NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Memiliki Permata Adalah Dosa

​"Jumat malam ini, Yohan mengundang kita ke 'Heaven on Earth' untuk kumpul-kumpul. Dia baru saja tembus proyek besar dan ingin merayakannya. Kamu mau ikut?"

​Nada bicara Hans terdengar santai, seolah hanya menyebutkannya sambil lalu.

​Yohan adalah sahabat Hans sejak kecil. Karena Yohan yang mengundang dan menggunakan kata "kita", jelas bahwa ia juga sudah menganggap Tania sebagai bagian dari lingkaran pertemanan mereka. Ini bukan sekadar ajakan biasa; bagi Tania, ini terasa seperti bentuk penerimaan secara resmi.

​Hans yang berinisiatif menanyakan pendapatnya membuat Tania merasa dihargai. Masuk ke dalam kata "kita" versi Hans memberikan rasa memiliki yang tak bisa dijelaskan.

​"Dia memang harus merayakannya kalau tembus proyek besar."

​Bibir Tania melengkung membentuk senyuman, nadanya menjadi lebih ringan. "Acaranya seperti apa? Siapa saja yang datang? Apa aku... tidak akan merasa asing di sana?" Ia masih merasa sedikit bimbang; bagaimanapun, itu adalah lingkaran pergaulan Hans.

​Tatapan Hans tertuju pada wajah Tania, seolah ia bisa membaca kekhawatiran kecil gadis itu. Suaranya rendah, membawa kepastian yang menenangkan:

​"Cuma kumpul santai antar teman, dan semuanya orang yang aku kenal. Ada aku di sana, kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun."

​Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Kalau kamu tidak mau pergi, atau kalau kamu merasa lelah, kita tidak usah pergi. Jangan memaksakan diri."

​Hans menyerahkan pilihan sepenuhnya kepada Tania, dan perhatian kecil ini membuat keraguan terakhir di hatinya lenyap. Tania tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam atau diterima oleh teman-temannya. Lagipula, ia tidak punya kesan buruk terhadap Yohan.

​"Oke, aku ikut kalau begitu."

​Tania mendongak menatap mata Hans, ekspresinya dipenuhi rasa antusias.

​Tak lama kemudian, roti, salad, dan escargot disajikan satu per satu. Tania mencicipi escargot-nya; aroma mentega dan bawang putihnya pas, rasanya luar biasa. Saat hidangan utama tiba, dua piring steak dengan penyajian indah diletakkan di meja, menebarkan aroma yang menggoda selera.

​Hans mengambil pisau dan garpu, tetapi tidak menyentuh bagiannya sendiri. Sebaliknya, ia secara alami menarik piring Tania lebih dekat dan mulai memotongkan daging untuknya.

​Gerakannya terampil dan mengalir. Pisau itu meluncur di atas daging dengan halus, dan dalam sekejap seluruh steak sudah terbagi menjadi potongan-potongan kecil yang pas untuk dimakan.

​Tania menatap Hans yang sedang menunduk fokus. Pria ini selalu tampak sempurna dalam detail-detail kecil yang tidak disengaja, membuat siapa pun merasa sangat diperhatikan. Perhatian semacam ini bukan sesuatu yang dibuat-buat untuk merayu, melainkan sudah menyatu menjadi kebiasaannya.

​Setelah selesai, Hans mendorong kembali piring itu ke depan Tania, suaranya lembut: "Hati-hati, masih panas."

​Tania mengambil garpu, menusuk sepotong daging, dan memasukkannya ke dalam mulut. Mendengarkan Hans bercerita sesekali sambil menikmati makan malam, suasana terasa begitu santai dan nyaman.

​Jumat sore setelah pulang kuliah, aroma makan malam sudah memenuhi meja makan di rumah. Pandu dan Titan sepertinya sangat sibuk belakangan ini dan belum pulang, jadi hanya ada Tania dan Mona di meja makan.

​"Ma, malam ini aku mau pergi kumpul-kumpul sama teman."

​Tania mengaduk nasi di piringnya, suaranya agak tidak jelas karena sambil mengunyah.

​Mona sedang telaten memisahkan duri ikan untuknya. Mendengar itu, ia tidak menghentikan kegiatannya dan berkata lembut: "Pergilah, hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam."

​Mona tidak pernah mengekang kehidupan sosialnya; beliau hanya berharap Tania bahagia sekaligus bisa menjaga diri.

​"Siap, Ma!" Tania tersenyum manis dan mempercepat makannya.

​Setelah makan, ia kembali ke kamar dan mandi terlebih dahulu. Di tengah uap air yang hangat, rasa lelah seharian seolah luruh. Setelah mengeringkan tubuh, ia mengoleskan body lotion dengan aroma bunga yang lembut, membuat kulitnya seketika terhidrasi dan terasa sehalus sutra.

​Ia berjalan bertelanjang kaki menuju walk-in closet yang luas. Deretan pakaian tampak menyilaukan, dan jemarinya yang lentur menyusuri berbagai gaun cantik. Akhirnya, pilihannya jatuh pada sebuah mini dress berbahan beludru warna merah marun.

