"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Malam Kedua Dan Istri Manja
Yang Kharisma sangka saat Prabujangga kembali meregangkannya adalah rasa sakit tajam seperti kemarin malam. Rasa terbelah yang membuatnya menahan jerit siksa.
Namun nyatanya, dua kali lipat lebih menyakitkan.
Napasnya berhenti di detik pertama Prabujangga mendorong pinggulnya dan melesak masuk, membangkitkan denyut sakit dari luka-lukanya yang belum sepenuhnya sembuh.
Pelumas itu tak banyak membantu, karena kini wajahnya memerah menahan sakit.
"Mas Prabu... Mas..."
Jari-jari Kharisma gemetar mencengkram kemeja Prabujangga. Noda es krim di kemeja laki-laki itu telah mengering, menjadi satu-satunya pengganggu estetika pada putih yang sempurna. Dan kini, kusut yang diciptakan dari cengkraman Kharisma pula mengancam kain mahal itu robek.
Prabujangga bergerak perlahan. Bibirnya terkatup rapat. Rahangnya mengeras menahan tempo.
"Eungh... s-sakit M-mas..." Kharisma melenguh tak nyaman, bergerak-gerak untuk melepas rasa mengganjal di area sensitifnya.
Prabujangga yang menyadari hal itu lantas mengeram rendah, getaran bergemuruh di dadanya dan menyerap langsung pada tubuh sang istri yang jauh lebih kecil di dekapannya.
Prabujangga menekan pinggang Kharisma ke arahnya hingga perempuan itu memekik kesakitan. Kejantanannya melesak lebih dalam, menggesek kasar luka-luka yang telah dia ciptakan kemarin malam.
"Saya rasa menahan rasa sakit tidak sesulit itu," Prabujangga berbisik di telinga Kharisma, napas beratnya menyapu daun telinga si perempuan. "Sedikit mengeluh akan membuat ini jauh lebih cepat. Kamu ingin saya cepat selesai, kan?"
Kharisma mengangguk kaku, kepalanya mendongak, sudut matanya berair menahan perih.
"Bagus." Prabujangga sedikit menarik sudut bibirnya atas kepatuhan istrinya. "Saya suka perempuan penurut."
Prabujangga melebarkan paha Kharisma, merubah sudut dorongannya hingga tanpa sadar mengeluarkan lolongan kenikmatan. Urat-urat menonjol di lehernya kala kepalanya terjatuh ke belakang, matanya berputar karena ekstasi.
Rasa panjangnya yang dijepit erat oleh Kharisma membanjiri indranya, mengambil alih saraf-saraf simpati hingga mengabaikan lenguh sakit sang istri. Dia bergerak semakin cepat, menahan pinggul Kharisma erat-erat di tempatnya.
"Ahh... emhh... Mas Prabu..." Tubuh Kharisma terhentak-hentak akibat dorongan Prabujangga, bibir bawahnya digigit kuat untuk menahan rengekkan kesakitan yang sudah tak tertahankan lagi.
Tangan Prabujangga menapak pada cermin berembun di belakang tubuh Kharisma, desisan kenikmatan meluncur mulus dari mulutnya. Matanya menatap lamat tempat tubuhnya dan istrinya terhubung.
"Tahan sebentar," gumam Prabujangga tegang, melanjutkan gerakan pinggulnya yang semakin cepat. Tangannya semakin melebarkan paha Kharisma untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik.
Perempuan itu sudah memerah dan bengkak, setiap hentakkan yang Prabujangga berikan jelas merangsang rasa sakit yang lebih besar.
Prabujangga bisa merasakan Kharisma yang lagi-lagi menyerah pada rasa sakit seperti kemarin malam saat dia tak sadarkan diri di meja rias.
Prabujangga mencabut kejantanannya, membiarkan Kharisma menggeliat dengan wajah terbenam di lehernya. Prabujangga bisa merasakan basah air mata yang sedari tadi Kharisma tahan kini membasahi kerah kemejanya.
