Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Nyonya Besar dan Hantu dari Masa Lalu
Pagi itu seharusnya menjadi salah satu pagi yang biasa di penghujung tahun ketiga masa putih abu-abu. Ujian akhir nasional tinggal menghitung bulan, dan udara pagi di kota masih menyisakan sisa-sisa embun semalam yang menyejukkan. Matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik gedung-gedung bertingkat, membiaskan cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas gerbang besi SMA Negeri 1 yang menjulang kokoh.
Anandara Arunika baru saja turun dari mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Pak Yanto, sopir pribadinya. Ia merapikan lipatan rok seragamnya yang sudah tanpa cela, menyampirkan tas di salah satu bahunya, dan berjalan dengan postur tegak yang selalu menjadi ciri khasnya. Wajahnya sedingin pualam, matanya menatap lurus ke depan, tak memedulikan bisik-bisik kagum atau sapaan basa-basi dari beberapa siswa yang berpapasan dengannya. Di kepalanya, ia sedang menyusun jadwal belajar hari ini, memilah antara materi fisika kuantum dan probabilitas matematika yang harus ia selesaikan sebelum jam makan siang. Semuanya terstruktur. Semuanya dalam kendali.
Hingga sebuah suara decit rem mobil mewah menghancurkan rutinitas paginya.
Sebuah mobil Mewah berwarna putih mutiara berhenti mendadak tepat di tepi jalan, hanya beberapa meter dari posisi Anandara berdiri. Mesinnya menderu halus, memancarkan aura kemewahan yang tidak bisa diabaikan. Namun, bukan mobil itu yang membuat langkah Anandara terhenti secara tiba-tiba.
Kaca jendela penumpang di bagian belakang perlahan turun. Dari balik kaca yang gelap itu, sepasang mata di balik kacamata hitam berbingkai emas menatap lurus ke arah Anandara.
Dunia Anandara seketika berhenti berputar. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis ke dalam sebuah ruang hampa, mencekik paru-parunya dengan sangat kejam.
Pintu mobil terbuka. Seorang wanita melangkah keluar. High heels berhak runcing bermerek beradu dengan aspal, menghasilkan bunyi klik-klak yang bagi telinga Anandara terdengar seperti ketukan palu godam di kepalanya. Wanita itu mengenakan gaun terusan selutut berwarna merah marun yang dijahit dengan sempurna membalut tubuhnya. Di lengannya tersampir sebuah tas Hermès Birkin dari kulit buaya asli, dan di lehernya melingkar kalung berlian yang menyilaukan mata saat tertimpa cahaya matahari pagi. Rambutnya disanggul modern, wajahnya dipoles makeup tebal yang menutupi gurat usianya, memancarkan pesona seorang sosialita kelas atas—seorang nyonya besar yang hidup bergelimang harta.
Itu adalah Bu Riri. Wanita yang malam itu tertawa di atas penderitaan suaminya. Wanita yang menepis tangan putrinya dan berjalan keluar menembus hujan demi seorang pria kaya. Ibunya.
Anandara mematung. Otot-otot di tubuhnya menegang hebat hingga terasa sakit. Jantungnya bergemuruh, memompa darah dengan kecepatan yang memabukkan, sementara keringat dingin mulai merembes dari pori-pori kulitnya. Di balik wajah datarnya yang melegenda di seantero sekolah, badai trauma sedang mengamuk dengan brutal. Suara petir dari masa kecilnya kembali menggelegar di telinganya, menenggelamkan suara riuh rendah siswa-siswi di sekitar gerbang sekolah.
Bu Riri melepas kacamata hitamnya. Matanya yang dihiasi eyeliner tebal melebar, memastikan bahwa gadis cantik berseragam putih abu-abu di depannya ini benar-benar darah dagingnya. Ia kebetulan sedang melintas di jalan raya utama kota ini menuju acara arisan sosialita, dan takdir yang entah sedang bercanda atau menyiksa, mempertemukan mereka.
