NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 2)

Krrrt! Krrrrrttt!!! Krrrrrrrrrrrttttt!!!!!

Suara gesekan logam melawan kayu itu bukan sekadar bunyi pekerjaan. Di telinga mereka, suara itu terdengar seperti jeritan makhluk hidup yang sedang disiksa.

Sulaiman mengerahkan seluruh tenaganya menekan gergaji ke batang pohon raksasa itu. Namun, perlawanan yang ia rasakan aneh. Kayu itu tidak terasa keras dan kering seperti yang ia duga. Justru terasa kenyal, basah, dan berdenyut di bawah tekanan rantai besi.

"Aneh sekali permukaan kayu ini!" geram Sulaiman, keringat mulai membasahi dahinya meski udara di sana terasa sedingin gunung.

"Bang! Lihat!" teriak Randi, suaranya pecah karena ngeri. Tangannya menunjuk ke celah sayatan yang mulai terbuka.

Dari luka yang dibuat gergaji itu, bukan serbuk kayu yang keluar.

Melainkan cairan.

Cairan kental berwarna merah gelap, pekat dan lengket, menetes perlahan lalu memancur deras seperti air yang menyemprot. Baunya menyengat, sama persis dengan bau yang mereka cium sebelumnya. Bau besi berkarat. Bau darah.

Itu darah. Darah yang sangat nyata. Hangat. Dan berbau kehidupan.

"Ya Tuhan... ini apa?" Herman mundur selangkah, wajahnya pucat. Ia kemudian menyuruh Umar agar menjauh ke arahnya.

"Pohon itu... pohon itu berdarah, Bos!"

Sulaiman sendiri terpaku. Matanya terbelalak menatap cairan merah itu membasahi tangannya, membasahi bodi mesin oranye yang kini terlihat mengerikan berlumuran warna merah. Jantungnya berdegup, bukan karena tenaga, tapi karena ketakutan primal yang menggerogoti akal sehatnya. Selama puluhan tahun menebang pohon, belum pernah ia melihat hal seperti ini.

"Omong kosong..!!!" Bentak Sulaiman, berusaha meneguhkan diri. Ia tahu, jika pemimpin menunjukkan rasa takut, anak buahnya akan hancur. "Ini getah! Cuma getah pohon langka yang warnanya merah! Jangan jadi penakut!"

Tapi suaranya sendiri terdengar goyah. Getah pohon tidak berbau amis. Getah pohon tidak terasa hangat saat menyentuh kulit.

"Kita lanjutkan! Sudah terlalu dalam untuk berhenti!" perintahnya dengan tegas, meski tangannya gemetar. Ia kembali menekan mesin itu.

Wrrrrrrrr!!!!!

Suara gergaji berubah. Kini terdengar seperti suara yang merobek daging.

Wrrrr Srek! Wrrrr Sreeeeeekkk!

Pohon itu sepertinya merasakan sakit. Angin yang tadi hanya berdesir, tiba-tiba berubah menjadi hembusan kuat yang menderu kencang. Daun-daun bergesekan menghasilkan suara gemuruh yang menyerupai ribuan orang yang sedang berbisik serempak.

"Pergi... pergi... pergi..."

"Kalian dengar itu?" tanya Deri, matanya panik mencari sumber suara.

"DENGAR APA? Ayo bantu aku pegang gergaji ini! KERJA!! CEPAT POTONG!!!" teriak Sulaiman.

Sayatan semakin dalam. Pohon raksasa itu mulai mengeluarkan bunyi gemeretak yang mengerikan. Bukan bunyi kayu yang patah, melainkan bunyi tulang besar yang bergesekan. Krak... krak... krak...

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar. Bukan gempa bumi, tapi getaran seperti detak jantung raksasa. Dug... dug... dug... Berirama bersama detak jantung mereka sendiri.

Dan kemudian, pohon itu tumbang.

Bukan jatuh ke samping seperti pohon pada umumnya. Pohon itu ambles ke bawah, seolah ditelan oleh tanah yang tiba-tiba menjadi lunak, meninggalkan sebuah lubang besar yang gelap dan basah di tempat ia berdiri. Asap tebal berbau belerang dan darah mengepul dari dalam lubang menganga itu.

Keempat pria bersama satu bocah yang berdiri di sana terdiam, napas mereka tersengal-sengal memandang hasil kerja mereka yang mengerikan.

Herman, Deri dan Randi mengerutkan dahi. Semantara Umar hanya menutup telinga dan memejamkan kedua matanya.

Hutan di sekitar mereka kini benar-benar sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara serangga. Hanya keheningan total yang mencekam.

"Kita ambil batangnya saja, cepat," kata Sulaiman, suaranya terdengar lemah. Ia melangkah maju, ingin melihat potongan kayu yang bernilai mahal itu.

Namun saat ia menunduk melihat ke dalam lubang tempat pohon itu tadi berdiri, darah di tubuhnya serasa mendingin.

Kaki Sulaiman menjadi lemas. Lututnya gemetar hebat. Ia ingin berteriak, tapi reputasinya menegur.

Di dasar lubang itu, di antara akar-akar yang menjalar liar dan berlumuran darah merah, tidak ada batang kayu.

Yang ada hanyalah sebuah rongga besar yang menyerupai mulut raksasa yang menganga. Dan di dinding rongga itu... terlihat bentuk-bentuk yang tidak wajar. Tulang-belulang. Bukan tulang hewan.

Tulang manusia...!

Bertumpuk, berserakan, bercampur tumpang tindih dengan pakaian-pakaian lusuh dan peralatan yang sudah berkarat. Seolah-olah pohon itu bukan tumbuh dari tanah, tapi tumbuh di atas kuburan massal. Atau lebih parah lagi... seolah pohon itu memakan mereka.

"Bo... Bo... Bos..." suara Randi terdengar seperti rengekan anak kecil. "Lihat... lihat di atas..."

Sulaiman perlahan mengangkat kepalanya.

Langit yang tadinya tertutup dedaunan kini tampak aneh. Awan-awan berputar membentuk pusaran gelap, seperti akan ada badai yang turun tepat di atas kepala mereka. Tapi yang lebih mengerikan, adalah bayangan di atas mereka.

Dari celah-celah pepohonan yang tinggi, ribuan bintik-bintik cahaya seperti mata bermunculan, berwarna merah, menatap mereka dengan tatapan tidak jelas namun dapat dipastikan penuh kebencian. Mereka ada di mana-mana. Di dahan, di balik batang, di sela akar, di antara daun-daun.

"Kita harus keluar dari sini!" teriak Herman, panik benar-benar menguasai dirinya. "Ini sial! Ini tempat terkutuk!"

Mereka berbalik ingin lari, tapi suasana dan kondisi hutan sangat jauh berbeda.

Jalan yang tadi mereka lewati, jalan setapak yang jelas terlihat, kini hilang.

Hilang begitu saja.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!