Tapi Prabujangga belum menemukan niat untuk berhenti.
Dia kembali meraih botol pelumas dan membaluri tangannya dengan gel. Kali ini jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Prabujangga mengoleskan kembali gel itu di kewanitaan istrinya, serta melumuri kejantanannya sendiri yang kembali ia dorong masuk ke dalam tubuh sang istri.
"Eungh..." Tubuh Kharisma kembali bergetar. "Kenapa... dimasukan lagi..."
Prabujangga tak menghiraukan protes lemah istrinya, lebih memilih mengangkat tubuh kecil Kharisma mendekati bak mandi yang kosong, mendaratkan diri di dalam sana dengan tubuh kekarnya yang menindih perempuan itu.
Satu tangan Prabujangga menahan belakang kepala Kharisma, dan tangan lainnya memegang kokoh pinggang perempuan itu.
"Saya belum selesai," tutur Prabujangga, menjawab protes Kharisma sebelumnya.
Posisi ini terasa memudahkannya, dan Prabujangga langsung mengaitkan kaki Kharisma di pundaknya, memaksa untuk masuk lebih dalam meskipun yang di bawah sana menggeleng tidak nyaman.
"Jangan seperti ini Mas..."
Tapi Prabujangga menulikan telinganya. Pinggulnya bergerak kembali dengan tempo menghentak dan menyasar titik paling dalam, mengejar pelepasannya.
Mata Prabujangga terpejam erat, geraman rendah bergemuruh merasakan terjepit hebat di dalam sana. Tangannya mencengkram erat kaki Kharisma yang bertengger di kedua bahunya.
"Aghhh... kamu menjepit saya..."
Gerakan Prabujangga semakin tak terkendali, hentakkannya semakin kuat merasakan pelepasan yang semakin mendekat.
Dengan satu hentakkan keras untuk terakhir kalinya, lolongan panjang lolos dari mulutnya sementara di bawah sana ia berhasil mengisi istrinya untuk kedua kalinya.
...***...
Pukul delapan pagi. Itu lagi-lagi mengejutkan Prabujangga.
Dengan kelopak mata yang masih terasa berat, dia menyugar rambut dengan jari lantas menegakkan tubuh. Matanya terpaku ke arah jam dinding dengan alis yang nyaris menyatu.
Jika saja bukan karena alarm yang berbunyi, Prabujangga bisa terlelap lebih lama.
Dan itu jelas aneh bagi seseorang yang tak pernah bisa tidur dengan benar.
Ini sudah dua hari tidurnya terasa nyenyak meskipun tuntutan sang ayah membuatnya stress kemarin. Meskipun tak dengan terang-terangan Prabujangga tunjukkan.
Prabujangga menggeser layar ponselnya ke atas, mematikan alarm ribut yang mengingatkannya akan tugas dan kewajibannya.
Begitupun dengan tanggungjawab.
Prabujangga menolehkan kepala ke samping, langsung mendapati tubuh Kharisma yang bersembunyi di balik selimut.
Prabujangga ingat sekali bagaimana kemarin ia membuat Kharisma lemas hingga tak mampu berdiri, dan berakhir ia sendiri yang harus menggendong perempuan itu kembali ke tempat tidur.
Berbeda dari ekspresi kesakitan yang Prabujangga lihat kemarin, sekarang Kharisma tampak lebih damai. Matanya terpejam, rona merah di pipinya terlihat samar, dan tentu saja bibir yang manyun-manyun kecil itu yang paling menarik perhatian.
Prabujangga mendekat dengan hati-hati, tempat tidur sedikit berderit karena gerakkannya.
"Bangun," Prabujangga berbisik, menyangga kepala dengan satu tangan sementara tangan lainnya digunakan untuk menepuk-nepuk pipi Kharisma.
"Emhhh..."
Wajah Kharisma berkerut protes, tangannya yang memegangi selimut menarik kain itu lebih tinggi hingga menutupi dagu. Matanya tak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.
