Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menceraikan Di Hadapan Langit Dan Bumi
Lang Yan mengepalkan tangannya. Wajahnya pucat, tapi ia tidak menyerah. Ia berteriak keras ke arah gunung di belakang sekte.
"Leluhur! Tolong lindungi Sekte Yanguo!"
Dari gunung di belakang sekte, getaran hebat terjadi. Tanah berguncang, batu batu berjatuhan dari tebing. Kemudian cahaya merah menyala melesat keluar dari dalam gunung, terbang cepat menuju area sekte. Cahaya itu membentuk bola api raksasa dan langsung menghantam telapak tangan Avatar Nascent Soul.
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang langit.
Tangan Avatar itu terdorong mundur. Api dan asap memenuhi udara.
Ketika asap menghilang, sesosok pria tua berdiri di udara dengan tenang. Rambutnya putih semua, janggutnya panjang mencapai dada, matanya tenang tapi tajam. Jubahnya sederhana, berwarna abu abu, tanpa hiasan.
Leluhur Yanguo. Core Formation Puncak.
"Rekan Dao. Kenapa menggunakan kekerasan pada sekte kami? Kita bisa bicarakan ini baik baik."
Suaranya tenang, seperti orang yang sedang minum teh, bukan menghadapi ancaman kehancuran sektenya.
Lin Han tidak menjawab dengan kata kata. Auranya semakin meledak, Avatar Nascent Soul di belakangnya semakin besar dan semakin solid. Tingginya sekarang mencapai dua kali lipat dari sebelumnya.
"Ini kebaikanku!" Suara Lin Han pelan.
Di tangan Avatar Nascent Soul, sebuah pedang raksasa muncul, terbuat dari energi putih murni. Pedang itu diangkat tinggi, lalu ditebaskan ke bawah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
SLASH!
Tebasan itu membelah udara, menghantam tanah, dan menghancurkan semua yang ada di jalurnya. Bangunan bangunan sekte hancur menjadi puing. Puluhan murid yang tidak sempat menghindar langsung mati seketika. Tanah terbelah membentuk jurang kecil.
Leluhur Yanguo hanya bisa memandangi kehancuran itu, tanpa bisa bereaksi. Wajahnya yang tadinya tenang berubah muram.
Ia membentuk segel tangan dengan cepat.
"Siapa pun kau. Berani melakukan hal buruk pada Sekte Yanguo di depanku... Harus mendapatkan hukuman kematian!"
Ia menunjuk ke langit. Awan awan di atas berputar, membentuk pusaran. Dari dalam pusaran itu, sebuah pedang merah muncul. Pedang itu tidak besar, hanya seukuran pedang biasa, tapi auranya sangat mengerikan. Api menyelimuti seluruh bilahnya, berkedip kedip dengan warna merah darah.
Pedang Api Semangat. Harta Nascent Soul.
Dari dalam kesadaran Lin Han, suara Senior Hao terdengar. Nada suaranya serius.
"Kasih aku kendali penuh sekarang. Aku akan menghancurkan pedang itu segera."
"Baik, Senior." Jawab Lin Han dalam hati.
Posisi mereka bertukar. Lin Han menyerahkan kendali tubuhnya sepenuhnya. Matanya yang tadinya hitam pekat berubah menjadi perak bersinar.
Senior Hao menatap Leluhur Yanguo dengan senyum tipis.
"Pak tua bau tanah. Sayang sekali kau berhadapan denganku. Jadi tubuhmu tidak mungkin bisa dikuburkan setelah ini."
Leluhur Yanguo mendengus. "Sombong."
Pedang Api Semangat melesat ke arah Lin Han. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan jejak api di udara.
Senior Hao membentuk segel tangan singkat. Gerakannya sederhana, hampir tidak terlihat rumit. Tapi efeknya langsung terasa.
"Formasi Bintang. Pedang Penyesalan!"
