribadi mereka, suasana jauh lebih hangat. Isaac duduk di tepi ranjang, memerhatikan Luna yang sedang mengoleskan minyak zaitun ke perutnya dengan gerakan lembut. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan kesan dramatis pada wajah Isaac yang tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu yang berat.

"Luna," panggil Isaac pelan. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh desis angin di luar jendela.

Luna menoleh, memberikan senyum tulus yang selalu berhasil melelehkan kekakuan hati Isaac. "Ya, Mas? Kenapa wajahmu terlihat seperti sedang merancang gedung pencakar langit yang sangat rumit?"

Isaac terkekeh pendek, namun matanya tetap serius. Ia meraih jemari Luna, menggenggamnya erat. "Aku sudah memikirkan ini selama beberapa minggu terakhir. Aku ingin kita pindah sementara ke apartemen kita di kota, setidaknya sampai kau melahirkan nanti."

Gerakan tangan Luna di perutnya terhenti seketika. Matanya melebar, menatap Isaac dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Pindah ke kota? Tapi, Mas... bagaimana dengan panti? Bagaimana dengan anak-anak?"

Isaac menarik napas panjang, mencoba menyusun argumen yang paling logis. "Dengarkan aku dulu, Sayang. Di kota, akses kita ke rumah sakit hanya berjarak sepuluh menit. Dokter Amira juga bisa memantau perkembangan janinmu lebih sering tanpa kau harus kelelahan menempuh perjalanan dua jam yang berkelok-kelok. Belum lagi urusan pekerjaanku. Belakangan ini aku sering meninggalkanmu karena proyek di pusat kota sedang padat-padatnya. Jika kita di sana, aku bisa pulang setiap saat jika kau butuh sesuatu."

Luna terdiam. Ia menunduk, menatap perutnya sendiri. Bayangan harus meninggalkan keriuhan anak-anak di pagi hari, suara tawa mereka di ruang makan, dan udara pegunungan yang asri membuatnya merasa sesak.

"Tapi anak-anak, Mas... mereka pasti akan merasa kehilangan. Aku tidak pernah meninggalkan mereka selama berbulan-bulan sejak panti ini berdiri," suara Luna mulai bergetar. "Siapa yang akan mendampingi mereka belajar? Siapa yang akan membacakan dongeng untuk si kecil?"

Isaac berpindah posisi, duduk lebih dekat dan merangkul bahu Luna, membawa istrinya itu ke dalam pelukan yang menenangkan. "Sayang, lihat aku. Anak-anak kita sudah besar. Mereka bukan lagi balita cengeng yang akan menangis histeris jika kau tinggal pergi satu hari. Mereka sudah mandiri. Bumi, Bimo, bahkan Sari sudah bisa membantu mengoordinasikan adik-adik mereka."

"Tapi tetap saja..."

"Masih ada Ibu Sari, Luna. Masih ada pengasuh-pengasuh lain yang sangat kompeten. Mereka tidak akan sendirian," potong Isaac dengan lembut namun tegas. "Kita tidak akan meninggalkan mereka selamanya. Kita bisa pulang setiap akhir pekan jika kondisimu memungkinkan. Tapi untuk keseharianmu, kau butuh kenyamanan yang tidak bisa diberikan oleh bukit ini sekarang. Aku tidak ingin kejadian malam itu terulang lagi, saat kau kesakitan dan aku hampir gila karena rumah sakit sangat jauh."

Luna melepaskan pelukannya, menatap mata Isaac dalam-dalam. Ia melihat kecemasan yang murni di sana—kecemasan seorang suami yang sangat mencintai istri dan calon anaknya. "Mas benar-benar berpikir ini yang terbaik?"

"Sangat yakin. Ini bukan hanya tentang pekerjaanku, Luna. Ini tentang keselamatanmu dan bayi kita. Di kota, fasilitas lebih lengkap. Jika terjadi sesuatu yang darurat—dan aku berdoa itu tidak terjadi—kita bisa mendapatkan bantuan dalam hitungan menit," jelas Isaac.

Luna mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menatap kegelapan hutan pinus yang selama ini menjadi rumahnya. Perdebatan batin terjadi di dalam dirinya. Di satu sisi, ia sangat mencintai anak-anak panti, namun di sisi lain, ia sadar bahwa kehamilannya kali ini membutuhkan perhatian ekstra.

"Lalu, bagaimana kita menjelaskannya pada mereka?" tanya Luna akhirnya, suaranya terdengar lebih pasrah.

Isaac tersenyum tipis, menyadari bahwa istrinya mulai membuka diri terhadap idenya. "Kita katakan yang sejujurnya. Bahwa ini demi kesehatan adik bayi mereka. Mereka anak-anak yang cerdas, Luna. Mereka pasti mengerti. Lagipula, Rian juga ada di kota. Kita bisa lebih sering bertemu dengannya."

Mendengar nama Rian, raut wajah Luna sedikit melunak. "Iya, Rian pasti senang jika kita ada di sana. Dia tidak perlu menunggu libur panjang untuk bertemu kita."

"Jadi... kau setuju?" tanya Isaac memastikan, menatap Luna dengan penuh harap.

Luna terdiam cukup lama, membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan mengangguk. "Baiklah, Mas. Aku setuju. Demi anak kita. Tapi kau harus janji, setiap kali aku merasa rindu pada anak-anak dan kondisiku sehat, kau harus membawaku pulang ke sini sejenak."

"Aku janji, Sayang. Apapun untukmu," jawab Isaac lega. Ia mengecup kening Luna dengan sangat lama, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa terima kasihnya.

Malam itu, keputusan besar telah diambil. Pindah ke kota bukan berarti meninggalkan cinta mereka di perbukitan, melainkan sebuah strategi untuk menjaga masa depan yang sedang tumbuh di rahim Luna. Bagi Isaac, ini adalah jalan keluar yang paling logis agar ia bisa memantau perusahaan dan karyawannya secara langsung tanpa harus meninggalkan istrinya dalam risiko bahaya di tempat terpencil.

Keesokan harinya, mereka berencana untuk mengumpulkan seluruh penghuni panti. Isaac tahu bahwa memberi tahu anak-anak tidak akan semudah meyakinkan Luna, namun ia sudah menyiapkan mentalnya. Kehidupan di kota mungkin akan terasa lebih bising dan sesak dibandingkan kesunyian bukit, namun demi detak jantung kecil yang mereka cintai, pengorbanan ini terasa sangat kecil.

Luna kembali merebahkan dirinya di pelukan Isaac, mencoba membayangkan hidup di apartemen mewah mereka di pusat kota. Ia akan merindukan aroma pinus, tapi ia tahu, pelukan Isaac dan kehadiran calon bayinya adalah "rumah" yang sesungguhnya, di mana pun mereka berada. Keputusan telah dibuat, dan babak baru kehidupan mereka di tengah hiruk-pikuk kota besar siap untuk dimulai dalam beberapa hari ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!