"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Klarifikasi yang Gagal
Adrian tidak bisa menahan kekehannya lagi. Melihat Gisel yang kembali memasang "mode macan" dengan wajah yang justru memerah padam karena salah tingkah adalah pemandangan paling menghibur bagi sang CEO.
Bukannya menjauh karena dilempar map kertas kosong, Adrian justru melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat tenang namun tidak bisa dibantah, ia kembali menarik lembut kedua lengan Gisel, membawa tubuh mungil gadis itu masuk ke dalam dekapan hangatnya untuk sekali lagi.
Grep.
Kali ini pelukannya tidak posesif, melainkan sangat protektif dan menenangkan. Adrian menundukkan kepalanya sedikit, lalu berbisik tepat di samping telinga Gisel dengan nada suara bariton yang sangat lembut.
"Terima kasih, Gisella..." ucap Adrian dengan sangat pelan terdengar tulus.
Kata "terima kasih" itu diucapkan dengan intonasi yang begitu dalam, sarat akan makna yang sulit diartikan oleh Gisel. Apakah terima kasih karena tidak jadi mengundurkan diri? Terima kasih karena sudah memaafkannya? Atau terima kasih karena Gisel telah hadir dan mencairkan hidupnya yang sedingin es kutub utara selama ini?
Gisel tersentak. Jantungnya kembali berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Sentuhan napas hangat Adrian di telinganya membuat bulu kuduk Gisel meremang indah.
Namun, akal sehat Gisel segera mengambil alih sebelum ia benar-benar meleleh menjadi bubur. Ia ingat betul di mana mereka sekarang dan siapa saja yang sedang "mengintai" di balik pintu kaca buram itu.
Gisel mendongak sedikit, menatap mata elang Adrian dengan sisa-sisa keberaniannya. Tangannya bertumpu di dada Adrian untuk menjaga jarak aman.
Gisel berbisik panik dengan mata melotot lucu "P-Pak Adrian! Udah ah pelukannya! Inget ya, kita ini lagi di ruangan admin gudang yang sempit! Kalau kita berlama-lama di dalem sini, gosip di grup Telegram si Budi itu bakal makin melebar ke mana-mana, Pak! Nanti dikira kita lagi ngapa-ngapain lagi!"
Mendengar kepanikan Gisel yang sangat masuk akal itu, Adrian tidak membantah. Ia justru menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tulus bukan senyum kemenangan yang menyebalkan, melainkan senyum penuh rasa menghargai.
Adrian sangat menghargai kekhawatiran Gisel yang mencoba menjaga batasan dan nama baik mereka berdua di tempat kerja.
Adrian mengangguk pelan, perlahan melepaskan pelukannya sepenuhnya "Kamu benar. Maafkan keegoisan saya yang terlalu betah di sini. Ayo kita keluar."
Adrian melangkah mundur satu langkah, lalu mengulurkan tangannya yang bersih ke arah Gisel. Senyum tulusnya masih terpatri di wajah tampannya, membuat Gisel sempat terpana selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambut uluran tangan sang CEO dengan malu-malu.
Sesuai dengan kesepakatan manis mereka berdua, Adrian melepaskan genggaman tangannya dari jemari Gisel dengan perlahan. Ia merapikan sedikit kerah kemejanya yang agak kusut, lalu melangkah menuju pintu kaca buram ruangan admin.
Gisel berdiri di belakang Adrian, sibuk menepuk-nepuk rok kerjanya yang berdebu dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih ugal-ugalan.
Adrian memegang gagang pintu besi itu. Dengan satu gerakan santai dan tanpa peringatan, ia memutar kunci dan menarik pintu tersebut ke arah dalam.
Sreeek... BRAKK!
Karena pintu ditarik secara tiba-tiba dari dalam, tumpuan tubuh seseorang yang sejak tadi menempel sempurna di kaca buram itu otomatis hilang seketika.
Sebuah bayangan tinggi langsung meluncur bebas ke depan.
Budi: "Aduuuh... MAMAIII!!!"
Gubraakk!
Budi terjungkal dengan sangat tidak estetik tepat di depan kaki Adrian. Gelas plastik bekas es teh manis yang tadi ia gunakan sebagai alat menguping canggih langsung terlempar ke sudut ruangan, menggelinding pasrah.
Suasana hening sejenak.
