NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:52k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 - Canggung Yang Aneh

Naomi masih berdiri di ambang pintu kamar, tubuhnya kaku seperti patung. Jari-jarinya mencengkeram gagang pintu tanpa sadar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh karena syok. Otaknya seperti tertinggal beberapa detik di belakang, berusaha mengejar kenyataan yang baru saja tertangkap oleh matanya.

Seorang pria. Di atas tempat tidur. Di kamar apartemen ini, dan dia bukan sembarang pria.

Sementara itu, pria di atas tempat tidur sudah sepenuhnya sadar. Ia mengusap wajahnya pelan, seperti mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menempel. Matanya yang semula sayu kini mulai fokus, mengarah lurus ke sosok di depan pintu.

Beberapa detik. Cukup lama untuk memastikan. Dan ya, tidak ada lagi keraguan. Itu adalah Junie Andrea. Dokter yang kemarin Naomi tabrak. Dokter yang Naomi temui di klinik dengan segala kecanggungan dan emosi yang bercampur. Dokter yang sekarang tiba-tiba ada di kamar apartemen tempat Naomi bekerja.

“Kamu…” ucap mereka hampir bersamaan.

Suara mereka saling bertabrakan di udara. Lalu hening. Hening yang terasa panjang.

Mereka sama-sama terdiam. Sama-sama bingung harus berucap apa.

Naomi yang pertama kali bereaksi. Wajahnya langsung memerah, panasnya menjalar sampai ke telinga. Dia bahkan merasa ingin menghilang saat itu juga.

“Sa-saya… saya nggak tahu kalau…” ucapnya terbata, suaranya kecil dan bergetar.

Junie mengangkat alis sedikit, masih duduk di tempat tidur. Tatapannya menyelidik, tapi juga penuh kebingungan. “Kamu pasien saya kemarin, kan? Naomi ya?” tanyanya, nada suaranya campuran antara heran dan tidak percaya.

Naomi mengangguk cepat, hampir seperti refleks. “Iya, Dok… tapi saya juga—”

“Kok kamu tahu rumah saya?” potong Junie tanpa sadar, alisnya terangkat lebih tinggi.

Naomi langsung panik. “BUKAN!” jawabnya cepat, bahkan terlalu keras sampai dirinya sendiri kaget.

Junie sedikit terdiam, menatapnya tanpa berkedip.

Naomi langsung menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri yang mulai kacau. Tangannya bergerak gelisah, meremas ujung bajunya.

“Saya kerja di sini, Dok,” jelasnya buru-buru. “Saya… cleaning service. Saya yang ditugaskan untuk bersih-bersih apartemen ini.”

Junie menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah menimbang-nimbang apakah penjelasan itu masuk akal atau tidak.

“Bu Tania yang minta?”tebak Junie.

Naomi mengangguk lagi. “Iya, Dok.”

Junie menghela napas kecil, bahunya sedikit turun. “Oh…”

Senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang terasa canggung, tapi juga jujur. “Dunia memang sempit ya,” katanya santai, meskipun di dalam kepalanya masih banyak pertanyaan berputar.

Naomi hanya bisa tersenyum kaku. Jantungnya masih berdetak cepat, belum benar-benar kembali normal.

“Maaf mengganggu, Dok. Saya kira memang tidak ada orang,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih sopan dan terkendali.

Junie menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Saya yang pulang tiba-tiba tadi subuh.”

Hening kembali turun di antara mereka. Canggung yang aneh, dan entah kenapa sedikit menggelitik.

Lalu Naomi tersadar sesuatu. Yaitu pekerjaannya. “Sa-saya lanjut kerja ya, Dok,” ujarnya cepat.

Tanpa menunggu jawaban panjang, dia langsung menarik pintu dan menutupnya.

Klik.

Begitu pintu tertutup, Naomi langsung menghembuskan napas panjang, seolah baru saja keluar dari situasi yang sangat menegangkan.

“Ya Tuhan…” bisiknya pelan. Tangannya naik ke pipi, merasakan panas yang belum hilang. Dia bahkan menepuk pipinya pelan beberapa kali.

“Fokus, Naomi… kerja…” gumamnya, mencoba menarik dirinya kembali ke kenyataan. Seperti itu saja, dia kembali ke rutinitasnya. Mengelap meja, menyapu lantai, dan merapikan barang-barang kecil yang terlihat berantakan. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam kamar, Junie masih duduk di tempat tidur. Tatapannya masih tertuju ke pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa detik berlalu. Dia mengerjap pelan “Wait…” gumamnya pelan. Baru sekarang semuanya benar-benar masuk ke dalam pikirannya.