Prabujangga menghela napas panjang.
Kenapa pula ia harus repot-repot membangunkan istri kecilnya ini?
Tapi meskipun begitu, Prabujangga masih tetap berusaha untuk membujuk agar Kharisma membuka mata.
"Saya akan segera berangkat bekerja, jangan lupa untuk meminta salep pada Meara," pesan Prabujangga, yang diyakini pasti tak sungguh-sungguh masuk ke telinga sosok yang bersembunyi di balik selimut.
"Kamu mendengar saya, Kharisma?" Nada Prabujangga menjadi sedikit tak sabaran. Entah mengapa kesabarannya cepat sekali habis jika berhadapan dengan istrinya ini. "Minta salep pada Meara nanti."
Ucapannya itu hanya dibalas anggukan mengantuk.
Prabujangga tentu saja tidak puas.
"Katakan iya," desaknya, tanpa sadar menyentuh-nyentuh pipi bulat Kharisma.
Kharisma yang kini terganggu tidurnya itu hanya berdecak, menarik selimut lebih tinggi. Itu tentulah memancing geram kesal Prabujangga.
"Baiklah, saya anggap kamu tidak mendengarkan saya kalau seperti itu."
Prabujangga menarik diri dari ranjang, melangkah mendekati pintu dengan bagian atas tubuhnya yang telanjang, sementara bagian bawahnya titutupi oleh celana pendek.
"Meara!" Suara Prabujangga mampu menembus setiap gendang telinga para pelayan dan penjaga yang berlalu-lalang di dalam Mansion.
Yang dipanggil langsung menghadap beberapa menit kemudian. Meara, kepala asisten rumah tangga itu membungkuk sopan kala menghadap pada Prabujangga.
"Ambilkan saya salep yang kemarin," perintahnya, langsung pula dibalas anggukan oleh Meara.
Wanita itu segera berlari kecil untuk mengambil salep, punggungnya menghilang di tikungan depan.
Prabujangga menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup, matanya terpejam sejenak karena rasa kantuk yang masih membekas. Sampai akhirnya Meara datang membawa apa yang dia minta.
"Ini, Pak."
Prabujangga menerima salep kecil itu dan mengangguk singkat, mempersilahkan Meara pergi sementara ia sendiri kembali masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi dihadapkan oleh sosok perempuan menyebalkan yang masih saja tertidur.
Prabujangga mendekat dengan langkah ringan, kembali naik ke atas ranjang dan merangkak ke sisi tempat tidur tepat di tempat Kharisma terlelap.
"Merepotkan," celetuk Prabujangga, diikuti oleh helaan napas panjang.
Dia selanjutnya ikut masuk ke dalam selimut, merengkuh pinggang kecil yang sedang tidur hingga sang empunya bergumam protes.
Prabujangga membiarkan saja saat Kharisma menyembunyikan wajahnya di lehernya, sementara dia meraih dan melebarkan paha sang istri di bawah selimut. Prabujangga mengoleskan salep pada area yang ia gagahi kemarin malam dengan hati-hati.
"Mas Prabu..."
Entah mengapa suara Kharisma justru terdengar seperti gumaman manja daripada sebuah keluhan tak nyaman di telinganya.
"Hm?"
"Perih..."
"Akan hilang jika terus diobati."
Prabujangga menutup kembali salep setelah selesai, meletakkannya ke atas lemari kecil di samping tempat tidur.
"Saya akan berangkat bekerja," kata Prabujangga, tak bergerak untuk melepaskan tubuh Kharisma yang menempel padanya. "Jangan bangkit dari tempat tidur sebelum saya mengizinkan."
Prabujangga tetaplah Prabujangga yang suka memerintah. Dia tak bergerak sebelum mendapatkan jawaban.
Barulah saat bibir kecil Kharisma terbuka untuk membalas, tubuhnya sedikit tenang.
"Iya Mas."
Bersambung...