NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Bab 7

Bumi masih ada di toilet. Termenung bingung. Ia bangkit lalu mencoba gerakan mencekik, atau memiting, atau menendang dan meninju.

“Arrrggh!” Bumi melihat sekeliling, tidak ada alat tajam.

Apa aku harus pecahkan kaca? Kata Bumi dalam hati sambil melihat cermin.

Terdengar ketukan pintu toilet di luar, “Bumi?”

“Ya?”

“Kenapa lama sekali di toilet?” tanya suara yang sepertinya adalah suara Anya.

Bumi membuka pintu toilet, lalu keluar menemui Anya. “Aku cuma bersiap. Untuk nanti malam.”

“Oh,” Anya tertegun. “Kalau begitu, kamu harus mandi.”

“Tapi nggak usah ditonton kan?”

“Aku harus melakukannya.”

“Kenapa?”

“Supaya kamu tidak melakukan hal aneh.”

“Seperti?”

“Entah lah, kabur?” tanya Anya lalu ia berjalan ke arah pemandian.

Langkah Bumi sangat gontai, tidak mau mandi, tidak mau tidur dengan Shopia, walau badan Shopia mungkin badan yang sangat ideal dan bisa jadi digila-gilai teman-teman sekolahnya, tapi tidak. Ia tidak mau melakukannya, apalagi membunuh. Tapi bagaimana dengan Pam. Apakah benar Pam akan mati? Bumi juga tidak mau membunuh Pam.

Akhirnya Anya dan Bumi tiba di tempat pemandian. Bumi langsung membuka bajunya.

“Kamu sudah lama tinggal di sini?”

“Ya, lumayan.”

“Berapa tahun?”

“Hum, kenapa?”

“Aku ingin tahu saja. Berapa lama suku ini bertahan.”

“Cukup lama. Kamu tahu ketika yajuj dan majuj menguasai dunia, dan semua orang lari. Kami termasuk yang berhasil bertahan dari itu.”

Bumi tertegun. Bukan kah kalau yajuj dan majuj muncul berarti sudah kiamat.

“Berarti dunia sudah kiamat?” tanya Bumi yang melirik pisau kecil di pinggang Anya.

“Belum. Mereka masih hidup.”

“Yajuj dan majuj?” Bumi kini hanya memakai celana dalamnya.

Anya menganggukkan kepala.

“Di mana?” tanya Bumi heran.

“Apa kamu nggak kedinginan? Kamu mau ngobrol sampai kapan?”

Bumi menghela napas, ternyata Anya tahu dia mengulur waktu. “Kamu mau ikut mandi?”

“Hah?” Anya kaget.

“Ayo, temenin aku.” Bumi melirik ke kolam.

Anya tertegun. Memang mereka hanya berdua saja.

“Bukannya nanti kamu juga harus aku hamili?” Bumi pura-pura polos.

“Iya. Kamu memang harus menghamili semua orang di sini.”

“Ya sudah, ayo, mandi bareng.”

Anya tampak ragu.

“Kalau tidak, aku tidak mau mandi.”

“Baik lah. Aku rasa Ms Shopia tidak keberatan aku mandi sama kamu.”

“Betul!” Bumi tampak senang. Bukan karena jadi bisa melihat badan Anya yang mungkin kata Pam adalah memiliki kulit yang kendur, tapi ia juga jadi bisa mengambil belati yang Anya lepaskan dari bajunya.

Dengan cepat Anya membuka bajunya. “Ayo masuk!”

Bumi kaget, ternyata Anya tidak seperti yang dibilang Pam. Kulit badannya putih, mulus dan masih kencang sempurna seperti Shopia. Bumi menunduk malu melihat dada Anya yang sangat indah. Ia berusaha fokus ke belati yang ada di dekat bajunya Anya.

“Kamu anaknya Ms Shopia?” tanya Bumi yang sudah bisa melihat Anya, karena sekarang badan Anya berada di dalam kolam.

“Iya. Semua orang di sini adalah anaknya.”

“Kalau Ms Shopia mati, kalian mati?”

“Kamu mau membunuh Ms Shopia?”

“Nggak!” Bumi berpaling. Bodoh sekali bertanya seperti itu, nanti jadi ketahuan, kata Bumi dalam hati.