“Itu… pasienku?”

Junie langsung berdiri. Tangannya naik ke rambut, mengacaknya dengan frustrasi ringan.

“Kenapa dia ada di sini?”

Dia mulai mondar-mandir kecil di dalam kamar, pikirannya berlari ke berbagai arah. “Jangan-jangan…” matanya sedikit menyipit.

Wajahnya berubah curiga. “Dia ngikutin aku?”

Junie langsung menoleh ke arah pintu, seolah Naomi masih berdiri di sana. “Enggak, enggak… tapi…” dia berhenti, lalu berjalan lagi.

Junie berpikiran kalau Naomi menguntitnya. Karena hal begitu bukan pertama kalinya dialami olehnya. Dulu, pernah ada pasien yang tiba-tiba muncul di parkiran rumahnya tanpa alasan jelas.

“Yang waktu itu sampai kirim bunga tiap hari…” gumam Junie, wajahnya berubah sedikit tidak nyaman. Serta ada yang satu lagi.

“Yang tahu jadwal jogging aku…” lanjutnya, kini benar-benar terlihat waspada. Dia menyilangkan tangan di dada. Menatap pintu lagi.

“Ini mencurigakan.”

Namun beberapa detik kemudian, langkahnya melambat.

“Eh… tapi tadi dia bawa bayi.”

Junie mengernyit. “Penguntit mana bawa bayi segala?”

Dia mulai ragu dengan teorinya sendiri. “Dan dia… beneran kerja.”

Akhirnya, rasa penasaran mengalahkan kecurigaan. Junie berjalan pelan mendekati pintu kamar. Membukanya sedikit, hanya cukup untuk mengintip. Dari celah itu, dia bisa melihat Naomi di ruang tamu.

Perempuan itu sedang mengepel lantai. Gerakannya cepat, tapi tetap hati-hati. Tidak asal-asalan. Ada ritme dalam setiap gerakannya, seperti seseorang yang sudah terbiasa bekerja keras. Sesekali dia berhenti. Menoleh ke arah kereta bayi. Memastikan bayi kecil di dalamnya tetap aman.

Junie memperhatikan. Awalnya hanya sekilas. Namun tanpa sadar, tatapannya bertahan lebih lama. Naomi terlihat berbeda dari kemarin. Tidak ada lagi raut panik, tidak ada lagi emosi yang meledak-ledak seperti saat mereka pertama bertemu. Yang ada sekarang hanya fokus dan kelelahan.

Keringat mulai terlihat di pelipis Naomi. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai jatuh di samping wajahnya. Dia membungkuk, mengelap bagian bawah meja dengan teliti. Lalu berdiri lagi. Mengusap keringat dengan punggung tangan.

Tanpa sadar, Junie melangkah keluar dari kamar. Diam-diam berdiri di dekat dinding, masih memperhatikan.

“Dia serius kerja…” gumamnya pelan.

Semua kecurigaan yang tadi sempat muncul, perlahan memudar. Yang tersisa hanya satu hal. Kagum yang samar.

Naomi kemudian bergerak ke arah jendela besar. Cahaya matahari siang masuk dari sana, memenuhi ruangan dengan hangat. Saat itu, dia berdiri tepat di depan jendela. Cahaya mengenai wajahnya. Menyinari rambut yang diikat sederhana. Menonjolkan kulitnya yang sedikit berkeringat. Memperlihatkan ekspresi wajah yang lelah, tapi tetap bertahan.

Junie terdiam. Ada sesuatu di momen itu. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Entah kenapa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dia mengernyit.

“Apa ini…” imbuh Junie. Ini bukan pertama kalinya dia melihat wanita. Bahkan dia melihat wanita cantik hampir setiap hari. Di rumah sakit, di acara keluarga, bahkan di lingkaran sosialnya.

Tapi yang satu ini berbeda. Bukan karena penampilan, melainkan karena sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Cara Naomi bergerak. Cara dia memperhatikan bayinya. Cara dia tetap bekerja meski jelas kelelahan. Semuanya terasa natural. Tidak dibuat-buat. Tidak berusaha menarik perhatian.

