sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
...
..
Pukul 07.30 WIB. Ruang kelas 11-A yang biasanya bising, pagi ini senyap mencekam. Bau kertas ujian baru dan parfum maskulin bercampur karbol lantai memenuhi ruangan. Pak Bambang duduk di depan dengan penggaris kayu panjang, matanya menyapu setiap sudut kelas seolah mencari mangsa yang berani menoleh satu derajat pun.
Di barisan tengah, Rea duduk tegak. Penanya bergerak cepat, stabil, dan tanpa ragu. Di sebelah kanannya, Ziro juga tampak tenang, sesekali memperbaiki letak kacamatanya sambil menghitamkan lembar jawaban dengan presisi seorang Grandmaster. Di barisan belakang Rea, ada Bagas yang tampak berkeringat dingin, bolak-balik ngecek jawaban karena takut kalah saing sama Ziro.
Dan di paling belakang, di pojok dekat jendela... Axelle duduk dengan gaya paling santai sedunia.
Axelle nggak butuh coret-coretan kertas buram sebanyak Rea. Matanya cuma menatap soal, otaknya bekerja seperti kalkulator super cepat, lalu dia menghitamkan jawaban. Menariknya, Axelle nggak asal isi. Dia bener-bener memperhitungkan.
"Matematika Peminatan... kalau gue dapet 90, nanti rata-rata rapor gue naik terlalu drastis. Gue butuh 76 aja biar aman di atas KKM tapi tetep kelihatan 'begok' di mata Daddy," batin Axelle sambil menyeringai tipis.
Dia sengaja salahin tiga soal tersulit, dan ngelewatin dua soal bonus. Totalitas dalam menyamar jadi "siswa biasa-biasa saja" emang butuh skill tinggi.
Pukul 08.15 WIB. Baru 45 menit ujian berjalan dari waktu dua jam.
BRAK!
Axelle berdiri, menggeser kursinya dengan bunyi nyaring yang bikin seisi kelas tersentak. Bagas hampir menjatuhkan penghapusnya, sementara Ziro menoleh dengan tatapan terganggu.
"Selesai, Pak," ucap Axelle santai. Dia berjalan ke depan, meletakkan lembar jawabannya di meja Pak Bambang dengan gaya angkuh.
"Axelle! Waktu masih banyak! Kamu sudah cek lagi?!" tegur Pak Bambang sangsi.
"Sudah, Pak. Otak saya udah panas, mau cari angin," jawab Axelle sambil nyengir tengil.
Sebelum keluar pintu, Axelle sengaja lewat di samping meja Rea. Dia menunduk sedikit, pura-pura benerin tali sepatunya yang sebenernya nggak lepas, lalu berbisik sangat pelan di dekat telinga Rea.
"Jangan kelamaan mikir, Koala. Jawaban nomor 15 itu C, bukan D. Sistem lo lagi delay ya?"
Rea membeku. Penanya terhenti tepat di nomor 15. Dia baru saja mau menghitamkan D, tapi setelah dipikir ulang pake logika kilat... Anjir, Axelle bener!
Axelle melenggang keluar kelas dengan tangan masuk ke saku, meninggalkan Rea yang mukanya mendadak merah padam dan Ziro yang meremas pensil 2B-nya sampai hampir patah. Ziro tahu, Axelle baru saja melakukan "serangan mental" di tengah ujian.
Rea keluar ruangan dengan langkah gontai. Otaknya panas bukan karena soal, tapi karena bisikan Axelle tadi. Gimana bisa cowok yang kerjaannya balapan itu tau jawaban soal olimpiade di nomor 15 hanya dengan sekali lirik?!
"Re, lo oke? Muka lo pucet banget," tanya Bagas yang langsung nyamperin Rea sambil bawa air mineral.
"Gue oke, Gas. Cuma pusing dikit," jawab Rea.
"Tadi Axelle bener-bener keterlaluan ya, ganggu konsentrasi lo pas ujian. Harusnya gue laporin ke Pak Bambang tadi," gerutu Bagas kesal.
Tiba-tiba, suara knalpot motor sport yang menggelegar terdengar dari arah parkiran dekat gedung kelas. Axelle lewat di atas motornya, tanpa helm karena cuma muter-muter area sekolah, rambutnya berantakan kena angin, kelihatan gantengnya nggak manusiawi.
Axelle ngerem mendadak di depan Rea, Bagas, dan Ziro yang baru keluar.
"Woi, para pemikir keras! Masih idup?" ledek Axelle. Matanya tertuju ke Rea. "Gimana nomor 15? Berterima kasihlah sama 'bantal' lo semalem, Re. Otak lo jadi agak encer dikit kan?"
"AXELLE! Jaga mulut lo!" bentak Ziro, suaranya dingin menusuk. "Maksud lo apa soal 'bantal'?"
Axelle cuma menaikkan alis, menyeringai menang liat muka Ziro yang udah kayak mau ngajak duel. "Tanya aja sama Ketos kesayangan lo, MPK. Dia lebih tau rasanya daripada lo."
Axelle langsung tancap gas, meninggalkan kepulan asap dan aroma maskulin yang bikin Rea pengen tenggelam ke dasar bumi saat itu juga.
PLUK!