"Nanda...?" Suara Bu Riri mengalun, bercampur antara rasa takjub, keraguan, dan sebuah kerinduan yang dipaksakan.
Wanita itu melangkah maju. Bau parfum mahal yang menyengat menyerbu indera penciuman Anandara, bau yang sama sekali berbeda dari aroma vanila murah yang dulu sering ibunya pakai saat membacakan dongeng untuknya. Bau ini adalah bau pengkhianatan.
Anandara mundur satu langkah. Matanya yang hitam legam menatap wanita di depannya dengan sorot permusuhan yang sangat pekat, setajam belati yang baru saja diasah.
"Anandara... Ya Tuhan, ini benar kamu, Sayang?" Bu Riri tersenyum lebar, senyum yang bagi Anandara terlihat sangat artifisial, seperti topeng plastik. Wanita itu mengulurkan tangan bertahtakan cincin berlian, mencoba meraih pipi putrinya.
"Jangan. Sentuh. Saya."
Tiga kata itu keluar dari mulut Anandara. Suaranya tidak tinggi, tidak ada nada berteriak, namun intonasinya begitu dingin dan tajam hingga mampu membekukan udara di sekeliling mereka. Perang dingin telah ditabuh.
Tangan Bu Riri menggantung di udara sebelum akhirnya ditarik kembali dengan canggung. Ia merapikan gaunnya, berusaha menjaga wibawanya di depan beberapa siswa yang kini mulai memperlambat langkah mereka untuk menonton drama di depan gerbang.
"Kamu sudah besar," ucap Bu Riri, mencoba menggunakan nada keibuan yang terdengar sumbang. Matanya memindai Anandara dari atas ke bawah, memperhatikan sepatu mahal dan tas bermerek yang dipakai putrinya. "Ibu sering mendengar kabar tentang ayahmu. Kudengar perusahaannya sudah bangkit lagi. Kalian hidup dengan baik sekarang?"
Anandara menegakkan dagunya. Ia menekan seluruh rasa panik yang meronta-ronta di dalam dadanya, menggantinya dengan benteng rasionalitas yang selama ini melindunginya.
"Perusahaan Bapak tidak hanya bangkit, tapi sudah melampaui apa yang mungkin tidak akan pernah bisa dicapai oleh pria yang Anda ikuti malam itu," jawab Anandara dengan suara seakan sedang membacakan laporan statistik kematian. "Dan ya, kami hidup dengan sangat baik. Kehidupan kami menjadi jauh lebih bersih dan tenang sejak sampah organik dibuang dari rumah kami bertahun-tahun yang lalu."
Wajah Bu Riri memerah padam. Urat di lehernya sedikit menonjol, merusak citra keanggunannya. Kalimat Anandara menampar harga dirinya tepat di ulu hati. Namun, ia tidak mau kalah. Ia adalah nyonya besar sekarang, ia punya segalanya.
"Jaga bicaramu, Anandara. Aku tetap ibumu," desis Bu Riri, nadanya kini merendah dan mengancam. "Ibu meninggalkan kalian karena ayahmu tidak bisa memberiku kehidupan yang layak. Lihat Ibu sekarang. Ibu punya segalanya. Ibu bisa memberimu apa saja. Mobil? Apartemen? Pakaian desainer? Kamu tidak perlu bersusah payah belajar seperti ini jika kamu mau ikut dengan Ibu."
Sebuah tawa kecil, sinis, dan hampa lolos dari bibir Anandara. Itu adalah tawa yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.
"Memberiku segalanya?" Anandara memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita itu dengan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi. "Anda mengukur nilai seorang manusia dari label harga di bajunya. Anda pikir dengan memakai perhiasan yang harganya setara dengan rumah, dosa pengkhianatan Anda akan tertutupi? Anda miskin. Sangat miskin. Anda menjual keluarga Anda, kesetiaan Anda, dan harga diri Anda hanya demi materi."
