NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Setelah puas menikmati jagung bakar di ketinggian Batu, Abraham kembali menyalakan mesin motornya. Namun, alih-alih langsung mengarah pulang ke Malang, ia justru membelokkan kemudi ke sebuah warung pinggir jalan yang kepulan asapnya membumbung tinggi, menyebarkan aroma daging bakar yang sangat menggoda.

"Lho, Mas? Berhenti lagi?" tanya Prita saat Abraham memarkirkan motor di depan warung sate kambing yang cukup legendaris di daerah situ.

"Tadi kan cuma camilan, sekarang baru makan aslinya," jawab Abraham santai sambil melepas helmnya.

Prita melihat jajaran tusuk sate yang sedang dikipasi di atas bara api.

Lemak kambing yang menetes ke arang menimbulkan suara mendesis dan aroma gurih yang luar biasa.

Prita menelan ludah, namun akal sehatnya mencoba bertahan.

"Aduh Mas, sate kambing jam segini? Aku takut gemuk, Mas!" protes Prita sambil memegang pipinya.

"Tadi saja sudah makan mie ayam sama bakso porsi besar sama Mbak Pram."

Abraham tertawa lepas, suara tawanya terdengar renyah di tengah kebisingan jalan raya.

Ia menatap Prita dengan tatapan teduh namun tegas.

"Prit, hidup itu dinikmati, bukan cuma dihitung kalorinya," ujar Abraham sambil melangkah masuk ke warung.

"Kamu sudah cantik, nggak perlu pusing soal timbangan malam ini. Apalagi dingin-dingin begini, sate kambing itu obat paling ampuh buat menghangatkan badan."

Prita sempat tertegun di ambang pintu warung. Kalimat Abraham yang sederhana—hidup itu dinikmati—terasa menyentil sisi lain dari dirinya yang selama ini selalu hidup dalam aturan dan standar ketat keluarganya.

Selama ini, ia selalu dididik untuk menjaga citra, menjaga penampilan, dan memilih lingkungan yang "pantas".

Namun di depan Abraham, semua aturan itu seolah luntur.

Pria ini mengajarkannya untuk melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana: jika lapar, makan; jika dingin, cari kehangatan; jika suka, katakan.

Akhirnya, Prita menyerah. Ia duduk di kursi kayu panjang di seberang Abraham.

"Satu porsi saja ya Mas, bagi dua," tawar Prita malu-malu.

"Mana cukup? Dua porsi, bumbu kacangnya yang banyak," sahut Abraham pada penjual sate, lalu kembali menatap Prita sambil tersenyum.

"Tenang saja, besok kalau kamu takut gemuk, aku ajak lari pagi keliling lapangan mess."

Prita tertawa kecil. Rasa sesak yang tadi sempat muncul karena pembicaraan soal Jakarta perlahan mencair, digantikan oleh rasa nyaman yang belum pernah ia temukan pada pria-pria "berkemeja rapi" yang pernah mendekatinya sebelumnya.

Sate kambing yang hangat dan gurih itu seolah menjadi penutup yang sempurna untuk malam mereka. Namun, Abraham tampaknya belum rela jika kebersamaan ini berakhir begitu saja.

Sambil mengelap tangannya dengan tisu, ia menatap Prita yang wajahnya kini terlihat lebih cerah, mungkin karena perutnya sudah kenyang.

"Prit," panggil Abraham pelan.

"Besok kan Minggu. Mumpung orang tuamu masih di luar kota, kita ke Pantai Kondang Merak, yuk?"

Prita yang sedang menyesap teh hangatnya langsung tersedak pelan.

"Ke pantai? Besok banget, Mas?"

Abraham terkekeh. "Iya, besok pagi-pagi sekali biar nggak terlalu panas. Tenang saja, aku nggak akan telat menjemputmu. Kebetulan malam ini aku menginap di rumah tanteku. Ternyata rumahnya di perumahan yang sama dengan tempat tinggalmu, cuma beda blok saja."

Prita membelalakkan mata. "Lho? Kok bisa pas begitu? Berarti Mas Abraham nggak balik ke mess malam ini?"

"Nggak, biar besok lebih dekat jemput kamunya," jawab Abraham dengan nada yakin.

