"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.
"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. ALTAR KEHENINGAN
Dunia di sekitar mereka seolah-olah sedang kiamat. Raungan helikopter Wira Naratama di atas kepala beradu dengan siulan angin badai yang mampu membekukan napas dalam sekejap. Alana berdiri mematung di tengah salju, menatap tangan Alexei yang terulur, tangan yang sama yang telah mencuci noda darah dari jemarinya dengan lembut, namun juga tangan yang memegang kontrak yang menghancurkan martabatnya sebagai manusia.
"Jangan sentuh aku!" teriak Alana, suaranya parau menembus badai. Ia mengarahkan pistolnya ke dada Alexei. "Kau membeliku, Alexei! Kau memperlakukanku seperti barang dagangan sejak aku berusia lima belas tahun!"
Alexei tidak mundur. Meski bahunya bersimbah darah dan wajahnya pucat karena kelelahan, matanya tetap mengunci Alana dengan intensitas yang mengerikan. "Pelurumu tidak akan mengubah fakta bahwa Wira berada seratus meter di atas kita, Alana. Jika kau tidak ikut denganku sekarang, kau akan kembali ke sangkar emas yang lebih buruk. Pilihanku adalah penjara yang memberimu kebenaran, pilihannya adalah penjara yang akan membungkammu selamanya!"
Cahaya lampu sorot helikopter menyapu tepat ke arah mereka.
"Tembak, Alana! Tembak jika itu membuatmu merasa bebas!" tantang Alexei.
Tangan Alana gemetar hebat. Ia ingin menarik pelatuk itu. Ia ingin menghukum pria ini karena semua kebohongan yang ia susun dengan begitu rapi. Namun, bayangan Bibi Marta dan pesan rahasia itu menahannya. Ia butuh Alexei untuk mencapai gereja itu. Ia butuh "sipir"-nya untuk selamat dari "penjagalnya".
Dengan geraman frustrasi, Alana menurunkan senjatanya. "Bawa aku ke gereja itu. Dan setelah itu, jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Alexei tidak membuang waktu. Ia menyambar tangan Alana dan menariknya lari menembus kegelapan hutan yang lebih dalam, tepat saat tim pencari Wira mulai terjun menggunakan tali dari helikopter.
Perjalanan menuju Svyatoy Nikolay terasa seperti perjalanan menuju liang lahat. Mereka bergerak dalam diam, hanya suara deru napas dan langkah kaki di atas salju yang pecah. Alexei beberapa kali tersandung karena luka di bahunya, namun ia menolak untuk berhenti. Keteguhan pria itu mulai terasa menakutkan bagi Alana, seolah-olah Alexei digerakkan oleh sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar tugas, sebuah obsesi yang sudah mendarah daging.
Setelah satu jam yang menyiksa, bangunan itu muncul.
Gereja Saint Nicholas berdiri di pinggiran tebing berbatu yang menghadap ke laut Baltik yang membeku. Bangunannya kecil, terbuat dari kayu hitam yang sudah lapuk dan menara lonceng yang miring. Di tengah badai, gereja itu tampak seperti nisan raksasa bagi rahasia keluarga Volskaya.
"Kita di sini," bisik Alexei. Ia mendorong pintu kayu besar yang berderit memilukan, seolah memprotes kehadiran mereka.
Di dalam, bau debu, lilin yang sudah lama padam, dan kayu tua menyambut mereka. Hanya ada sedikit cahaya dari bulan yang menyelinap lewat jendela kaca patri yang pecah. Alana segera berlari menuju altar di depan. Sebuah meja batu besar dengan ukiran mawar yang sama dengan kunci peraknya.
"Bantu aku mengangkat ini, Alexei!" perintah Alana.
Alexei menggunakan sisa tenaganya untuk menggeser bagian samping altar batu tersebut. Di bawahnya, terdapat sebuah rongga kecil yang tersembunyi. Alana merogoh ke dalam dan menemukan sebuah kotak logam kecil yang terkunci rapat.
"Pakai kuncimu," ucap Alexei, suaranya terdengar sangat lemah. Ia terduduk di lantai gereja, bersandar pada pilar kayu, wajahnya kini seputih salju di luar.
Alana memasukkan kunci perak mawar itu ke dalam kotak logam. Klik.
Di dalamnya bukan ada uang atau sertifikat aset. Isinya adalah sebuah alat perekam suara kuno dan sebuah botol kecil berisi cairan bening dengan label bertulisan tangan Elena. "Kebenaran bagi Alana."
Alana menekan tombol play pada alat perekam itu. Suara statis terdengar sejenak, lalu suara lembut yang sangat Alana kenali memenuhi gereja yang sunyi itu. Suara ibunya, Elena.
"Alana, jika kau mendengarkan ini, berarti kau sudah dewasa dan berada di bawah perlindungan Alexei. Maafkan Ibu, Nak. Ibu harus membuat kesepakatan dengan iblis untuk menyelamatkanmu. Dmitri, ayahmu... dia tidak dikhianati oleh Wira sendirian. Ibu yang memberikan lokasinya pada Wira."
Alana menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai jatuh tanpa suara.
