NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Jodoh Pilihan Mama (Single Mommy).

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: selvi serman

Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

Sepeninggal Sandi yang mengantarkan Sesil ke kamarnya, tinggallah Ibu dan Vania duduk di sofa ruang tengah.

"Apa kamu tidak berniat untuk berhenti saja bekerja, Vania?." Bukannya ingin membatasi ruang gerak menantunya namun ibu tidak sampai hati melihat Vania terus capek-capek bekerja. Lagipula, putranya lebih dari sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan istrinya. Jadi Vania tidak perlu terus bekerja, begitu pikir ibu.

"Vania mengerti dengan maksud baik mamah, tapi Vania sudah terlanjur nyaman dengan pekerjaan Vania, mah. Rasanya berat bagi Vania untuk berhenti bekerja, mah." Tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti Sandi akan berpikir untuk membuangnya begitu saja, mengingat pria itu tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Mungkin dengan bekerja ia bisa menyisihkan sebagian gajinya untuk di tabung, dengan begitu kalau sampai hal itu benar-benar terjadi Vania masih memiliki tabungan, tak harus menjadi gembel dijalanan. Begitu pikir Vania.

"Baiklah, kalau itu keputusan kamu. Tapi jika suatu hari nanti kamu sudah mengandung, mamah harap kamu bersedia berhenti bekerja dulu untuk sementara waktu!. Karena mamah ingin kamu fokus menjaga kandungan kamu."

Deg.

Vania baru menyadari sesuatu. Ia baru teringat bahwa tadi Sandi tidak menggunakan pengaman saat mereka sedang bercinta.

"Ada apa, sayang?." Tanya ibu melihat Vania hanya diam saja, seperti sedang melamun.

"Apa Sandi bersikap kasar padamu?." Ibu khawatir dibelakangnya Sandi diam-diam bersikap kasar pada Vania.

"Tidak kok, mah." Saat memberi jawaban demikian, di benak Vania justru terlintas kelembutan Sandi ketika memperlakukannya di ranjang.

"Astaga, sepertinya otakmu sudah eror, Vania." Batin Vania. Tanpa sadar Vania menggelengkan kepalanya dan tentunya hal itu tak luput dari perhatian ibu.

"Apa kepala kamu sakit, sayang?." Tebak ibu.

"Cuma sakit sedikit saja kok, mah." Vania tidak sepenuhnya berdusta karena kenyataannya kepalanya masih terasa sedikit sakit. Mungkin akibat dari sisa pengaruh obat lak-nat yang dimasukkan oleh manager hotel ke dalam minumannya.

"Kalau begitu kembalilah ke kamar untuk beristirahat!." Kata ibu dan Vania mengangguk mengiyakan.

Vania melintas di depan kamar Sesil yang tidak tertutup rapat. Ia dapat menyaksikan aktivitas di dalam sana, di mana Sandi nampak mengusap lembut punggung Sesil sambil membacakan buku cerita sebagai pengantar tidur bocah itu. Sebelum Sandi menyadari keberadaannya, Vania kembali mengayunkan langkah menuju kamarnya.

Kurang dari setengah jam kemudian, Sandi menyusul ke kamar.

"Apa Sesil sudah tidur?."

"Hm." Gumam Sandi seraya melepas kancing kemeja yang dikenakannya.

Sadar dengan tindakan Sandi, Vania sontak memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan hal itu berhasil menciptakan senyum tipis di sudut bibir Sandi.

"Saat berada di apartemen kamu nampak bersemangat sekali, tapi sekarang kenapa malah bersikap seperti itu, hm?."

"Bisa tidak, kita lupakan saja kejadian di apartemen siang tadi? Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa!." Kata Vania tanpa menatap lawan bicaranya.

"Kalau seperti itu ceritanya, enak di kamu nggak enak di aku jadinya." Kalimat balasan dari Sandi mampu mengalihkan perhatian Vania.

"Apa maksud, mas? Aku nggak ngerti." Bukannya pura-pura bodoh, tapi faktanya Vania tak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan Sandi.

Sandi mendekat pada Vania, perlahan mengikis jarak di antara mereka lalu berkata.

"Seperti katamu di apartemen siang tadi. Aku suami kamu, dan kamu adalah istriku. Sebagai seorang istri kamu berhak meminta hakmu, dan begitu pun sebaliknya."

Deg.

Dari pernyataan Sandi barusan, Vania menyimpulkan bahwa kejadian di apartemen tadi bukan yang terakhir kalinya, masih akan terjadi dilain waktu.

Dengan susah payah Sandi menahan senyum menyadari kegugupan Vania.

Setelah membuatku ketagihan lalu seenaknya saja memintaku melupakannya begitu saja, Tidak semudah itu. Begitulah kira-kira arti dari sorot mata Sandi saat menatap Vania.

"Aku ngantuk, mas." Vania memilih menghindari tatapan Sandi. Wanita itu berlalu naik ke ranjang dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya.

Dari yang awalnya hanya berpura-pura tidur akhirnya Vania benar-benar tertidur. Menyadari hembusan napas istrinya mulai terdengar teratur pertanda telah memasuki alam bawah sadar, Sandi beranjak turun dari tempat tidur. Meraih ponselnya dari atas nakas kemudian berlalu menuju balkon.

