NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Mansion keluarga Mettond berdiri dengan kemegahan yang lebih tenang dibandingkan kediaman Cavanaugh, namun di dalamnya, setiap sudut mencerminkan selera yang tajam dan berkelas. Di lantai atas, sebuah kamar dengan pintu kayu ek gelap menjadi saksi bisu dari pertumbuhan seorang gadis yang kini terjebak dalam labirin perasaannya sendiri.

Kamar Angelina. Ruangan itu hampir sepenuhnya didominasi warna hitam—mulai dari gorden beludru, sprei sutra, hingga karpet bulu yang menutupi lantai. Warna ini bukan pilihannya, melainkan pilihan Liam bertahun-tahun lalu saat mereka merenovasi kamar masing-masing.

“Hitam itu elegan, Angel. Dan kau terlihat sangat kontras dan cantik di antara warna gelap,” begitu kata Liam dulu.

Sejak saat itu, hitam menjadi warna kesukaan Angelina, atau lebih tepatnya, warna yang ia sukai karena Liam menyukainya.

Cahaya matahari pagi mencoba menembus celah gorden yang rapat, namun Angelina masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Sudah tiga pelayan masuk secara bergantian, mencoba membangunkannya dengan suara lembut hingga ketukan pintu yang sopan, namun gadis itu hanya bergumam tidak jelas dan kembali tenggelam dalam bantalnya.

Di lantai bawah, suasana meja makan sudah cukup ramai. Adrian Mettond sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca jurnal ekonomi, sementara Julie sedang menata beberapa potong buah segar. Tiba-tiba, suara derap langkah yang penuh energi terdengar dari arah pintu utama.

"Pagi, Tante! Pagi, Om!" seru Liam Cavanaugh dengan suara baritonnya yang kini memenuhi ruangan.

Ia melangkah masuk tanpa canggung, langsung menghampiri Adrian dan memeluk bahu pria itu dengan akrab—sebuah gestur yang menunjukkan betapa dekatnya hubungan kedua keluarga ini.

Liam mengenakan kaos polo santai dan celana pendek, tampak siap untuk kegiatan luar ruangan.

"Pagi, Liam. Kau pagi sekali sudah di sini," sahut Adrian sambil tersenyum tipis.

"Aku punya janji penting hari ini, Om," jawab

Liam sambil celingukan mencari seseorang. "Little Angel belum bangun?"

Julie menghela napas sambil menggelengkan kepala. "Belum. Padahal dia sudah dibangunkan oleh pelayan dari tadi, tapi tetap saja bergeming. Sepertinya efek pesta semalam membuatnya sangat lelah. Tolong bantu bangunkan dia, Liam. Hanya suaramu yang biasanya bisa menariknya keluar dari tempat tidur."

Liam terkekeh, seolah hal itu adalah tugas harian yang paling ia sukai. "Siap, Tante. Serahkan padaku."

Liam melompat menaiki tangga dengan dua langkah sekaligus. Ia hafal setiap inci rumah ini. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu kamar hitam itu. Bau parfum lili yang samar menyambut penciumannya. Ia berjalan mendekati tempat tidur dan berdiri tepat di samping Angelina yang tampak seperti kepompong di balik selimut.

"Hey, girl. Kau bahkan belum bangun?" suara Liam terdengar berat dan menggoda tepat di telinga Angelina. "Aku akan menghabiskan semua masakan Bibi Maria di bawah kalau kau tidak bangun sekarang."

"Aaak... lima menit lagi, Liam. Aku benar-benar mengantuk," gumam Angelina tanpa membuka mata. Suaranya serak khas bangun tidur, terdengar sangat manis di telinga Liam.

"Tidak ada lima menit lagi. Kau sudah berjanji untuk menemaniku memancing di danau pribadi hari ini, Angel. Wake up! Kau harus bangun sekarang juga," Liam menarik selimut Angelina dengan paksa, membuat gadis itu mengkerut karena dingin yang tiba-tiba menyerang.

Angelina akhirnya membuka matanya, menatap Liam dengan tatapan sebal yang manja. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih sembap, namun di mata Liam, ia selalu menjadi pemandangan yang paling nyaman dilihat.

"Aaa... gendong, Liam. Aku ingin ke kamar mandi," ucap Angelina sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Sebuah permintaan manja yang sudah mereka lakukan sejak mereka berusia lima tahun.