Anandara melangkah maju satu tindak, memangkas jarak. Tinggi badannya kini sejajar dengan ibunya, dan aura intimidasi yang ia keluarkan membuat Bu Riri secara refleks mundur selangkah.
"Dengar baik-baik, Nyonya," suara Anandara berubah menjadi bisikan tajam bak desisan ular berbisa. "Saya berdiri di sini, dengan pakaian ini, dengan otak ini, dibangun dari keringat darah seorang pria yang Anda hancurkan hatinya. Saya mahal. Sangat mahal. Dan tidak ada satupun harta dari hasil melacurkan diri Anda pada kekayaan orang lain yang mampu membeli saya. Anda sudah mati bagi saya sejak malam hujan itu. Jangan pernah menampakkan wajah Anda di depan saya lagi."
Dada Bu Riri naik turun dengan cepat. Matanya berkilat marah. Rahasianya, kelemahannya, ditelanjangi di tempat umum oleh putrinya sendiri. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, bersiap untuk mendaratkan sebuah tamparan keras ke pipi pualam Anandara.
Anandara tidak berkedip. Ia tidak mundur. Ia menunggu tamparan itu jatuh sebagai bukti bahwa wanita ini memang monster.
Namun, sebelum tangan berhias berlian itu menyentuh kulit Anandara, sebuah tangan lain melesat dari kerumunan dan mencengkeram pergelangan tangan Bu Riri dengan cengkeraman yang sangat kuat.
"Maaf, Tante ini siapa ya berani mau main tangan sama teman saya?!"
Suara melengking dan penuh amarah itu menggelegar. Sinta. Gadis itu berdiri di sana dengan napas terengah-engah, jepit rambutnya sedikit miring karena berlari dari area parkir saat melihat kerumunan. Matanya menatap Bu Riri dengan amarah yang menyala-nyala. Sinta menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.
Bu Riri terkejut, memegangi pergelangan tangannya. "Kamu siapa, anak ingusan?! Berani-beraninya ikut campur urusan keluarga orang!"
"Saya Sinta. Sahabatnya Nanda. Anjing penjaganya, kalau Tante mau tahu!" Sinta berkacak pinggang, memasang badan tepat di depan Anandara, menutupi sahabatnya itu dari pandangan Bu Riri seperti sebuah tameng baja. "Saya nggak peduli Tante ini nyonya besar, istri pejabat, atau ratu kecantikan sekalipun. Di sini wilayah sekolah, dan kalau Tante berani sentuh sehelai aja rambut Nanda, saya yang bakal laporin Tante ke polisi atas tuduhan penyerangan anak di bawah umur!"
"Dasar anak tidak berpendidikan!" Bu Riri mendengus kasar. Ia menatap Anandara dari balik bahu Sinta. "Lihat temanmu ini, Nanda. Kampungan. Sama seperti kehidupanmu dulu. Ibu harap kamu tidak menyesal menolak tawaran Ibu. Kamu akan membusuk bersama ego ayahmu!"
"Mending kampungan tapi hatinya tulus, daripada elegan tapi hatinya busuk bau selokan!" balas Sinta tanpa ampun, suara lantangnya memancing tawa tertahan dari beberapa murid yang menonton.
Merasa dipermalukan, Bu Riri akhirnya berbalik dengan gerakan kaku. Ia membuka pintu mobil Mercedes-nya, masuk, dan membanting pintunya dengan keras. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan jejak trauma yang kembali menganga lebar.
Kerumunan perlahan bubar ketika Sinta melotot ke arah mereka dan berteriak, "Apa lihat-lihat?! Bubar sana! Mau gue siram kuah soto kalian semua?!"
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, pertahanan Anandara yang terbuat dari es dan logika akhirnya runtuh.