Hadi yang berdiri di samping pintu langsung membuang muka ke arah tumpukan ban truk, pura-pura tidak kenal dengan pria yang sedang tengkurap di lantai tersebut. Tangannya memijit pelipisnya yang mendadak pening melihat kelakuan partner intelijennya itu.
Adrian menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah Budi yang masih tiarap di bawah kakinya dengan tatapan datar yang sangat dingin namun kali ini ada sedikit binar geli yang tertahan di matanya.
Adrian melipat tangannya di dada, berbicara dengan nada suara yang sangat tenang "Budi... sedang apa kamu tiarap di lantai gudang yang kotor ini? Sedang mencari noda oli yang hilang atau sedang menguping pembicaraan atasanmu?"
Budi mengerjapkan matanya yang lentik berkali-kali. Dengan sangat perlahan dan penuh gaya dramatis, ia mendongak menatap sepatu pantofel mengkilap Adrian, lalu beralih ke wajah sang CEO yang menjulang tinggi di atasnya.
Budi tersenyum meringis tanpa dosa, terbata-bata mencari alasan "A-aduh... anu, Pak Bos kesayangan eke! Ini lho... eke tadi lagi nyari semut merah yang katanya hobi gigit kabel AC gudang! Sumpah demi bulu mata eke yang lentik ini, Pak! Eke nggak denger apa-apa kok tentang pelukan misalnya tadi di dalam! Suerrr!"
Mendengar kejujuran Budi yang justru membongkar kedoknya sendiri, Gisel di belakang Adrian langsung menepuk jidatnya keras-keras dengan wajah yang kembali merah padam.
Gisel menepuk dahinya dengan sangat keras sampai menimbulkan bunyi plak! yang cukup nyaring di ambang pintu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Budi yang urat malunya seolah sudah putus dan hanyut di sungai Ciliwung.
Wajah Gisel yang tadi sudah mulai kembali normal, kini sukses memerah padam kembali karena Budi dengan polosnya atau sengaja membocorkan kalau dia mendengar pembicaraa mereka atau adegan pelukan di dalam tadi.
Budi yang masih tengkurap di lantai semen yang dingin perlahan bangkit berdiri. Ia mengibas-ngibaskan celana kainnya yang kini berdebu dengan gaya dramatis khas peragawan gagal.
Gisel berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Budi dengan mata melotot "Heh, Mami Budi Budiman! Lo beneran keterlaluan ya! Ngapain pake acara nempel-nempel di pintu kaca segala?! Mana pake bawa-bawa gelas plastik es teh manis lagi! Kurang kerjaan banget sih lo!"
Budi sambil merapikan poni rambutnya yang sedikit berantakan, membela diri dengan tangan meliuk-liuk "Aih, Gisel sayang! Jangan galak-galak dong ah sama eke! Mami kan cuma mau memastikan kalau di dalam ruangan sempit dihiasi kipas angin yang suaranya ala gilingan padi itu tidak terjadi baku hantam antara Kulkas dan Macan! Mami ini peduli keselamatan kalian berdua lho, say!"
"Peduli keselamatan apanya Mi! Bilang aja Mami mau nyari bahan gosip buat di grup Telegram 'Pasukan Pengawal' itu kan?! Ngaku nggak Mi?!" ucap Gisel dengan nada kesal.
Budi refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya melirik ngeri ke arah Adrian
"Aduuuh... Gisel sayang! Jangan keras-keras dong ngomongin grup itu! Nanti eke beneran diledakkan sama Pak Bos di sini juga!"
Adrian yang berdiri menjulang di antara mereka berdua hanya bisa terdiam. Alih-alih mengeluarkan aura dinginnya yang mengintimidasi untuk membungkam perdebatan konyol di depannya, sudut bibir Adrian justru berkedut naik.
Senyum tipis yang sangat tulus kembali terukir di wajah tampannya. Adrian sangat menikmati pemandangan ini dinamika yang sangat jujur, apa adanya, dan penuh warna dari Gisel serta rekan-rekannya yang tidak pernah ia temukan di kalangan elit pemegang saham perusahaan.
Hadi yang berdiri di samping Adrian hanya bisa tersenyum simpul melihat bosnya yang tampak jauh lebih rileks dan bahagia hari ini. Ia menepuk pundak Budi pelan untuk menyudahi perdebatan yang tidak akan ada ujungnya itu.