Liam tidak keberatan sedikit pun. Dengan satu gerakan tangkas, ia meraih tubuh mungil Angelina dan menggendongnya ala koala. Kaki Angelina melingkar di pinggang Liam, dan tangannya merangkul leher pemuda itu erat. Aroma tubuh Liam yang segar karena sabun mandi pagi menyerang indra penciuman Angelina, membuatnya sedikit terjaga.

"Siapa yang akan mau menjadi suamimu nanti, Angel? Kalau ke kamar mandi saja kau malas, bangun tidur malas, manja sekali," ejek Liam sambil berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar itu.

"Tentu saja ada. Banyak yang mengantre untuk menjadi suami seorang Mettond," sahut Angelina sambil menyandarkan kepalanya di bahu Liam, memejamkan mata menikmati kenyamanan dekapan itu.

Liam mendudukkan Angelina dengan hati-hati di atas kloset duduk yang tertutup. "Nah, sekarang cuci mukamu. Aku tunggu di sini."

Angelina tersentak sepenuhnya, matanya terbuka lebar. Ia menoleh ke arah Liam yang dengan santainya bersandar di pintu kamar mandi sambil melipat tangan di dada.

"Keluarlah, Liam! Aku malu!" usir Angelina dengan wajah memerah.

Liam justru tertawa keras, tawanya menggema di ruangan yang berdinding marmer itu. "Kau malu padaku? Haha, kau konyol, Angel. Aku sudah melihatmu mengompol saat kita kecil. Aku akan menunggu di sini agar kau tidak tertidur lagi di wastafel."

Angelina menggertakkan gigi, namun hatinya justru berdenyut aneh. Keintiman ini... bagi Liam ini hanya kebiasaan, tapi baginya ini adalah siksaan manis.

"Aku akan mandi, Liam! Kau mau ikut juga?" tantang Angelina dengan nada bercanda yang berani, berharap Liam akan merasa risih dan pergi.

Namun, Liam justru terkekeh rendah, kilat matanya berubah menjadi sedikit lebih dewasa saat menatap Angelina. "Wah, rupanya kau sudah besar sekarang, Angel. Kau berani membahas privasi denganku? Ingin mandi bersama seperti saat kita berusia Sembilan tahun?"

Wajah Angelina memanas hebat. Ia langsung mendorong dada Liam dengan tangan kecilnya. "Kau gila?! Aku dan kau hanya beda beberapa bulan! Berhenti membual seolah kau jauh lebih tua dariku!"

Liam tersenyum miring, senyum yang identik dengan Everest Cavanaugh. "Tapi secara mental, aku lebih dewasa darimu. Kau bahkan masih harus digendong ke kamar mandi, sementara aku... kau tahu sendiri, aku sudah berciuman dengan Clarissa di usiaku ini."

Angelina terdiam. Nama itu lagi. Clarissa. Rasa nyeri itu kembali hadir, menghapus semua kenyamanan pagi ini.

"Kau tidak boleh iri, Adek manis," lanjut Liam sambil mengacak rambut Angelina yang sudah berantakan. "Kau baru boleh berpacaran saat kau sudah lulus kuliah nanti. Sebelum itu, kau adalah tanggung jawabku. Tidak akan ada pria yang boleh mendekatimu tanpa seizinku."

Liam tertawa puas melihat ekspresi kesal Angelina, lalu ia melangkah keluar dari kamar mandi. "Cepat mandi! Aku tunggu di bawah dalam sepuluh menit!"

Pintu kamar mandi tertutup. Angelina berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang kacau. Ia menyentuh bibirnya, lalu menatap pintu tempat Liam baru saja keluar.

"Lulus kuliah? Menyebalkan," bisiknya lirih.

Ia tahu maksud Liam adalah untuk melindunginya, namun bagi Angelina, itu terdengar seperti sebuah larangan untuk mencintai siapa pun... kecuali bahwa pria yang seharusnya ia cintai justru sibuk menghitung rasa lipstik stroberi milik gadis lain. Ia menyalakan keran air panas, membiarkan uap menyelimuti dirinya, mencoba menghapus bayangan Liam yang menggendongnya tadi.

Di bawah kucuran air, Angelina sadar bahwa semakin Liam menjaganya dengan cara seperti ini, semakin sulit baginya untuk melepaskan diri dari jeratan cinta yang seharusnya tidak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!