Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
***
Malam kedelapan masa bedrest menyapa Desa Sukamaju dengan hening yang damai. Aroma tanah basah sisa gerimis sore hari menyeruak masuk melalui celah jendela, membawa hawa sejuk yang menenangkan. Di dalam rumah milik Bagas itu, suasana tak lagi sekacau hari-hari pertama. Bagas perlahan mulai menemukan ritmenya; ia mulai bisa membedakan mana daster yang harus dicuci manual dan mana kaos anak-anak yang bisa masuk mesin, meski punggungnya terasa seolah mau patah setiap malam.
Laras merasa tubuhnya jauh lebih ringan. Ketegangan di rahimnya mereda, meski perut delapan bulannya tetap terasa seperti beban besar yang harus ia bawa dengan hati-hati.
"Mas... Laras merasa gerah sekali," bisik Laras saat Bagas masuk ke kamar membawa baskom berisi air hangat.
Bagas tersenyum lembut, wajahnya yang kuyu tampak lebih cerah saat melihat binar di mata istrinya kembali. "Sabar, Sayang. Bu Siti bilang kamu belum boleh mandi berdiri terlalu lama. Sini, Mas bersihkan ya? Mas sudah siapkan air aromaterapi supaya kamu rileks."
Bagas membantu Laras duduk bersandar di kepala ranjang dengan tumpukan bantal yang nyaman. Dengan gerakan yang kian luwes, Bagas mulai membuka kancing daster Laras satu per satu. Tidak ada rasa canggung, yang ada hanyalah rasa takzim yang mendalam.
"Maaf ya kalau tangan Mas kasar," ucap Bagas pelan saat mulai mengusapkan waslap hangat ke pundak dan lengan Laras.
Laras memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. "Enggak, Mas. Tangan Mas hangat. Terima kasih ya, sudah mau melakukan ini semua."
Bagas berhenti sejenak, menatap perut buncit Laras yang putih bersih. Ia mengusap perut itu dengan waslap secara sangat perlahan, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia.
"Mas yang harusnya terima kasih, Ras. Selama ini Mas cuma tahu hasilnya saja. Mas nggak pernah tahu betapa repotnya membersihkan badan saat perut sebesar ini. Mas nggak pernah tahu kalau kaki kamu sering kram karena menahan beban bayi kita," Bagas mengecup kening Laras lama. "Mas janji, mulai sekarang, Mas nggak akan biarkan kamu merasa sendirian dalam lelah."
Laras merasakan haru membuncah di dadanya. Basuhan air hangat itu bukan sekadar membersihkan tubuhnya, melainkan juga membasuh sisa-sisa luka hati yang sempat ia rasakan tempo hari. Di bawah temaram lampu kamar, Bagas melayani istrinya dengan penuh kesabaran, memastikan setiap jengkal kulit Laras merasa segar, hingga akhirnya ia membantu Laras mengenakan daster sutra yang tipis dan nyaman.
**
Tengah malam tiba. Suasana rumah benar-benar sunyi. Gilang dan Arka sudah terlelap di kamar mereka. Laras terbangun karena desakan di kandung kemihnya yang kian sering. Ia menoleh ke samping, namun tempat tidur di sisi Bagas kosong.
"Mas?" bisiknya parau.
Laras bangkit perlahan. Dengan tangan menyangga pinggang, ia berjalan tertatih menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, hatinya mencelos.
Bagas tidak tidur di kamar. Pria itu tampak meringkuk di sofa ruang tengah yang sempit. Kepalanya terkulai ke samping, sementara tangannya masih memegang sebuah pulpen. Di atas meja di depannya, bertumpuk map-map sengketa tanah dan laporan anggaran desa yang belum selesai ia periksa. Bagas tertidur karena kelelahan yang luar biasa kelelahan mengurus desa sekaligus mengurus dapur yang selama ini ia remehkan.
Laras mendekat, memperhatikan wajah suaminya. Ada lingkaran hitam di bawah mata Bagas. Napasnya terdengar berat. Laras mengelus pipi suaminya dengan lembut, merasa sangat bersalah sekaligus sangat dicintai.
"Mas... bangun, Mas. Pindah ke kamar," bisik Laras pelan.
****
Bersambung...
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.