Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror di aspal dan perjalanan menuju Jakarta
Setelah ancaman di ban motor Bagas, suasana di Markas Besar tidak lagi terasa aman. Mereka menyadari bahwa kemenangan di ruang mediasi kemarin hanyalah pembuka tutup botol dari kemarahan besar yang sedang mendidih. Pak Gunawan mungkin ada di balik jeruji besi, tapi kaki-tangannya masih berkeliaran, seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun mereka pergi.
"Mulai hari ini, nggak ada yang boleh jalan sendirian," perintah Bagas Putra dengan nada yang tidak bisa dibantah. Matanya terus waspada memperhatikan setiap sudut tempat parkir kampus. "Eno, lo bonceng Rhea. Juna sama Gia. Laras bareng gue. Dan jangan lewat jalan yang sepi, meskipun itu jalan pintas."
"Gas, lo nggak berlebihan?" tanya Rhea Amara yang tampak sedikit pucat. "Kita kan cuma mahasiswa, bukan agen rahasia."
"Bagus kalau mereka cuma anggep kita mahasiswa, Rhe," sahut Gia Kirana sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas anti-maling. "Tapi masalahnya, kita mahasiswa yang baru saja mempermalukan perusahaan pemberi 'upeti' buat orang-orang berpengaruh. Mereka nggak akan tinggal diam."
Seminggu menjelang final NYIC di Jakarta, tekanan makin terasa. Juna Pratama melaporkan bahwa laptopnya berkali-kali mencoba diretas. Untungnya, Juna sudah memasang sistem pertahanan berlapis. Sementara itu, Eno Surya yang biasanya paling ceria, mulai merasa diikuti oleh sebuah motor sport hitam setiap kali dia pulang dari kerja sambilannya sebagai maskot.
"Gue ngerasa kayak di film-film thriller, Jun," curhat Eno saat mereka sedang melakukan pengecekan terakhir pada mesin 'Resimen Hijau'. "Gue berhenti di lampu merah, dia berhenti. Gue belok ke tukang bakso, dia nunggu di seberang. Pas gue samperin, dia langsung tancap gas. Sumpah, jerapah ungu ini mulai merasa terancam."
Puncaknya terjadi tiga hari sebelum keberangkatan. Saat mereka sedang lembur di garasi Juna, sebuah botol kaca berisi bensin dengan sumbu menyala dilempar ke arah gerbang.
PRANG!
Api berkobar di depan gerbang. Beruntung, Bagas yang sedang berada di luar untuk mencari angin dengan sigap mengambil alat pemadam api ringan milik ayah Juna.
"BAJINGAN!" teriak Bagas sambil menyemprotkan APAR. Dia melihat motor sport hitam itu melesat menjauh di kegelapan malam.
Dewi Laras keluar dengan wajah ketakutan, langsung memeluk lengan Bagas. "Gas, cukup. Kita lapor polisi aja, ya? Gue nggak mau ada yang terluka."
"Lapor polisi pun susah, Ras," sahut Bagas sambil mengatur napasnya yang memburu. "Bokap gue bilang, kasus ini 'sensitif' karena melibatkan nama-nama besar di Jakarta. Kita harus menangin lomba ini dulu. Kalau kita menang dan dapet sorotan media nasional, mereka nggak akan berani sentuh kita sembarangan."
Hari keberangkatan pun tiba. Mereka menyewa sebuah mobil boks tua untuk mengangkut mesin 'Resimen Hijau' menuju Jakarta. Bagas dan Eno duduk di depan bersama sopir sewaan, sementara Laras, Gia, Rhea, dan Juna mengikuti di belakang dengan mobil pribadi milik keluarga Gia.
Perjalanan darat sejauh sepuluh jam itu terasa sangat panjang. Di dalam mobil, Laras terus menggenggam ponselnya, memantau setiap berita yang mungkin muncul.
"Laras, istirahatlah," kata Gia lembut. "Lo udah nggak tidur dua hari gara-gara nyusun pidato presentasi."
"Gue nggak bisa, Gi. Gue merasa kalau gue nutup mata, sesuatu yang buruk bakal terjadi," sahut Laras.
Tiba di Jakarta, mereka langsung menuju lokasi karantina di sebuah hotel di bilangan Jakarta Pusat. Suasana hotel yang mewah kontras dengan penampilan mereka yang kucel dan lelah. Di lobi, mereka berpapasan dengan tim dari universitas ternama lain yang tampil dengan jas seragam dan peralatan canggih.
"Lihat tuh," bisik Eno sambil menunjuk tim lawan. "Mereka bawa printer 3D. Kita cuma bawa mesin yang badannya dari plat besi bekas bengkel."
"Alat boleh dari besi bekas, No," sahut Bagas sambil menepuk bahu Eno. "Tapi otaknya Juna sama Gia itu orisinal. Dan keberanian lo itu... ya, lumayanlah buat hiburan."
Saat pendaftaran ulang, sebuah insiden terjadi. Panitia menyatakan bahwa nama tim 'Resimen Hijau' tidak ada dalam daftar peserta final.
"Gimana mungkin?! Kami dapet email konfirmasinya seminggu yang lalu!" protes Gia di depan meja registrasi.
"Maaf, Mbak. Tapi menurut sistem kami, tim Anda didiskualifikasi karena masalah sengketa hak cipta yang dilaporkan oleh Global Eco-Tech," jawab petugas pendaftaran dengan wajah datar.
Dunia seolah runtuh bagi mereka berenam. Tujuh puluh dua juta rupiah untuk UKT, perjuangan melawan teror, dan malam-malam tanpa tidur... semuanya seolah menguap begitu saja di lobi hotel yang dingin itu.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Juna melihat seseorang yang sangat familiar keluar dari lift hotel. Itu adalah Profesor Wijaya, salah satu juri utama NYIC yang juga merupakan pakar lingkungan yang sangat dihormati.
"Profesor!" teriak Juna, mengabaikan tatapan aneh orang-orang di lobi.
Juna berlari menghampiri sang Profesor, sementara Bagas dan yang lainnya segera menyusul. Mereka hanya punya waktu beberapa menit sebelum sang Profesor masuk ke mobilnya untuk menjelaskan bahwa mereka adalah korban sabotase korporat.
"Profesor, tolong lihat data log ini saja. Hanya lima menit!" mohon Juna sambil menyodorkan tabletnya.
Inilah momen pertaruhan terakhir. Jika sang Profesor menolak, perjalanan Enam Serangkai berakhir di sini. Tapi jika beliau mau mendengarkan, perang melawan ketidakadilan ini akan berlanjut ke panggung final.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...