Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa-sisa amis di ujung musim dingin
Malam itu, pondok yang tadinya hangat kini terasa mencekam. Bau besi dari darah yang menempel di pakaian Nikolai bercampur dengan aroma mesiu yang tajam, memenuhi ruangan yang sempit itu. Nikolai Brine telah membersihkan sebagian besar tubuhnya dengan air dingin di luar, namun bayangan kegelapan di matanya tidak bisa hilang begitu saja.
Clara Marine masih duduk di kursi dekat perapian. Tubuhnya tidak lagi gemetar hebat, namun matanya kosong. Ia tidak pergi. Ia tidak berlari ke arah danau Baikal seperti yang ditawarkan Nikolai dengan nada pahit tadi. Tapi ia juga tidak mendekat. Ada jarak yang tak terlihat namun terasa nyata, seolah-olah setiap tetes darah yang tumpah di luar sana telah membangun dinding kaca di antara mereka.
Keheningan yang Menyiksa
Nikolai masuk ke ruangan setelah membuang mayat-mayat itu jauh ke dalam celah es danau. Ia mengenakan kemeja bersih, namun tangannya yang kasar masih memerah karena suhu dingin dan trauma pertempuran. Ia menatap Clara, yang masih mematung menatap api yang mulai mengecil.
"Aku sudah meminta anak buahku untuk membersihkan area luar. Besok pagi, tidak akan ada tanda bahwa mereka pernah di sini," ucap Nikolai. Suaranya terdengar sangat lelah, jauh dari nada arogan yang biasanya ia miliki.
Clara tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut wolnya lebih erat.
"Katakan sesuatu, Clara. Jangan diam seperti ini," desak Nikolai. Ia mendekat, namun berhenti sekitar dua meter dari Clara saat ia melihat wanita itu sedikit tersentak.
Hati Nikolai terasa seperti diremas. "Kau takut padaku?"
"Aku takut pada duniamu, Nikolai," jawab Clara akhirnya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara kayu yang terbakar. "Aku tidak terbiasa dengan ini. Di Jakarta, masalah terbesarku adalah buku yang hilang atau denda keterlambatan. Di sini, masalahmu selesai dengan peluru di kepala seseorang. Aku tidak tahu apakah aku bisa terus hidup dengan bau darah yang menjadi teman setiamu."
Obsesi yang Terluka
Nikolai berjalan menuju jendela, menatap kegelapan hutan pinus. Obsesinya yang biasanya meledak-ledak kini terasa seperti luka terbuka. Ia ingin memaksa Clara untuk paham, ingin mengguncang bahunya dan mengatakan bahwa semua ini demi dia, tapi ia tahu itu tidak akan berhasil.
"Darah itu bukan temanku, Clara. Itu adalah harga yang harus kubayar agar kau bisa tetap duduk dengan tenang di depan perapian itu," Nikolai berbalik, matanya berkilat penuh emosi. "Kau pikir jika aku membiarkan mereka masuk, mereka akan mengajakmu bicara? Mereka akan menyeretmu kembali ke lubang yang lebih gelap dari apa yang dilakukan Silas."
"Aku tahu," bisik Clara, air mata mulai jatuh di pipinya. "Aku tahu kau melindungiku. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa setiap kali kau menyentuhku, aku bertanya-tanya berapa banyak nyawa yang baru saja kau cabut dengan tangan itu."
Nikolai terdiam. Ia merasa tertampar oleh kejujuran Clara. Ia mendekat perlahan, kali ini tidak memedulikan penolakan Clara. Ia berlutut di depan wanita itu dan memegang kedua tangannya yang dingin.
"Maka ajari aku," gumam Nikolai. "Ajari aku untuk menjadi pria yang tidak berbau darah saat mendekatimu. Aku tidak bisa mengubah masa laluku, dan aku tidak bisa menjanjikan dunia ini akan menjadi ramah dalam semalam. Tapi aku berjanji padamu, di dalam rumah ini, di hadapanmu, aku akan mencoba menjadi pria yang kau inginkan."
Janji di Tengah Keputusasaan
Clara menatap wajah Nikolai. Ia melihat seorang penguasa kejam yang sedang memohon untuk tidak ditinggalkan. Keraguan itu masih ada, rasa takut itu tidak akan hilang dalam waktu singkat, namun ada sesuatu yang lebih kuat yang menahannya di sana: ia menyadari bahwa Nikolai adalah satu-satunya manusia yang benar-benar jujur pada dirinya sendiri di depan Clara.
"Jangan pernah berbohong padaku, Nikolai," ucap Clara sambil mengusap bekas luka kecil di pipi Nikolai yang baru didapatnya malam ini. "Jika ada bahaya, katakan. Jika kau harus melakukan sesuatu yang buruk, jangan sembunyikan. Aku tidak terbiasa dengan darah, tapi aku lebih tidak terbiasa dengan kebohongan."
Nikolai menarik tangan Clara dan menciumnya lama. "Aku bersumpah. Tidak ada rahasia lagi."
Namun, di tengah momen itu, Nikolai teringat pada sebuah berkas yang ia temukan di saku salah satu penyerang tadi. Sebuah logo tua keluarga Marine yang bersanding dengan logo kelompok mafia Rusia. Sebuah rahasia lama tentang mendiang ibu Nikolai dan keterlibatan ayah Clara yang selama ini terkubur rapat.
Nikolai menatap Clara, rasa obsesinya kini bercampur dengan ketakutan baru. Jika Clara tahu bahwa perseteruan mereka bukan hanya soal warisan, tapi soal dendam darah antar generasi, apakah Clara akan tetap memegang tangannya?
"Tidurlah, Clara," bisik Nikolai sambil menggendongnya menuju tempat tidur. "Malam ini sudah cukup panjang."
Clara memejamkan mata, kepalanya bersandar di dada Nikolai. Ia masih takut, ia masih tidak terbiasa, namun untuk saat ini, pelukan sang mafia adalah satu-satunya tempat yang ia sebut rumah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...