Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9—Berlatih ll
Dua Minggu sudah berlalu, dan Yuofan konsisten berlatih dibawah pengawasan Wuxu. Saat ini ia sudah membuka dantiannya dan mulai bisa berkultivasi untuk mengelola energi disekitarnya. Bukan hanya sekarang ia sudah menjadi seorang kultivator, tetapi Yuofan juga sudah bisa menggunakan pedangnya dengan lebih baik.
Selama seminggu terakhir, ia sudah tidak menaiki bukit dengan membawa bebatuan, tetapi diganti dengan mengayunkan pedang sebanyak seribu kali dan akan dikali dua setiap harinya, serta melakukan kuda-kudaan selama 10 menit dan tentu dikali dua juga setiap harinya. Bahkan saat ini otot tangan dan kakinya mulai sedikit terbentuk walau tidak terlalu menonjol.
Selama dua minggu itu juga, bukan hanya belajar tetapi Yuofan juga harus rutin memberikan banyak nutrisi yang baik untuk ibunya. Ia juga membeli berbagai macam pil yang bisa membantu menyehatkan tubuhnya. Ia tetap melakukan rutinitas nya seperti biasa, berburu, menjual buruan, memberi makan ibunya, memandikannya, dan menidurkannya. Sebelum tidur, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca banyak buku yang membahas teknik-teknik menarik.
Diantaranya ada teknik menyelinap yang bisa ia gunakan ketika akan berburu bernama Zharvak—Hantu, lalu teknik yang dibuat langsung oleh Wuxu yaitu Sona Nihilvak—Zona Hampa, selanjutnya adalah sebuah teknik langkah yang bernama Strav Schadara-Nistra—Langkah tanpa bayangan, kemudian teknik penyimpanan yang juga di ciptakan oleh Wuxu, yaitu Raumak Voidra—Ruang hampa. Dan terakhir adalah sebuah teknik berpedang yang memadukan tarian dan ayunan pedang, yaitu Varka Tausenblad—Tarian seribu pedang.
Dan saat ini, didalam istana, Yuofan terlihat tengah membaca buku yang ia sebelumnya ia baca terkait pengelolaan energi. “Aku ingin mencoba bab kedua dari buku kemarin,” ucap Yuofan seraya menutup buku dan mengambil pedang hitam yang ia letakan didekat tiang.
Wuxu yang sedari tadi berada di atas kepala Yuofan hanya mengangguk memberikan ijin. Ia kemudian melayang menjauh untuk bisa memperhatikan lebih jelas.
Pada bab dua ini masih serupa dengan bab pertama yaitu tentang mengambil dan mengelola energi, tetapi bedanya disini Yuofan harus melakukannya dengan kondisi tubuh bergerak—bukan duduk bersila. Yang mana ini memerlukan fokus tinggi, apalagi taruhannya adalah kerusakan pada dantian.
Tetapi Yuofan sudah membulatkan tekadnya dan yakin bahwa ia pasti bisa. Ia lalu menarik nafasnya perlahan, disana ia bisa merasakan bahwa energi qi didalam tubuhnya mengalir dengan teratur. Ia kemudian mengangkat pedangnya lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh, ia terus melakukan itu berulang kali dengan tempo yang sama dengan nafasnya.
Dari gerakan yang awalnya hanya berupa ayunan sederhana, perlahan mulai berubah menjadi tebasan yang lebih jelas. Begitupun dengan kuda-kudanya yang semula hanya berdiri kaku juga mulai berubah. Ia melangkah perlahan ke depan, lalu menggeser kakinya ke samping untuk menjaga keseimbangan. Dari langkah-langkah sederhana itu, tubuhnya mulai bergerak lebih luwes.
Sesekali ia memutar tubuhnya, membiarkan pedangnya mengikuti putaran tersebut. Bilah pedang itu bergerak membentuk lengkungan halus di udara, meninggalkan jejak-jejak pedang yang seolah terdapat banyak pedang di sekelilingnya. Yuofan lalu menurunkan tubuhnya sedikit, menekuk lutut untuk menjaga pijakan tetap stabil. Dari posisi itu ia mengayunkan pedang secara mendatar, lalu menariknya kembali sebelum melanjutkan dengan tebasan dari atas ke bawah. Setelahnya ia memutar pergelangan tangannya, mengubah arah bilah pedang menjadi serangan menyilang.
Langkah kakinya terus bergerak mengikuti ritme pernafasannya serta tebasan nya. Satu langkah maju, satu langkah menyilang, lalu berputar ringan untuk menjaga arah tubuhnya tetap seimbang. Ditengah gerakan itu, Yuofan tetap fokus menarik setiap energi yang ada disekitarnya.