Prita terdiam sejenak, membayangkan perjalanan jauh menuju Malang Selatan.

"Ke pantainya, naik motor, Mas? Kan jauh banget dari sini?"

Abraham menganggukkan kepalanya dengan mantap, sorot matanya tampak bersemangat.

"Iya, naik motor. Enak naik motor, Prit. Kita bisa merasakan angin, bisa berhenti kapan saja kalau lihat pemandangan bagus, dan yang pasti... nggak akan terjebak macet lama-lama."

Prita menggigit bibir bawahnya. Perjalanan ke Kondang Merak melewati jalur lingkar selatan yang berkelok-kelok memang terkenal melelahkan, tapi bayangan duduk di belakang Abraham, membelah hutan jati dan perbukitan kapur, entah mengapa terasa sangat menggoda.

"Tapi Mas, pantainya jauh lho," rengek Prita pelan, meski hatinya sudah mulai berkata ya.

"Percaya sama aku. Naik motor itu beda sensasinya. Kamu tinggal duduk manis, biar aku yang kendalikan setirnya," ujar Abraham sambil tersenyum meyakinkan.

"Gimana? Mau ya?"

Prita menatap Abraham lama, mencoba mencari keraguan di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan.

Akhirnya, sebuah senyuman tipis tersungging di bibir Prita.

"Ya sudah, tapi jangan ngebut-ngebut ya, Mas."

"Siap, Tuan Putri," sahut Abraham sambil tertawa kecil, merasa menang satu langkah lagi untuk mendekati hati gadis yang katanya "bukan tipenya" itu.

Sate kambing yang masih mengepul panas itu akhirnya mendarat di atas meja kayu.

Aroma lemak yang terbakar berpadu dengan gurihnya bumbu kecap dan irisan bawang merah segar, menciptakan godaan yang sulit ditampik oleh perut siapa pun.

Prita terdiam sejenak, matanya beralih dari piring sate ke wajah Abraham.

Ia melihat pria itu makan dengan sangat lahap, seolah setiap gigitan adalah bentuk rasa syukur atas kerja kerasnya seharian di lapangan.

Tidak ada gengsi, tidak ada basa-basi formal; hanya ada kejujuran seorang pria yang menikmati hasil keringatnya.

"Ayo, Prit. Jangan cuma dilihatin, nanti satenya dingin malah nggak enak. Nikmati hidup kamu," ucap Abraham di sela kunyahannya, suaranya terdengar tulus tanpa beban.

Prita menarik napas panjang, aroma gurih itu akhirnya meruntuhkan pertahanannya soal diet dan rasa takut gemuk.

Dengan ragu namun penasaran, ia mengambil satu tusuk sate yang dagingnya tampak paling empuk.

Begitu potongan daging pertama menyentuh lidahnya, mata Prita langsung berbinar.

Tekstur dagingnya kenyal namun lembut, dengan bumbu yang meresap sempurna hingga ke serat terdalam.

Rasa manis, gurih, dan sedikit pedas meledak di mulutnya.

"Enak sekali ini, Mas!" seru Prita spontan, wajahnya yang tadi tampak ragu kini berubah menjadi penuh binar kebahagiaan.

Abraham tertawa kecil melihat ekspresi adiknya Pramesti itu.

"Nah, kan? Apa aku bilang. Kadang kebahagiaan itu sesederhana makan sate hangat di pinggir jalan saat udara dingin begini. Nggak perlu tempat mewah buat merasa puas."

Prita mengangguk setuju, kini ia mulai mengambil tusuk kedua dengan lebih bersemangat.

Di bawah lampu neon warung sate yang temaram, Prita merasa ada sesuatu yang mulai bergeser dalam dirinya.

Ia mulai menyukai cara Abraham melihat dunia—cara yang tidak rumit, yang merayakan hal-hal kecil, dan yang membuatnya merasa jauh lebih hidup daripada sekadar mengikuti standar kaku dari orang tuanya.

"Mas, besok ke Kondang Merak, kita cari ikan bakar juga ya?" tanya Prita malu-malu, yang langsung disambut anggukan mantap dari Abraham.