Sandi mencari nomor kontak asisten pribadinya kemudian melakukan panggilan telepon. Dua kali berdering, panggilannya pun tersambung.

"Kumpulkan informasi lengkap tentang pak Harto selama menduduki posisi manager hotel! Saya ingin informasi itu sudah ada besok."

"Baik, tuan." Tanpa menanyakan alasan mengapa sampai tuannya itu menginginkan informasi tersebut, Asisten pribadi Sandi langsung mengiyakan perintah tersebut.

Setelahnya, Sandi memutuskan sambungan telepon begitu saja.

"Permainan anda sudah sangat kelewatan, pak Harto." Gumam Sandi yang terlihat mengepal kedua tangannya dengan erat.

Sandi tak berlama-lama di balkon, ia segera berlalu sesaat kemudian. Ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.

*

Keesokan paginya.

Seperti sebelumnya, pagi ini Vania yang terbangun lebih dulu dari Sandi.

"Mah...pah...." Terdengar suara Sesil dari balik pintu kamar. Suara seruan bocah itu sekaligus membangunkan Sandi.

"Tunggu sebentar, nak" Vania beranjak turun dari tempat tidur hendak membukakan pintu untuk Sesil. Vania tersenyum melihat wajah bantal putrinya. Sesil pasti baru bangun juga.

"Maaf, Bu. Tadi mbak Atun sudah bilang ke non Sesil agar mandi dulu baru ke sini, tapi non Sesil tetap kekeuh pengen ketemu ibu sama bapak." Kata mbak Atun yang berdiri dengan wajah sungkan di belakang tubuh mungil Sesil.

"Nggak papa, mbak. Sekarang mbak Atun kembali saja ke kamar, biar Sesil tetap di sini!."

"Baik, Bu."

Sepeninggal mbak Atun, Vania mengajak putrinya masuk ke dalam kamarnya.

"Anak mamah kenapa, kok masih pagi begini mukanya sudah cemberut aja." Sebagai seorang ibu Vania mencoba mencari tahu dengan nada lembut penyebab cemberutnya sang putri.

Bocah itu belum menjawab, masih saja terlihat memasang wajah cemberutnya.

Sandi lantas berjongkok di hadapan Sesil yang kini duduk di sofa. "Anak cantiknya papah kenapa cemberut, hm?." Sandi mengelus pipi Sesil dengan punggung tangannya.

"Sesil sudah gede sekarang. Sesil pengen sekolah, pah." Vania dan Sandi sontak bertukar pandangan satu sama lain saat mendengar jawaban Sesil. Rupanya bocah itu sudah ingin bersekolah. Vania berencana mulai menyekolahkan Sesil saat usia putrinya tersebut genap lima tahun dan itu masih beberapa bulan lagi.

"Tunggu sampai usia kamu_."

"Kalau begitu papah mandi dulu, setelah itu baru kita pergi mencari sekolah untuk Sesil. Okey." Sandi menyela perkataan Vania hingga perkataan wanita itu melayang begitu saja di udara.

"Yeyyy..." Sesil bersorak kegirangan.

"Kalau begitu Sesil balik ke kamar dulu ya, pah. Sesil mau mandi dulu, biar cantik." Sebelum berlalu, Sesil menge-cup pipi ayahnya.

Vania yang awalnya ingin protes atas keputusan sepihak Sandi akhirnya mengalah, tak tega menyurutkan senyum bahagia putrinya.

"Ayo mandi, setelah itu kita mencarikan sekolah untuk Sesil!."

"Em.".

Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku.....! Love you all 🙏🙏😘😘🥰🥰

1
Nurminah
lanjut thor
Lia siti marlia
makasih doang nih vania😄 gak ada tambaha lain mungkin buat nyenengin pak bos 🤭🤭🤭
secret
sekaliann gopub ajaa gaa sii, biar mingkemm semua tu mulut2 tukang gosipp🤭
Felycia R. Fernandez
yang lebih parah itu mulut Atika...
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Ariany Sudjana
kok cuma disuruh minta maaf saja? kenapa ga dipecat dan diblacklist dari semua jaringan hotel? terlalu ringan kalau hanya disuruh minta maaf
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ: padahal udah melakukan kecurangan juga ya diperusahaan
total 1 replies
Ariany Sudjana
cuma segini updatenya?
secret
thorr kok blm up sii😭
Syarifah
🤭🤭🤭
Lusi Hariyani
nah gitu dong sandi cr th ttg istrimu
secret
ga habis2 si manajer tuaa bikin ulah, liat aja bntr lg kena depakk
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih dukungan sama pak bos plus suami ayo vania robek tuh mulut c wanita lemes 🤭🤭🤭
Felycia R. Fernandez
Naah lho...
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
naaah kan...
Nurminah
double up thor
Felycia R. Fernandez
Pasti bingung ini tentang data2 diri Sesil...mana akte kelahiran nya??
Lusi Hariyani
kpn terungkap y kakak klo sesil mmg ank kandung sesil
Nurminah
lanjutkan
secret
ehh ehh pmksdd ayo mandii😂😂 lanjuuttt thorrr, semangaaattt
Lia siti marlia
eh eh jangan mau di ajak mandi bareng vania entar kelar mandinya sampe zduhur lagi 🤭🤭keburu sesil ngamuk deh😄
Lusi Hariyani
jujur vania sm sandi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!