Di udara di atas mereka, sebuah rasi bintang berkedip. Muncul dan menghilang dalam sekejap. Lalu dari tempat rasi itu menghilang, sebuah pedang spiritual muncul. Tidak besar, tapi auranya padat dan menusuk.
Swish!
Ting!
Kedua pedang beradu di udara. Suara benturannya nyaring, memekakkan telinga. Percikan api dan energi beterbangan.
Lalu Pedang Api Semangat mulai menunjukkan retakan. Retakan itu menjalar cepat seperti sarang laba laba.
Crak!
Pedang itu hancur berkeping keping. Pecahannya berjatuhan ke tanah seperti hujan api.
Pedang spiritual Senior Hao tidak berhenti. Ia terus melesat.
Jleb!
Pedang itu menembus dada Leluhur Yanguo. Tepat di jantungnya. Darah menyembur dari punggungnya.
Sret!
Pedang itu keluar dari tubuhnya dan menghilang. Leluhur Yanguo membelalakkan matanya, darah mengalir dari mulutnya. Ia tidak percaya, harta Nascent Soul-nya dihancurkan begitu saja, dan tubuhnya ditembus tanpa perlawanan berarti.
Lang Yan dan para tetua yang melihat itu panik.
"Leluhur!!!"
Tapi Senior Hao belum selesai. Tangan Avatar Nascent Soul bergerak, menangkap tubuh Leluhur Yanguo yang sudah sekarat. Lalu jari jari raksasa itu meremas.
POOF!
Tubuh Leluhur Yanguo hancur menjadi bubur daging dan tulang, tidak ada yang tersisa.
Senior Hao kemudian menarik diri. Kesadarannya mundur ke dalam, memberikan kendali penuh kembali pada Lin Han. Mata perak itu berubah hitam lagi.
Lin Han menatap ke bawah. Ke arah Lang Yan, Zhu Ming, Sima Yanzhen yang terluka, dan para tetua yang tersisa. Suaranya datar, tapi penuh tekanan.
"Serahkan Sima Yanzhen... Maka aku akan berhenti menyerang."
Lang Yan dan para tetua saling berpandangan. Mereka menatap Zhu Ming, lalu menatap Sima Yanzhen yang masih mengerang kesakitan di tanah dengan lengan putus. Wajah mereka menunjukkan kebimbangan.
Lin Han melihat mereka masih berpikir, mempertimbangkan, bahkan setelah ia memberikan kesempatan. Itu membuatnya memutuskan.
Tidak akan ada ampun lagi.
Ia menggerakkan tangan Avatar Nascent Soul. Bukan untuk menangkap, tapi untuk menghancurkan. Telapak tangan raksasa itu bergerak horizontal, menyapu area sekte seperti orang membersihkan remah remah roti di atas meja.
Satu ayunan, bangunan hancur, murid murid mati. Semua yang terkena sapuan itu langsung menjadi bubur daging.
Lang Yan dan para tetua yang tersisa langsung panik. Mereka menangkupkan tangan, bersujud di udara.
"Senior, kami berse..."
Lin Han tidak mendengarkan. Tangan Avatar bergerak lagi. Kali ini menepuk ke bawah, tepat di atas Lang Yan dan para tetua.
Duar!
Tanah berguncang hebat, debu membumbung tinggi. Ketika debu menghilang, tidak ada yang tersisa dari Lang Yan dan para tetua, tubuh dan jiwa mereka hancur total.
Sekte Yanguo kini sebagian besar hanya tersisa puing puing dan mayat.
Tapi ada dua orang yang sengaja tidak dihancurkan. Zhu Ming dan Sima Yanzhen.
Zhu Ming menyadari itu. Ia langsung menggendong tubuh muridnya yang terluka dan melesat cepat, mencoba melarikan diri.