Motor Abraham melaju pelan membelah aspal jalanan yang mulai sepi. Angin malam yang semula terasa menusuk kini justru terasa seperti nina bobo bagi Prita. Perut yang kenyang dan rasa lelah setelah seharian beraktivitas membuat kelopak matanya terasa sangat berat.

Tanpa sadar, kepala Prita terkulai, bersandar di punggung lebar Abraham.

Tangannya yang semula memegang jaket Abraham perlahan mengendur.

Prita jatuh tertidur di tengah deru mesin motor yang stabil.

Merasakan beban di punggungnya berubah menjadi lebih berat dan napas teratur yang menyentuh pundaknya, Abraham melirik dari spion. Ia tersenyum tipis.

Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Abraham melepas satu tangannya dari kemudi, lalu meraih tangan Prita yang terkulai lemas di samping pinggangnya.

Ia menggenggam tangan gadis itu erat, menariknya agar melingkar lebih rapat di pinggangnya supaya Prita tidak terjatuh.

"Prit..." panggil Abraham sangat pelan, hampir berupa bisikan.

"Hmmm... aku ngantuk, Mas..." gumam Prita setengah sadar. Suaranya serak, terdengar manja di telinga Abraham.

Gadis itu sama sekali tidak menolak saat tangannya digenggam.

Ia justru semakin merapatkan wajahnya ke punggung Abraham, mencari posisi paling nyaman di sana.

Abraham menarik napas panjang, menghirup aroma sampo dari rambut Prita yang tertiup angin.

Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya—rasa ingin melindungi yang begitu kuat.

Di bawah lampu-lampu jalan kota Malang yang mulai meredup, Abraham berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan genggaman tangan ini terlepas begitu saja, tidak peduli seberapa tinggi tembok perbedaan yang mungkin akan mereka hadapi esok hari.

"Tidur saja, Prit. Sebentar lagi sampai rumah," bisik Abraham lembut, sementara motornya terus melaju perlahan menembus sunyinya malam.

Motor Abraham akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Prita.

Suasana perumahan sudah sangat sepi, hanya lampu jalan yang berpendar temaram.

Prita masih terlelap, napasnya teratur dan kepalanya masih bersandar nyaman di punggung Abraham.

Pramesti yang rupanya belum tidur segera membukakan pintu pagar. Ia tertegun melihat adiknya yang tampak pulas dalam buaian mimpi.

"Ketiduran dia, Ham?" bisik Pramesti pelan agar tidak mengejutkan Prita.

"Iya, Pram. Tadi sepertinya kekenyangan makan sate kambing," jawab Abraham pelan.

Ia turun dari motor dengan sangat hati-hati, lalu dengan gerakan lembut namun bertenaga, ia membopong tubuh Prita ke dalam dekapannya.

Prita sempat menggeliat kecil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abraham, mencari kehangatan.

Pramesti yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul, menyadari ada getaran yang berbeda antara mereka berdua.

"Bawa masuk saja, Ham. Taruh di kamarnya," perintah Pramesti sambil membimbing jalan menuju kamar Prita.

Abraham melangkah perlahan, memastikan langkahnya tidak menimbulkan suara berisik.

Begitu sampai di dalam kamar, ia membaringkan Prita di atas tempat tidur dengan sangat lembut. Ia sempat terdiam sejenak, menatap wajah polos

Prita yang tampak begitu damai saat tidur, sebelum akhirnya menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu.

Setelah keluar dari kamar, Abraham berpamitan pada Pramesti di ruang tamu.

"Pram, besok pagi-pagi sekali aku akan menjemputnya. Kita mau ke Kondang Merak," ujar Abraham dengan nada yakin.

Pramesti mengangkat alisnya, sedikit terkejut namun senang.

"Wah, jadi juga ya? Ya sudah, hati-hati. Aku percayakan Prita sama kamu, Ham."

Pramesti menganggukkan kepalanya pelan saat Abraham beranjak menuju motornya.

Di bawah langit malam yang sunyi, Abraham pulang dengan perasaan ringan, sementara di dalam kamar, Prita masih terlelap tanpa menyadari bahwa esok pagi akan menjadi babak baru dalam petualangan hatinya.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!