Udara yang sejak tadi ia tahan keluar dalam bentuk tarikan napas yang sangat serak. Tangannya mulai bergetar hebat. Kakinya lemas, kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhnya. Ia mencengkeram lengan seragam Sinta dengan sangat kuat, kepalanya tertunduk, dan napasnya memburu tak terkendali.
"Nan... Nanda, lo kenapa? Nanda, hei!" Sinta panik melihat wajah Anandara yang seputih kertas. Keringat dingin membasahi pelipis gadis itu.
"Sinta... sesak..." rintih Anandara, suaranya terputus-putus. Ia mengalami serangan panik yang sangat parah. Dinding yang ia bangun selama bertahun-tahun dijebol paksa dalam waktu lima menit. Memori pengkhianatan itu berputar seperti kaset rusak, berbaur dengan bau parfum murahan dan kilau berlian.
"Oke, oke, tarik napas, Nan. Ikutin gue. Tarik napas." Sinta dengan sigap merangkul tubuh Anandara yang mulai limbung. Ia tahu ia tidak bisa membawa Anandara ke kelas dalam keadaan seperti ini.
Sinta memapah tubuh Anandara yang bergetar, membawanya menjauh dari keramaian, menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang masih sepi. Sinta menendang pintu UKS hingga terbuka, membaringkan Anandara di atas salah satu ranjang berseprai putih, dan segera menutup pintu rapat-rapat, mengunci mereka dari dunia luar.
Di dalam ruangan yang berbau obat merah dan minyak kayu putih itu, Anandara benar-benar kehilangan kendali. Gadis jenius yang selalu memiliki jawaban untuk setiap persamaan matematika itu kini meringkuk seperti janin, mencengkeram dadanya sendiri seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas jantungnya hingga hancur. Ia tidak menangis—air matanya seolah sudah kering di malam hujan bertahun-tahun lalu—tetapi erangan kesakitan yang keluar dari tenggorokannya terdengar jauh lebih menyayat hati daripada tangisan paling keras sekalipun.
"Dia datang, Sin... dia datang bawa hantu-hantu itu..." racau Anandara, matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan. "Dia buang aku, lalu dia pamerkan kemewahannya. Dia pikir aku barang loak yang bisa dia beli kembali setelah dia buang. Dia membunuh ayahku... dia membunuh hatiku..."
Sinta tidak banyak bicara. Gadis bawel itu tahu bahwa saat ini, kata-kata logika tidak akan berguna. Sinta naik ke atas ranjang UKS, menarik tubuh kaku Anandara ke dalam pelukannya. Ia memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat, meletakkan kepala Anandara di dadanya, membiarkan Anandara mendengarkan detak jantungnya yang berdegup stabil dan menenangkan.
"Sstt... Nanda, dengerin gue," Sinta berbisik lembut sambil mengusap-usap rambut hitam Anandara yang basah oleh keringat dingin. "Lo aman di sini. Ada gue. Dia udah pergi. Dia nggak akan bisa nyakitin lo atau ayah lo lagi. Lo udah menang, Nan. Lo nolak dia, lo ngelawan dia. Lo hebat."
"Aku takut, Sin," untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Anandara mengakui ketakutannya secara verbal. Tembok pertahanannya hancur lebur. "Aku benci melihat matanya. Matanya sama sepertiku. Aku takut kalau suatu hari nanti, darah pengkhianatnya mengambil alih diriku. Aku takut kalau aku mencintai seseorang, aku akan berubah menjadi monster sepertinya."
Sinta mempererat pelukannya, ikut merasakan sakit yang menyiksa jiwa sahabatnya. Sinta merelakan seragamnya kusut dan basah oleh keringat Anandara. Ia mengayunkan tubuh mereka pelan-pelan ke kiri dan ke kanan, seperti seorang ibu yang menenangkan bayinya dari mimpi buruk.