​Potongan gaun itu sangat menuntut bentuk tubuh yang ideal, tapi terasa sangat pas untuk Tania, menonjolkan fisiknya yang indah tanpa terlihat terlalu terbuka. Desain bawahnya yang tidak simetris membuat kaki jenjangnya yang putih terlihat samar saat ia berjalan.

​Tania bercermin dan mengangguk puas. Ia memang "gantungan baju" alami; kulitnya putih bening, matanya besar dan hidup, hidungnya mancung, serta bibirnya penuh. Kecantikannya adalah jenis yang memukau pada pandangan pertama sekaligus semakin mempesona jika dipandang lama. Gaun ini jelas akan menonjolkan kelebihannya.

​Ia duduk di meja rias dan mulai merias wajah. Base makeup-nya tipis namun menempel sempurna, alisnya dibentuk dengan teliti. Ia memilih eyeshadow bernada hangat yang senada dengan gaunnya, dan menyapukan maskara yang membuat bulu mata lentiknya tampak semakin panjang.

​Terakhir, ia memilih lipstik warna merah menyala. Bibir tipisnya sedikit terbuka, dan dengan sekali polesan, auranya langsung meningkat drastis. Gadis di cermin itu tampak begitu bersinar—perpaduan antara polos dan menggoda.

​Sopir keluarga, Pak Wawan, memarkir Maybach itu dengan tenang di depan pintu putar emas gedung "Heaven on Earth".

​Tania mendorong pintu mobil. Angin malam yang membawa keriuhan Jakarta menerpa ujung gaun merah marunnya. Ia menghubungi nomor Hans, suaranya membawa sedikit nada malas setelah baru turun dari mobil: "Hans, aku sudah sampai di depan."

​"Tunggu di situ, jangan ke mana-mana. Aku ke sana." Suara Hans terdengar stabil dan kuat.

​Tania menutup telepon, melangkah dengan stiletto tujuh senti, dan berjalan anggun memasuki lobi "Heaven on Earth". Begitu melangkah masuk, dentuman bas yang memekakkan telinga langsung menyerbu seperti ombak raksasa, seolah hendak menelannya bulat-bulat. Cahaya laser yang menyilaukan membelah ruang remang-remang, dan udara dipenuhi campuran aroma parfum mahal, alkohol, dan sisa tembakau.

​Di tengah lantai dansa, para pemuda dan pemudi bergoyang liar mengikuti musik yang intens. Di area VIP, cahaya dan bayangan saling berkelindan. Orang-orang berpakaian rapi saling bersulang, sementara tawa dan denting gelas membentuk gambaran dunia malam yang gemerlap.

​Tania sedikit mengernyit. Ia masih belum terbiasa dengan lingkungan yang terlalu bising, jadi ia berdiri diam di sudut yang agak tenang dekat pintu masuk sesuai instruksi. Ia mengangkat tangan untuk merapikan rambut keriting di bahunya, matanya mencari sosok Hans di tengah kerumunan.

​Gaun beludru merah marunnya, di bawah lampu yang berganti-ganti warna, menonjolkan bentuk tubuhnya yang sempurna. Kulitnya yang seputih salju tampak begitu menyilaukan. Ia merasa menjadi pusat perhatian dan sedikit tidak nyaman, tapi pendidikan keluarganya yang baik membuatnya tetap tenang dan berwibawa.

​Tak lama kemudian, beberapa pria paruh baya bertubuh tambun keluar sambil sempoyongan, masing-masing merangkul wanita muda dengan riasan tebal dan pakaian minim. Wanita-wanita itu memasang senyum profesional, berusaha meladeni tangan-tangan liar para pria tersebut.

​"Pak Adrian, hari ini Bapak benar-benar hebat!" sebuah suara melengking memuji.

​"Itu harus! Ronde berikutnya, tempat yang sama ya, Cantik-cantikku semua ikut aku. Malam ini semua biaya Pak Adrian yang tanggung!"

​Pria di depan itu tidak lain adalah Adrian, bos sebuah perusahaan alat elektronik lokal yang cukup dikenal. Perut buncitnya hampir meledakkan kancing kemeja desainer yang dipakainya. Di wajahnya yang berminyak, sepasang mata kecilnya tampak berkilat karena pengaruh alkohol dan nafsu.

​Langkahnya tidak stabil, ia setengah dipapah oleh orang di sampingnya, namun matanya masih liar memindai sekeliling. Di sudut pintu masuk, cahaya lampu seolah sengaja membingkai sebuah sosok anggun. Kilatan warna merah marun itu begitu mencolok dan berkelas, membuat Adrian langsung menangkap keberadaan Tania yang tampak menonjol seperti seekor bangau di tengah sekumpulan ayam.

1
Mxxx
up oi👍
QueenV
suka.. cerita nya bagus
QueenV
suka.. cerita nya bagus
Yunita Linggi Allo
bagus n suka ceritax
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!