Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Ancaman Tersembunyi
Sabrina merapikan selimut Sebastian. Mata tajamnya menangkap sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Lampu tidur temaram di kamar memancarkan cahaya kuning lembut, membiaskan bayangan panjang di dinding pualam. Di sela-sela lipatan kain flanel biru yang membungkus tubuh Sebastian, sebuah benda kecil terikat melilit jeruji kuningan ranjang bayi. Benda itu kontras dengan warna selimut. Sebuah garis tipis, pucat, dan mengilap di bawah cahaya.
Sabrina mengulurkan jemarinya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan otot-ototnya masih lemas akibat pendarahan hebat seharian ini. Ia menjepit benda itu.
Benang sutra putih.
Dingin seketika merayap dari ujung jarinya, memanjat lewat saraf, lalu meledak di pangkal otaknya. Bau besi dari darah nifas yang mengering di korset mendadak terasa lebih tajam. Aroma karat itu memanggil paksa memori kelam Maureen dari kehidupan sebelumnya.
Dada Sabrina mendadak sesak. Nyeri siluman merobek tulang rusuknya secara kasar, menenggelamkan rasa perih di jahitan perut bawahnya.
Api, serpihan besi, lalu kegelapan. Maureen tewas di tengah ledakan pabrik.
Hawa panas mencairkan kulitnya dari tulang. Udara di sekitarnya berubah menjadi racun mematikan yang merobek paru-paru setiap kali ia menarik napas.
Gelombang kejut dari bahan peledak C4 melempar tubuhnya menabrak pilar beton. Suara tulang rusuk yang patah tenggelam di bawah raungan api.
Darah menyumbat tenggorokannya. Ia memuntahkan gumpalan merah pekat ke lantai besi yang membara.
"Vincent," ucap Maureen, suaranya parau tertahan darah.
Pria jangkung berjas hitam itu berdiri aman di balik kaca antipeluru di ruang kendali lantai atas. Mata elangnya menatap lurus ke bawah.
Wajahnya sedingin bongkahan es. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada jejak penyesalan. Vincent Santoso menganggap emosi adalah kelemahan, dan ia baru saja membuktikan prinsip dasar itu dengan mengorbankan partner terbaiknya.
Pria itu menekan tombol merah terakhir.
Lantai di bawah kaki Maureen runtuh.
Mati.
Napas Sabrina tersengal. Ingatan kematian itu menyentak kesadarannya kembali ke masa kini, menyisakan keringat dingin sebesar biji jagung di dahinya. Ia mencengkeram erat benang sutra putih tersebut.
Ini adalah tanda tangan Ordo Sutra. Simpul putih berarti satu hal. Misi aktif. Kontrak kematian absolut yang tidak akan pernah bisa dibatalkan sampai target benar-benar berhenti bernapas.
Target utama Ordo Sutra malam itu adalah Sabrina Tanjung. Kania telah mentransfer angka triliunan kepada sindikat tersebut untuk menyingkirkan adik angkatnya. Namun Ordo memiliki pantangan mutlak, mereka dilarang keras menerima misi menghabisi anak kecil dan wanita hamil. Maureen menolak menarik pelatuknya saat menatap perut buncit Sabrina. Ia memilih menggagalkan misinya sendiri.
Tetapi Vincent meludahi kode etik itu. Ia menjebak Maureen di pabrik tua, membakarnya hidup-hidup sebagai hukuman karena penolakan Maureen dianggap sebagai kecacatan emosional.
Ironi takdir bekerja terlalu sadis. Kini, jiwa Maureen bereinkarnasi masuk ke dalam tubuh target yang harus ia bunuh. Dan kehadiran benang ini membuktikan satu hal mengerikan, kontrak maut Kania masih berjalan utuh.
Pintu jati kamar terbuka perlahan. Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Aroma tembakau cerutu dan musk mengambil alih udara ruangan.
"Kau belum tidur juga, Sabrina?" Adrian masuk tanpa mengetuk. Pria itu sudah melepas jas kerjanya.
"Tutup pintunya rapat-rapat, Adrian," desis Sabrina pelan.
"Tirta bilang kau butuh istirahat total." Adrian melangkah mendekati ranjang bayi. "Jangan mencari keributan baru setelah kau menguras habis kekuasaan pamanku di ruang rapat tadi."