"Lo bukan dia, Nanda. Lo Anandara Arunika. Cewek paling jenius, paling tegas, dan paling setia yang pernah gue kenal," ucap Sinta dengan nada yang sangat meyakinkan. "Darah nggak menentukan siapa lo. Pilihan lo yang menentukan. Dan pilihan lo hari ini membuktikan kalau lo punya hati yang jauh lebih mulia dari wanita itu."
Perlahan, sangat perlahan, di bawah pelukan dan afirmasi dari Sinta, napas Anandara mulai teratur. Getaran di tubuhnya mulai mereda. Bau obat di UKS ini terasa lebih melegakan daripada bau parfum mewah milik ibunya.
Keheningan mengambil alih ruangan itu. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan suara helaan napas dua gadis yang saling berpelukan.
Anandara memejamkan matanya rapat-rapat. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia memantapkan sebuah resolusi baru. Kejadian hari ini menjadi paku terakhir yang menyegel peti mati perasaannya. Jika ibunya—orang yang seharusnya menjadi sumber cinta pertama seorang anak—bisa menjadi monster yang begitu egois dan kejam karena cinta, maka Anandara bersumpah demi nyawanya sendiri, ia tidak akan pernah membuka hatinya untuk pria mana pun.
Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang yang bernama komitmen asmara. Tidak ada laki-laki di dunia ini yang pantas mendapatkan hatinya. Cinta hanya akan menghasilkan rasa sakit, pengkhianatan, atau mengubah seseorang menjadi iblis yang haus harta. Anandara memilih untuk mengosongkan hatinya selamanya.
"Sinta," panggil Anandara pelan, suaranya sudah kembali datar namun masih menyimpan sisa-sisa kelelahan.
"Ya, Nan?"
"Terima kasih. Karena tidak lari dariku saat aku menjadi gila."
Sinta tersenyum, mengurai pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Anandara. Ia menatap mata legam sahabatnya itu dalam-dalam. "Gue nggak akan pernah lari. Lo itu rumah gue. Kalau rumah gue lagi kena badai, tugas gue buat megangin atapnya biar nggak terbang. Ngerti?"
Anandara mengangguk pelan. Di balik matanya yang kembali membeku, terukir sebuah rasa syukur yang tak terhingga.
Siang itu, Anandara tidak masuk ke kelas. Sinta dengan santainya membolos, berbohong kepada guru piket bahwa Anandara sedang sakit perut parah dan ia harus menjaganya. Mereka menghabiskan sisa jam pelajaran bersembunyi di UKS. Sinta terus bercerita tentang hal-hal konyol—tentang kucingnya, tentang drama Korea terbarunya—hanya untuk memastikan otak Anandara tidak kembali memutar kejadian di gerbang sekolah tadi.
Kejadian itu, kedatangan sang nyonya besar, menjadi rahasia yang terkunci rapat di antara mereka berdua. Tidak ada yang membahasnya lagi. Namun, dampaknya begitu masif. Ia mengubah lapisan es di hati Anandara menjadi sebuah dinding titanium yang tidak bisa ditembus oleh siapapun.
Sebuah dinding yang, tanpa Anandara ketahui, akan segera menghadapi ujian terberatnya saat masa perkuliahan dimulai nanti. Saat seorang mahasiswa pindahan berwajah tampan, pendiam, dan memiliki tatapan setajam elang akan masuk ke dalam hidupnya, membawa sebuah dinamika baru yang akan menguji batas logikanya, memaksa dinding titanium itu bergetar hebat, dan secara ironis, membawa persahabatan sejati antara dirinya dan Sinta ke jurang permusuhan yang menyayat hati.
Tapi untuk saat ini, di ruang UKS yang sempit ini, Anandara merasa aman. Selama Sinta ada di sisinya, ia yakin bisa menghadapi dunia, betapapun kejam dan manipulatifnya manusia di luarnya. Rumahnya aman, walau hatinya tetap hampa.
Bersambung...!
pengamat Senja_