Maura, seorang gadis yang terpaksa harus menikah dengan seorang pengusaha muda yang ternyata adalah bos tempat dimana dia mencari nafkah.
semua berawal dari minuman, Maura yang saat itu sedang memergoki ke kasihnya sedang berselingkuh dan bercinta dengan sahabatnya sendiri sungguh sangat frustasi dan memutuskan untuk pergi ke club dan meminum alkohol di sana.
tetapi sayangnya itu justru membawa pengaruh buruk untuknya, akibat mabuk dia salah masuk apartemen.
Bukannya melakukan hubungan terlarang, Maura justru menghajar pria tersebut hingga dia berakhir di penjara.
untuk bisa keluar dari sel tahanan tersebut, Jo memberikan syarat, yaitu harus menjadi kekasih sekaligus calon istri penggantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon na4vR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 4. 1609 atau 1606?
"Biar aku saja!!" segera saja bartender itu merampas kunci mobil saat Maura hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Dimana rumahmu?"
Maura menatap pria di sampingnya dengan tatapan tidak suka.
"Apa kau benar-benar tidak tau, Kev? Hahaha bagaimana mungkin kau tidak tau apartemen kekasihmu sendiri?" kesal Muara dengan wajah yang sudah memerah.
"Katakan saja!"
"Hahahaha oke, oke.. Maybe kau memang sudah lupa aku tinggal di apartemen C, bagaimana? Apa kau sudah ingat?"
Pria itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk saja kemudian melajukan mobilnya menuju apartemen yang di beritahukan wanita itu tadi. Hingga akhirnya mobil yang membawa mereka tiba di basement.
"Apa kamu perlu di antar sampai ke room milikmu?" tawar bartender itu yang masih ada rasa kasihan pada Maura, takut terjadi apa-apa dengan wanita itu.
"Tidak perlu!! Ketus Maura sambil menatap sinis bertender tersebut, "kau terlalu kotor untuk menyentuh ku!!"
"Sialan ini cewek!!!"
Andai wanita di depannya itu dalam keadaan tidak mabuk, maka ia pastikan akan memberikan pelajaran.
Tanpa basa basi, bartender itu segera pergi setelah menyerahkan kunci mobil Maura.
Maura sendiri bergegas masuk, berjalan menuju lift dengan sedikit sempoyongan. Karena apartemen nya berada di lantai 16.
Ketika keluar Lift, Maura melihat satu persatu room apartemen mencari nomor apartemen miliknya.
Maura yang kesadarannya memang menghilang, lalu berjalan mendekati apartemen yang bertuliskan 1606 sedangkan nomor room miliknya 1609
Wanita itu mulai mengamati ketiga angka tersebut, "satu enam kosong sembilan." gumamnya Maura melihat angka 1606.
Karena yakin itu apartemennya, Maura segera memasukkan pin apartemen yaitu tanggal lahirnya.
Ajaib!! Ternyata pin itu benar, tanpa keraguan sedikit pun. Maura masuk ke dalam apartemen yang masih ia kira miliknya. Wanita itu segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang sedikit berbeda.
Sementara Joe Kevin Alexander baru saja selesai membersihkan diri, dengan santainya ia keluar dari dalam kamar mandi dan handuk kecil yang melilit di pinggang nya.
Meskipun Joe merupakan orang dari kalangan atas serta memilik perusahaan besar. Ia lebih memilih untuk tinggal di apartemen sederhana saja, alasan nya cukup simple. Karena ia tidak mau tinggal di tempat yang terlalu besar tetapi sangat kesepian.
Ia pun tidak mau tinggal bersama ibu nya, yang menurutnya terlalu cerewet. Ia tidak mampu mendengar celoteh ibunya yang selalu menyindirnya karena sampai saat ini masih melajang. Itulah sebabnya ia memilih untuk tinggal sendiri.
Joe bersiul begitu keluar dari dalam kamar mandi, pria itu masih belum menyadari ada orang di dalam kamar nya. Tetapi mata nya tidak sengaja melihat sesuatu di atas kasur miliknya.
"Aaaaaaaaaaaaaaa!!"
Joe sontak teriak histeris saat melihat sosok wanita berambut panjang di depan mata nya, demi apa pun selama tinggal di apartemen ini. Ia sama sekali tidak pernah di ganggu makhluk halus, lantas. Arwah siapakah yang bertamu ke apartemennya tanpa minta ijin terlebih dahulu?