"Ibu melakukannya karena Dmitri berencana untuk menumbalkanmu pada dewan Bratva sebagai jaminan kekuasaannya. Ibu memilih membiarkan Dmitri mati dan menyerahkanmu pada Wira agar kau bisa tumbuh jauh dari Rusia. Dan Alexei... dia adalah saksi tunggalnya. Dia adalah anak laki-laki yang berjanji akan menjagamu sampai kau cukup kuat untuk mengetahui bahwa ibumu adalah seorang pengkhianat demi cinta."
Alana jatuh terduduk di depan altar. Seluruh dunia yang ia bangun dalam kepalanya runtuh. Ayahnya adalah pembunuh, ibunya adalah pengkhianat, dan Alexei... Alexei adalah penjaga rahasia yang paling setia sekaligus yang paling manipulatif.
"Jadi... kau tahu semuanya?" Alana menoleh ke arah Alexei. "Kau tahu ibuku membunuh ayah kandungnku?"
Alexei menatap Alana dengan mata yang mulai sayu. "Aku tidak ingin kau membenci kenangan tentang ibumu, Alana. Itu sebabnya aku membiarkanmu berpikir Wira adalah satu-satunya penjahat. Tapi kontrak itu... aku membelimu dari Wira karena aku tahu dia akan menjualmu pada orang lain jika aku tidak melakukannya. Aku hanya ingin memilikimu... dengan cara apa pun."
Tiba-tiba, pintu gereja diledakkan hingga hancur berkeping-keping.
Wira Naratama melangkah masuk. Ia tidak tampak seperti monster, wajahnya kuyu, matanya merah karena kurang tidur dan kecemasan yang luar biasa. Saat melihat Alana, wajahnya seketika cerah oleh harapan.
"Alana! Syukurlah kau selamat," ucap Wira dengan suara bergetar. Ia melangkah maju, tangannya terulur tanpa senjata. "Kemarilah, Nak. Ayah di sini. Ayah akan membawamu pulang. Maafkan Ayah karena telah menjualmu sepuluh tahun lalu... Ayah sangat menyesal, Ayah terpaksa melakukannya untuk melindungimu."
Alana bangkit perlahan, menggenggam botol kecil berisi sampel DNA itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menatap Wira dengan kebencian murni yang membara.
"Melindungiku?" desis Alana, suaranya sangat dingin hingga Wira terhenti di tempatnya. "Kau membunuh Dmitri, ayah kandungku, demi harta ini. Dan sekarang kau berdiri di sini, berakting seolah kau peduli padaku?"
Wira tertegun, wajahnya dipenuhi kebingungan yang nyata. "Dmitri? Siapa Dmitri, Alana? Aku ayahmu! Aku yang menggendongmu saat kau lahir di Jakarta! Apa yang telah pria itu katakan padamu?" Wira menunjuk Alexei dengan marah.
"Hentikan dramamu, Wira!" teriak Alana. Ia mengangkat botol kecil itu tinggi-tinggi. "Kau mengejarku hanya untuk ini, bukan? Sampel DNA ibuku untuk membuka aset Offshore itu! Kau tidak menginginkan aku, kau hanya menginginkan kunci ini!"
"Tidak, Nak... demi Tuhan, Ayah memang butuh DNA itu untuk menyelamatkan perusahaan kita dari kehancuran, tapi itu tidak ada artinya dibanding nyawamu! Kemarilah, Alexei hanya memanfaatkanmu!" Wira memohon, langkahnya kembali mendekat dengan tulus, matanya berkaca-kaca.
Namun, di mata Alana yang sudah teracuni skenario Alexei, setiap kata-kata tulus Wira terdengar seperti racun manipulatif. Alana melihat ke arah Alexei yang terkapar, lalu kembali ke Wira.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorang pun yang bisa!"
Alana membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya ke tanah gereja yang kotor. Cairan bening itu meresap ke dalam debu, hilang selamanya.
"TIDAK! Alana, apa yang kau lakukan?!" Wira jatuh berlutut, bukan karena hartanya hilang, tapi karena ia melihat putrinya sendiri memandangnya dengan tatapan seolah ia adalah iblis. "Kau tidak mengerti... kau telah menghancurkan satu-satunya jalan untuk membebaskanmu dari kontrak itu secara legal!"
Di saat itulah, Alexei Dragunov yang sedari tadi tampak tidak berdaya, menarik sebuah senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia menarik sebuah pelatuk detonator kecil dari saku celananya.
"Selamat datang di neraka yang kau ciptakan sendiri, Wira," bisik Alexei.
Bukan bom besar yang meledak, melainkan rentetan granat asap dan gas air mata yang sudah dipasang Alexei sebagai jebakan di langit-langit gereja. Ruangan itu seketika dipenuhi kabut putih yang menyesakkan.
"ALANA! KEMBALI!" teriak Wira dalam kepanikan, mencoba meraba-raba di dalam asap untuk menemukan putrinya.
Namun, di dalam kegelapan asap itu, sebuah tangan yang kuat dan akrab menyambar pinggang Alana. Alexei menariknya menuju pintu rahasia di belakang altar. Alana tidak melawan ia justru memeluk leher Alexei dengan erat, mencari perlindungan pada pria yang ia yakini sebagai satu-satunya orang jujur di hidupnya.
Alana meninggalkan ayahnya yang menangis di tengah asap gereja tua itu, tanpa tahu mungkin ia baru saja membuang satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.