"Udah, Bud... nggak usah dilanjutin debatnya. Muka Jeng Gisel udah kayak kepiting rebus gitu tuh saking malunya. Ayo kita balik ke lantai atas sebelum jam istirahat selesai." ucap Jadi
Adrian mengangguk setuju, menatap Gisel dengan tatapan teduh "Hadi benar. Ayo kita kembali ke ruangan kita, Gisel. Masih banyak berkas yang perlu kita selesaikan... dan mungkin kita bisa melanjutkan obrolan kita yang sempat tertunda tadi."
Mendengar ucapan Adrian yang kembali menyinggung "obrolan tertunda" di dalam ruangan sempit tadi, Gisel langsung bungkam seribu bahasa. Ia hanya bisa mengangguk kaku dengan wajah yang makin memanas, berjalan mengekor di belakang Adrian menuju mobil lobi depan.
Lantai semen gudang logistik yang tadinya penuh ketegangan beneran berubah total jadi panggung komedi gara-gara celetukan santai sang CEO Kulkas.
Budi yang mendengar kata "obrolan tertunda" keluar dari bibir Adrian dengan intonasi yang begitu dalam, radar gosip di kepala Budi langsung berdengung kencang. Matanya membelalak sempurna sampai bulu mata palsunya yang lentik hampir copot.
Budi sama sekali tidak peduli lagi dengan wibawa Adrian yang berdiri menjulang di sana. Dengan gerakan secepat kilat, ia langsung melompat menghadang langkah Gisel yang hendak mengekor di belakang bosnya.
Budi dengan kedua tangannya memegang bahu Gisel, matanya melotot penuh tuntutan "HEH! Gisel sayangkuh! Jangan kabur dulu lo, say! Apa tadi kata Pak Bos?! Obrolan tertunda?! Wah, wah, wah... di dalam ruangan sempit dengan kipas angin yang bunyinya setara gilingan padi tadi... jujur sama eke! Beneran terjadi adegan tukar saliva alias cipokan maut nggak antara lo sama CEO Kulkas kesayangan kita?! Atau minimal dapet ciuman kening manis yang bikin meleyot?!"
Mendengar pertanyaan Budi yang kelewat vulgar dan frontal tanpa sensor itu, Gisel beneran serasa disambar petir di siang bolong.
Gisel wajahnya meledak semerah buah naga matang, refleks memukul tangan Budi di bahunya. "BUDIII!!! Mulut lo ya beneran minta digunting! Nggak ada ya adegan tukar-tukar begituan! Kita cuma ngobrol biasa tahu!"
Gisel yang panik langsung melirik ke arah Adrian, berharap bosnya itu membantunya membungkam mulut Budi. Namun, apa yang dilakukan Adrian Bramantyo?
Sang CEO Kulkas justru memasukkan satu tangannya ke saku celana, menyunggingkan senyum tipis yang sangat misterius dan penuh kemenangan, lalu menjawab dengan nada suara yang sangat tenang "Mungkin saja... akan menjadi rahasia perusahaan." ucapnya dengan tenang.
BOOOM!
Jawaban "Mungkin saja" dari Adrian beneran jadi bensin yang menyulut ledakan histeria di gudang itu!
"PAAAAK ADRIANNN!!! Jangan bikin gosip makin sesat dong! Sini nggak Bapak! Siniii!!!" Amuk Gisel kepada Adrian.
Hilang sudah semua rasa canggung dan rasa hormat Gisel pada sang bos. Dengan mode Macan Gudang yang menyala-nyala karena malu tingkat dewa, Gisel langsung berlari mengejar Adrian yang sudah mulai melangkah santai menuju mobil. Adrian bahkan terkekeh pelan sambil mempercepat langkahnya, menikmati ekspresi panik menggemaskan dari sekretarisnya.
Di sisi lain, Budi yang mendengar jawaban Adrian langsung mengalami syok emosional tingkat tinggi. Ia memegang dadanya dengan dramatis, matanya mendelik ke atas seolah kehabisan napas.
"Aduuuh... Hadidittt! Jantung eke copot, say! Kapal kita beneran berlayar ugal-ugalan! Eke pingsaaannn!" Budi dengan gaya alaynya sambil memegang dadanya.
Bruukk!
Budi dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke arah samping, mendarat dengan sangat pas di pelukan Hadi yang berdiri tepat di sebelahnya.
Hadi yang tidak siap menerima beban tubuh Budi yang lumayan berisi itu langsung terhuyung ke belakang. Dengan wajah yang luar biasa pasrah dan datar, ia terpaksa menahan tubuh Budi yang sedang pura-pura pingsan dengan mata terpejam tapi bibirnya masih tersenyum-senyum mesum.