Tiba tiba seorang ajudan datang ke dalam pemandian dengan wajah panik, “Ms Anya!” Dia kaget karena Anya sedang mandi bersama Bumi.

“Ada apa?” tanya Anya dengan tenang.

“Orang itu sudah ditemukan,” jawab Ajudan itu.

Anya langsung keluar dari kolam. Bumi mengikutinya cepat-cepat. Anya memakai baju terburu-buru. Bumi berusaha mengambilkan baju, belati, dan panah yang biasa ada di bawa Anya.

“Terima kasih,” Anya menerima panah dari Bumi, lalu bergegas jalan keluar dari pemandian, “Kamu tunggu di sini.”

“Oke, siap.” Bumi menyembunyikan belati di balik punggungnya.

Anya dan Ajudan bergegas pergi. Bumi memakai bajunya, lalu menyembunyikan belati di balik rompi kulitnya.

Ketika Bumi keluar dari pemandian, ada dua orang ajudan menghadangnya. “Aku mau ketemu Ms Shopia.”

“Tidak. Kami diperintahan untuk menjaga kamu di sini!”

“Aku kedinginan, lapar!”

“Tidak, kami harus menjaga kamu di sini.”

“Katanya aku harus tidur sama Ms Shopia!”

Kedua ajudan perempuan itu saling lirik.

“Ms Shopia sedang ada keperluan.”

“Oh, berarti aku tidak jadi tidur dengannya?” Bumi lega dan senang.

Kedua ajudan itu saling berdiskusi. Antar membawa ke kamar, menugnggu di sini atau baw ke tempa Shopia sekarang juga.

“Aku rasa aku sebaiknya dibawa ke tempat Ms Shopia!” kata Bumi memberikan usuluan.

Akhirnya Bumi dibawa ke tempat aula di mana Ms Shopia sedang bersama Anya dan yang lainnya. Ternyata mereka sedang menyidang Pam.

Pam tampak sudah tua dan semakin lemah.

“Tunggu! Kalian mau apain dia?” tanya Bumi yang langsung berdiri di depan Pam.

“Kamu tahu dia?” tanya Shopia.

“Dia bilang, kamu itu mengambil jiwa mudanya! Dan mau mengambil jiwa mudaku juga!”

Shopia tertawa, “Kamu telah terbujuk ceritanya. Justru dia yang mengambil jiwa muda orang lain. Makanya kamis emua mengejarnya, supaya dia nggak memakan korban.”

“Jangan percaya,” Pam bergumam lemah. Kaki dan tangannya terikat.

Shopia mendekati Bumi, “Dia sebentar lagi mati. Kalau dilepas, dia bisa mengambil semua jiwa muda yang ada di ruangan ini.”

“Aku akan bantuin kamu kembali,” gumam Pam lagi.

“Ayo, ikut aku,” Shopia mengajak Bumi keluar dari aula. “Kalian, masukan dia ke penjara!”

“Baik,” kata Anya lalu membawa Pam pergi dari ruangan itu.

--

Bumi dan Shopia masuk ke kamar Shopia yang lagi-lagi tanpa jendela atau ventlasi. Sebuah ruangan gelap berdinding granit hitam, dengan lampu tempel yang terbuat dari listrik. Entah dari mana listrik itu, Bumi masih tidak tahu.

“Kita tidak punya waktu lagi,” Shopia memeluk Bumi dan memegang selangkangan Bumi.

Bumi memejamkan mata, tidak tahu harus percaya pada Pam atau siapa. Ia lalu mengambil belati dan mendorong Shopia. “Berhenti!”

Shopia kaget, Bumi mendongkan senjata. “Kamu mau apa?”

“Kamu dan suku kamu mau aku menghamili supaya kalian bisa punya anak-anak yang bisa diambil jiwa mudanya kan?”

Shopia diam.

“Aku bunuh kamu!”

“Oke. Iya. Aku memang mau melakukan apa yang kamu bilang. Kami adalah suku maya immortal. Perempuan yang bisa mengambil jiwa muda orang lain untuk bisa immortal. Dan kami butuh orang yang bisa menghamili kami tanpa meninggal.”

Gila! Kata Bumi dalam hati.

“Ayo, bunuh aku?” kata Shopia. “Aku tahu kamu masih muda, dan tidak mungkin membunuh siapapun.”

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!