Diakhir, Yuofan memutar pedang itu dan menyimpannya kembali didekat tiang. “Sepertinya ini berhasil?” ucapnya merasa bahwa tubuhnya baik-baik saja.
“Yap, berhasil dengan bagus.” Wuxu menatap Yuofan datar seraya memberikan dua jempol nya. Ia kemudian kembali bertengkar diatas kepala Yuofan untuk bersantai.
“Tetapi sebenarnya teknik ini dipergunakan untuk mengelola energi iblis, tetapi karena energi iblis tidak selalu muncul disini, maka ini tidak bisa dibilang sempurna,” ucap Wuxu seraya menyelimuti dirinya dengan rambut Yuofan.
“Tetapi kau masih bisa menggunakan, terus lah pakai dalam setiap kondisi. Mau itu ketika kau tengah berjalan, makan, mandi, tidur, atau bahkan buang air besar. Agar tubuhmu terbiasa, anggap saja ini sebagai latihan untuk kefokusanmu.” lanjutnya seraya mulai menutup kedua matanya.
“Eh? Apakah itu tidak akan apa-apa? Bagaimana jika tiba-tiba fokus ku hancur?” Yuofan terlihat ragu mendengar itu.
“Awalnya memang akan sulit, tetapi seiring berjalannya waktu itu akan menjadi otomatis. Karena pada saat itu fokus mu sudah tinggi.” balas Wuxu.
Yuofan mengangguk mengerti. Ia pun tetap menggunakan teknik pernafasan itu dan terus mengelolanya.
Ia kemudian kembali duduk didekat altar untuk membaca kembali bab berikutnya pada buku itu. Tetapi sebuah getaran aneh terasa, bahkan beberapa saat kemudian tiba-tiba sebuah energi besar mengalir dengan cepat. Hal ini membuat Yuofan tertegun, begitupun dengan Wuxu yang langsung terbangun kembali.
“Apa-apaan itu?” ujar Wuxu dengan raut wajah kesal.
Yuofan mengambil pedangnya, ia lalu berjalan keluar dari istana, dan segera mengikuti arah sumber energi yang ia rasakan. Semakin jauh ia melangkah, hawa di sekitarnya terasa semakin panas. Tak lama kemudian, ia tiba di sebuah gunung berapi yang menghembuskan asap tipis dari puncaknya.
Untuk melihat lebih jelas, Yuofan memanjat sebuah batang pohon besar yang tumbuh tak jauh dari sana. Ia berdiri di atas batang itu dan mengarahkan pandangannya ke sekitar gunung berapi. Seketika matanya membulat sempurna, terkejut dengan apa yang ia lihat. Karena dii sekitar kaki gunung berapi itu berdiri lima makhluk buas berukuran besar. Tanpa perlu merasakannya lebih dalam, Yuofan sudah tahu bahwa kekuatan mereka jauh melampaui dirinya.
Makhluk pertama adalah seekor ular raksasa. Tubuhnya panjang melingkar di tanah, dengan sisik-sisik keras yang berkilau seperti baja di bawah cahaya redup gunung berapi. Tak jauh darinya berdiri seekor kera raksasa, tubuhnya besar dan kokoh, sementara kulitnya tertutup lapisan api yang berkobar bersemangat, bercampur dengan pecahan batu panas yang menempel seperti pelindung alami.
Di sisi lain terdapat seekor harimau besar dengan tiga kepala. Ketiga pasang matanya menatap ke arah gunung berapi, sementara ekornya yang berbentuk seperti kipas berkibas diudara. Dan terakhir, tak kalah mengerikannya, seekor beruang besar berdiri dengan tubuh dipenuhi bulu yang keras dan tajam, menyerupai deretan duri-duri tajam diatas kulitnya.
Keempat makhluk itu berdiri mengelilingi gunung berapi, seolah sedang menunggu sesuatu. Yuofan hanya bisa diam di atas batang pohon, menahan napas agar keberadaannya tidak disadari. Bola matanya bergetar merasakan kengerian yang dipancarkan oleh para binatang itu.
“Sepertinya mereka berada di tingkat 7 atau setara dengan ranah penyucian roh tingkat 8.” ujar Wuxu yang juga bisa merasakan aura intimidasi dari kelima binatang buas itu.
“Aku rasa akan ada sesuatu berharga yang akan keluar dari gua itu,” Wuxu tersenyum kecil penuh siasat. Yuofan bisa merasakan bahwa perasaannya menjadi sedikit tidak enak saat itu.
“Ayo kita curi!” lanjut Wuxu dengan semangat membuat Yuofan terbatuk-batuk terkejut.