Hadi hanya bisa menghela napas panjang menatap Gisel yang masih sibuk mengejar Adrian di kejauhan.
"Gini amat ya kerja di perusahaan konglomerat," batin Hadi pasrah.
**
Gisel benar-benar tidak peduli lagi dengan martabatnya sebagai sekretaris di depan para sopir dan kenek yang menonton. Jawaban Adrian yang menggantung dan ambigu itu adalah bencana besar bagi ketenangan hidupnya di kantor.
Sambil setengah berlari kecil mengejar langkah jangkung Adrian yang sengaja dipercepat, Gisel terus mengoceh dengan wajah yang sudah semerah udang rebus.
Gisel berlari kecil di samping Adrian, napasnya ngos-ngosan "Pak Adrian! Berhenti dulu nggak, Pak! Bapak harus balik lagi ke si Budi dan bilang kalau omongan Bapak tadi cuma bercanda! Klarifikasi, Pak! Cipokan atau apa tadi itu... itu fitnah! Tidak ada kejadian seperti itu di dalam ruangan tadi!"
Adrian tidak berhenti. Ia terus melangkah santai menuju mobil sedan mewah yang sudah diparkir Hadi di lobi depan. Namun, mendengar kepanikan Gisel, sudut bibirnya kembali berkedut menahan senyum geli. Ia sangat menikmati bagaimana "Macan Gudang"-nya ini meronta-ronta menuntut keadilan.
Adrian berbicara dengan nada sangat tenang tanpa menoleh "Saya tadi hanya bilang 'mungkin saja', Gisel. Itu bukan kebohongan. Itu adalah jawaban diplomatis agar Budi berhenti bertanya."
Gisel makin histeris, menyamakan langkahnya "Diplomatis gimana sih maksudnya, Pak! Apapun kalimat bapak di telinga Budi, kata 'mungkin' itu artinya 'iya beneran terjadi'! Bapak tahu sendiri kan mulut dia se-lemes apa?! Besok pagi gosip kita ciuman di atas tumpukan ban bakal menyebar sampai ke OB lantai satu"
"Pak! Please, Ayolah, Pak Adrian... ralat ucapannya!" Gisel terus meronta secara verbal dan mencoba menarik-narik ujung jas Adrian yang berdebu agar pria itu berbalik. Tapi Adrian tetaplah Adrian.
Sang CEO Kulkas ini hanya tersenyum tipis dan terus berjalan dengan tenang, membiarkan Gisel "menyalak" di sampingnya sampai mereka tiba tepat di depan pintu mobil.
Begitu sampai di depan pintu belakang mobil, Adrian akhirnya berhenti. Ia berbalik badan, membuat Gisel yang sedang mengomel refleks mengerem langkahnya agar tidak menabrak dada bidang sang bos untuk kesekian kalinya.
Adrian menatap Gisel yang kini menatapnya dengan tatapan frustrasi tingkat dewa. Dadanya naik-turun karena lelah mengomel dan mengejarnya.
Adrian menatap Gisel dengan binar mata yang sangat teduh dan geli "Masuklah ke dalam mobil, Gisel. Udara di luar sini terlalu panas untuk emosimu yang berapi-api itu."
Gisel menghentakkan kakinya ke lantai paving dengan sangat keras. Ia benar-benar frustrasi. Diamnya Adrian, senyuman tipisnya, dan sikapnya yang seolah tidak peduli dengan rumor "tukar saliva" buatan Budi itu beneran bikin Gisel gemas setengah mati!
Gisel membatin dengan emosi jiwa Aaaaaakkkhhh!!! Ini orang beneran Kulkas Rusak! Dia nggak sadar apa harga diri gue sebagai wanita terhormat lagi dipertaruhkan?! Kenapa dia keliatan anteng-anteng aja dan nggak masalah dibilang habis cipokan sama bawahan sih?! Apa jangan-jangan... dia beneran ngarep itu kejadian beneran?! Ih, dasar Bos Kulkas Moduuus!!!
Gisel hanya bisa mendengus kencang, membuka pintu mobil bagian belakang dengan kasar, dan mengempaskan tubuhnya di jok kulit yang empuk dengan bibir yang mengerucut sebal. Ia kalah telak lagi oleh ketenangan Sang Kulkas.
to be continue