Lin Han menggerakkan tangan Avatar. Jari jari raksasa itu menangkap mereka berdua seperti menangkap serangga. Zhu Ming meronta, tapi tidak bisa bergerak sedikit pun.
Avatar itu mendekatkan Sima Yanzhen ke arah Lin Han. Pria itu sekarang berada tepat di depan wajah Lin Han, sangat dekat. Wajahnya pucat, penuh ketakutan, darah terus mengalir dari luka di bahunya.
"Kau..." Suara Sima Yanzhen bergetar.
Lin Han mengulurkan tangan aslinya. Bukan tangan Avatar, tapi tangannya sendiri. Ia memegang kepala Sima Yanzhen, jemarinya mencengkeram rambut pria itu.
"Tebus semua dosa dosamu di kehidupan selanjutnya. Jadilah orang baik, dan berguna bagi masyarakat."
"Kau pasti mati Li..."
Duar!
Kepala Sima Yanzhen meledak, hancur di tangan Lin Han. Darah dan otak berhamburan. Liu Mei yang melihat itu membenamkan wajahnya ke bahu Lin Han, tidak sanggup melihatnya.
Zhu Ming yang masih dicekam Avatar bergetar hebat.
"Kau... kau dalam masalah! Kau tidak tahu siapa di balik..."
Lin Han menjauhkan tangan Avatar dari wajahnya.
"Aku tidak peduli."
Tangan Avatar meremas. Zhu Ming menjadi bubur daging dalam genggaman.
Lin Han kemudian menghancurkan seluruh area sekte. Tangan Avatar bergerak tanpa henti, meratakan setiap bangunan, setiap tembok, setiap paviliun. Tidak ada yang tersisa, hanya tanah rata dan puing puing.
Setelah semuanya selesai, Lin Han berdiri tenang di atas kehancuran. Ia mengangkat tubuh Liu Mei dengan kedua tangannya. Wanita itu masih membenamkan wajahnya di bahunya.
"Kita kembali ke Baishi. Ceritakan semuanya di sana."
Liu Mei mengangguk pelan.
Avatar Nascent Soul di belakang Lin Han perlahan menghilang, kembali ke dalam tubuhnya. Aura putih yang meledak ledak juga mereda.
Lin Han langsung terbang cepat, sambil mengangkat Liu Mei di tangannya. Angin menderu di sekitar mereka. Kota Donglin dan kehancuran Sekte Yanguo semakin menjauh di belakang.
Liu Mei berbicara pelan, suaranya nyaris tertelan angin. "Bagaimana bisa kau tiba tiba sekuat ini?"
Lin Han tidak menjawab pertanyaan itu.
"Tidurlah... Liu Mei."
Liu Mei tiba tiba merasakan kantuk yang luar biasa. Matanya terasa berat. Ia berusaha melawan, tapi tidak bisa. Perlahan lahan, matanya terpejam.
Di detik detik terakhir sebelum kesadarannya hilang, ia mendengar suara Lin Han. Suara yang pelan, tapi jelas.
"Di hadapan langit dan bumi. Aku Lin Han, suami Liu Mei, menceraikannya hari ini. Setelah ini tidak ada hubungan antara kami berdua, tidak ada ikatan apa pun lagi. Biar aku yang menanggung karma, dari tindakan mempermainkan sumpah langit dan bumi."
Air mata Liu Mei mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Ia ingin berteriak, ingin memukul Lin Han, ingin bertanya kenapa. Tapi kesadarannya sudah menghilang. Ia tertidur pulas dalam pelukan mantan suaminya.
Lin Han menatap wajah mantan istrinya yang tertidur. Air mata Liu Mei masih membasahi pipinya. Ia menyeka air mata itu dengan ibu jarinya.
"Maaf, Liu Mei. Maaf."
Wush!
Lin Han melesat semakin cepat menembus langit. Meninggalkan kehancuran Sekte Yanguo di belakang. Menuju Kota Baishi. Menuju akhir dari perjalanannya.