Maura yang baru saja memejamkan mata nya sontak terlonjak kaget mendengar suara melengking tersebut, wanita itu segera bangkit dan berdiri.
"Kevin?" lagi dan lagi Maura berpikir jika pria yang ada di hadapannya itu adalah Kevin. Sementara Joe terkejut setengah mati mendengarnya.
"Astaga, kesalahan apa yang udah gue perbuat.. Sampe ada arwah cantik datang menghantui gue? Apa lagi dia tahu nama gue."
Tetapi sedetik kemudian Joe semakin di buat terkejut saat menyadari jika wanita itu masih menapak berarti dia bukan hantu.
"Apa yang kau lakukan di apartemen ku brengsek?" pekik Maura dengan wajah sudah merah padam, apa lagi saat teringat kejadian tadi siang.
Joe melotot tidak terima di bilang brengsek, padahal ia bukan pria seperti itu.
"Jaga ucapan anda, Nona!! Yang seharusnya bertanya itu saya!! Apa yang anda lakukan di apartemen saya? Dan bagaimana mungkin anda bisa masuk?"
Maura justru terkekeh mendengar tudingan Joe, jelas saja tidak percaya dengan ucapan pria itu. "ternyata kau benar-benar brengsek!! Kenapa? Kamu mau uang? Oke...ini!! Ambil.." maura melemparkan uang yang tersisa dari dalam tasnya, tepat di wajah Joe.
Sementara Joe masih belum bergeming.
"Apa lagi? debit? Baiklah!!" Maura lalu mengambil kartu debit dari dalam dompetnya, gadis itu berusaha mematahkan kartu tersebut tetapi rupanya keras.
"Aih..kenapa sangat keras sekali sih!!" Maura mengoceh dengan wajah menggemaskan.
"Aaahhh ini!! Ambil untukmu!! Jangan pernah ganggu aku lagi.."usir Muara sembari melempar Kartu debit tersebut dan tepat mengenai jidat Joe.
"Nona, apa yang sedang anda lakukan?" bentak Joe yang saat ini sudah terlihat sangat murka. Wajar saja, ia merasa harga dirinya di rendahkan oleh gadis yang sama sekali tidak ia kenal.
"Apa yang sedang aku lakukan? Apa kau lupa denganku?" Maura terkekeh sinis pada pria di hadapannya.
"Baiklah, aku akan buat kau mengingat siapa aku!!"
Entah dari mana datangnya kekuatan Muara hingga bisa menghempaskan tubuh besar Joe ke atas ranjang.
Joe terkejut bukan main, ia menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan. Apakah wanita itu akan memperkosanya? Begitulah yang ada di pikiran Joe saat ini.
"No-Nona, apa yang hendak Anda lakukan?" Joe kalang kabut melihat gadis itu semakin mendekat. Apa lagi mengukungnya, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya.
Ia tak tahu kenapa tubuhnya seperti tidak bisa bergerak untuk melawan, seperti terhipnotis oleh wanita di hadapannya.
Maura lalu mendekati wajahnya ke wajah Joe, membuat pria itu menahan napas. Joe memilih untuk memejamkan matanya, berpikir apa mungkin gadis itu ingin menciumnya.
Plak!!
Plak!!
"Bagaimana? Apa kau sudah mengingatku?" tanya Muara setelah memberikan tamparan keras pada kedua pipi Joe.
"Sshh.."Joe meringis merasakan panas yang menjalar di wajahnya, sialan!! Alih-alih dapat ciuman. Ia justru mendapat tamparan keras.
Tetapi sangat di sayangnkan, penderitaan Joe rupanya belum berakhir sampai di situ saja.
Plak!.
Plak!
Plak!
Plak!
"Dasar kau pria brengsek!!!" maki Maura yang terus menghujani Joe dengan tamparan keras di kedua pipi pria tersebut.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya kurang dari aku, Kev? Coba kasih tau aku!! Biar aku bisa perbaiki semuanya.. Hiks hiks..apa karena aku ngga mau di ajak tidur denganmu? Apa karena aku ngga mau di ajak ciuman? Apa dalam sebuah hubungan harus melakukan itu semua? Apa itu wajib? Jawab Kev??" bentak Maura sambil mengguncang bahu Joe dengan kuat.
Sungguh Joe sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sampai-sampai hanya bisa pasrah.
"Memangnya kau siapa? Aku bahkan gak kenal denganmu!!" teriak Joe yang masih mengira "Kev" yang di maksud adalah dirinya.