"Seseorang menyusup masuk ke kamar anakku lima menit yang lalu."
"Mustahil." Adrian menatap istrinya datar. "Pengawal di depan adalah orang-orang elit. Lapis tiga."
"Keamananmu adalah lelucon mahal." Sabrina menunjuk jeruji ranjang. "Lihat ikatan ini."
Adrian menunduk. Ia menyentuh benang itu menggunakan telunjuknya. "Hanya benang rajut yang tersangkut. Pelayan pasti kurang teliti saat mencuci selimut Sebastian."
"Ini sutra putih murni dari Tiongkok." Sabrina menatap langsung menembus pupil mata suaminya. "Diikat dengan simpul algojo. Ini tanda kontrak pembunuhan dari dunia bawah, Adrian."
"Imajinasimu terlalu liar akibat obat bius."
"Kania menyewa sindikat bayaran sebelum kau mengusirnya tadi. Dia membayar sangat mahal untuk menyembelihku."
"Kania tidak punya kapasitas otak untuk menyewa pembunuh profesional," bantah Adrian tenang. Pria tiran ini paling tidak suka propertinya dianggap rentan.
"Kau meremehkan keputusasaan seorang wanita yang kehilangan seluruh hartanya."
Adrian merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan pemotong cerutu dari baja putih.
Klik.
Bilah kecil tajam itu memotong benang sutra putih di jeruji ranjang hingga terputus dua. Adrian memungutnya, lalu menjatuhkan sisa benang itu ke karpet.
"Masalah selesai," ucap Adrian mutlak. "Tidak ada kontrak pembunuhan di rumahku."
"Kau mengundang malapetaka jika kau membuang peringatan ini, Adrian."
"Aku penguasa di sini. Aturanku yang berlaku." Adrian memasukkan kembali alat pemotong itu ke saku. "Aku sudah menggandakan personel jaga di seluruh akses masuk. Kepala keamanan baruku akan mengawasi lorong ini secara pribadi mulai detik ini."
"Siapa dia?" tanya Sabrina waspada.
"Vincent Santoso."
Sabrina membeku. Jantungnya melewatkan dua ketukan berturut-turut. Rasa sakit di jahitan perut bawahnya mendadak tergantikan oleh hawa dingin yang merayap menggigit tulang belakangnya.
"Tarik dia dari lorong ini sekarang juga," perintah Sabrina, suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi gelap.
"Kau mulai berani mengatur keputusanku?" Mata Adrian memicing tajam.
"Aku tidak suka orang asing mendekati kamarku."
"Dia mesin pembunuh paling efisien yang pernah kurekrut," puji Adrian lugas. "Latar belakangnya sangat bersih. Dia tentara bayaran elit. Dia tidak punya emosi. Dia profil yang sempurna untuk menjaga aset sepertimu."
Sabrina menggigit pipi bagian dalamnya hingga terasa anyir darah. Pria yang membakarnya hidup-hidup kini berdiri sepuluh meter dari posisinya, disewa secara legal oleh suaminya sendiri.
"Tidak ada kesetiaan mutlak di dunia tentara bayaran, Adrian."
"Tidurlah, Sabrina. Aku harus kembali ke ruang kerja meninjau portofolio saham barumu."
Adrian memutar tubuhnya. Pria arogan itu berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu jati tebal ditutup rapat, memutus sisa suara dari luar.
Sabrina berdiri mematung di samping ranjang. Napasnya memburu cepat. Otaknya berputar menyusun ribuan skenario pertarungan. Vincent tidak tahu bahwa jiwa Maureen berada di dalam tubuh ini. Pria itu mengira ia murni hanya sedang menjaga Sabrina Tanjung, target utamanya sendiri, menunggu celah paling rapuh untuk mengeksekusi kontrak Kania tanpa terendus oleh Adrian.
Sabrina perlahan memutar pandangannya ke arah ranjang. Ia menatap wajah damai Sebastian yang terlelap.
"Mereka tidak akan menyentuhmu," bisik Sabrina pelan. Ia mengelus dahi Sebastian yang hangat menggunakan punggung jarinya.
"Dulu aku mati karena menolak menyingkirkanmu dari dunia ini. Sekarang, aku akan membunuh mereka semua agar kau tetap bernapas."