Penghapus putih milik Rea meluncur mulus dan mendarat telat di bahu jaket Axelle sebelum jatuh ke bawah. Axelle ngerem mendadak, hampir aja oleng kalau kakinya nggak sigap menahan beban motor sport-nya.
"AXELLE AIDIDEV ATHARIC! TUTUP MULUT LO ATAU GUE SKORS SEUMUR HIDUP!" teriak Rea. Mukanya bener-bener merah padam, napasnya memburu di balik kacamata yang sedikit melorot.
Seisi koridor yang lagi ramai murid kelas 11-A mendadak sunyi. Ziro berhenti melangkah, matanya menyipit tajam menatap interaksi "panas" itu. Bagas melongo, nggak percaya Rea bisa se-agresif itu di depan umum.
Axelle bukannya marah, dia malah memungut penghapus itu sambil terkekeh pelan. Dia memutar motornya mendekati Rea, lalu mengulurkan penghapus itu dengan ujung jari.
"Galak amat, Koala. Nih, simpen. Sayang kan kalau ilang, nanti lo nggak bisa hapus memori semalam," bisik Axelle, suaranya cukup rendah tapi tetep bikin Ziro yang berdiri dua meter di sana ngerasain aura persaingan.
"Pergi lo!" desis Rea sambil ngerampas penghapusnya kasar.
Axelle nyengir tengil, ngerapihin rambutnya yang berantakan, terus tancap gas ninggalin parkiran dengan suara knalpot yang memekakkan telinga. Dia puas banget udah bikin sistem robot Rea overheat di depan para pemujanya.
Pukul 19.00 WIB - Apartemen
Rea duduk di meja bar dengan tumpukan buku Fisika dan Kimia untuk ujian besok. Tapi, fokusnya berantakan. Tiap kali dia liat penghapus putih di samping laptopnya, dia inget bisikan Axelle soal "bantal" dan "nomor 15".
"Sialan... kenapa dia bisa tau jawaban itu cuma sekali lirik?" gumam Rea frustrasi.
CEKLEK.
Pintu apartemen terbuka. Axelle masuk dengan santai, nenteng plastik minimarket berisi camilan dan dua botol kopi kaleng. Dia langsung duduk di samping Rea, tanpa permisi ngebuka satu botol kopi dan naruh di depan Rea.
"Minum dulu, biar otaknya nggak meledak mikirin gue," celetuk Axelle.
Rea nggak nengok. "Gue nggak mikirin lo. Gue lagi mikirin hukum Archimedes."
"Hukum Archimedes itu gampang, Re. Yang susah itu hukum gravitasi antara gue sama lo, tarikannya kuat banget kan?" ledek Axelle sambil mulai ngebuka buku Fisika Rea.
Rea mau marah, tapi matanya melotot pas liat Axelle dengan santai nyoret-nyoret kertas buramnya. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Axelle udah selesai ngerjain soal latihan paling sulit yang sedari tadi bikin Rea pusing.
"Nih. Pake logika arus balik aja, nggak usah muter-muter pake rumus panjang yang diajarin Pak Bambang. Kelamaan," ucap Axelle sambil menyodorkan kertas itu.
Rea ngeliat jawabannya. Benar. Sangat logis. Sangat cerdas.
"Lo... lo dapet gen pinter dari siapa sih, Xel? Perasaan Daddy lo sibuk kerja, bukan sibuk ngerjain soal fisika," tanya Rea tanpa sadar, mulai luluh sama kejeniusan suaminya.
Axelle terdiam sebentar, tatapannya sedikit meredup. "Gen Daddy, dia emang pinter, Re. Cuma dia milih pinter buat cari duit, sedangkan gue milih pinter buat cari masalah. Adil kan?"
Axelle tiba-tiba berdiri di belakang kursi Rea, tangannya bertumpu di sandaran kursi, mengurung Rea. "Besok ujian Kimia. Lo mau gue ajarin cara 'reaksi kimia' yang bener antara dua manusia?"
Rea menelan ludah. Jantungnya mulai balapan lagi. "Axelle... gue mau belajar beneran..."
"Gue juga mau ngajarin lo beneran, Sayang..." bisik Axelle tepat di telinga Rea. lalu pergi meninggalkan Rea yang memerah antara emosi dan BAPER
yang ANYA dan EL saja belom move on thorrr, muncul lah si tengil ell, makin cintaaa thor🤗🤗
😍😍
takut gula darah naik🤭
terlalu manis soalnya🥰🥰
akhir nya rea menyerah kan diri ooohh , sweet nya axelle bahagia. banget ya yg udh dapet jatah🤣🤣🤣🤣
nyari es batu lahhh🤭
love bagt sama Valerie 🥰🥰
meleleh adek bang🤣🤣🤣🤣
terimakasih Thor
love sekebonnnnn🥳🥳🥳
nangis bombay gak tu si vanya gimna hati vanya masih aman 🤣🤣
pengen ngegaplok si ziro deh sok sotoy banget terherman² aku nya🤣🤣
gedhek bgtsss sama Vanya n the geng, ziro harata apalah itu🤭
tapi saling berharap ,
di depan entar nemu bawang apa nemu krupuk thor , semankin penasaran sama kehidupan rea kedepanya , gimna nasib hubungan axelle sama rea nanti
cepet buntingin rea nya xel,
biar kelar hidup ziro.
wkwkwkwkkw