“Kenapa…” Junie menghela napas pelan. Dia bersandar di dinding, masih menatap ke arah Naomi.

“Kenapa jadi menarik begini…”

Di sisi lain, Naomi sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. Dia hanya fokus bekerja. Fokus bertahan dan menjalani hari. Dunia baginya sederhana saat ini. Kerja selesai dan Davin aman. Itu saja.

Sesekali dia mendekat ke kereta bayi. Menunduk sedikit, memastikan bayi kecil itu tetap tertidur nyenyak. Tangannya bergerak lembut, merapikan selimut kecil yang menutupi tubuh mungil itu.

“Sebentar lagi ya, Nak…” bisiknya pelan, suaranya penuh kelembutan.

Suara itu terdengar sampai ke telinga Junie. Entah kenapa itu membuat hatinya sedikit hangat. Junie menatap ke arah bayi itu. Lalu kembali menatap Naomi.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, pikirannya tidak penuh dengan jadwal operasi, pasien, atau tekanan dari orang tuanya. Tidak ada suara bising dari tuntutan. Tidak ada bayangan ruang operasi. Tidak ada beban. Justru dia berdiri di sana. Memperhatikan seorang wanita sederhana. Seorang ibu. Seorang pekerja keras.

"Sial... Jantungku kenapa begini?" gumam Junie sambil memegangi dada.

"Ada apa, Dok? Kok berdiri di sana?" Naomi mendadak menoleh.

Brak!

Junie sontak kaget sekali. Detak jantungnya kian menjadi-jadi. Dia refleks melangkah mundur. Namun kakinya tak sengaja menyenggol karpet, alhasil Junie terhuyung ke belakang.

1
Retno Harningsih
Up
Ariany Sudjana
nah dokter Junie sudah dapat restu dari pa Sofyan dan nek warni, ayo maju terus dokter Junie 😄🙏
🅰️Rion bee 🐝
gaslah juuun bapaknya langsung itu yg nyuruh loh..😄
Nadja 🎀
pasti keluarga junie heboh saking senangnya 🤣 klu mendengar inu restu
Eka
udah hangan lama junie sekarsng langsung lamar naomi
Ariany Sudjana
ayo Junie and Naomi, tunggu apa lagi? tinggal Junie minta ijin sama pa Sofyan 😄
Greenindya
lah itu yg diharapkan sm junie🤭
Ayu Oktaviana
yuk kawal junie sama naomi sampai kata sah terucap dan diamini 😍😍😍
Ass Yfa
dan dgn bodohnya Zayn masih nerima Anggun😒😒
Ass Yfa
lah bener dugaanku Anggun ahirnya nain ama mertuanya...hancurlah mereka semua
Ayu Oktaviana
jgn lama2 junie mumpung dirumh orng tua naomi.. lngsung lamar aj
Rommy Wasini Khumaidi
jangan lama² Jun,langsung tembak aja Naomi
Rommy Wasini Khumaidi
oh,Zayn nyewa mobil buat pulang ke Jakarta ya thor?
Rommy Wasini Khumaidi
nyetirnya kesemarang thor,dari semarang ke jakarta naik pesawat
Desau: nanti aku revisi biar lebih jelas
total 2 replies
Retno Harningsih
up
istianah istianah
dasar zein dak punya pendirian, sudah tau anggun selingkuh masih aja percaya sama ibunya,
nanti aja tunggu tanggal mainya kalau mereka berdua tau menantu dan mertua laki" ada hubungan sepesial di balik layar, koma kali mereka berdua,, 🤭
istianah istianah
edan sudah gak waras nie orang,
mertua sendiri di ajak maen gituan
sunaryati jarum
Mumpung di rumah orang tua Naomi, langsung dilamar Nak Juni
sunaryati jarum
Zain baru akan menceraikan Anggun setelah tertangkap basah dengan ayahnya 😄🤣🤣🤭
Ariany Sudjana
Zayn kamu bodohnya kebangetan yah, sudah jelas anggun selingkuh dengan banyak laki-laki, masih juga dikasi kesempatan kedua. kamu sudah bayar mahal orang buat selidiki anggun, dan hasilnya kamu masih kasih kesempatan kedua? luar biasa yah, kamu dokter, tapi bodohnya kebangetan. kamu dan Ratna sana bodohnya, anggun bermain cantik dengan tidur sama papa kamu, dan kamu juga mama kamu ga tahu... luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!